
BAB SATU
Namaku Manda Naditya, umur 19 tahun. Gue perempuan dewasa dan mandiri, mungkin ini efek gue yang dari keluarga kelas bawah sekaligus pergaulan yang benar. Diumur Sembilan belas, gue punya pekerjaan sendiri dan beruntungnya itu pekerjaan yang gue sukai. Gue seperti sebutir emas yang ada di lumpur lapindo. Itu semua berkat dukungan keluarga dan teman gue, serta satu orang yang membawa perubahan besar pada hidup gue. Bisa dikatakan, dialah sang titik balik. Baik hujan asam ataupun hujan tawar, semuanya berasal dari awan yang hitam. Begitupun gue, walaupun gue mempunyai pola pikir yang dewasa dan mandiri, gue berasal dari kelas bawah dengan latar belakang yang cukup suram. Gue tinggal di rumah bobrok di kawasan Bogor. Seperti kalangan kelas bawah lainnya, orang tua gue menghasilkan banyak anak. Gue anak ketiga dari lima bersaudara. Gue punya dua Kakak; perempuan dan laki-laki. Begitupun Adik, gue punya dua Adik; perempuan dan laki-laki. Jadi kalau ada yang bertanya, “Kakak kamu laki-laki atau perempuan?' gue jawab, “Laki-laki, perempuan.' Atau bertanya begini, “Adik kamu laki-laki atau perempuan?' gue jawab, “Laki-laki sama perempuan.'
Kakak pertama gue laki-laki, kelahiran '96, namanya Zaid Prasetya, anggota keluarga paling ribut, kalau diibaratkan dia itu kayak ayam. Kalau lagi ngomong, seakan kami semua itu bolot, jadi nggak cukup ngeluarin satu oktaf. Namanya bagus ya, Zaid, tapi sayang dipanggil sama keluarganya itu Jait. Apa gunanya nama bagus kalau nama panggilan kalian nista banget? Selanjutnya Kakak perempuan gue, Sabna Azalea, kelahiran 2001. Anggota keluarga paling diam, dan paling deket sama gue. Dia paling dewasa, tapi tetap ada kekurangannya, apa? Dia nggak gampang memaafkan dan cenderung menyimpan prasangka terhadap semua orang, terlebih lagi kepada orang yang suka pada dirinya. Bagian gue dilewat saja. Gue mah apa atuh?
Berlanjut ke Adik pertama gue, Laila Kandira, kelahiran 2007 (hayo tebak umur gue berapa, oh iya tadi udah gue sebut. Sembilan belas..), anggota keluarga paling cengeng dan lemah. Kalian napas di dekat dia aja dia bakal menangis, hehe, gak deng. Dia paling sering dijailin karena sifat lemah dan penyayangnya, tapi juga paling sering dibelain oleh kedua orang tua gue. Terakhir Adik Laki-Laki gue, Yosua Athalia, kelahiran 2011. Layaknya anak bontot pada umumnya, dialah raja diantara saudara-saudara gue. Yang kalau minta bakal dikasih dan kalau dipinta pura-pura bolot. Beberapa orang beranggapan bahwa gue beruntung karena mempunyai Kakak dan Adik. Padahal, imbasnya gue mendapatkan nasib yang sama seperti anak tengah lainnya, apa itu? Apalagi kalau bukan 'Tidak dianggap', seperti kulit cabe yang menyelip diantara gigi-gigi taring, gue pun punya kedudukan yang menyelip diantara yang lainnya.
