
Love its hard i know. All your lights are red but i'm green to go. Used to see you high, now you're only low. All your lights are red but i'm green to go. (Troye Sivan - Blue)
BAB EMPAT BELAS
26 Maret 2017
Yeah, hari ini anniversarry ke-2 bulan hubungan kami. Gue dan Anji komunikasi lewat SMS, persis kayak waktu kita jadian. Bagi kita yang LDR, hal begini itu something special. Seperti kalian merayakan ulang tahun bulanan hubungan kalian di tempat yang sama saat kalian jadian dahulu.
Anji sudah keluar dari rumah sakit namun belum kembali masuk sekolah. Disini gue khawatir dengan prestasi bobroknya, takut-takut makin bobrok. Dan sejauh ini hubungan gue baik-baik saja. Dia nggak pernah berhenti minta maaf karena pernah lost communication sampai 12 hari, gue bilang nggak apa-apa, tapi dia tetap terus meminta maaf. Gue merasa semakin dekat dengan lingkaran kepribadian Anji. Bagaimanapun, seseorang yang kalian kenal selama 5 hari akan terasa berbeda jika kalian mengenalnya hanya selama 2 jam. Pertama kalinya hubungan gue dan Anji berjalan damai.
Oh iya, Anji punya kekuatan baru. Apa itu? Teleportasi.
Kadang dia ada, kadang dia hilang.
Bagi yang pernah menonton Drama My Love From The Star, moment ini sama dengan moment saat Kim Soo Hyun(gue lupa nama tokoh yang dia peranin) kadang ada dan kadang hilang dari Jun Ji Hyun. Anji bisa ada saat gue bangun tidur, hilang saat gue sedang bekerja, dan kembali muncul saat gue sedang tidur.
Chemistry ini juga sama seperti Ran dan Shinichi di Detektif Conan.
Mereka nggak bisa komunikasi kapanpun mereka mau, begitupun gue dan Anji. Tapi gue ingat, ada satu hal yang benar-benar berarti di bulan Maret dan April tahun 2017 ini. Apa itu? Gue dan Anji sama-sama mulai terbuka mengenai pribadi kami masing-masing.
Bukan hal mudah untuk sampai di titik ini. Gue ingat gue pernah dibilang 'Cewek murahan' sama salah satu teman laki-laki gue. Entah bagaimana tapi dia tau bahwa Anji seorang Playboy. Disaat gue merasa gue jual mahal karena menggantung Anji selama beberapa Minggu, dia justru menganggap gue perempuan murahan karena sekalipun gue gantung Anji, tapi tetap Pacar pertama gue adalah seorang Playboy.
Seakan 24 hari gue menggantung Anji itu nggak mengubah apapun.
Anji merasa bersalah setelah tau hal itu. Dia meminta maaf, dia bilang dia salah, dan dia nggak akan mengulangi kesalahan itu. Gue jadi berharap banyak, hehe. Hubungan kami juga berada diujung tanduk saat bulan Maret-April, karena Anji yang merasa bersalah dan menyuruh gue membuat pilihan. Tetap sama dia, atau pergi. Kalian tau apa yang gue pilih tanpa perlu gue sebutkan. Setidaknya, gue ingin memilikinya barang sebentar, terlepas dari apapun perbedaan diantara kita, sekalipun hati gue rasanya remuk saat dengan polosnya Anji berkata "Aku sayang kamu.'. Mungkin Anji kecewa karena gue nggak pernah merespon pernyataan darinya.
Ah iya, ada suatu moment berkesan saat di bulan April, saat itu gue dan Anji benar-benar dekat dan kami mempunya cara khas tersendiri untuk 'memanggil' satu sama lain. Yaitu dengan melakukan panggilan 'Misscall', tandanya 'Bales pesanku.' Haha.
__ADS_1
Kejadiannya itu awal bulan April, Anji sudah kembali masuk sekolah, gue pun sudah kembali bekerja seperti biasanya. Gue sedang mandi saat Ponsel gue berbunyi, tanda pesan baru, dan gue tetap melanjutkan mandi tanpa terburu-buru. Sampai Ponsel gue mulai berbunyi karena Misscall dari Anji, dalam hati gue mengumpat karena ponsel gue yang lupa disilent.
Gue masih melanjutkan mandi, sampai tiba-tiba Kak Jait menyahut,
“Mandaaa ada yang nelponn.' katanya.
“Siapa, It?' tanya Bunda.
“Yah, udah dimatiin.' kata Kak Jait. Di dalam kamar mandi gue hanya mangut-mangut sambil menggosok rambut pendek gue.
“Eh nelpon lagi Bun.' kata Kak Jait.
“Siapa, It?' tanya Bunda penasaran. Dari dalam kamar mandi gue terus mengumpat dalam hati. Sial, ketahuan, deh, gue!
