Cinta Gadis Wedding Planner

Cinta Gadis Wedding Planner
BAB 3


__ADS_3

"Tut Tut Tut"


Beberapa saat telepon pun di angkat oleh seseorang diseberang sana.


"......"


"Hallo, kita harus ke kota B secepatnya Mia, kita harus menyiapkan 15% yang belum selesai".


ya orang yang Widi telpon siapa lagi kalau bukan Mia.


"........."


"Apa, hmmm baiklah" jawab Widi dengan lemas seraya mematikan panggilan telepon nya.


*


*


*


Sementara di sebuah negara.


Seorang pemuda sedang berdiri di balkon apartemen miliknya memandangi keindahan malam di negara tersebut sambil meminum sekaleng soda yang ada di tangan kanannya.


Dia masih memikirkan perkataan orang tua nya yang meminta dia pulang ke Indonesia sampai adiknya selesai melangsungkan acara pernikahan.


Padahal menurutnya hadir tidak dirinya tidak akan mengganggu acara pernikahan adiknya.


Selain itu dia memikirkan jika dia datang nanti pasti banyak rekan bisnis papanya dan keluarganya yang bertanya kenapa adiknya yang menikah duluan, kenapa tidak dirinya, dan mana calon Istrinya.


Jangankan calon Istri, pacar atau teman wanita saja dia tidak punya.


Apakah tidak ada wanita yang mau dengannya ? Jawabannya banyak, mana mungkin wanita tidak tergoda dengan ketampanan pria usia 27 tahun itu, bahkan ada yang terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, hanya saja pria yang bernama Bian ini masih terjebak masa lalu, dia tidak bisa melupakan pengkhianatan mantan kekasihnya, dia takut kalau menjalin hubungan akan terulang lagi hal yang sama.


Untuk menyibukkan diri melupakan masa lalu, selama ini Bian hanya berkutat pada bisnis yang ia bangun atas kerja kerasnya sendiri hingga memiliki cabang di beberapa negara termasuk negara asalnya.


Awalnya Bian sudah berniat tidak datang ke acara pernikahan adiknya tapi sebelum niatnya itu terlaksana ibunya sudah mengancam akan membuang namanya dari kartu keluarga dan menghapus namanya dari daftar waris penerus bisnis keluarga.


Bukan takut tidak mendapatkan warisan atau takut tidak menjadi penerus bisnis keluarga nya, menurutnya bagaimana pun juga keluarga adalah segalanya. Tentang penerus bisnis keluarga ia tak mau ambil pusing toh dia sudah punya sendiri tanpa embel-embel keluarga.


"CK menyebalkan" decak bian.


Mau tidak mau Bian harus menuruti kemauan orang tuanya, dia sudah menugaskan asistennya yang merangkap sekretaris sekaligus sahabatnya untuk memesan tiket ke negara asal mereka.


*


*


*


Pagi pun menyapa, bunyi ayam berkokok tidak membangunkan seorang gadis yang masih bergulung dengan selimut nyamannya.


Layaknya pengangguran dia memang tidak pergi kekantor jadi dia bisa bangun telat hari ini.


Suara dering handpone sudah beberapa kali menggema tapi tidak juga membangunkan yang punya.


Hingga panggilan ke sekian Widi mengerjapkan matanya merasa terganggu dengan suara panggilan tersebut.


Bergegas Widi menjulurkan tangannya ke nakas mengambil handphone nya


"Hallo, Assalamu'alaikum" Sapa Widi dengan dengan suara khas bangun tidur.


"......"


"Iya nyonya nanti malam saya akan berangkat ke kota B".


"....."


"Besok akan saya kabari lagi nyonya".


"....."


"Baik, nyonya terima kasih, Waalaikumussalam".

__ADS_1


Rupanya panggilan telpon itu dari klient yang akan melangsungkan pernikahan anaknya di kota B.


"Dari mana client itu tau nomor handphone ku, pasti Mia yang memberikannya" Batin Widi.


Setelah mengangkat telpon Widi bergegas bangun dari tempat tidur membuka tirai kamarnya dan merapikan tempat tidurnya yang berantakan, lalu melanjutkan rutinitas paginya dan membersihkan diri.


