
Waktu menunjukan pukul tiga dini hari, aku terbangun dari tidur karena memang waktunya aku bangun seperti biasanya untuk melanjutkan kegiatan pondok pagi hari. Dimulai dari membangunkan para santri terus dilanjutkan dengan amalan sebelum subuh berupa pujian kepada tuhan yang telah memberikan nikmat untuk semua makhluk-NYA. Setelah pujian selesai aku pun melanjutkan sholat subuh berjamaah dengan seluruh santri putra yang sedari tadi sudah bangun.
Semua berjalan lancar dan penuh kekhusyukan karena tidak ada suara kecuali pujian dan ayat-ayat Allah yang keluar dari imam pondok. Kegiatan pagi ini tidak terlalu banyak karena hari ini semua santri libur, setelah sholat subuh, pagi ini santri yang kebagian jatah piket segera melakukan kebersihan seluruh bagian asrama putra, kebetulan hari ini aku juga libur semua termasuk piket, jadi aku bisa bersantai di warung kopi untuk menikmati segelas kopi dan beberapa batang rokok sambil berharap sang bidadari Halimah datang ke warung kopi untuk membeli makan atau setidaknya lewat depan warung tempat aku biasa nongkrong kalau pagi sehabis kegiatan. Kalaupun hanya sekedar lewat saja setidaknya aku bisa melihat senyum mempesona yang telah memikat hati ini dan membuat aku jatuh cinta.
kemudian aku bergegas ke kamar untuk berganti pakaian dan langsung menuju warung kopi favoritku di kampung tempat pondokku berada. Tidak lupa aku mengajak Alif untuk ke warung kopi,
"Lif ke warung yuk, ngopi kita" ajakku pada Alif,
"ayo, kebetulan aku juga sekalian mau ngerokok udah gak enak nih mulutku" ucap Alif setuju dengan ajakan ku,
" Rahmat mana kok dari tadi gak keliatan" tanyaku pada Alif karena memang dari tadi aku tidak melihat Rahmat ada di sekitaran pondok,
"tau tuh, udah kabur paling gak mau kebersihan dia, dia kan jadwalnya kebersihan" jawab Alif yang juga tidak tahu keberadaan Rahmat,
"ya udahlah, yuk kita pergi ke warung duluan, nanti kalau ada Rahmat lewat kita ajak aja sekalian" ucapku pada Alif,
"oke" jawab Alif sambil berjalan,
kami pun langsung berjalan menuju warung untuk menikmati kopi di pagi hari.
Setelah sampai di warung aku langsung memesan kopi hitam dengan kadar gula yang sedikit karena aku suka dengan kopi hitam yang agak pahit,
"bu aku pesan kopi hitam agak pahit ya" ucapku memesan kopi kesukaanku,
"iya Di, ibu udah tau kok pesenan mu seperti biasanya gak pernah berubah sukanya yang pahit" ucap pemilik warung kopi tempat kami biasa nongkrong,
"hehehehe iya bu, aku suka kopi pahit karena hidup tidak selalu manis bu, kadang ya pahit juga bu" ucapku pada pemilik warung sambil tersenyum,
"iya bu kalau kopi pahit itu nanti manisnya kan ada di bidadari surga pondok bu, hahahaha"ucap Alif pada pemilik warung meledekku,
"hahahahaha"kami semua tertawa karena tingkah Alif,
"oh iya bu, aku pesan kopi juga ya bu tapi gak pake pahit bu, pahit itu gak enak bu, aku butuh yang manis gak kayak Aldi sukanya yang pahit karena sudah menemukan yang manis, hehehehehe"lanjut Alif memesan kopi pada si pemilik warung,
"oke Lif" jawab pemilik warung sambil membuat pesanan kami berdua,
sembari menunggu pesanan selesai dibuat, aku pun langsung menyalakan rokok untuk dinikmati sebelum kopi datang,
"Lif, gimana kemarin lancar gak pdkt an sama teman Halimah?" tanyaku pada Alif,
"aman lah, mana ada aku di tolak sama cewek hehehehe" ucap Alif menyombongkan diri,
"hehehehe, jadi dia mau sama kamu ?" ucap ku pada Alif,
"ya iyalah mau dia" jawab Alif dengan lagaknya yang sombong,
"mau muntah paling, hehehehe" kali ini giliranku yang meledek Alif,
__ADS_1
"mana ada, orang dia itu udah lama suka sama aku" jawab Alif menyangkal ledekanku,
ditengah obrolan kami berdua, ibu Tin pemilik warung kopi menyuguhkan kopi pesanan kopi sambil berbicara pada kami,
"masalah cewek ya" ucapnya pada kami,
"iya bu" ucap Alif meng-iya-kan ucapan Bu Tin tadi,
"ya udah lanjutkan ibu mau masak dulu, ibu titip dulu ya" ucap Bu Tin pada kami,
"oke bu" jawab aku sama Alif berbarengan,
kami pun langsung melanjutkan pembicaraan kami tadi yang kepotong sama suguhan kopi tadi.
sambil menyeruput kopi hitam yang masih panas dan pembicaraan hangat, ku lihat dari kejauhan ada beberapa anak perempuan santriwati yang berjalan menuju arah warung. aku berharap ada Halimah sang bidadari di antara perempuan-perempuan itu. dan benar saja setelah jarak antara jalan sama mereka sudah dekat kulihat ada sosok Halimah berjalan dengan anggunnya sembil tersenyum berbincang dengan teman-teman nya, entah apa yang dibicarakan mereka sehingga membuat Halimah tersenyum lepas dengan bahagianya tapi yang jelas aku bahagia bisa melihat senyumnya di hari ini.
