
Waktu terus berlalu dan ketika pagi tiba, aku bersegera untuk mandi dan bersiap ke kampus yang jaraknya lumayan jauh dari asrama pondok. Akan tiba waktunya untuk memberikan surat yang sudah aku tulis semalaman.
Berharap juga surat itu akan dibalasnya lebih cepat dari aku menulisnya. Rasa tidak bersabar diri untuk bertemu dengan dia yang berparas bidadari surga itu terus membayangi diri. Makan saja rasanya tidak terlalu nikmat karena selalu kepikiran paras anggunnya yang telah memecah konsentrasi dalam menempuh pendidikan. Tapi aku tahu kalau ini adalah rencana tuhan yang luar biasa, aku tahu kalau dibalik ini semua ada keindahan yang luar biasa.
Setelah selesai mandi dan menyiapkan keperluan untuk kuliah. Aku bergegas untuk keluar kamar, memakai sepatu dan berangkat kuliah. Dengan memakai jas almamater kampus tercinta akhirnya aku berjalan sendirian menuju kampus sambil berharap bisa melihat bidadariku dari jalan dan menyapanya kemudian memberikan surat yang sedari tadi malam sudah siap untuk diberikan pada Halimah.
Setelah keluar halaman asrama aku melihat ke arah kelasnya Halimah, Tempat pertama kali aku melihatnya. Tapi saat itu juga datang rasa kecewa, aku tidak melihat sosok bidadari itu ada di kelasnya. Aku hanya melihat kelas yang kosong tanpa ada satupun orang yang ada disana. Aku juga tidak melihat adanya pelajaran di sekolah itu, sama sekali tidak ada kegiatan disana,
"Apa yang terjadi di sekolah ini sampai tak ada kegiatan belajar mengajar" gumam ku dalam hati karena aku merasa kecewa tidak bisa melihat sosok wanita berparas bidadari bernama Halimah,
"Libur mungkin, ah sudahlah, kenapa sih aku harus sekecewa ini bukankah aku yg tidak pernah kecewa dalam hal apapun. Bukannya aku bukan siapa-siapa dia, ah ada apa denganku sampai-sampai aku merasa kecewa berat seperti ini" lanjutku ngedumel dalam hati.
Aku terus melanjutkan perjalananku sampai tiba di kampus. Aku masih merasakan kecewa, bayangan wajahnya yang selalu membuat aku ingin melihatnya seakan-akan semakin membuatku merasa terpuruk untuk saat ini.
"Nyapo kowe melamun ae *** (kamu kenapa kok melamun aja)" tanya Alif padaku,
"Rapopo *** (gak apa-apa)" jawabku menyembunyikan perasaanku saat ini pada Alif,
"Kepikiran wong wedok kui paling (kepikiran anak perempuan itu paling)" lanjut Alif sambil cengengesan
"De'e libur ***, tapi tenang ae *** engko de'e mrene kok (dia libur ***, tapi tenang aja nanti dia kesini kok), jare kangen karo kowe *** (katanya kangen sama kamu) hahahahahah" Alif meledekku dengan sesuka hatinya,
"Tenan po ra kon ***, aku kok ra tau yakin ro awakmu, ngapusi paling kowe (serius apa nggak kamu ***, aku gak percaya sama kamu, paling bohong kamu)" jawabku tidak percaya pada Alif yang emang sering bercanda sama aku,
"Lag awak mu ra percoyo yo wes, kon delok'en dewek lah, iku de'e ro koncone (kalau kamu gak percaya ya sudah, kamu liat aja sendiri, itu dia sama temannya)" lanjut Alif menunjuk ke arah luar kampus,
__ADS_1
Aku pun langsung melihat ke arah yang ditunjukkan Alif padaku, kulihat ada sosok bidadari itu sedang berbicara agak serius sama temannya,
"Oh tuhan dia sungguh menawan sekali, cantik luar biasa" gumam ku dalam hati sambil tersenyum lebar karena bahagia melihat wanita idaman dalam hati,
