
Hari berganti, selesai sudah urusan Widi di kota B, sekarang dia sudah berada di kediamannya di Ibu kota.
Widi masih bergulung di selimut tebalnya, matanya masih tertutup rapat belum menunjukkan pergerakan dia akan segera bangun dari tidurnya.
Bunyi teriakan pedagang sayur tak urung menyadarkan Widi segera kembali ke dunia nyata, entah apa yang sekarang ada di mimpinya sehingga dia malas untuk membuka matanya atau sekedar menggerakkan tubuhnya.
Tadi malam dia sampai larut malam di kediamannya setelah bekerja keras selama 2 hari di kota B tanpa sahabatnya, mungkin itu yang membuat tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat tanpa di ganggu hari ini.
Walaupun alasannya untuk kembali secepatnya ke ibu kota adalah bekerja, ternyata kasur lebih memanggil dirinya itulah kenapa sampai sekarang ia tak bangun juga.
Semalam setelah tiba di rumahnya ia langsung memerintah sekretarisnya untuk menggantikan dirinya meeting dengan klient hari ini, Mia ingin marah mendengarnya tapi kembali lagi Widi adalah bosnya jadi Mia hanya bisa menurut kemauan sahabatnya itu.
Setelah matahari tepat di atas kepala barulah ada pergerakan dari kasurnya Widi menggeliatkan tubuhnya, dan membuka matanya perlahan sambil menyesuaikan cahaya yang masih menyala dari bola lampu kamarnya.
"Uuuuaaaaaahhhhhhh"
Widi menghembuskan napasnya dan menggeliatkan tubuhnya, dia masih belum sadar sepenuhnya.
Setelah beberapa menit barulah dia beranjak dari kasurnya, ia mematikan bola lampu kamarnya dan membuka gorden jendela kamarnya membiarkan cahaya masuk menyinari kamarnya.
"home sweet home, nyaman sekali seperti gak ada beban"
Dimana pun dia berada rumahnya lah tempat ternyaman menurutnya, walaupun dia hanya tinggal sendiri.
Widi bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhnya membiarkan kasurnya yang masih berantakan.
Setelah selesai berendam dan mandi tubuh Widi kembali fresh barulah dia merapikan kamarnya dan mengeluarkan pakaian kotor dan oleh-oleh dari dalam kopernya.
Widi tak langsung mencuci pakaian kotornya, tubuhnya masih malas untuk beraktifitas banyak dia hanya menelpon layanan laundry pesan antar dan sepertinya sebentar lagi pakaiannya akan di jemput.
Ting Tong Ting Tong
Bunyi bell rumah Widi menggema sepertinya petugas laundry sudah sampai.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam" sahut Widi seraya bergegas membukakan pintu.
"Siang Nona, saya di tugaskan dari laundry Bu Tiwi untuk mengambil pakaian kotor Nona" ujar petugas laundry tersebut.
"Oh iya tunggu bentar ya pak, saya ambil dulu pakaiannya di dalam" ucap Widi seraya melangkahkan kakinya kembali kedalam kamar.
Widi kembali menghampiri petugas laundry tersebut dengan membawa pakaian kotor yang sudah di masukkan kedalam kantong plastik besar lalu menyerahkan kepada petugas Laundry tersebut terus berkata
"Ini pak pakaiannya, dan ini oleh-oleh untuk bapak". Setelah Widi menyerahkan pakaian kotornya lalu dia menyerahkan sebuah goodie bag yang ada ditangan satunya.
"Jangan mba, ini oleh-oleh buat keluarga mba aja" ucap petugas tersebut merasa sungkan atas sikap Widi.
"Gapapa pak ambil aja, ini udah jadi kebiasaan saya ngasih oleh-oleh orang yang jemput pakaian saya setiap habis dari luar kota".
"Owalah begitu toh, saya baru bekerja di laundry Bu tiwi jadi nggak tau ada costumer Bu Tiwi sebaik non ini".
