CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
The most beautiful moment in life--1


__ADS_3

Do you remember?



In the book you used to quietly read to me, our names were ungraved inside



I thought we would ast forever. But we're slowly fading.


(Lovelyz - Shooting Star)



BAB DUA BELAS



23 Maret 2017



Anji masih belum menghubungi gue, dan gue masih nungguin dia sambil bertindak seolah-olah gue yang tersakiti, seolah gue yang dirugikan. Itulah bodohnya gue dahulu. Tapi nggak juga, deh. Gue menunggu tanpa ada keluhan sedikit pun, yang paling bikin gue tersiksa itu ketidakpastian ini.




“Bs sms ke nmor anji ngga.'


“Anji lagi di rs.'


“Nggak juga nggak papa gua cuma nyampein aja.'




Pukul sembilan malam saat gue membaca pesan dari akun Anji. Pesan itu dikirim dua hari yang lalu, dan gue baru membacanya sekarang. Yang membuat gue tersiksa adalah,



Jam terakhir dia online.




Duajamyanglalu.




Yap, kalian bisa menebak apa tindakan yang gue ambil, bukan? Gue kembali menjedot-jedotkan kepala gue pada kusen jendela sambil mengumpati diri gue sendiri. Kenapa gue nggak membaca pesan ini lebih awal. Kalau gue online dua jam yang lalu, gue pasti bisa bertemu Anji.



“HAH?! DI RS?! TUHKAN BENER FIRASATKU! PASTI DI RS.KOK BISA ADA DI RS?! KAMU SAKIT? PINGSAN? ATAU KECELAKAAN? KAN AKU UDAH SERING BILANG BUAT JAGA DIRI KAMU! KAMU NGGAK DENGERIN AKU KAN!! KOK BISA MASUK RS SIHHH.. OH IYA, NOMORNYA NOMOR YANG MANA? NOMOR MOA? UDAH AKTIF EMANG? NOMOR YANG MANA ISHHHHH.' Balas gue, alay.



Seharusnya gue merespon dengan dewasa dan elegan seperti, 'Oh Anji lagi di rs? Dia baik-baik aja? Nomor yang mana yang bisa dihubungi?' atau gue merespon dengan sedikit humoris, 'Anji di rs?! Rsj ya?! Emang cocok dia tuh disana.' Hehe. Mungkin kondisi dunia akan lebih baik jika gue menjawab dengan gaya seperti itu, gue mendadak mengerti dimana letak sisi kekanak-kanakan milik gue. Dan biar gue sebutkan kebodohan gue yang lainnya: gue. Melupakan. Fakta. Bahwa. Yang. Memberi. Kabar. Soal. Anji. Itu. Bukan. Dia. Dan. Kenapa. Lo. Membalas. Pesan. Itu. Seakan. Lo. Sedang. Komunikasi. Dengan. Anji. Secara. Langsung. Manda!!



Bumi, telan gue saja




Satu hal yang sempat gue renungkan selama Anji hiatus, (memang, ya, jarak dalam sebuah hubungan itu penting) yaitu: gue menyia-nyiakan dua bulan waktu gue dengan Anji hanya untuk bercanda dan bermain-main. Gue benar-benar paham kenapa Anji komentar soal sifat gue waktu lampau. Gue mungkin sudah menyia-nyiakan waktu dia. Seakan selama dua bulan ini gue hanya PDKT dengan Anji.



Kita nggak pernah membicarakan mengenai masalah kita masing-masing, gue dengan Anji hanya membicarakan topik-topik seperti, kamu suka musim apa, musim gugur lebih bagus dari musim semi, suka bubur diaduk atau nggak, Suga kenapa ganteng banget, BTS lagunya bagus-bagus, kamu lagi apa, dst.



Seharusnya banyak hal yang bisa kita lakuin untuk semakin mengenal satu sama lain, untuk lebih terbuka mengenai masalah mental satu sama lain, untuk mendukung satu sama lain, untuk selalu ada satu sama lain. Tapi gue justru membicarakan persoalan yang paling nggak penting sedunia, dan Anji terima aja lagi,


Tolak, dong.



Omong-omong, gue sedang menjadi satu-satunya bagi Anji.