Masih ada beberapa jam lagi untuk penerbangan ke kota B, Widi berencana akan bersantai dirumahnya.


"Sayurrrrr...... Sayurrrr"


"Bu Marni, Bu Wati, Bu Tika, Bu Santi, Bu Ajeng Abang sayur yang ganteng datang".


Suara penjual sayur melengking di pendengaran Widi dan penghuni komplek lainnya.


Widi bergegas keluar rumah menuju tukang sayur berada.


Rupanya sudah ada beberapa ibu-ibu yang datang lebih dulu dari dia.


"Pagi neng Widi" Sapa Bu Marni Ramah.


"Tumben mimpi apa" Celetuk Bu Santi.


"Iya, biasanya juga gak pernah beli sayur" Tambah Bu Ajeng.


"Udah habis kali uang yang di kasih sugar daddy nya, mangkanya beli sayur buat menghemat sebelum dapat sugar daddy baru yang lebih tajir" celetuk Bu Tika.


Widi hanya berdiam tidak membalas omongan pedas ibu-ibu itu.


"Pagi juga ibu-ibu" hanya itu jawabannya.


"Mang saya ayamnya satu ekor, " ujarnya kepada penjual sayur.


"Oke neng, kok saya baru lihat eneng ya disini" tanya tukang sayur yang bernama pak Anto itu.


"Saya udah lama disini mang" Jawabnya singkat.


"Iya udah lama mang disini tapi gk pernah aja beli Sayur dengan mang Anto, kan dia ngurung diri gak pernah sosialisasi kalau pergi juga pasti pulang malam" Jawab cepat Bu Tika.


"Omongan ibu-ibu yang begini nih yang bikin gue gak mau sosialisasi" kata Widi dalam hati.


Widi hanya sedikit mengulas senyum seraya menyerahkan selembar uang bergambar proklamator.


Setelah mendapatkan kembalian dari tukang sayur Widi kembali ke dalam rumah.


"Nyelekit banget omongan ibu-ibu".


"Sabar Widi sabar, kalau di dalam novel orang sabar dapat suami Presdir" gumam Widi menyunggingkan senyum nya menghibur dirinya sendiri.


Sementara di depan rumah ibu-ibu masih memilih sayur sesuai dengan menu yang akan mereka masak hari ini.


"Jangan ngomong gitu lo ibu-ibu sama neng Widi" ujar Bu Marni.


"Ngomong gimana" kata Bu Santi.


"Kan emang bener toh Bu mar" Jawab Bu Tika.


"Bener apanya, kita gak boleh lo menuduh seperti itu, belum tentu yang di tuduhkan benar" ujar Bu Marni lagi.


" Tapi dia hanya diam Bu mar, tidak menyangkal yang di omongin Bu Tika" Sahut Bu Ajeng.


"Terserah kalian lah, pusing aku" ujar Bu Marni dalam hati.


*


Widi menuju dapur minimalisnya membersihkan ayam dan memberikan bumbu marinasi lalu di simpan kedalam kulkas, Widi berencana mukbang ayam bakar satu ekor siang nanti.


Setelah aktifitasnya di dapur Widi ke kamarnya mengeluarkan beberapa setelan baju dan perlengkapan lainnya dari lemari dan memasukkan kedalam koper.


Setelah mengemas pakaiannya Widi membuka laptop siap untuk bekerja.


Beberapa jam kemudian Widi menutup laptopnya dan menaruhnya di tempat asal, lalu merenggangkan ototnya supaya lebih rileks.


Lalu Widi kembali ke dapur mengeluarkan ayam dari dalam kulkas yang telah di marinasi tadi, menyiapkan bumbu tambahan dan siap untuk memanggang.

__ADS_1


Setelah beberapa menit ayam di letakkan di pemanggangan Widi penyiapan saos pelengkap kesukaannya.


Ting Tong Ting Tong...


Bunyi bell rumah Widi


sepertinya ada seseorang yang datang bertamu.


Widi mematikan kompornya dan bergegas membukakan pintu.


"Siang neng Widi" sapa Bu Marni.


"Eh bu Marni, masuk bu" jawabnya ramah sambil mengulas senyum.


"Panggil tante aja nak, Ini tante bawakan Sup Iga, tante membuat banyak anggap aja ini salam perkenalan" kata Bu Marni.


