
BAB EMPAT
31 Desember 2016
“Abang mau mandi dulu ya, biar wangii. Siapa tau ada jablay yang mau tahun baruan.' kata dia.
“Semoga ada yang mau sama abang ya,' balas gue.
Kayak biasanya, gue diam di rumah tahun baru ini. Tidur tanpa ikut countdown menuju jam dua belas tepat. Tetapi katanya ada acara musik Kpop di channel MTV pukul sebelas. Semoga televisi zaman 90an milik gue mendukung dan nggak ikut-ikutan berpartisipasi dalam perburukan tahun baru gue.
Ah, iya! Dia memberi tau gue username akun Facebreaknya yang baru. Dia bilang disana dia menjadi laki-laki. Berkat itu gue tau nama aslinya, walau bukan nama lengkap. Nama dia, Anji. Bagus, ya? Biasa aja, sih, tetapi terlalu bagus buat disandangkan kepada dia. Sampai sekarang gue udah tau beberapa 'informasi' mengenai Anji, langsung dari yang bersangkutan--butuh perdebatan panjang dan sedikit pancingan untuk mengetahuinya. Gue sudah tau tanggal lahirnya, sebelas Maret, beda dua hari sama Suga.
Hehehe.
Nggak tau kalau tahunnya. Gue juga sudah pernah lihat foto wajah real dia, biasa aja, nggak handsome. Sekarang, hanya perasaannya yang belum gue ketahui. Eh, ternyata dikit, ya, yang gue tau?
Menurut gue pribadi, Anji tipe laki-laki bobrok, tulisan dia kurang rapi, tak sesuai KBBI, tanda kapital; tanda baca; bahkan titik pun jarang dia gunakan. Nasib kenal lewat sosial media, ya, begini, yang bisa dilihat dan dinilai hanya sebatas tulisan. Itupun tulisan komputer, bukan Anji.
///
02 Januari 2017
Banyak yang terjadi selang dua hari ini. Ayah yang melarang gue untuk Pacaran, Gue yang mengenalkan Suga kepada kedua orang tua gue--ini suatu kebanggan tersendiri bagi seorang Fangirl--, sampai gue yang kena ceramah dari Bunda. Cari laki-laki yang biasa aja, Nda, jangan yang terkenal, kaya, dan ganteng, begitu kata beliau.
“Mau nggak jadi pacar abang ?' gue kedip, kedip lagi, kedip lebih cepat dan membelalakan mata.
“Eh tadi Hp Abang dibajak orang yak?? Dia nembak Adek masa Bang,' balas gue, santai.
“Nggak.' balas Anji. Gue membulatkan mata, kemudian tersenyum.
“Oh jadi itu abang? Hahahaha kirain dibajak,' balas gue.
“Abang lagi main ToD yak?' tanya gue positif think.
“Nggak. Mau nggak jadi pacar abang?' gue mengerjapkan mata.
Gue. Ditembak. Oleh. Laki-laki. Yang. Gue. Suka. Dari. Lama.
GUE DITEMBAK.
Tunggu, gue harus tenang dan jangan banyak tingkah biar pihak forensik bisa dengan mudah menemukan siapa penembak gue. Jujur, ini pertama kalinya, gue burik, iya. Tetapi pernyataan pertama yang gue dapat itu dari laki-laki yang gue suka, enak juga jadi burik. Eh, ini first love, ya? Bentar, bentar. Kenapa Anji nggak bilang su(i)ka* atau sa(m)yang* dulu ke gue?
--------------------------
*Suika=Semangka dalam bahasa Jepang. *Samyang=Mie goreng dalam bahasa Korea.
--------------------------
“Nggak mau…' balas gue ragu-ragu. Yang ada di pikiran gue hanya kata-kata Ayah.
Manda nggak boleh Pacaran, ya.
Iya, Ayah.
“Hah? Kamu seriusan nolak laki-laki kayak abang ?' balas Anji.