When i was barely holding on


When i was down, you held me up


I fought it through the universe


Till you break out through the sky like the stars you are (Jessica - Golden Sky)





BAB TIGA BELAS




Malam setelah gue membaca pesan tersebut, gue buru-buru menyepam nomor Anji dengan timbunan sms dari diri gue yang khawatir. Kira-kira gue mengirim dua belas sms kepada Anji sambil terheran-heran kenapa setiap sms yang gue kirim berhasil sampai kepada Anji, padahal pulsa gue nol perak. Hehe. Gue tidur pukul dua belas malam karena menunggu balasan dari Anji.



Tapi nggak dapat.



Paginya, gue buru-buru mengecek ponsel saat bangun tidur. Ada balasan dari nama kontak Sung Go Kong.


__ADS_1


“Sayang.' katanya.



Gue senyum tanpa henti selama hampir lima menit sebelum akhirnya kesal karena Anji hanya berkata begitu.



Gue melihat jam, pukul enam, batin gue. Setelah gue telusuri, ternyata Anji membalas pesan gue pukul empat pagi. Gue membayangkan apa yang Anji lakukan saat pukul empat pagi di rumah sakit. Mungkin dia merenungkan perjalanan hidupnya, mungkin dia memikirkan gue sedang apa seperti gue yang sedang memikirkan Anji sedang apa, mungkin dia kelaparan, mungkin dia kesepian, mungkin dia kesurupan.



Sampai jam sepuluh pagi, gue nggak kunjung mendapat balasan dari Anji. Seperti yang kalian pikirkan, gue kembali menyepam nomor Anji, mana mungkin gue diam saja dalam keadaan begini.



Ya 'kan?



Setelah gue spam, Anji tetap tak membalas pesan gue. Akhirnya gue tinggalkan ponsel gue sambil menerka-nerka apa yang sedang Anji lakukan. Pukul sebelas, karena Anji belum juga membalas pesan gue, gue pun kembali menyepam nomornya. Gue yang dulu benar-benar nggak sabaran.



“Abang?'



“Anjiii..'



“Baless..'



“Tidur yak Elu, Bang?'



“Yaudah sih! Terserahh!!'



“Moaaaa.'



“Isshhh!'



“Awas ajaaa!!!' spam gue.



Gue menunggu untuk kesekian kalinya, kemudian mengumpat, meninggalkan ponsel gue sambil berjanji nggak akan menunggu Anji lagi.




Pukul satu siang Ponsel gue berbunyi, gue berlari dengan kecepatan cahaya menghampiri ponsel gue. Mungkin Kak Sabna kaget dengan hembusan angin yang dihasilkan oleh gerakan gue.




Gue kecewa, ekspektasi gue jatuh ke dalam segitiga bermuda. Bisa-bisanya Anji hanya berkata 'Sayang' setelah semua spam'an gue? Kenapa Anji pura-pura nggak tau? Gue mau merajuk, tapi nggak bisa karena Anji yang sakit dan takut Anji hilang lagi.



“Apa?' kata gue.



“Cueknya.' balas Anji.



“Hehehe. Kenapa Moa?' tiga menit, lima menit, enam menit, gue menunggu balasan Anji.



“Moa?' kata gue lagi.



“Kangen nggak ?' tanya Anji.



“Nggak.' kata gue mengelak. Harga diri gue mau ditaruh dimana kalau gue mengaku? Dua menit, empat menit, tujuh menit, gue mengumpati Anji di setiap menitnya.



“Isshh. Moa lagi ngapain?' tanya gue nggak sabaran. Dasar diri gue yang dulu. Haha.



“Yaudah deh.' balas Anji.



“Moa kangen nggak?' tanya gue.



“Banget.' kata Anji.



“Sama. Jiman juga kangen.' kata gue. Tiga menit, enam menit. Gue mengumpati Anji sebanyak dua kali dalam satu detik.



“Lama balesnya.' kata gue.



“Iya maaf duh ini infusan bikin Moa susah ngetik.'



Gue mengusap wajah dengan kedua telapak tangan gue. Gue kenapa? Apa yang gue pikirkan? Kenapa gue nggak mencoba mengerti keadaannya? Paling tidak, seharusnya gue nggak pesimis ke Anji.

__ADS_1




“Diinfus? Kamu diinfus? Maaf,'



“Iya. Moa diinfus. Jangan khawatir. Besok juga aku udah pulang kok.' gue penasaran dengan alasan Anji sampai mendarat di rumah sakit. Firasat gue, sih, Anji kecelakaan. Tapi siapa yang tahu? Gue pengen menanyakan langsung tapi Anji belum bisa menjelaskan panjang lebar karena infus di tangannya. Terpaksa gue tenggelamkan beribu pertanyaan itu,



Gue nggak bisa mengulang kembali kesalahan gue bukan?



