
"Pa kenalin ini anak mama".
Bu Marni menjeda kalimatnya untuk mengambil nafas.
Deg
Deg
"Haah, anak kita di luar negeri ma, lagian Dewi gak setinggi gadis ini, jujur sama Papa mama selingkuh ya, kalau selingkuh insaf ma, mama udah tua" ia menuduh sekaligus memberi nasehat kepada istrinya.
"Astagfirullah pa jangan sembarangan kalau ngomong, mangkanya kalau istri ngomong itu di dengerin sampai selesai, maksud mama ini anak yang udah mama anggap seperti anak sendiri, temen baru mama".
Suami Bu Marni menggaruk kepalanya yang tak gatal jelas-jelas tadi ia mendengar istrinya memperkenalkan gadis itu anaknya, sekarang istrinya bilang berbeda.
"Iya ma maafin papa salah dengar". ucap suami Bu Marni yang tak menyalahkan istrinya, ia lebih mau mengaku salah dari pada malam nanti tidur di sofa.
Sedangkan Widi yang berada diantara suami dan istri tersebut hanya menyunggingkan senyumnya melihat interaksi sepasang suami istri itu.
"Kita ulang ya pa perkenalannya" ucap Bu Marni lagi.
"Papa kenalin ini nak Widi tetangga sebelah rumah kita, umurnya 25 tahun, teman baru mama, yang udah mama anggap anak sendiri" ucap Bu Marni panjang.
"Widi Zakeisha om" ucap Widi memperkenalkan dirinya seraya mencium punggung tangan suami Bu Marni.
"Ma kok papa baru tau ada gadis cantik di sebelah rumah kita" tanyanya ke pada sang istri.
"Lah papa sibuk terus di kantor dan luar kota, pulang juga kadang malam mana lihat ada tetangga sebelah secantik Widi". Sahut sang istri.
"Nak Widi salam kenal, nama saya Adam Wijaya penghuni paling ganteng di komplek ini" ucapnya kelakar.
"Hih PD Amat". Sahut Bu Marni.
"Tapi serius ma, kok papa gak tau ya nak Widi yang tinggal di rumah sebelah, walaupun papa kadang pulang malam dan sering ke luar kota tapi weekend kan papa sering di rumah" ucapnya lagi.
"Kebetulan saya weekend jarang di rumah om, mungkin itu yang membuat kita gak ketemu" sahut Widi canggung.
"Tapi sekarang udah kenal kan pa, sekalian mama mau izin mau ngangkat Widi seperti anak sendiri".
"Loh kok izinnya sama papa ma, kalau papa sih malah seneng nambah anak gadis, seharusnya mama tanya nak Widi nya mau gak punya mama kayak mama ini.
"heh maksud papa apa".
"Apa aku salah ngomong" batin pak Adam.
"Maksud papa mama tanya nak Widi nya mau gak dia jadi anak mama, terus mama juga izin sama orang tuanya mau ngangkat dia sebagai anak, nanti orang tuanya gak ngizinin gimana".
Widi yang mendengar ucapan Bu Marni dan pak Adam yang ingin menganggapnya anak hanya tersenyum canggung.
"Gimana nak Widi" ucap Bu Marni menanyainya langsung.
__ADS_1
Widi yang tak berpikir sampai sejauh itu pun berkata.
"Widi senang aja kalau Bu Marni mau nganggap Widi sebagai anak".
"Bukan hanya istri saya nak Widi yang akan nganggap kamu anak, saya sebagai suami Bu Marni juga menganggap kamu anak saya".
"Tapi apakah orang tuamu mengizinkan" lanjut pak Adam lagi.
Widi yang tak pernah menyangka ada orang suami istri lagi yang mau menganggapnya anak, tiba-tiba ia meneteskan air mata.
"Pa..." ucap Bu Marni yang menghentikan ucapan suaminya ketika menyebutkan orang tua Widi, karena ia sudah tau orang tua Widi sudah meninggal ia takut suaminya berkata lebih jauh lagi dan akan membuat Widi bersedih.
"Orang tua Widi udah gak ada Om" jawabnya jujur kepada pak Adam.
Deg.
"Maafin om Widi, om gak bermaksud membuat kamu sedih" ucapnya merasa bersalah setelah mendengar apa yang Widi katakan dan melihat Widi menitikkan air mata.
"Widi gak sedih om tante, Widi hanya terharu karena Om dan tante mau menganggap Widi anak".
Kedua suami istri tersebut tersenyum mendengar apa yang Widi ucapkan, sang istri langsung memeluk Widi seolah merasakan apa yang anak angkatnya rasakan saat ini, entah apa yang sudah dilalui anak angkatnya sampai pada tahap ini, yang jelas sang istri melihat kesepian dan kosong dari mata Widi.