Keluarga gue bobrok lebih dari apapun, ada tiga kubu yang saling bermusuhan. Siapa aja? Ayah, Bunda, dan Kakak laki-laki gue. Beruntung mereka masih mau untuk tinggal satu atap, walau akibatnya gue beserta adik-adik gue jadi melihat perang antara Palestina dan Gaza setiap harinya. EKSKLUSIF! Rasa-rasanya gue ingin mengajukan surat permohonan pertolongan kepada Unicef. Kak Sabna, yang paling diem diantara keluarga gue itu mungkin anggota keluarga yang paling berisik di keluarga kalian. Berasa bukan seramai apa keluarga gue? Gue sendiri berprofesi sebagai Jaksa sekaligus Hakim dan Pengacara di dalam keluarga ini. Gue yang menghakimi semua anggota keluarga, bahkan Kak Jait yang sering menyolot pun akan tunduk kalau gue ketok palu tiga kali… ke kepalanya. Hehe. Kiranya Tuhan nggak marah dengan perbuatan gue yang sok menghakimi ini, namun apa boleh buat, nggak ada yang sedewasa dan sepeduli gue saat menghadapi semua masalah yang ada.
Gue nggak pernah menyesali masa lalu gue dan latar belakang gue yang dari keluarga bobrok kelas bawah, justru gue bersyukur. Pernah dengar ungkapan, orang tua yang buruk melahirkan anak berkualitas? itulah gue. Tapi gue bukan mau membahas perihal keluarga gue beserta segala mala petakanya, melainkan gue akan membaha seseorang yang menjadi titik balik gue. Titik balik ya, bukan akil balig. Benar, dialah sang titik balik. Yang bersedia menerima dan membimbing gue sejak gue masih ingusan. Oke, yuk kita lihat sisi 'deep' dari kepribadian gue.
oo0000oo
You're smiling today. From far away, i smile with you too.
Imagine the day we be together someday.
(Roy Kim - Pinnocchio)
Diumur empat belas tahun, gue punya teman, gue anggap sahabat, sih. Tapi nggak tau, deh, dia menganggap gue sahabatnya atau bukan.
Dia perempuan, dan kita kenal lewat sosial media. Gue berteman sama dia pas gue baruu bikin akun Facebreak, usia 2 bulanan, lah. Namanya Aviva Amalda. Lama-kelamaan gue mulai akrab sama dia, akrab dalam artian gue, ya. Bukan dia. Kebetulan ketika gue kenal dia, gue lagi jomblo dan Aviva nggak segan buat pura-pura jadi cowok kalo lagi chattan sama gue. Alasannya, buat ngehibur gue, soalnya dia punya pacar, gue doang yang jomblo.
Singkat cerita, Gue sama Aviva semakin dekat. Sudah saling tukar nomor telepon(tanda seseorang mulai nyaman), sering bercanda juga. Dia cocok banget jadi cowok kalo menurut Gue. Bahkan sewaktu Kakak perempuan gue chattan sama Aviva, Kakak gue bilang chatt sama Aviva berasa chattan sama cowok. Ya gue ketawa, dong, gue kira Aviva masih 'kebawa' roleplay jadi cowok gadungannya.
Aviva tipe yang sering fokus sama dunia real life-nya--beda sama gue yang agak condong ke nolep--maka dari itu Aviva sering hiatus buat fokus real life. Aviva kalo hiatus nggak pernah bilang-bilang ke gue, gue juga biasa aja. Malah berakhir jadi gue yang nunggu dia kembali dari masa hibernasinya, berasa lama banget kalo ditinggal Aviva. Tetapi, ketika itu, tepatnya tanggal 18 Desember 2016,saat usia hubungan gue sama dia udah jalan enam bulan, Dia chatt gini ke gue.
“Beb,' katanya.
“Apaan?' bales Gue 'sok' males. Padahal gue sampai berjingkrak-jingkrak senang setiap kali akun berfoto profil Kim Taehyung itu ngechatt Gue.
“Gua mau hiatus.' Rasanya nyesss sewaktu baca balasan dia, tapi ada rasa senang juga karena dia bilang dulu ke gue sebelum dia hiatus. Gue berasa penting gitu bagi dia. Hehe.
“Kapan? Lama nggak?' tanya gue. Nunggu balasan Aviva lima menit itu berasa kayak nunggu sepuluh nomor antrean di Puskesmas.
“Besok. Nggak kok nggak bakal lama.' balas Aviva.
