CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
Remember When We First Met?--7


__ADS_3

Am I being selfish?



If you feel the same way, tell me. Its okay if you feel differently



I just want to hear your voice calling out to me. (MONSTA X - If Only)



BAB TUJUH (Part dua)






“Aaannnjiiii—nggggg…' Muka datar gue semakin menjadi saat temen gue, Abu, membuka pintu dan memanggil nama gue seraya berjalan dengan gaya yang tak enak untuk dilihat. Cewek-cewek genit di perempatan bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Abu.



“Ketuk dulu pintunya.' kata gue malas.



“Kenapa lu nggak masuk sekolah?' tanya Abu.



Gue membalas pesan Manda sebelum menjawab pertanyaan Abu. Abu menyalakan TV di kamar gue dan sibuk mengganti channelnya, saat itu gue baru sadar kalau Abu ganteng--ralat, gue masih normal; maksud gue kalau Abu masih pakai baju seragam sekolahnya;putih abu-abu.




“Lu nggak pulang dulu sebelum kesini?' tanya gue.



“Nggak, males gue. Sepi kalo nggak ada lu.' gue berpikir, padahal di sekolah pun gue jarang bersuara.



“Nggak ada yang bisa dimintain traktiran,' tambahnya. Sudah gue duga, dia pasti ada maunya. Nyesal gue nanya. Gue kembali membalas pesan Manda dan nggak mengindahkan Abu.



“Amnesia lu kambuh lagi?' tanya Abu.



“Anemia, Kunyuk.'



“Oh, iya itu maksud gue.' sebenarnya anemia gue kambuh setiap hari, tapi hari ini sudah anemia kambuh, terus ditambah gue yang diputusin pacar-pacar gue pula. Gue jadi malas sekolah.



“Futsal gimana?' tanya gue.



Abu mengambil buah apel di meja, di samping ranjang gue.



“Baik-baik aja, nanti malem temenin gue lagi, yak,' kata Abu, dia menguyah apel sambil tersenyum-senyum. Kalau gue mengambil fotonya saat itu juga, kemudian gue upload, pasti langsung viral.



“Ogah, gua jadi obat nyamuk doang.'



“Yaelah, kan ada si Mia,'

__ADS_1



“Nggak, ah, nggak enak gua sama si Mia.'



“Yaelah, udah nggak apa-apa, yang penting temenin gue,'



“Ogah.' kata gue.




///




Malamnya, gue bersiap sambil bertanya-tanya, gue kesambet setan macam apa lagi sekarang. Kenapa gue mau menuruti permintaan Abu Jahal. Hehe. Gue nggak bilang ke Manda kalau gue keluar malam ini, gue tau mungkin Manda bakal cemberut tanpa henti kalau tau soal ini. Namun, Manda nggak pernah mengekspresikan rasa cemburunya. Dia nggak pernah marahin gue kalau gue chatt dengan perempuan lain, tapi gue tau kapan Manda cemburu dan kapan dia biasa aja. Lagipula gue hanya menemani Abu.



Nggak ikut-ikutan.



Gue mengenakan outfit kasual biasa. Hoodie berwarna putih yang sedikit kedodoran di badan gue, celana pendek Puma diatas lutut warna hitam dan snikers yang berwarna sama seperti warna celana gue. Setelah merasa sudah matching, gue pun berangkat.




///




Gue dan Mia duduk di pojok dekat toilet, sedang Abu dengan Pacarnya duduk di sisi lain restoran ini. Bau pesing dari toilet mengaburkan suasana romantis restoran ini, salah gue juga kenapa memilih meja yang ini. Setelah menyebutkan pesanan, gue mengeluarkan Handphone dari saku Hoodie dan kembali membalas pesan Manda sambil sesekali melirik Mia yang duduk di hadapan gue. Entah sejak tadi Mia menatap gue atau kita melayangkan pandangan pada saat yang sama sehingga mata kita bertemu.




“Iya nanti abang dengerin.' kata gue deg-degan karena penasaran dengan suara Manda. Gue membayangkan banyak hal, suara Manda itu kecil atau berat, atau jangan-jangan gue bakal mendengar suara serak om-om genit yang biasa ada di jalanan Blok M tiap lewat jam sepuluh malam.



“Buruan ihh dengerinn!! Bentar lagi Adek hapuss soalnyaa,' Nggak ada yang lebih menyusahkan gue selain Manda. Timingnya terlalu pas--ralat, bukan terlalu pas tapi 'selalu' pas.



“Kenapa dihapus ?' tanya gue harap-harap Manda tak punya alasan khusus yang bisa dijadikan jawaban.