Anji nggak tau apa-apa soal gue. Dia nggak tau kalo gue sama dia nggak sejalan. Kenapa dia nembak gue? Seharusnya Anji mempunyai beberapa 'informasi' mengenai gue dahulu, baru dia bisa menyatakan perasaannya. Dia nggak tau gue, dia hanya tau nama dan tanggal lahir gue, dia nggak tau wajah gue dan dia nggak tau alamat gue.
“Iya, Adek nggak mau jadi pacar Abang,'
“Seriusan ?' jawab Anji seolah-olah gue bakal menyesal jika menolak dirinya.
“Eh nggak tau deng, Adek gantung aja ya?' jawab gue nyari aman, hehe.
__ADS_1
Sekarang pikiran gue terbagi menjadi dua kubu. Kubu Ayah dan kubu Anji. Di dalam kubu Anji ada partai Kecintaan, kesenangan, semangat, dukungan, masa muda dan perasaan tenang.
Sorenya,
“Kamu suka main layangan?' tanya Anji terkejut dengan pernyataan gue sebelumnya.
“Iya,' berhubung gue tinggal di tengah-tengah perkampungan, itu hal yang biasa buat sering bermain layang-layang setiap sore. Banyak awan mendung bukan halangan, menerjang angin kencang tiada takut, menempuh badai sudah biasa, angin bertiup badai berkembang, ombak berdebur di tepi pantai. Tapi hanya ada segelintir perempuan yang suka main layang-layang, mayoritas kaum laki-laki yang bisa dan sanggup dengan sabar menerbangkan layang-layang itu. Pantas mereka jago menarik ulur suatu hubungan. Hehe. Gue sarankan buat kalian para perempuan, sempatkan diri untuk ikut kursus menerbangkan layang-layang. Siapa yang tahu kalau kalian nanti dewasanya tahu-tahu bisa menarik ulur suatu hubungan. Item mah iya, hehe.
Jangan salah, gue kurang akur sama laki-laki yang juga main layangan bareng gue, mereka bilang gue cuman menghambat. Kenapa? Karena kalau ada layangan putus, mereka nggak berani menyerobot ataupun menepis gue(baca;perempuan). Hasilnya mereka berdesak-desakan di belakang gue, memenuhi gang yang sempit. Sekarang, sejak gue pindah rumah, gue sudah nggak pernah mainin ikan terbang itu lagi.
“Dih item nanti lu dek.'
“Biarin, udah item ini kok,'
“Makanya dijaga kulitnya itu.'
“Yah orang Adek suka. Adek nggak pernah bedakan sejak umur sembilan tahun, sisiran pun nggak,' sok-sokan gue mengecap Anji bobrok, padahal gue sendiri begitu. Bahkan lebih buruk.
“Dih mana ada cowo yang mau sama elu dekk.'
“Kayaknya tadi pagi ada laki-laki yang nembak Adek deh Bang.' sindir gue. Gue tertawa sampai sakit perut gara-gara hal ini. Mungkin sekarang dia sedang sujud sukur karena ditolak gue, tunggu aja undangan sukuran dia nanti malam.
Eh, tapi jangan salah. Walaupun gue burik, dia juga nggak jauh beda dari gue. Dekil. Maka nya gue gantung. Hehe.
“Udah ah abang mau lanjut main.' balas Anji. Sedari tadi dia sedang istirahat setelah satu putaran menaiki odong-odong--eh main futsal maksud gue.
09 Januari 2017
Gue sama Anji benar-benar sudah jarang komunikasi. Anji selesai menjalani masa hiatusnya, alhasil chatt gue diabaikan. Gue chatt di Whatsupp, dia online di Facebreak. Gue chatt di Facebreak, dia offline. Gue sms, dia nggak bisa balas. Kami juga sering ribut mendebatkan Anji yang panggil sa(m)yang ke gue, kalau Ayah tau, gimana nasib gue?
