CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
Remember When We First Met?--10


__ADS_3

BAB SEPULUH



Gue dan Anji sedang chattan seperti biasanya. Kami membahas topik yang sedang trending baru-baru ini, yaitu: konser BTS di Manilla. Jangan tanya siapa yang mulai membahas topik ini lebih dulu. Sudah ketebak 'kan? Siapa lagi kalau bukan gue? Hehe. Bentar lagi Anji pasti mengamuk dan bilang begini, “Nggak penting amat.' gue bawaannya ingin matiin data saja kalau Anji sudah bilang begitu.




Cuaca diluar benar-benar panas, sekarang tanggal 14 Maret dan sudah musim kemarau aja. Biasanya juga molor sampai-sampai bulan di April masih ada petir yang saut-sautan. Emosi gue lebih panas dari cuaca diluar, karena apa? Karena Anji lama bales pesan gue. Gue sudah selesai lari mengelilingi GBK dua putaran tapi Anji masih blum membalas pesan gue. Sabar, yang bukan prioritas harus sabar.



Padahal dulu Anji balasnya selang lima menit doang, tapi gue udah nggak sabar aja. Dasar diri gue yang dulu.




“Terakhir dilihat hari ini pukul 14.' Lhaaa, malah offline dia.



“Moaa?' Ceklis satu. Tauah, gue ngambek. Lihat aja.



Gue mematikan data dan mengerjakan pekerjaan gue yang sudah menunggu sambil merajuk sama Anji. Nggak ada yang lebih nikmat dari situasi seperti sekarang, sementara dia disana sedang pusing memikirkan cara agar gue ngambek, gue disini malah asyik mengerjakan pekerjaan gue. Nggak, lupain aja! Kenyataan nggak bakal sebagus itu. Gue melewatkan satu fakta penting, Anji itu nggak peka, jadi apa, sih, yang bisa gue harapkan dari dia?




Sebelum gue mandi, tepatnya pukul lima sore, gue berdiri di dekat jendela dan menyalakan data ponsel gue.



3 pesan dari 2 kontak.



Nggak ada pesan dari Anji, perasaan marah gue berubah menjadi cemas. Anji belum pernah offline sampai tiga jam tanpa izin dulu sama gue. Kalau keadaannya begini, gue yakin Anji pergi ke suatu tempat tanpa izin dahulu. Mungkin dia sedang buru-buru, mungkin dia buru-buru dan lupa mengisi daya baterainya, mungkin ada Polisi yang razia, mungkin.. Mungkin.. Sudahlah, nanti juga Anji online.



Bagi kalian yang nggak LDR, kira-kira beginilah kebimbangan pasangan yang LDR. Tidak semuanya begini, sih; tapi secara garis besar memang begini adanya. Rasanya lucu, menerka-nerka apa yang dia lakukan dari radius beribu-ribu kilometer jauhnya. Mungkin kalau gue Pacaran dengan Anji selama sepuluh tahun, gue sudah berhasil membuka biro Detektif Swasta, mungkin Sherlock Holmes kalah sama gue yang bisa menerka apa yang dilakukan Anji dari jarak beribu-ribu kilometer.




Pukul tujuh, gue kembali berdiri di dekat jendela dan menyalakan data. Kali ini pasti Anji sudah balas pesan gue.



4 pesan dari 3 kontak.



Nah kan dari Anji, mata gue berbinar-binar.



Gue membuka aplikasi Whatsupp, mata gue meredup, ternyata bukan dari Anji. Gue melihat kolom chatt Anji yang hampir tenggelam karena tertimpa kolom chatt lainnya. Ceklis satu.

__ADS_1



Gue menunggu sampai pukul sepuluh dan Anji belum juga membalas pesan gue. Gue nggak marah lagi, diri gue sekarang dipenuhi rasa khawatir. Gue sudah menghubungi Anji berkali-kali dan tahu-tahu perempuan yang menjawab telepon dari gue. Katanya, “Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan coba beberapa saat lagi.' Beberapa saat kemudian gue kembali menghubungi Anji dan tetap mendapat jawaban yang sama. Sialan gue ditipu.



Kalau Anji kehabisan kuota, maka nggak mungkin nomornya nggak aktif. Lantas kenapa Anji nggak kunjung online? Gue kangen.



Gue berbaring dikasur lantai bersiap tidur. Penglihatan gue tertuju pada atap tanpa plafon kamar gue, sedang pikiran gue masih menerka-nerka apa yang sedang Anji lakukan saat ini. Mungkin dia sedang menonton TV, atau kumpul di ruang keluarga, atau sekedar tidur-tiduran di kamar Bang Dani, atau mungkin dia sedang belajar--ralat, kemungkinan yang terakhir gue sebutkan terlalu mustahil. Lebih masuk akal kalau Anji berubah menjadi Pahlawan super dan sekarang sedang melawan para Penjahat daripada kemungkinan kalau Anji sedang belajar.



