CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
Remember When We First Met?--5


__ADS_3

We're under the same sky. In the same time. How much tears left, if i erase you? (Bolppalgan4 - Dream)



BAB LIMA




Sekarang tanggal 26 Januari 2017, banyak yang sudah terlewati, tukang batagor; tahu bulat; siomay--eh peristiwa maksud gue.



Banyak peristiwa yang sudah gue lewati. Hubungan gue dengan Anji masih stuck in the same line. Gue nggak mau ini berubah, gue suka hubungan ini. Kita yang nggak saling memiliki. Hanya saling menyukai. Justru gue takut Anji tau fakta kalau gue suka sama dia. Mungkin dia berat karena digantung gue, tapi gue juga sengsara karena harus bersembunyi takut-takut Anji membalikkan badan dan melihat gue yang selama ini menatap dia dari belakang. Gue nggak mau memiliki orang yang gue suka. Buat apa memiliki kalau ujung-ujungnya gue sama sekali nggak punya peluang untuk melihat dia sama sekali? Gue nggak suka. Menyukai dalam diam itu memang susah, tapi kedua belah pihak aman, dan ini nggak patut buat dicontoh. Miliki orang yang kalian sayang dan jaga orang itu baik-baik.



Oke kembali ke topik(baca ulang pernyataan pertama gue di bab ini).



Belakangan ini gue baru tahu kalau Anji playboy, kok ada, ya, yang mau sama laki-laki butek kayak Anji. Hehe. Gue juga mau, sih.


Hehe.



“Betewee Bangg, nama Anji kebagusan buat orang kayak abang,' kata gue, sewot.



“Lu mau ngeganti nama gua ya dekk ?' jawab Anji, pesimis. Kok dia bisa membaca pikiran gue, ya.


Inikah telepati,


Inikah ikatan batin,


Inikah takdir,


Ini… semua khayalan.



“Hehe. Nama Moa cocok buat abang.. Kiyeowo lagi.. >< abang kan sering ngelak dan lain-lain tuh.' kata gue mengada-adakan alasan selogis mungkin.



“Dih apaan sih moa moa. Nama abang udah bagus anjii.'



“Iya nama Anji emang bagus, tapi kebagusan buat abang. Moa aja lebih cocok ngehehehe,’ paksa gue.



“Kagak kagak, jangan panggil moa. Gua punya nama.' Eleh, dipanggil 'Anji' doang aja mencak-mencak.



“Moaaaaa.' ledek gue.



“Dibilangin. Durhaka lu dek sama abang.'



“Dekk lu punya nama korea nggak ? Mau abang namain nggak ?' kata Anji lagi.



“Moa.' Kata gue.



“Waahh apaa apaa namanyaa??' tanya gue, antusias. Sebenarnya gue sudah punya nama tersendiri. Park Ah Young. Elegan 'kan? Nama yang cocok untuk disandingkan dengan nama Min Yoon Gi(Suga, BTS). Oh iya, nama orang Korea umumnya terdiri dari tiga kata, walaupun ada segelintir orang yang namanya terdiri dari dua kata; seperti Kim Jun atau Park Won. Tapi, satu yang wajib ada pada nama mereka adalah Marga, yes, mereka mempunyai syarat mutlak dalam menentukan nama yaitu Marga. Seperti orang Batak kalau di Indonesia, lah.



“Nama yang bagus buat orang kayak elu tuh, eummm Sung Go Kong,' Bangsat, gue kira serius. -_-



“HAHAHAHAHAHA.' kata Anji lagi.



“Diem aja lu bang Fatkai,' kata gue, kesal.



“Apa sih sung go kong.' ledek Anji.



“Ngapain disini lu Fatkai? Sono ke timur mencari kitab suci,' balas gue.



“Hahaha dasar sung go kong.'



“Nggak kok abang bercanda. Kan Suga marga nya Min, gimana kalo Min Naya? Bagus nggak?' kata Anji lagi. Min Naya, ya, gue kok keinget sama anak kecil disabilitas yang dulu pernah gue kenal, ya. Namanya Naya.



“Tapi katanya kalo marganya sama, nggak bisa nikah Bang,' kata gue sotoy. Padahal gue tau kalau hukum itu sudah dihilangkan sejak beberapa tahun yang lalu. Niat gue ingin menolak nama dari Anji, tapi secara halus.


Hehe.



“Yah kan ceritanya lu udah nikah sama suga dekk. Marga nya jadi ganti.' mata gue berbinar-binar.