“Eoh? Besok udah pulang? Wahhh bagus deh..' balas gue.



“Iya. Btw tadi ada yang chatt Jiman di Fb ?' tanya Anji.



“Iyaa ada.. Itu siapa? Kakak Moa?' gue tau silsilah keluarga kecil Anji. Papa, Mama, Abang pertama, Abang kedua, terakhir Anji. Anji anak bontot, dan paling diam.



“Si Tata. Sodara Moa.' Ohhh saudaranya.



“Ohhh namanya Tata?' tanya gue lagi.



“Iya. Tatanan kue hahahaha.' kebiasaan, deh, Anji.



“Heh Moa. Jiman kasih tau ke orangnya langsung lohhh,’ Ancam gue kayak anak kecil, berharap Anji takut.



“Kasih tau ajaa. Moa nggak takut.' Ah, jadi Anji sama Tata sudah sering berantem karena hal itu. Gue bisa mengerti bagaimana perasaan Tata. Menurut intuisi acak-acakan gue, Tata berumur 18 tahun.



“Moa ganti perban dulu ya.'



“Okk.' terputar di kepala gue potongan Anime Shigatsu Wa Kimi No Uso, scene saat Kaori sedang diganti perlengkapan pengobatannya. Gue lupa dia diapain. Kenapa Anji harus ganti perban? Apanya yang di perban? Tangan? Kaki? Lengan? Kepala? Punggung? Eh tunggu--tunggu. Jangan-jangan 'anu'nya, Anji nggak habis sunat kan?



ATAU JANGAN-JANGAN ANU DIA HILANG SEPENUHNYAAA.




“Kamu udah makan ?' tanya Anji.



“Udahh. Moa udah belum?' tanya gue.



“Sebentar lagi.' otak gue berputar dua kali lebih cepat untuk mencari topik pembicaraan.



“Oh iya, Hp Moa udah bener? Kok ini bisa?' tanya gue.



“Ini bukan Hp, Moa. Ini Hp abang. Abang Moa punya dua Hp, jadi minjemin satu. Walaupun kadang masih dia pake.' Eh, eh, bentar, plis, firasat gue jangan bener, dong.



“Abang yang mana? Yang udah nikah atau blum?' tanya gue penasaran. Abang Anji yang sudah menikah berprofesi sebagai Polwan—eh, polisi maksud gue.



“Yang udah nikah. Jadi kalo Moa nggak bales-bales berarti Hpnya dibawa abang.' Tuh kan. Firasat gue benar. Untuk kesekalian kalinya, gue membentur-benturkan kepala gue ke kusen jendela.



Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kamu nyepam nomor dia, Manda? Harusnya kamu tau kalau dia nggak balas berarti dia nggak bisa balas. Sekarang kamu nggak bisa ketemu sama abang pertamanya, kan. Mukamu mau ditaruh mana? Mau pura-pura jadi orang lain? Mau operasi plastik? Mati saja, gue. Kesimpulannya, Harga dirimu sudah tercemar di keluarga Anji, Manda.


Pupus harapan jaim setinggi langit milik gue.



Gue masih terus membenturkan kepala gue kepada kusen pintu, sekarang ditambah suara tangisan manja gue. Jadi ini alasan kenapa Anji hanya bilang, 'Sayang', setelah gue spam dia. Gue membayangkan bagaimana ekspresi abang pertama Anji saat baca pesan gue. Dia pastinya menganggap gue bocah, yang kerjaannya nonton Spongebob setiap pagi.




Gue terus menangis sambil membalas pesan Anji, gue nggak bisa menceritakan hal ini kepada Anji. Biarlah dia bertingkah biasa karena nggak tau apa-apa, sehingga abangnya pun tidak akan mengungkit hal itu. Gue bisa pura-pura menjadi orang lain kalau sekiranya kita bertemu, cuma abang pertamanya Anji, kok.




Bahkan sampai saat ini pun gue masih enggan untuk mengingat hal ini, bener-bener bodoh.





***


Maaf telat update.


Seharusnya dua hari sekali, tapi kali ini absen satu kali. TT


Untuk kompensasi, aku update dua chapter uwu


Makasih buat kalian yang ngikutin cerita ini sampai sini. <3

__ADS_1


Love you!


Muah. •3•


__ADS_2