Eh, tunggu, Penjahat, ya. Gue melompat bangun, mata gue terbelalak. Bagaimana kalau sekarang Anji sedang diculik? Benar, benar. Kalau Anji diculik, dia nggak bisa balas pesan gue. Jangan-jangan Anji benar diculik. Duh, gue harus apa? Gue nggak punya nomor telepon kerabat ataupun teman-teman Anji. Ya ampun! Bodohnya gue! Kenapa gue menghubungi Anji! Jangan-jangan Anji sedang sembunyi dan dia ketahuan saat ponselnya bunyi karena telepon dari gue. Berarti..., gue... Sudah... Mencelakakan... Anji..



Gue menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghilangkan asumsi tersebut dan mencoba tidur dengan harapan Anji bakal membuat gue tersenyum esok paginya.




///




Nihil.



Gue mengrenyitkan kepala melihat notifikasi pesan Whatsupp di ponsel gue. Nggak ada pesan dari Anji.





Selama seharian penuh Anji terus berputar-putar di pikiran gue. Tanpa henti. Terus-menerus. Semakin gue mencoba melupakannya, semakin gue kepikiran akan hal itu. Dari sini gue bisa menyimpulkan, bahwa Anji adalah seorang psikopat dan gue harus buru-buru memutuskan hubungan dengan dia. Padahal gue yang luntang-lantung karena komunikasi gue dengan dia terputus, hehe. Sok-sokan minta putus. Dulu gue memang suka nggak tau diri, hehe.



Dua hari berlalu, Anji masih belum memberi kabar kepada gue. Gue sudah menyampah di chattnya, tapi terus-terusan ceklis satu, gue heran kenapa nggak berubah. Seharusnya gue tanya-tanya kepada teman-teman Anji, tapi nggak ada satupun orang yang bisa gue hubungi untuk menanyakan kabar Anji. Gue baru sadar kalau gue nggak tau apa-apa soal Anji. Sudah hampir dua bulan gue menjalin hubungan dengan Anji (kok baru sebentar, sih, kayaknya udah lama) tapi sampai sekarang gue nggak tau apa-apa mengenai kehidupan dunia nyata milik Anji.



Setiap kemungkinan sudah gue pertimbangkan, dari yang paling sederhana sampai pada kesimpulan yang diluar nalar manusia, tapi gue tetap nggak tau dia kemana.




“Manda.' Panggil Kak Sabna saat gue lagi kerja.



“Apaan?' Sahut gue dari dalam rumah.



“Sini dulu.' Ish, dikira gue lagi santai kali, ya.

__ADS_1



“Apaan?' Kata gue saat sudah mendatangi Kak Sabna dihalaman rumah.



“Nih,' Kak Sabna menyodorkan ponsel hitam miliknya.




Gue membelalakan mata melihat layar ponsel tersebut.






Just let me love you. (Jimin - Serendipity)




“Si Manda suruh on.' Gue membelalakan mata saat membaca pesan via Facebreak tersebut.



“Hotspot hotspot hotspot.' kata gue sambil terburu-buru masuk hendak mengambil Ponsel.



“Sayang maaf ya aku nggak bisa on dulu. Hp moa mati trus nggak bisa nyala lagi. Maaf moa mungkin nggak bisa on untuk beberapa hari. I Love You.' begitu isi pesan dari Anji. Tanpa sadar, air mata gue sudah berkumpul di pelupuk mata. Gue kira Anji kenapa-napa.



Gue kehabisan kata-kata untuk membalas pesan Anji. Jadi pesannya hanya gue baca. Balasannya bakal gue renungkan dahulu,


Toh dia nggak bisa online.



Selama beberapa hari setelah itu, Anji rutin online pada waktu yang sama, waktu istirahat pelajaran, lewat ponsel temannya. Bisa dibayangkan, gue komunikasi dengan Anji hanya beberapa menit dalam sehari. Untungnya, selalu berjalan mulus. Dia online saat gue online dan gue sama dia saling balas pesan satu sama lain. Bukan sama-sama online tapi diem-dieman, ya.



Hari keenam setelah ponsel Anji kecelakaan, Anji nggak online lagi diwaktu yang 'seharusnya'. Berhari-hari gue tunggu pada jam yang sama, Anji nggak kunjung muncul. Akhirnya gue persetanin masalah ini dan fokus dengan pekerjaan sekaligus Whatsupp gue. Dan, yap, gue nggak berhasil. Anji masih setia treadmill* di otak gue.



Gue mulai menerka-nerka kembali mengapa Anji nggak online di waktu yang seharusnya. Asumsi gue: pertama; Teman Anji ngamuk karena ponselnya terus-terusan dipinjam, kedua; Teman Anji nggak punya kuota, eh, tapi emang teman Anji cuman satu doang? Emang, teman Anji cuman ada satu. Ketiga; Anji nggak hadir di sekolah, Keempat; Teman Anji nggak hadir di sekolah. Yang mana sebenarnya? Pikiran gue langsung tertuju pada opsi ketiga. Jangan-jangan Anji sakit, atau kecelakaan, atau lebih buruk dari itu. Eh, siapa tau dia hanya bolos seperti biasanya. Nggak berjuang amat, sih, demi komunikasi sama gue.






__ADS_1


---------------------------------------


*Treadmill=Alat yang mampu membantu kita berlari atau berjalan tanpa berpindah tempat.


__ADS_2