“Oh iyayaaaa. Jadi abang ngerestuin nih??! Seriusann??!' kata gue seakan Anji itu penghulu di akad pernikahan gue dengan Suga.



“Eh kagak kagak kagak.. Apaan abang kagak setuju.' tadi bilang iya.



“Kamu mau nggak abang panggil jiman?' katanya lagi.



“Jiman apaan?' tanya gue, otak gue langsung tersambung ke bahasa Korea dari kata tapi, yaitu 'Jiman.'



“Kamu manggil abang moa kan? Abang manggil kamu Jiman.'



“Idihhh ogahh.. Moa mah kiyeowo, Jiman mah apaan,' tolak gue sok jual mahal.

__ADS_1



“Jimann itu udah baguss..'



“Nggak. Apaan lagi Jiman, nggak mau, Moa,'



“Jimaaaaaaaannn..'



“JANGAN PANGGIL JIMANN!'



“Kenapa nggak boleh, jiman ?'



“Ih dibilangin!!'




///




Masih pada tanggal yang sama. Gue akhirnya menerima Anji menjadi Pacar gue. Kenapa tahu-tahu gue menerima dia? Di tanggal 26? Tentu ada alasannya.




Jadi ceritanya, pada pertengahan bulan Januari ini--gue lupa tanggal berapa-- Anji memposting foto selfie dirinya, dengan background kertas dinding bunga gantung berwarna krem. Dia pakai kaus hitam polos dilapisi jaket katun tanpa kupluk berwarna abu-abu. Anji ganteng. Hehe. Sampai-sampai gue berhenti scroll beranda Facebreak gue dan memandangi foto itu untuk beberapa menit. Mata gue membentuk bukit dengan sempurna dan pipi gue merona. Seiring dengan berjalannya respon mimik wajah gue, Hati gue pun terbuka lebar saat itu juga. Gue realistis kan? Iya! Tapi nggak tau diri.




“Menurut Abang, Adek bakal nerima abang atau nggak?' tanya gue pada tanggal bersejarah itu. Gue ingat, saat itu pukul 16.00 WIB.



“Nggak tau. Terserah adek. Abang playboy, terserah kamu mau nerima abang atau nggak.' baik sekarang ataupun beberapa tahun yang lalu, respon gue selalu sama: niat nembak nggak, sih.



“Abang masih mau jadi pacar Adek?' gue memastikan bagaimana perasaan Anji setelah gue gantung selama itu.



“MAUUU.' gue tersenyum saat itu, begitupun saat ini.




Gue masih ingat dengan jelas suasana sore itu, gue berdiri di balik jendela kamar gue dan mata gue menyipit akibat diterpa silaunya sinar matahari sore. Gue ingat, saat itu gue sedang menonton Dream High 2, gue jadi mondar-mandir dari Jakarta ke Surabaya--eh maksud gue dari kamar ke ruang tamu. Bagi yang masih inget, saat itu MTV lagi muterin drama itu setiap Senin sampai Jum'at pukul empat sore.



“Bentar dulu,' kata gue.




“Abang ngerokok nggak? Rambut abang diwarnain nggak?' kemarin sore gue melihat anak laki-laki yang rambutnya diwarna biru terang, dan itu bikin mata gue sakit. Kayak anak urakan gitu, hehe. Kita semua setuju kalau mau mewarnai rambut itu harus dikondisikan dengan warna kulit. Hehe.



“Nggak abang nggak ngerokok. Abang juga nggak ngewarnain rambut, nanti solatnya nggak sah.' gue kira Anji mempunyai alasan lain kenapa dia nggak mewarnai rambutnya. Apa reaksi kalian sewaktu membaca alasan dia? Merasa dia calon yang baik? Sayang, bagi gue nggak. Jawaban dia semakin mengingatkan gue akan jurang perbedaan pemahaman antara Anji dan gue. Ibaratnya, Anji itu anak dari Pemimpin besar Indomaret, sedang gue anak dari Pimpinan pusat Alfamart. Kita nggak bisa bersatu, walau toko kita bersebelahan dan saling mendampingi.



“Abang bukan anak nakal.' kata Anji lagi. Seperti yang gue harapkan. Berhubung Gue dilarang pacaran, jadi sekalinya pacaran gue harus memilih laki-laki yang baik bukan? (Nggak usah mencari pembenaran, Manda).



“Ahh baguss dehh...^^ ' balas gue.



“Jadi ? Kita pacaran ?' kata Anji butuh kepastian dari gue dan seakan meminta gue mengatakan hal itu sendiri secara eksplisit.