“Kenapa hiatus?' tanya gue penasaran.
“Mau nenangin diri.' balasnya.
“Lohh? Lagi ada masalah ya?' jawab gue.
“Gua nggak bisa ngasih tau ke lu hehehe.' Orang sabar disayang semuanya. Sama kamu juga, hehe.
“Oh yaudah deh. Jangan stress ya, Beb.' ucap gue khawatir sama Aviva.
“Nggak akan hahahaha.'
“Oh iya, Kamu lagi ada Classmeeting yak di sekolah?' tanya gue nyari topik pembicaraan. Oh iya, gue homeschooling, alhasil gue nggak tau apa-apa soal sekolah formal.
__ADS_1
“Iya dong. Lu mah homeschooling ya.' balasnya.
“Iya. Gak ada temen. Seru gak Classmeeting nya?' tanya gue penasaran tentang bagaimana kehidupan sekolah formal diluar sana.
“Seru kok.' balas Aviva.
“Enaknya. Aku juga pengen ngerasain.' jawab gue iri. Gue seriusan iri, seumur-umur gue belum pernah merasakan yang namanya .
“Yaudah tinggal main bulutangkis sono Beb.' balas Aviva.
“Gak ada temen mainnya,'
“Yah kasihan. Jangan sedih Beb. Main sama suga aja sana.'
“Yaelah Beb. Main bareng dia sama main sendiri juga sama aja rasanya Beb.' balas gue. Suga itu member BTS yang paling nggak demen olahraga. Just like Me. Hehe.
“Oh Iyaya hahaha.' balas Aviva.
“Gua mau bawa motor dulu ya.' Aviva ngirim pesan lagi, ketika dia bicara begini, rasa-rasanya dia perlu diraguin kalo dia perempuan. Aviva mirip laki-laki, tetapi mungkin perasaan gue doang.
///
Satu minggu tanpa Aviva rasanya berlalu begitu lambat, gue rasa ini karena Aviva sahabat pertama gue di sosmed. Mungkin efek gue yang nolep juga. Walaupun, lebih dari sekali terbesit di pikiran gue kalo gue ada rasa sama dia. Gue bahkan sudah mengecap diri gue lesbi. Tapi gue nggak masalah hehe. Gue suka.
Pukul sebelas siang, 22 Desember 2016,
Siang bolong itu gue kesepian dan gue iseng buat kirim uang eh pesan maksudnya, ke Aviva via sms. Anak Kpopers pasti tau kenapa gue nggak main bareng anak-anak lainnya.
“Beb.' sapa Gue.
20 menit berlalu, Aviva nggak kunjung balas pesan gue. Gue pun pergi mengerjakan tugas gue yang lain. Lima menit kemudian ponsel gue berbunyi, nada dering tanda masuk sms Handphone Evercost. Gue nggak bisa utarakan lewat tulisan. Bunyinya kayak, teneneng teneng. Dipersilahkan untuk membeli ponsel merek Evercost kalau sekiranya kalian penasaran. Hehe.
Gue slow motion ketika mau mengaktifkan ponsel itu, niatnya biar lebih dramatis, tetapi gue nggak tau jatohnya jadi macam apa. Ketika gue liat user name 'Aviva' di kolom pesan baru, gue langsung teriak.
“Siapa?' gitu balasannya.
“Masa lu lupa sih sama gua. Jahattt.' balas gue, alay.
“Ohhh Manda tah?' jujur, gue nggak tau apa arti kata, 'tah', tapi logika ngawur gue bilang kalo itu sepadan dengan kata 'kah'.
“Iya hehehe.' balas gue. Sekitar lima belas menitan gue nunggu balasan dari Aviva,
“Aviva nya nggak ada.' balas dia. Gue nelan ludah. Kalo ini bukan Aviva, eh bukan, kalo Ponsel Aviva dibajak, kenapa si pembajak tau nama gue?
“Aviva kemana?' tanya gue polos.