Tidak lama mereka pun sampai di warung dan menanyakan Bu tin,
"Bu Tin nya mana kak" tanya Rika pada Alif,
"ada di belakang, mau pesen apa ? cinta ku kah...?" tanya Alif sambil melakukan trik memikat hati perempuan kebiasaannya, yaitu rayuan maut,
"kalo cintamu udah pasti toh, kan kamu yang selalu dihati" kali ini Rika yang membuat Alif melayang dengan rayuannya,
"hehehe"Alif tersenyum cekikikan,
"cinta mulu, ada gak obrolan yang lain selain cinta, hehehe" ledekku pada mereka berdua,
"gimana Halimah, kamu mau gak di rayu sama Aldi, hehehehe" ucap Alif bertanya meledek,
"hehehehehe" kami semua tertawa lepas dengan pertanyaan Alif pada Halimah,
"gimana kabarnya Mah" tanyaku pada Halimah,
"cieeeee, pakai mamah yah" ucap Alif meledek ucapanku bertanya pada Halimah dan memotong sebelum Halimah menjawab,
"namanya kan Halimah, jadi aku panggil Mah biar singkat aja Liiif" ucapku pada Alif dan semua orang disana biar jelas tidak ada kesalahpahaman,
"iya deh terserah awakmu ae Di" jawab Alif padaku,
"gimana Mah kabarmu" ucapku bertanya kembali pada Halimah,
"baik kak, kakak gimana" ucap Halimah sekalian bertanya balik padaku,
"dia lagi kurang baik tuh, dia semalam mikirin kamu katanya kangen" ucap Alif lagi-lagi memotong pembicaraan sebelum aku menjawab,
"oh ya, sama dong aku juga kangen, kebayang terus" ucap Halimah tersenyum, yang membuat aku juga tersenyum,
__ADS_1
"hahahaha, kok perempuan Di yang merayu kamu kapan...?" ucap Alif meledek ku lagi sambil tertawa,
"aku gak seperti kamu yang pandai merayu, aku hanya berbicara persis yang aku pikirkan dan kenyataan yang ada Lif" ucapku pada Alif,
"oh ya kak ini buat kamu" tiba-tiba Halimah memberikan kertas putih di tangannya sambil tersenyum manis padaku,
"makasih ya Mah" ucapku pada Halimah sambil tersenyum membalas senyumannya tadi,
"cieee dikasih surat" lagi-lagi Alif meledekku,
"udah ah, kasian mereka nunggu Bu Tin tuh" ucapku pada Alif yang terus-menerus meledekku,
"oh iya jadi lupa" ucap Alif,
"Bu ada yang mau pesen nih bu" lanjut Alif sambil memanggil Bu Tin,
tidak lama kemudian, Bu Tin sampai dan langsung bertanya pada Halimah dan temannya,
"mau pesen apa nak" tanya Bu Tin,
"sayur Bu" jawab Rika,
"tunggu sebentar ya" ucap Bu Tin segera menyiapkan pesanan mereka,
"oke bu" jawab Halimah dan teman-temannya kompak,
tidak berselang lama pesanan mereka selesai dibuatkan oleh Bu Tin,
"ini nak pesanannya" ucap Bu Tin sambil memberikan kresek yang berisi pesanan Halimah dan teman-temannya,
"iya bu, ini uangnya bu" ucap Rika sambil memberikan uang dan mengambil kresek dari Bu Tin,
"makasih ya" ucap Bu Tin,
"iya bu sama-sama" ucap Rika,
"aku duluan ya kak" ucap rika pada Alif,
"aku juga duluan ya kak" Halimah tersenyum padaku,
"iya hati-hati ya" jawab aku dan Alif serempak,
"ciee kompak"ledek teman-teman Halimah dan Rika tersenyum,
mereka pun langsung pergi meninggalkan kami dan Halimah melambaikan tangannya padaku, aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum padanya,
"ibu titip lagi ya, belum selesai tadi" ucap Bu Tin yang menyaksikan akhir pertemuan aku dan Alif dengan Halimah dan teman-temannya,
__ADS_1
"oke bu, ibu lanjut aja dulu masak lagi nanti kalau ada yang mau beli kami panggil lagi" ucapku pada Bu Tin.
Setelah Bu Tin pergi ke belakang lagi, kami pun melanjutkan menikmati segelas kopi yang belum habis dari tadi dan kembali menyalakan rokok.