“Deekk.' sapa dia di DM Facebreak. Dia pakai akun barunya. Kan! Pesan gue di Whatsupp diabaikan!
“Sayang semalem abang mimpiin suga.' gue terkejut sekaligus iri. Anji itu benci Suga. Walau dia fanboy BTS, tetapi dia bilang dia benci Suga.
Ketika gue tanya apa alasan dia membenci Suga? Anji bilang 'Dia udah ngerebut lu dari abang.' melting? Iya dong! Tetapi apa daya takdir tak merestui kehendak Anji. Kayak yang pernah gue bilang, tanggal lahir mereka hanya beda dua hari. Gue ingin punya tanggal lahir yang deketan sama Bias aja nggak berhasil. Sedang Anji sudah mendapatkan anugerah mulia itu sejak lahir. Dan sekarang Anji bermimpi tentang Suga, ironi sekali.
“Iya?!! Woahhh gimana mimpinyaaa? Ih Adek aja blum pernah mimpiin dia seumur-umur. Adek malah pernah mimpiin Aviva,' jawab gue antusias.
“Blom rejeki hahaha.' kata Anji, dia mengetik...
“Ehhh serius ? abang ketemunya di kolam renang abang dia lagi ngambang aja seenak nya di kolam renang sok ganteng lagi. jangan bahas Aviva abang udah move on.'
Gue harus baca pesan itu berkali-kali untuk memahami apa yang Anji sampaikan. Tulisannya hancur banget karena nggak ada tanda baca.
Buat yang blum mengerti, nih gue kasih tau maksudnya. “Ehhh serius ? abang ketemunya di kolam renang abang. Dia lagi ngambang aja seenak nya di kolam renang, sok ganteng lagi. Jangan bahas Aviva, abang udah move on.” Suga memang ganteng, ya, fakta yang tak perlu diuji kebenarannya, dan tak bisa dibantahkan.
“Lah Suga mahh emang ganteng yee, jadi nggak apa-apa sok ganteng juga.. Pasti ganteng banget Suga nya aaa..' balas gue.
“Iya gtu lah males kolam renang abang jadi bekas dia ihh sok gaya gtu lagi renang nya.'
Sebenci inikah Anji kepada Suga? Padahal kalau air kolam bekas Suga berenang dikemasin dalam botol air minum mineral kemudian dijual ceban satu botol air juga laris manis.
“Aaaaaaakkkk....Keren nya~ ^^ Kalo Adek disono Adek bakalan nyuruh Abang pergi jan ganggu Dia,’ gue rela menjadi body guard dadakan hehe. Body Guard atau Sasaeng*, eh?
-----------------------
*Sasaeng=Fans yang cinta berlebihan kepada Idolnya, biasanya mereka mengikuti kemanapun dan mengirimi Idolnya hadiah yang berisikan kamera tersembunyi.
--------------------
“Itu rumah gua dekkkk harusnya lu yg pergi.' Lah, bentar-bentar. Ada yang nggak beres, nih.
“Lahh?? Kata nya lagi di kolam renang!' bantah gue.
“iya kolam renang di rumah.' Oh, paham gue sekarang. Bagi yang belum paham, datang lagi besok, ya. Mungkin masih banyak stoknya.
“Btw abang punya kolam.renangnya di rumah itu beneran atau cuman di dalam mimpi?' tanya gue masih merasa janggal dengan respon Anji. Polosnya gue dahulu.
__ADS_1
“Punya lah.' Oh jadi itu alasan Anji marah, karena dia harus berenang di kolam bekas Suga. Eh wait---, wait wait.. No, no wait.. Wait wait.. What?! Anji bukan orang 'punya' kan? Iya kan? Bukan kan? Tapi--kalau bukan, kenapa Anji punya kolam renang di rumahnya?
