
Sore telah tiba dan perkuliahan hari ini telah selesai, kami pun langsung bergegas untuk kembali ke asrama dan melanjutkan kegiatan pondok. Aku, Alif dan Rahmat berjalan bersama menuju pondok. Sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang masalah persiapan untuk pulang nanti.
"Gimana Lif persiapan awak mu untuk pulang nanti" ujar Rahmat,
"Udah 80% sih persiapan gua ***" jawab Alif,
"Tinggal nunggu kalian lagi, jadi apa nggak ikut ke rumah ku di Bali" kata Alif melanjutkan,
"Kalau aku sih insya Allah jadi kalau gak ada halangan nanti" ujar ku pada mereka berdua,
"Ya kalau kalian jadi, nanti aku siapin semua yang kita butuhkan disana" ujar Alif menambahkan.
Waktu berjalan begitu cepat dan kami sudah hampir sampai di asrama pondok. Aku, Alif, dan Rahmat mampir sebentar ke warung untuk membeli sebungkus rokok dan minuman gelas untuk nanti malam kami ngobrol sampai larut malam di lantai atas pondok.
__ADS_1
Setelah selesai semua kami langsung kembali ke asrama untuk mandi dan melanjutkan kegiatan malam di pondok.
Waktu ngaji setelah isya telah tiba, aku mendapat tugas untuk berjaga karena biasanya banyak santri yang bolos ngaji dan kalau itu terjadi akan ada hukumannya besok pagi seperti diikat di pohon mangga depan asrama. Tentu hal itu yang sangat memalukan karena akan ada banyak santri dan santriwati yang melihat.
Kegiatan ngaji setelah isya pun selesai dan waktu makan pun tiba. Semua santri bergegas mengambil jatah makan yang sudah disediakan oleh pihak asrama. Aku yang dari tadi cuma santai-santai mengawasi setiap santri tidak begitu tertarik untuk makan malam ini. Dan aku hanya ingin membayangkan paras indah bidadari yang turun di pulau surga bernama Halimah. Aku pun langsung masuk ke asrama untuk mengambil rokok dan menitipkan uang pada Alif dan Rahmat untuk membeli kopi ke warung sekalian mereka makan,
"Lif, aku titip ya beli kopi" ujar ku pada Alif,
"Kagak Lif, aku lagi gak mood makan nih" ujar ku lagi pada Alif,
"Oh, ya udah kalau gitu Di, nanti aku belikan ya" kata Alif.
Setelah Alif dan Rahmat menuju warung tempat mereka biasa makan, aku pun langsung menuju lantai tiga asrama sambil membawa sebungkus rokok dan sebuah korek untuk menemani aku sebelum kopi hitam kesukaanku datang.
__ADS_1
Aku berjalan perlahan menyusuri anak tangga satu persatu dan entah apa yang terjadi saat ini sehingga yang ada dibenak ku hanya senyum Halimah yang mempesona. Aku masih tidak terlalu paham dengan apa yang aku rasakan saat ini, apa benar ini cinta ? kalau benar ini cinta, sungguh hal ini membuatku begitu gila pada satu sosok yang aku sendiri belum bisa mengetahui isi hatinya.
Tak terasa aku sudah sampai di tempat biasa aku menikmati malam, tempat dimana aku sangat merasakan suatu ketenangan jiwa kalau resah datang menghampiri. Aku duduk sembari menyalakan sebatang rokok yang sudah siap untuk dinikmati, satu hisapan dan pandangan menghadap ke arah langit yang tampak bersinar karena adanya rembulan dan bintang-bintang kecil yang berhamburan memancarkan cahaya yang begitu indah. Lewat tatapan mengarah ke langit yang cerah, aku bisa merasakan ketenangan malam ini. Seakan langit menggambarkan senyum mempesona gadis berparas bidadari yang sangat elok.
"oh tuhan, gila kah aku yang selalu terbayang senyuman ciptaan mu yang sempurna itu?" gumamku dalam hati,
"tuhan, jelaskan padaku maksud semua ini",
"sebuah rasa yang membuatku merasakan getaran dalam dada yang sangat bergejolak", dalam lamunan itu aku masih saja bertanya akan perasaan yang sungguh tak bisa aku pahami sedikitpun.
hisapan demi hisapan rokok terasa nikmat sekali dengan bayangan Halimah menemani ku, ingin sekali rasanya aku bercerita tentang hal ini tapi aku tidak tahu pada siapa aku harus bercerita tentang ini semua. pada Alif ?
ah yang benar saja, dia pasti akan terus mengejek ku, dia kan orang yang senang meledek temannya.
__ADS_1