“Karena pengen aja. Buru ih mau dihapus,'



“Udah kan? Adek hapus yaa!!!' Buset, baru lima menit yang lalu Manda mengirim rekaman suaranya, jarak antara pesan yang dia kirim duluan dan belakangan itu hanya satu menit, gue bahkan belum selesai membaca pesannya yang pertama. Gue curiga kalau Manda ingin belanja online, mungkin dia akan berbuat demikian kepada mbak-mbak pemilik online shop tersebut, “Udah diambil kan duitnya? Kalo blum aku tarik lagi nih.'




“EEHHH JANGAANNN.' gue gelagapan meraba-raba tubuh gue berharap ada headset yang tanpa sengaja tersangkut sewaktu gue sedang bersiap-siap. Setelah selesai penggeledahan tubuh dan tidak juga menemukan benda itu, gue pun mulai mengkhayal--nggak! Bukan saat yang tepat buat mengkhayal. Akhirnya, gue terpaksa bertanya kepada Mia.




“Mia, bawa headset nggak?'



“Headset?' Mia meraba-raba tubuhnya dan memeriksa tasnya untuk mencari headset.

__ADS_1



“Yahh, aku nggak bawa, Kak.' Gue mendadak lesu, jarang-jarang gue menampilkan emosi yang sedang gue rasakan, seperti saat ini.



“Udah kann?? Adek hapus yaa,' kata Manda lagi.



“Tunggu dulu.' kata gue berusaha setenang mungkin. Gue dihadapkan pada dua pilihan, gue dengerin sekarang rekaman ini tanpa headset dan dengan volume kecil atau gue pergi ke meja tempat Abu dan menanyakan apa mereka punya headset. Konsekuensi dari opsi pertama adalah, Mia bakal tau kalau gue sedang mendengarkan rekaman suara orang lain(baca:perempuan). Kalau konsekuensi dari opsi kedua, gue harus menanggung malu meminjam headset ke meja Abu dan bersiap-siap akan jawaban, “Nggak ada.'



Terbesit di pikiran gue gagasan ekstrim seperti gue minjam headset ke mbak-mbak kasir sampai gue yang pura-pura kesurupan dan kemasukan setan kekinian yang merengek-rengek minta headset. Bentar--bentar, kok jadi gue yang kelihatan seperti 'butuh banget', sih?



Dengan berat hati gue bangkit dan menghampiri meja Abu sambil bersumpah untuk membalas perbuatan Manda.




“Ada yang bawa headset nggak?' tanya Gue. Abu menyatukan alisnya dan tatapannya seakan berkata, “Ngapain sih Lo ganggu aja.'



“Nggak.' kata Abu. Gue menghela napas panjang. Gue mau nangis.



“Gue ada, nih.' kata perempuan yang duduk satu meja dengan Abu. Dia menyodorkan headset putih kepada gue.



“Thanks, ya.' kata gue kemudian kembali ke meja gue. Firasat gue mengatakan: sejak tadi Mia memperhatikan gerak-gerik gue, dan tekad gue untuk membalas perbuatan Manda pun semakin menjadi-jadi.



Jantung gue berdegup lebih cepat sejak mendapatkan anugrah headset tersebut sampai memijit opsi segitiga untuk memutarkan rekaman tersebut.




Nuni busige areumdaun badatga


Pureun badaro modeungeol deonjyeo beorige


Hayan morae wi uri hamkke mandeul chueogi Neomuna sojunghae naegen kkuman gateun iringeol.*




Semua tekad balas dendam gue sirna karena suara nyanyian Manda. Seakan gue disihir olehnya dan emosi gue berubah menjadi seempuk jelly.



Gue terus membayangkan bagaimana wajah Manda selama mendengarkan rekaman suaranya. Suaranya imut, wajahnya kayak gimana, ya? Nggak kalah imut sama suaranya atau malah kayak laki-laki berotot yang suaranya terkadang imut juga. Gue tanpa sadar tersenyum sewaktu mendengarkan pesan suara Manda. Walaupun, sebenarnya gue mau dengar dia ngomong, bukan bernyanyi. Tapi yaudah, lah.




“Kamu imut-imutin ya suaranya? Hahahahaha.' jawab gue.



“Nggak dongg.. Betewe abang udah denger? Padahal nggak jadi Adek hapus,' Kalau ini headset bukan punya Pacar Abu, pasti sudah gue telan seutuhnya.



Setelah memastikan nggak ada kuning-kuning yang menempel, gue pun mengembalikan headset putih itu. Gue ingin cepat-cepat pulang dan mendengarkan ulang rekaman suara Manda lewat Headphone, menghayati suaranya sambil merencanakan konspirasi serangan balasan.




-----------------------------

__ADS_1


*Wave - Gfriend


__ADS_2