Jangan bilang... Apaan, sih, Manda, masa tolak ukur orang 'punya' bagi kamu itu kolam renang pribadi di rumah. Benar, benar. Nggak serendah itu. Lagipula dari bahasa dan tulisannya, Anji kelihatan persis orang biasa, dari kasta yang sama kayak gue.
Jangan sampai dia dari kelas menengah ke atas, cukup Long Distance Relationship dan Long Distance Religion-nya, gue nggak bisa menerima kalau memang harus ada perbedaan kasta. Secara gue kan orang yang serba dicukup-cukupi. Bukan berkecukupan.
15 Januari 2017
“Deekk.. Abang mau cerita, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.' Ayayayay Captain! Gue tersenyum licik sembari bersiap-siap mengambil screenshot pesan Anji.
“Siap!!! Rahasia abang aman ditangan Adek!' Aman selama dua puluh menit.
“Jadi... Sebenernya abang takut hantu deekk.. ' tawa gue pecah. Mana ada hantu di dunia ini HAHAHAHAHAHA. Laki-laki macam apa yang takut hantu HAHAHAHAHA.
“Dih masa takut. Adek aja berani malem-malem ke kuburan.' kata gue, sok. Gue berani malam-malam ke kuburan, kuburan jenis apapun baik itu kuburan belanda, China, sampai kuburan Afrika pun gue berani. Tapi kalau alasannya nggak jelas, gue malas. Hehe. Bukan takut, ya. Malas.
“Eeh seriuuss dekk.. Abang pernah ngalamin. Jadi waktu kelas 2 SMP,' sebentar--gue umur berapa waktu itu? Ah iya, sembilan tahun. Kelas empat SD.
Oke lanjut.
“Kan abang pulang main jam satu pagi,' hmm ini, sih, kayaknya karma karena Anji main pulang pagi. Siapa suruh, jadi lihat yang begituan, kan.
“Nah abang dari mulai buka pintu, naik tangga, sampe nyampe di kamar abang itu sambil main hp.' Terbesit di pikiran gue hal-hal seperti dia yang lupa untuk menutup pintu depan sampai dia yang tergelincir di tangga karena pandangannya terfokus pada layar Ponsel.
Sayang, hal itu nggak terjadi.
“Pas sampe di kamar abang langsung mau tidur. Karena nggak bisa-bisa akhirnya abang bangun dan belajar, pas itu pintu kamar abang tutup.' oke oke sampai di sini bisa dibayangkan. Dia yang nggak kunjung bisa tidur dan akhirnya memutuskan untuk belajar dengan kamar dalam keadaan tertutup.
“Pas abang lagi belajar, abang denger suara mama manggil, “Njii.' katanya. Abang males turun, sedangkan kalo abang jawab teriak nanti berisik jadi nggak abang jawab. Emang biasanya juga abang nggak pernah jawab sih kalo mama manggil. Hehe. Trus nggak lama kemudian abang denger suara papa yang manggil, “Njiii', gitu katanya. Abang nggak jawab juga, biar mereka ngira nya abang lagi tidur.' anak durhaka.
Gue tau Anji nggak suka ngomong sama orang lain, termasuk teman-temannya, tapi sudah adabnya kalau orang tua manggil, ya, harus dijawab.
Daripada jadi Malin Kundangnya Jakarta Selatan.
“Abang lanjut baca, sambil sesekali nulis kalau ada yang penting. Nggak lama kemudian abang denger suara Abangnya abang manggil dari lantai satu, sama kayak Mama Papa. Soalnya emang abang doang yang tidur di lantai dua.' bentar-bentar. Abangnya abang? Oh, oke-oke, abang nya si abang.
“Abang kesel dong di panggilin mulu, abang banting pensil dan buka kunci pintu. Pas abang buka pintu, lorong depan kamar abang gelap. Abang baru nyadar kalo ini udah malem, abang lupa kalau abang baru pulang main.'