"Kalau begitu makasih banyak ya Non, ini pakaiannya saya bawa nanti kalau udah bersih dan wangi saya antar lagi kesini" Sambung petugas laundry itu lagi.
"Iya pak, hati-hati" ucap Widi seraya memperhatikan petugas laundry itu berlalu dari hadapan Widi dan kembali melajukan motornya.
Setelah kepergian petugas laundry itu Widi masih duduk di teras rumahnya menghirup udara dan memperhatikan jalan rumahnya yang hanya sedikit mobil berlalu lalang karena penghuni komplek tempat Widi tinggal juga tak begitu ramai.
"Nak Widi".
"Nak Widi" panggil Bu Marni.
Arah pandang Widi masih melihat jalan komplek rumahnya suara Bu Marni tak cukup menyadarkan Widi dari lamunannya.
"Nak Widi" panggil Bu Marni lebih keras seraya berjalan kerumah Widi.
"Eh iya Tante" Widi kaget.
__ADS_1
"Ngelamunin apa, tante udah manggil 3 kali baru Widi dengar" ucap Bu Marni
"Enggak ada Tante, cuma lihatin jalan aja" jawab Widi.
"Kirain ngelamunin pacar kamu".
"Widi mana ada punya pacar Tante"
"Oh ya, masak cantik-cantik jomblo" goda Bu Marni.
"Mungkin jodoh Widi belum lahir Tante atau masih SD" jawab Widi dengan tawanya, Bu Marni pun ikut tertawa melihat Widi yang tertawa.
"Dapat brondong dong kamu Wid".
"Brondong lebih menggoda Tante" kedua nya kembali tertawa.
"Oh ya Wid kemarin kamu kemana, kamarin Tante kesini mau ngajak Widi ke Salon tapi udah Tante panggil-panggil dan pencet bell kamu gak keluar juga, padahal tante intip mobil kamu di garasi ada".
"Awas nanti bintitan Lo Tante matanya ngintip-ngintip" goda Widi dengan senyumannya.
"kalau bintitan itu ngintip yang lain Wid".
"Hehe, kemarin Widi keluar kota tante".
"Tante tunggu disini jangan kemana-mana Widi kedalam dulu bentar" lanjut Widi.
Widi kembali menuju Bu Marni berada membawa minuman seta goodie bag yang sama seperti yang di berikan ya kepada petugas tadi.
"Di minum tante, dan ini untuk Tante". ucap Widi seraya memberikan goodie bag itu kepada Bu Marni.
"Kamu ke kota B Wid" ucap Bu Marni seraya melihat isi goodie bag tersebut yang ternyata makanan dari kota B.
"Iya Tante".
"Kamu gak bilang-bilang mau ke sana, tau gitu Tante ikut kamu kemarin Wid, sepupu Tante tinggal disana juga biar sekalian main dari pada disini suami tante kerja terus Tante kesepian".
"Tapi sekarang udah gak kesepian kan Tante, kan Widi udah pulang".
Entah mengapa setelah salam perkenalannya beberapa hari yang lalu menimbulkan suatu perasaan sayang Bu Marni kepada Widi, perasaan yang kalau dekat dengan Widi dia kembali bersemangat dan menganggap Widi seperti putrinya sendiri, mengobati kerinduan kepada putrinya yang sudah menikah dengan orang luar negeri dan tinggal jauh dari nya.
Mereka melanjutkan obrolan mereka didalam rumah. Bercengkrama, bercanda sekalian nonton sinetron channel ikan terbang, sesekali Bu Marni mengomeli tokoh Istri yang ada di sinetron tersebut Widi yang melihatnya pun merasa gemas kalau Widi yang jadi istri dalam sinetron tersebut sudah Widi kebiri suami nya yang selingkuh dibelakangnya karena di goda oleh perempuan yang tak lebih cantik dari nya.
Setelah puas menghabiskan waktu bersama, Widi sampai lupa dengan dirinya yang belum mengisi perutnya sehingga disela-sela menonton tv bunyi perut Widi terdengar.