“Iya, Kita pacaran. Jum'at, 26 Januari 2017 jam 16.34.' kata gue menirukan dokter yang mengumumkan waktu kematian pasiennya. Gue ingat, gue menerima Anji via sms. Mungkin kalau via Line bakal lebih sweet dari ini, kita bakal mengirim stiker nista satu sama lain. Sayang, Line butuh penyimpanan yang gede. Nggak lama kemudian Ayah memanggil gue untuk dimintai bantuan.




///




Tak butuh waktu lama bagi Kak Sabna untuk menyadari hal itu, mungkin karena Anji manggil sayang ke gue jauh sebelum gue sama Anji jadian dan Kak Sabna nggak sengaja melihat hal itu. Kak Sabna bilang, gue bakal 'habis' kalau ayah sampai mengetahui hal ini. Sewaktu menerima Anji, nggak terbesit ancaman itu di pikiran gue. Dan gue menjadi panik sejak itu. Gue mengunci Ponsel gue, menyembunyikan nomor kontak Anji, dan melesat seperti roket jika ada bunyi pesan masuk di ponsel gue(kalau gue telat dikit nanti dibuka orang lain).




Oh iya, gue jadi teringat suatu kejadian di pertengahan bulan Januari. Jadi seperti biasanya, gue mencuci piring di pagi hari, mencuci bekas makan seluruh anggota keluarga sedang gue sendiri nggak dapat sarapan karena bangun siang.


Sewaktu gue selesai cuci piring, gue mengelap tangan gue ke baju sambil berjalan menuju kamar. Gue membelalak saat melihat ponsel Evercost gue nggak ada di meja, di ranjang, ataupun di tumpukan pakaian. Gue menghambur keluar kamar dan menemui Kak Sabna yang sedang menonton TV.



“Kak, liat hape Manda nggak?' tanya gue.



“Hape? Oh tadi kayaknya dibawa ayah tuh ke depan.' kata Kak Sabna sambil menatap gue.



Gue panik dan buru-buru ke emperan depan rumah gue. Disana ada kursi dari bambu, dan ayah gue sedang duduk disana, cengar-cengir sendiri menatap ponsel gue. Perlahan tapi pasti gue mendekati ayah,



“Lagi ngapain, Yah?' tanya gue. Bola mata gue berusaha mengintip layar ponsel gue dari tempat gue berdiri. Gue terus memojokan bola mata gue berusaha mengintip, dengan harap-harap bola mata gue nggak kebablasan dan bisa kembali seperti semula.



“Ini.' ayah masih cengar-cengir tanpa menunjukkan layar ponselnya.



Gue mendekatkan diri karena mata gue yang mulai capek untuk memojok di pojokan. Gue kaget setengah mati saat memergoki ayah gue sedang menjelajahi aplikasi perpesanan di ponsel gue. Gue buru-buru merebut ponsel itu dari tangan ayah.

__ADS_1



“Itu pesannya banyak banget, dihapus-hapusin apa, Dek.' katanya.



“Ini sengaja dikumpulin.' kata gue sambil masuk ke dalam rumah. Gue mendekap erat-erat ponsel gue selama di perjalanan. Kak Sabna melihat wajah panik gue dan berkata,



“Pantesan dari tadi ayah senyum-senyum mulu sambil ngeliat-liat hape Manda.' Da--dari tadi?!!! DARITADI?!



“Kenapa nggak Kak Sabna cegah, atuh?!' tanya gue, kesal.



“Yaa kakak mana tau. Kirain ayah ngapain.'



Gue meninggalkan Kak Sabna dan masuk ke dalam kamar. Untuk berjaga-jaga, gue mengecek HOME ponsel dan melihat aplikasi apa saja yang sudah dilihat ayah. Ada Kalendar, Kontak, Jam, Whatsupp, dan Perpesanan. Keringat dingin mengucur membayangkan ayah gue membaca semua riwahat chatt gue dengan Anji, baik yang ada di Whatsupp maupun di Perpesanan. Si Anji juga segala pakai panggilan Sayang lagi, duh. Tapi nggak apa-apa, tenang… Tenang. Gue sudah merespon, “Jangan panggil sayang!' kok ke Anji. Jadi semoga ayah nggak pesimis apa-apa ke gue. Kembali kepada Kak Sabna yang mergokin gue punya Pacar.



“Dia orang yang nggak baik, nyebelin, playboy, tapi rajin sholat trus nggak nakal.' deskripsi gue kepada Kak Sabna. Kita nggak mengobrol secara langsung, melainkan via aplikasi catatan di ponsel Kak Sabna. Gue bertanya-tanya, apa sampai sekarang catatan itu masih tersimpan di ponsel Kak Sabna? Kalo iya, wah! Riwayat catatan yang berharga!