"Mulai sekarang panggil om dan Tante, Mama dan Papa, apa kamu bisa" pinta Bu Marni kepada Widi.
"Hiks hiks hiks, bisa Tante" ucapnya bersama air mata yang kembali jatuh di pipi mulusnya.
"Kamu anak mama, panggil mama" ucap Bu Marni yang masih memeluk Widi...
"Ma... ma, hiks hiks" Air mata yang sudah lama tak jatuh itu tiba-tiba hari ini meluncur dengan derasnya tanpa di paksakan hanya karena mendengar sepasang suami istri mengatakan menganggap dirinya sebagai anak dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun ia kembali memanggil seorang perempuan dengan sebutan mama.
Pak Adam yang melihat istrinya menangis memeluk Anak angkatnya itu merasa ikut tersentuh, Ia tahu istrinya kesepian selama ia bekerja, semoga dengan adanya Widi sedikit mengobati kesepian itu harapannya.
Pak adam berlalu meninggalkan 2 orang tersebut di ruang tamu, ia bergegas menuju kamarnya sebelum air matanya juga ikut meluncur ke pipinya.
*
*
*
Berselang beberapa jam kemudian, jauh di kota B seorang pria menatap laptopnya dengan seksama mengamati laporan keuangan perusahaannya.
"CK, kenapa bisa begini" gumamnya
"Baru juga di tinggalkan beberapa hari sudah begini, bagaimana kalau sebulan, gak bisa di biarkan" lanjutnya lagi.
Tok tok tok
"Bi" Panggil orang tersebut yang mengetuk pintu.
__ADS_1
Bian yang sedang berkutat dengan laptopnya tak membuatnya dia tak mendengar suara melengking sang mama.
Bian meninggalkan laptopnya yang masih menyala dan membuka pintu kamarnya.
"Iya ma, ada apa" Sahutnya.
"Turun makan malam, semua keluarga udah nungguin di bawah" pinta mama kepada sang putra yang seharian ini tak keluar dari kamarnya.
"Tunggu bentar ma, Bian matiin laptop dulu" ucap Bian kepada sang mama seraya menuju meja kerjanya.
Setelah mematikan laptop nya Bian dan Dian sang mama berjalan beriringan turun menuju ruang makan menggunakan lift.
"Lama banget sih bang turunnya, Bianka udah lapar ini" gerutu sang adik.
"Tadi ada yang Abang kerjain" Sahutnya seraya mendudukkan diri di kursi yang kosong.
"CK, di rumah pun masih kerja, orang di rumah itu quality time dengan keluarga bukan malah ngurusin kerjaan" omel Bianka kepada Bian.
"Sudah, kalian ini cepat dimakan makanannya, nanti keburu dingin kalau kalian terus berantem" lerai sang oma.
Semuanya kembali tanpa suara menikmati hidangan makan malam yang dimasak langsung oleh Dian yang di bantu asisten rumah tangga.
Setelah makan malam kebiasaan keluarga Kalandra selalu berkumpul di ruang keluarga.
Sekedar menanyakan kabar hari ini apa saja yang anggota keluarga mereka lalui, berbagi cerita dan canda tawa.
Setelah menanyakan persiapan pernikahan Bianka, yang ternyata persiapannya sudah hampir 100%.
Dan kini tibalah kepada satu-satunya laki-laki yang belum menikah diantara keluarga mereka, siapa lagi kalau bukan Bian.
"Kamu hari ini kenapa gak keluar kamar Bi" tanya Haikal kepada cucunya.
"Bian ada kerjaan opa, ada sedikit masalah cabang perusahaan di Jakarta" jawab Bian.
"Masalahnya serius atau tidak" tanya Bayu menimpali.
"Lumayan pa, ada dana yang keluar tapi tidak sesuai anggaran dan juga salah satu pembangunan hotel masih terkendala lahan dengan warga sekitar". Jawab Bian jujur.
"Apa kamu akan turun ke langsung ke sana" tanya Dian.
"Sepertinya begitu ma, besok rencananya Bian dan Rian akan ke sana".
"Pokoknya Bianka gak mau tau ya Abang mau kerja kemana ngurusin apa yang penting hari nikahan Bianka Abang harus ada". Sahut Bianka.
"Iya itu mah pasti abang akan datang, kalau gak mana mungkin abang pulang jauh-jauh dari negara A kesini" jawab Bian.
"Bukannya kamu pulang takut di keluarkan dari kartu keluarga" Kata sang Oma tiba-tiba...
Bian menggaruk kepalnya yang tak gatal, anggota keluarga yang lain tertawa mendengar perkataan Oma Maya.
__ADS_1