CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
Remember When We First Met?--3


__ADS_3

“Jangan dijawab, kan mereka nyatain perasaan. Bukan nanya,' kata Manda membalas curahan hati gue.



Gue bisa merasakan aura dingin balasan Manda.



Ternyata, Manda juga menyukai gue.



Seketika itu juga gue merasa bersalah karena sudah menceritakan hal itu kepada Manda.


Apa yang dia rasakan sewaktu baca pesan gue? Seharusnya dari awal gue nggak bilang apa-apa ke dia. Apa gue tanyakan aja, ya, dia baik-baik aja atau nggak, tapi nggak, deh. Nanti ketahuan lagi kalo gue tau perasaan dia.




30 Desember 2016.



“Dek sekarang V ultah kan ya.' sapa gue.


Tumben gue menyapa Manda duluan. Biasanya pesan Manda sudah ada di ponsel gue sebelum gue bangun di pagi hari. Rasanya kayak berkokok bangunin ayam tidur.



“Iyaa.. Adek udah ngucapin dongg ke dia,' balas Manda. Manda selalu memberi tau suatu hal tanpa perlu gue tanyakan terlebih dahulu.



“Abang udah ngirim hadiah ke gedung Bighit.' gue bangkit dan menuju balkon.




Gue nggak mau ke balkon sepagi ini, gue cuman mau membuka tirai kamar. Hayooo pada salah ngira gue berjemur dan menghembuskan napas panjang, kan?



“Bohong.. Btw, tanggal 3 Januari Adek ulang tahun lohhh,' gue duduk di pinggiran ranjang, masih enggan untuk keluar kamar.


Lihat, kan, apa gue bilang! Manda selalu memberi tau suatu hal tanpa perlu gue tanyakan terlebih dahulu.



“Iya? Udah tante-tante ya ?' cibir gue. Delapan hari belakangan ini gue hanya ngobrol dengan Manda. Gue kangen teman sosial media gue yang lainnya.



“Enak aja.. Baru empat belas tahun juga..' Hah! Beda empat tahun dengan gue.



“Dih masih bocah ternyata.' kata gue frontal. Nggak heran, sih, sifatnya juga kekanakan banget.



“Iya, masih ingusan ya? :) udah biasa kok Adek mah dibilang begitu,' sumpah gue nggak nanya.


__ADS_1


Makhluk besar tak dikenal memasuki kamar gue saat gue membaca pesan Manda. Gue mengalihkan pandangan dan menengadah, ada Kakak laki-laki gue, Bang Dani, di ambang pintu. Dia menggeleng-gelengkan kepala saat melihat gue duduk di pinggiran ranjang dengan Hape di tangan gue.



“Turun, Nji. Sarapan. Udah di tunggu Mama di meja makan.' kata Bang Dani. Gue menganggukan kepala tanda mengerti.



“Kalo sepuluh menit lu nggak turun juga, Mama yang bakal manggil lu turun buat makan. Lu tau sendiri kan gimana Mama kalo udah ngamuk.' kata Bang Dani sambil menutup pintu kamar gue.



Nyokap kalau menitahkan anak-anaknya untuk makan itu super banget, tak ada tandingannya. Itulah mengapa Mama selalu menyuruh Bang Dani memanggil gue turun sebelum beliau sendiri yang terjun.


Gue kirim pesan kepada Manda dan bilang kalau gue mau sarapan. Seandainya gue nggak bilang dulu, Manda bakal nyepam'in ponsel gue tanpa henti.



Papa, Mama, dan Bang Dani sudah siap di meja makan dengan sendok di tangan masing-masing. Pemandangan yang langka di hari Jum'at. Lebih langka dari jumlah bunga bangkai di Indonesia. Gue memutuskan untuk nembak Manda pada tanggal dua Januari, tiga hari dari sekarang. Kejutan di akhir umur tiga belas tahunnya. Gue nggak tau gue suka dia atau nggak.



Mungkin gue cuman kasihan.




31 Desember 2016



Di malam tahun baru, seperti laki-laki pada umumnya, gue nongkrong bareng teman-teman. Kayak biasanya, mereka membawa gebetan mereka masing-masing. Gue yang sendirian akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal karena bosan. Gue pulang pukul sepuluh alih-alih pukul satu pagi. Rumah dalam keadaan sunyi ketika gue pulang. Bang Dani dan kedua orang tua gue ada di kamarnya masing-masing. Sisa malam tahun baru ini gue habiskan bareng hape gue, yang sudah banjir oleh pesan dari Manda dan selusin orang lainnya.





02 Januari 2017



“Mau nggak jadi pacar Abang ?' gue sedikit ragu-ragu saat akan memijit opsi kirim.



Ayo, Nji, ini semua demi tujuan akhir lo sendiri.



Gue memijit opsi kirim dan memandang berkeliling. Panas dan ramai. Jakarta banget!


Manda nggak kunjung membalas pesan gue, hanya ceklis dua berwarna biru. Gue nggak nungguin balasan dia dan nggak juga menerka-nerka apa jawaban Manda. Hasil akhirnya sudah jelas bukan? Mana mungkin ada cewek yang nolak anak Osis dan Basket sekaligus Kapten futsal kayak gue.



“Eh tadi Hp Abang dibajak orang yak? Dia nembak Adek masa Bang,' balas Manda.



“Nggak.' balas gue.


__ADS_1


Mulai nggak beres, nih.



“Oh jadi itu abang? Hahahaha kirain dibajak,'



“Abang lagi main ToD yak??' kata Manda lagi.



Yahhh, gue dianggap main-main doang.



“Nggak. Mau nggak jadi pacar abang ?' tanya gue lagi. Mood gue sudah hilang terbawa angin sepoi-sepoi,



HAH? Di Jakarta ada angin sepoi-sepoi? Terbawa asap polusi baru betul.



Manda mengetik.. Masih gue liatin.




“Nggak mau… ' balas Manda.



“Hah? Kamu seriusan nolak laki-laki kayak abang?' gue Fanboy, anak Osis, Basket dan Kapten Futsal. Gue nggak ngerti dimana letak alasan dia bisa nolak gue.



“Iya. Adek nggak mau jadi pacar abang.'



“Seriusan ?'



“Eh nggak tau deng, adek gantung aja ya?' dikata gue jemuran.



“Dikata Abang jemuran.'



“Yaudah kalo gitu adek tolak aja,'



“Yaudah iya, sana gantung.'



“Hehe, maap ya Bang,' gue mengenakan helm, menyalakan motor dan meluncur di jalanan menuju rumah.


__ADS_1


__ADS_2