“Aviva nggak ada, gua abangnya.' bales dia. Gue dengan segala kekuatan drama queen yang gue milki segera mengira-ngira hal yang nggak mungkin, ditambah logika gue yang ngawur, ekspetasi gue jadi makin jauh dari kenyataan.
“Aviva nya kemana?' tanya gue lagi. Jujur, benak gue menyangka kalo Aviva sebenarnya udah meninggal. Dan selama ini abangnya yang mengelola akun dia. Ngawur memang, tapi menurut gue pribadi itu menjelaskan semua yang janggal dari watak Aviva. Hayoo, jangan ikut-ikutan mengambil kesimpulan yang sama kayak gue.
Gue tungguin dua puluh menit dia nggak bales juga, akhirnya gue tinggal perkara ini. Pukul dua siang, gue menyempatkan diri untuk mengecek ponsel gue yang dingin. Kayak doi. Hehe. Belum ada balasan apapun dari Aviva,
“Beb?' gue kirim pesan lagi, mungkin diri gue di masa depan akan malu dengan tindakan gue sekarang.
Aviva belum juga membalas pesan gue dan kebetulan gue diajak Kakak perempuan gue, one and only Kak Sabna, jalan-jalan keliling kampung. Sepulangnya gue hari sudah hampir maghrib, sampai waktu gue mengecek kembali ponsel Evercost milik gue, gue nggak kunjung dapat balasan dari Aviva. Gue pun mulai berprasangka--lumayan buat nambah dosa, apa Aviva sibuk, apa gue menganggu tujuan dia hiatus, apa gue terlalu mendesak dia, dan seribu imajinasi lainnya yang kebanyakan menjurus kearah negatif.
“Beb ih aku nggak ngerti.' gue mengirim pesan lagi kepada Aviva karena tidak sabar.
__ADS_1
“Berisik.' balas dia. Gue menganga membaca balasan Aviva, tetapi berkat kekuatan friendship yang menyertai gue, gue berteguh buat membongkar semua konspirasi ini.
“Maksudnya apa ih? Aviva nya kemana? Kok aku nggak ngerti sih?' bales gue.
“Aviva nggak ada, gua abangnya.' gue berasa chatt sama operator kalo Aviva balas begini melulu.
“Iya, Aviva nya kemana? Kenapa Handphone dia dipegang Abangnya?' tanya gue sabar. Sebenarnya itu hal yang lumrah bagi seorang abang untuk meminjam ponsel adiknya, tapi jadi nggak masuk akal karena dia lama banget mengambil alih ponsel Aviva.
“Gua sama Aviva udah putus.' KATANYA LU ABANGNYA AVIVA, APANYA YANG PUTUS, SIH.
“Putus? Kok aku nggak paham sih? Ini sebenernya siapa?' terbesit di pikiran gue gagasan kalo gue mengirim pesan ke nomor yang salah, tapi bener kok dia Aviva. Buktinya dia tau siapa gue. Beberapa hari yang lalu juga gue sempat iseng melihat profil Whatsupp Aviva, foto profilnya persis wajah Aviva kok.
“Akun Aviva itu yang megang gue, dan gue laki-laki.' Gue terperanjat membaca balasan Aviva. Saat itu juga Bunda manggil gue buat minta bantuan. Persoalan ini terpaksa gue tinggalkan sesaat.
Selama membantu Bunda, yang mengisi pikiran gue hanya Aviva. Kalo memang dia laki-laki, berarti gue nggak lesbi dong, berarti gue normal dong, berarti gue suka sama laki-laki. Gue menyunggingkan senyum. Sedetik kemudian mata gue membulat, te--trus, gi--gimana wa-wa--waktu gue sama Aviva--ralat, Abangnya membahas topik soal la---laki-laki, soal seks dan lain-lain. Gue bisa gantung diri karena malu saat ini juga, gue nggak bisa menghadapi Aviva lagi, setelah semua tindakan bodoh gue.