“Kan di lantai dua itu ada tiga kamar, dan ada kayak ruang duduk-duduk gitu diantara kamar abang sama kamar satunya. Diruang duduk ada sofa, dan nggak jauh dari sana ada balkon lagi. Setelah abang buka pintu dan mikir sebentar, abang ngeliat ke sekeliling dari pojok yang satu ke pojok yang berlawanan, pas ngeliat sofa abang buru-buru masuk kamar lagi. Abang liat dia dek!! Abang liat diaa!!!!' gue ngejap-ngejap baca pesannya, kok horror, sih. Ngebayangin kalau dia keluar kamar dan melihat lantai dua itu gelap total, penerangan satu-satunya cuman dari pantulan pintu kamar Anji yang terbuka.
“Liaatt apaa?? Ihh liat apaaan?' tanya gue memastikan. Si Anji bukannya ngasih tau secara langsung apa yang dia lihat.
“Abang liat itu dekk.. Liat kuntii.. Aahh abang takut. Dia duduk di sofa--' gue kok ikutan takut, sih.
“Dia duduk di sofa, agak kekiri dari kamar abang. Dia nya nunduk, trus rambut panjangnya nutupin mukanyaa dekk.. Ah untung abang nggak liat mukanya. Disitu abang punya dua pilihan, abang terjun ke tangga tapi harus lewatin samping dia atau abang balik ke kamar dan kejebak disitu sampe pagi. Abang milih balik ke kamar. Setelah abang ngunci pintu abang langsung ngumpet di balik selimut abang. Abang maksain buat tidur walaupun disitu abang lagi keringetan trus napas abang nggak beraturan. Abang terus-terusan tutup mata karna ngebayangin kalo abang buka mata, ntar dia tiba-tiba dia ada di selimut abang lagi. Abang berusaha nggak gerak sedikitpun biar kalo misalnya dia masuk ke kamar abang, dia nggak tau kalo abang sebenernya lagi bangun.' gue kok ikutan ngos-ngosan, sih, bacanya. Jujur, emang, sih, gue nggak takut hantu karena gue nggak pernah lihat makhluk itu secara langsung.
“Ihhh gilaa.. Kok serem sihh!! Padahal adek nggak percaya kalo hantu itu adaa,' balas gue. Gue kehabisan kata-kata.
“Abang takutnya dia manggil abang karna mau ngajak abang pergii, mana dia mainnya kotor lagi deekk.' hah? Mainnya kotor? Hantu main kotor? Emang hantu suka main kotor kan? Tahu-tahu muncul dan tahu-tahu menghilang. Diundang nggak, pamit juga nggak.
Tapi emang, sih, siapa juga yang mau mengundah makhluk halus? Dan siapa yang nggak merinding kalau dimintain pamit sama mereka? Nanti kalau mereka ngajak bareng gimana? Salah-salah dikit nanti kalian diajak trus nggak pulang-pulang.
“Mainnya kotorr? Hah? Maksudnyaa?' tanya gue heran.
“Kain maksud abang bukan main.' Ohh, kain. What?!! Ka--kain--kainnya kotor. Gue menelan ludah dan menjerit membayangkan penampilan makhluk halus itu. Suasana gelap, pukul satu pagi, duduk di sofa, menunduk dan rambut panjangnya yang menjuntai menutupi wajah, sampai kainnya yang kotor warna cokelat.
Terbesit di pikiran gue kalau saat itu pasti musim hujan, jadi dressnya kotor kena becek kota Jakarta. Kasihan, mau operasi aja harus becek-becekan dulu. Kalau emang dia terbang, mungkin hujan asam membuat dressnya bereaksi dan menjadi berubah warna. Kayak kamu yang bikin hati aku jadi berubah warna.
Berhubung gue syok waktu itu, gue jadi lupa untuk mengambil screenshot pesan Anji. Sayang, padahal setelah gue kenal dia bertahun-tahun--dan tau perangainya, membaca ulang pesan itu bakal bikin gue ketawa terbahak-bahak disertai keringat dingin yang bercucuran.
__ADS_1