"Eh *** gak usah senyum-senyum sendiri juga kali, sana samperin dia, terus aku titip salam buat temannya ya" Alif melanjutkan seakan dia tahu apa yang lagi aku pikirkan,
"Gak mau lah kan aku bukan anak daerah mu, nanti yang ada malah aku kena sikat sama ustadz" jawabku serius pada Alif,
"Kamu aja yang kesana ya, terus aku titip salam dan aku juga titip kertas ini ya" lanjut ku pada Alif sambil memberikan surat yang sudah semalaman aku tulis,
"Oke ***, kamu gak mau ikut keluar gitu ke kantin, ngopi gitu ?" Tanya Alif padaku,
"Aku juga mau ke kantin ini aku mau ngerokok di sana, sambil ngopi kayak biasanya" jawabku,
"Tunggu aku ya, aku ke sana dulu ngasih surat cinta untuk Halimah dari Malaikat tanpa sayap, hahahahaha" ledek Alif padaku kemudian langsung berjalan ke arah Halimah,
"Hai kak Aldi" sapanya padaku dengan senyum manis di pipinya yang selalu saja membuatku hanyut dalam lautan cinta,
"Hai juga" jawabku tersenyum, dan emang hal itulah yang selalu aku harapkan kalau ketemu Halimah.
Aku melanjutkan perjalanan menuju kantin kampus,
"oh tuhan dia sungguh manis sekali kalau lagi tersenyum, dia selalu membuatku seakan lagi berada dalam kebahagiaan yang sebenarnya dalam hidup yang penuh sandiwara ini" pikirku dalam hati,
Sesampainya di kantin, aku langsung memesan segelas kopi hitam kesukaanku sedari dulu,
__ADS_1
"Bu, kopi hitamnya satu tapi jangan terlalu manis ya bu" kataku memesan minuman favorit ku pada bu Nur pemilik kantin kampus,
"Iya di, aku udah hafal kopi yang kamu sukai" jawab bu Nur sambil mengambil panci tempat masak air untuk kemudian langsung meracik kopi hitam pesananku,
"Iya bu" kataku pada bu Nur sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong almamaterku dan kemudian langsung mengambil sebatang untuk aku nyalakan.
Di menikmati hisapan rokok dan masih terbayang paras cantik Halimah ditambah seduhan senyumannya yang manis datanglah Alif sambil mengambil rokok ku dan duduk di dekatku,
"Udah ***, tadi dia bilang salam balik ke kamu ***" kata Alif padaku,
"Iya Lif makasih" ujarku pada Alif,
"Tadi aku minta nomer temannya Di, untungnya dia pegang hp Di, kalau gak itu bisa-bisa surat-suratan kayak kamu aku, hehehehehe" kata Alif sambil bercanda padaku,
"Hehehehe, itu tadi cuma kertas biasa Lif, bukan surat kok, cuma isinya puisi" ujarku pada Alif,
Tidak beberapa lama kemudia kopi hitam pesananku telah selesai dibuat oleh bu Nur,
"Ini Di kopi pesenan mu udah siap diminum" ujar bu Nur bertingkah kayak pelayan restoran,
"Iya bu, makasih ya bu" ujarku
"Bu aku pesan es teh ya bu" ujar Alif pada bu Nur,
"Iya Alif, tapi bayar ya" jawab bu Nur pada Alif sambil meledek Alif yang lumayan suka berhutang pada Bu Nur,
__ADS_1
"Hahahahaha" kami pun tertawa karena ulah usil Bu Nur meledek Alif,
Kemudian kami melanjutkan meminum kopi dan es teh, sambil menunggu dosen datang untuk melanjutkan perkuliahan hari ini, dan yang terpenting lagi aku tidak merasa kecewa lagi karena surat ku sudah diberikan oleh Alif. Ya, walaupun aku masih cemas takut surat dariku tidak dibaca olehnya dan aku hanya berharap surat itu di baca oleh Halimah dan tidak terlalu lama dia membalas surat itu. Saat ini aku hanya ingin membayangkan paras anggunnya tadi saat tersenyum menyapaku.