Tak perlu jauh-jauh ke diri gue yang di masa depan, hari ini juga gue sudah menyesali tindakan gue yang 'seakan' mendesak dia buat bales pesan gue. Kenapa juga gue nyepam'in ponsel dia. Tapi gue bukan lesbi. Hehe. Gue juga belum pernah membahas perihal menstruasi sama dia, hehe. Setidaknya kenyataan itu bikin gue tetap hidup.
“Jelasin yang bener ih. Aku nggak paham.' balas gue, saat itu pukul tujuh malam. Sudah lewat maghrib.
“Lu waktu itu minta nomor aviva kan? Karena gua yang megang akun dia, jadi gua kasih nomor gua. Ini bukan nomor Aviva.' akhirnya semua jelas di pikiran gue. Berarti Aviva nggak mati, tapi urat malu gue yang mati.
“Kenapa akun Aviva kamu yang megang? Terus nomor Aviva yang 'asli' itu mana?' tanya gue, gue tau kalau dia pasti lebih tua dari gue, tapi kenapa gue pakai panggilan 'Kamu', ya.
“Akun Aviva nggak pernah ada, itu akun gua, tapi tukeran akun sama dia. Trus akun gua diubah nama sama profilnya jadi akun perempuan. Makanya lu ngira gua perempuan. Gua nggak tau nomor telepon dia yang sekarang. Dia ganti nomor semenjak putus sama gua.' jujur kenyataan ini cukup menohok gue. Kenyataan kalo gue menyukai mantan pacar sahabat gue. Tapi kocak juga dia baru aja di putusin.
“Ohhh. Gitu.' balas gue. Ketika itu gue sedang makan malam di ruang tengah, dan ponsel gue di kamar. Kenapa? Karena gue pake kartu tree, dan sinyalnya hanya ada di jendela kamar gue. Terpaksa gue mondar-mandir buat balas pesan Aviva--Eh Mantannya. Nggak terpaksa juga sih, gue suka. Hehe.
“Tu--Tunggu! Terus, yang waktu chatt sama aku ngebahas soal 'itu' siapa?! Kamu?!' tanya gue panik. Keringat dingin terus bercucuran di pelipis gue dan detak jantung gue berdegup lebih cepat seakan gue habis lari 500 meter.
“Hahahahahaha..' balas dia. Gue nelen ludah, dan menjedot-jedotkan kepala gue ke dinding sambil mengumpati diri gue sendiri.
“Balikin kepolosanku.' sebesar apapun emosi gue, gue takut buat ngomong 'lo gue' sama dia. Bukan takut kualat, tapi takut ketahuan ayah gue yang disiplin banget kalau urusan penggunaan tutur kata.
Sekalipun gue kelihatan 'nggak gaul' karena memakai bahasa 'aku-kamu' pun gue nggak peduli. Saat ini gue pake bahasa 'gue' karena nggak ada yang bisa denger gue selain gue sendiri. Inilah keuntungan punya otak, buat ngomong dalam hati.
“Hahaha mau gua buat lebih nggak polos lagi? Sini gua nikahin.' umpatan sudah menyumbat di tenggorokan gue. Hanya tinggal menunggu ancang-ancang dari gue untuk diluncurkan.
“BERISIKK.' balas gue.
“Panggil gua abang.' balas dia.
“Nggak akan.'
“Dih durhaka lu dek.' gue tersipu malu sama panggilan itu. Hehe.
“Btw, bantuin aku nyari akun Aviva yang asli mau nggak?' kata gue lagi. Gue ingat, dulu gue sempat chatt sama Aviva yang 'asli' dan menurut gue dia orang yang asyik.
“Yaelah akun nama Aviva banyak dekk.. Susah buat dicari.'
“Ih bantuin nggak!!' paksa gue.
“Ya, abang? Ya ya?' provokasi gue.
“Idih manggil abang kalo lagi butuh doang.' balas dia.
__ADS_1
Sekarang 2019, dan gue berpikir bahwa : Tumbuh dewasa bersamamu mungkin sebuah keberuntungan yang nggak seharusnya gue dapatkan.