“Playboy? Trus kok mau? Nggak ada gunanya, Nda, walaupun dia rajin sholat.' Kak Sabna memberikan ponsel miliknya kepada gue.



“Iya tau kok. Nanti Manda yang nanggung kalo ayah tau soal ini.' kata gue asal, ingin cepat-cepat menyudahi percakapan ini. Gue mengembalikan ponsel hitam itu kepada pemiliknya. Omong-omong, ponsel Kak Sabna getar di setiap ketikan hurufnya. Kayak hati gue yang getar melulu kalau menunggu balas Anji. Hehe.



Beberapa saat kemudian Ponsel Evercost gue berbunyi, tanda ada pesan baru. Anji sudah selesai sholat, kata gue dengan yakinnya tanpa mengindahkan kemungkinan kalau itu pesan dari operator.



“Sayang...'



“Abang ngetrek dulu ya.' gue mengangkat salah satu alis--padahal dua-duanya-- saat membaca pesan Anji.



“Ngetrek tuh apa?' tanya gue. Tracklist maksud Anji? Kalo Tracklist, trus ngetrek tuh apa? Gue melihat Kak Sabna yang masuk ke dalam kamar.



“Kamu nggak tau ngetrek?' balas Anji.



“Nggak, emang apaan artinyaa??' tanya gue lagi.



Tanya gue kepada Kak Sabna, “Kak, Ngetrek tuh apaan?'. Jawabnya, “Ngetrek? Siapa ngetrek?'. Gue nggak menjawab dan masih menatap lurus ke arah Kak Sabna. Kak Sabna mengalihkan pandangannya ke tangan gue yang ada di kerangka jendela, memegangi ponsel gue.



“Itu. Biasa. Kegiatan anak-anak nakal itu mah.' kata Kak Sabna. Mata gue membulat.



“Siapa suruh pacaran sama orang kayak gitu.' tambahnya saat melihat respon gue. Inilah yang akan terjadi kalau kalian terlalu dekat dengan seseorang. Berbicara hanya melalui tatapan mata!



Gue mengabaikan pesan baru dari Anji, masih terpaku beberapa saat memikirkan gue harus mengambil tindakan seperti apa.



“Yaudah kalo nggak tau.' begitu balasan Anji.



“ABAAAANGGGGGGG!!!!!!' kata gue.



“Kkkkk. Kamu udah tau ?' balas Anji.



“YAAAAKKK!!!' balas gue, mengamuk.



“Abang pergi dulu ya.'



“ABANG JANGAANNN!!! KALO PERGI KITA PUTUSS!! YAKK.'



“YAAKK!! KATANYA ABANG BUKAN ANAK NAKAL. NGAPAIN KAYAK GITU SIHH.'



“YAAKK!! ABANGG!!!' gue mengirim pesan berkali-kali. Anji nggak kunjung membalasnya dan perasaan panik gue semakin menjadi-jadi secepat berubahnya kedelai menjadi toge. Eh, toge dari kacang hijau, ya.



“Apa sih sayang.' mata gue udah berkaca-kaca saat itu.



“Kenapa abang kayak gitu? :'( katanya abang bukan anak nakal.' gue mengusap air mata gue. Takut-takut gue membuat pilihan yang salah dengan pacaran sama Anji.



“Nggak abang nggak ngetrek. Abang cuman bercanda.' bahkan setelah lewat beberapa tahun, gue masih nggak mengerti dimana letak kelucuannya.



“GAK LUCUU!!'



“Abang bukan anak nakal kan?' tanya gue frontal. Tapi lumayan lucu juga, sih, melihat respon gue yang lebih-lebih dari berlebihan. Padahal itu cuman candaan, gue kayak menelan mamoth mentah-mentah. Maklum, manusia kanibal setengah mamoth.



“Nggak sayang. Abang bukan anak nakal. Lagian mana mungkin abang keluar sedangkan mama lagi sakit.' air mata pertama gue jatuh ketika membaca balasan Anji. Sehabis menelan mamoth, gue jadi berminat nelan Anji.




Gue masih bisa merasakan suasana malam itu. Baunya, suhunya, dan hangatnya air mata gue. Hari pertama pacaran saja berhasil membuat air mata gue jatuh. Berapa banyak lagi air mata harus jatuh, kalau gue bertahan sama Anji?


__ADS_1


__ADS_2