Bu Marni memang tetangga baru Widi yang baru beberapa Minggu menghuni rumah di samping rumahnya.


Karena kesibukan keduanya hari ini baru sempat bertegur sapa lebih akrab seperti ini.


"Owalah tante repot repot, seharusnya saya yang lebih muda yang ngasih makanan salam perkenalan, ini malah tante duluan saya gak enak jadinya" ujar Widi lagi.


"Gak apa-apa nak, gak repot juga malah tante seneng akhirnya bisa kesini, rumah nak Widi cantik banget sama kayak orangnya" puji Bu Marni.


"Makasih loh Tante pujiannya, ini cuma rumah minimalis tante beda dengan rumah tante yang besar itu" jawab Widi.


"Walaupun minimalis tapi tante suka, Widi orangnya rapi banget, dekorasinya juga kekinian" ujar Bu Marni masih memuji.


Widi hanya mengulas senyumnya.


"Oh ya Tante Widi juga lagi masak, gimana kalau kita makan bareng aja" usul Widi.


"Boleh, kalau gak merepotkan. Tante juga lagi sendiri di rumah jadi bisa main lebih lama di rumah nak Widi"


"Yok tante kita ke dapur"


Ajak Widi sambil menggandeng tangan Bu Marni.


"Anak ini kelihatannya aja yang dingin, tapi ternyata ramah banget ceria juga" gumam Bu Widi dalam hati.


Widi mendudukkan Bu Marni di Kursi meja makan lalu dia mengangkat ayam bakarnya dari atas pemanggangan memindahkannya ke atas piring, dan membawanya ke meja makan yang sudah ada Bu Marni disana.


"Ayo tante di makan, Widi gak masak nasi hari ini jadi kita makan ayamnya aja" kata Widi masih dengan senyuman khasnya.


"Ya Allah senyumannya cantik banget, sayang aku gak punya anak laki-laki" ucap Bu Marni dalam hati.


"Ini neng Widi masak sendiri" tanya Bu Marni setelah memakan sepotong ayam yang Widi sajikan di piringnya.


"Iya tante, siapa lagi yang masak Widi kan cuma tinggal sendiri" Jawab Widi.


Mereka pun lanjut makan ayam bakar masakan Widi dan sup iga buatan Bu Marni diselingi dengan obrolan.


Setelah mengobrol cukup panjang akhirnya Bu Marni tau Widi hidup sebatang kara selama ini, selain cantik, dan ramah sungguh anak yang kuat dan mandiri itulah Widi menurut Bu Marni.


"Nak tante pulang dulu ya, kapan-kapan nak Widi yang kerumah tante" kata Bu Marni.


"Iya tante kapan-kapan saya main ke rumah tante, terma kasih juga sup iganya tante, sup iga buatan tante enak banget gak kalah dari restoran bintang lima" puji Widi.


"Ayam bakar buatan nak Widi juga enak banget, nanti tante minta resepnya ya"


"Iya tante nanti kita tukaran resep hehe"


Mereka berlalu dari ruang makan, Widi pun mengantar Bu Marni sampai ke teras rumahnya setelah itu Widi masuk dan membersihkan dapur.


"Enak kali ya kalau punya Ibu, ada teman ngobrol, ada yang masakin, ada yang merhatiin" gumam Widi dengan wajah sedih.


Widi segera mendongakkan kepalanya supaya air matanya tak keluar jatuh, dia harus kuat menjalani yang sudah di takdirkan kepadanya, semua akan di uji dengan ujian yang berbeda. Perkataan itulah yang mensugesti dia menjadi kuat selama ini.


*


Malam menyapa Widi bergegas menuju bandara dengan menaiki taksi, tak ada yang mengantarnya karena Mia sahabatnya sibuk meng handle resepsi pernikahan salah satu klient mereka yang sedang berlangsung sekarang.


Beberapa saat kemudian Widi sampai di bandara dan menaiki pesawat menuju kota B.

__ADS_1


Pesawat sampai di kota B dengan selamat Widi keluar dari pesawat dan menunggu pengambilan bagasi, setelah selesai Widi berjalan menuju sebuah kursi kosong hingga sesaat hal yang tak di inginkan terjadi.


BRAK


__ADS_2