"Kamu lapar Wid" tanya Bu Marni.
"Sedikit Tante" jawab Widi kikuk.
"Makan Wid, jangan bilang kamu diet".
"Widi enggak diet Tante, bentar Widi pesan makan dulu di aplikasi".
"Kamu gak masak".
"Enggak Tante, Widi juga baru bangun dan didalam kulkas Widi gk ada yang bisa di masak" ucap Widi menyunggingkan senyumnya tak malu mengatakan kalau dirinya bangun siang.
"Ya ampun kenapa gak bilang dari tadi, gak usah pesan di aplikasi kita kerumah tante aja, ayo kita kerumah tante sekalian kamu main".
"Gak ngerepotin Tante" tanya Widi.
"Ngerepotin apanya Wid, yang ada Tante seneng makanan tante ada yang makan, kamu gak usah sungkan kasih tau sama tante kalau mau apa-apa".
"Hehe makasih Tante".
Mereka berjalan menuju rumah Bu Marni meninggalkan sinetron yang sudah tau endingnya si suami sangat menyesal itu.
"Masuk nak Widi".
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" salam Widi.
"Waalaikumussalam" .
"Kita langsung keruang makan aja".
Widi mengikuti langkah Bu Marni menuju ruangan makan berada.
"Silahkan duduk nak, anggap aja rumah sendiri".
Bu Marni menghidangkan makanan yang di masaknya tadi.
"Tante hanya masak ini" ucap Bu Marni setelah menghidangkan capcay, ayam kecap, bakwan jagung, Ikan goreng, serta sapi masak lada hitam.
"Ini udah lebih dari cukup Tante, kalau Widi masak paling cuma sayur dan lauk udah cukup".
"Yuk dimakan" ucap Bu Marni menyodorkan sepiring nasi.
"Lauknya nak Widi ambil sendiri ya, jangan sungkan".
"Iya tante, tante juga makan lagi sama Widi ya".
"Enggak usah kamu minta juga tante mau makan lagi Wid, hehe"
Mereka makan dengan lahapnya tanpa berbicara ketika menyuapkan nasi kedalam mulut.
"Alhamdulillah" ucap Widi seraya mengelus perutnya.
"Nambah Wid" saran Bu Marni.
"Udah tante, udah 3 kali malahan".
"Makasih ya tante, masakan tante enak banget, nanti Widi numpang makan lagi, hehe".
"Boleh, tiap hari mau makan disini juga boleh, tante malah seneng kalau Widi makan disini".
Setelah makan Bu Marni mengemasi meja makan sedangkan Widi mencuci piring, walaupun Bu Marni sudah memintanya duduk manis tapi Widi tetap membantah, ia tetap kekeh ingin membantu Bu Marni cuci piring.
"Assalamu'alaikum"
Terdengar suara orang mengucapkan salam di rumah Bu Marni.
"Waalaikumussalam".
"Eh papa, kirain siapa... Tumben pulang awal" tanya Bu Marni kepada orang yang mengucapkan salam tadi rupanya Suami nya baru pulang dari kantor.
"Papa rindu sama mama" ucap suami Bu Marni.
suami Bu Marni melangkah mendekati istrinya mengecup keningnya dan mencium istrinya.
"Pa malu" ucap Bu Marni.
"Gak ada yang lihat ma" ucap suami Bu Marni.
"Iya saya gak lihat tante ucap Widi yang memandangi suami istri itu dengan tangan menutup mata tapi sela-sela jarinya direnggangkan.
"Ehhh".
"Kamu siapa". tanya Suami Bu Marni.
"Widi sini nak" pinta Bu Marni supaya Widi lebih mendekat ke mereka.
"Ayo kita ke ruang tamu aja" ajak Bu Marni kepada suaminya dan Widi.
Widi dan suami Bu Marni pun menurut.
"Pa kenalin ini anak mama"
__ADS_1
Deg
Deg