“Nggak tau nih, namanya nggak jelas.' gue tersenyum sinis, untung gue sudah mengganti nama Kontak Anji dari Sung Go Kong menjadi --" -____-, hehe.
Ponsel gue berhenti berbunyi, lalu terdengar suara Kak Jait.
“Jangan dijawab” dari dalam kamar mandi. Gue nggak mau hubungan gue dengan Anji ketahuan sama keluarga gue, riwayat hidup gue bisa kelar saat itu juga.
“Bun, suaranya cowok, Bun.' nada suara Kak Jait membuat gue ingin melempar botol sampo kearahnya.
“IHHHH JANGAN DIJAWAB!!! KAKAK JAITTT JANGAN DIJAWAB!!! KAK SABNA NIH JAGAIN HP MANDA!' teriak gue, kecepatan mandi gue naik tiga kali lipat.
“Halo? Iya Mandanya lagi mandi.' kata Kak Jait lagi.
“JANGANN DIJAWAB!!!' gue masih teriak-teriak dari dalam kamar mandi, dalam hati gue mengumpati Anji yang nggak mahamin keadaan gue. Gue tebak, Anji pasti sedang menelpon gue dengan wajah polos terpampang dimukanya.
“Apaan, sih, Manda, ada Kak Sabna. Jangan digubris Kak Jait, mah.' kata Kak Sabna menenangkan. Gue keluar dari kamar mandi dengan muka merah dan alis berkerut, juga handuk coklat yang gue lilitkan di tubuh gue. Biasanya gue pakai baju di kamar mandi, ini semua gara-gara Anji!
“MANA HPNYA?!' teriak gue seperti seorang preman yang sedang memalak setoran pasar hari ini.
__ADS_1
“Apaan, sih, noh dimeja.' kata Kak Sabna, dia sedang duduk manis sambil melipat pakaian. Dan gue lihat Bunda dengan Kak Jait sedang cekikikan di dapur. Gue mengambil ponsel dengan kasar kemudian membanting pintu kamar.
“Sayang, moa udah pulang.' begitu isi pesan Anji. Gue tersenyum, masih dengan alis yang mengkerut.
“Moa mahhh!!! Jiman jadi gini kan!!' kata gue marah. Kalau gue marahin Anji karena dia terus misscall’in gue takutnya nanti lain waktu dia nggak misscall gue lagi sampai kapanpun.
“Eh ? Kenapa ? Moa salah ya.' Tau, deh, bodo amat.
“Oh iya, tadi ada yang nembak moa di sekolah.' gue bergeming untuk beberapa saat. Bagi kami yang LDR, menempuh pendidikan di sekolah yang sama adalah surga. Gue sudah satu sekolah dengan Anji beribu-ribu kali didalam pikiran gue. Gue iri. Ditambah gue yang Homeschooling dan Nolep, gue jadi semakin iri.
Gue pernah membayangkan diri gue menjadi OB, Guru, sampai kepala sekolah di sekolah Anji. Padahal, walaupun gue dan Anji satu daerah, terlalu nggak mungkin buat satu sekolah dengan Anji. Melihat jarak umur antara gue dan Anji, nggak mungkin untuk jadi adik kelasnya. Tapi bisa, sih, kalo gue, secara gue kan pintar hehe.
“Iyaaa????! Kok bisa sihh?! Jiman kira Jiman doang yang suka sama Moa. Soalnya mustahil sih ada yang suka sama Moa.' ledek gue, gue sudah selesai berpakaian.
“Iya. Namanya Anggi, dia sekelas sama Moa. Tadi dia nyatain perasaannya ke Moa.' jawab Anji. Gue tiba-tiba teringat dengan perempuan yang pernah gue kenal sekilas beberapa tahun lalu. Namanya Anggi juga, Anggita.
“Iyaaa??? Trus Moa jawab apaan? Moa bilang nggak kalo Moa punya pacar? Moa osis kan? Osis bukannya nggak boleh punya pacar? Trus kalo Moa ketahuan gimana?' gue nggak bakal kaget kalau Moa--maksud gue Anji, nggak mengakui gue. Kita sudah backstreet selama dua bulan.
“Ya Moa senyum trus jawab, Makasih tapi maaf gua udah punya cw dan cw gua lagi nungguin gua pulang buat ngechatt gua.' Anjiiiii... Gue terenyuh. Gue mengusap air mata di sepanjang kelopak mata gue. Tergambar di pikiran gue suasana penembakan Anji oleh Anggi. Pasti banyak darah bercucuran. Hehe.
Saat istirahat mungkin Anggi memanggil Anji keluar ruang kelas dan menyatakan perasaannya di koridor yang sepi. Nggak, nggak, itu nggak masuk akal. Mungkin Anggi menghampiri Anji yang sedang main futsal dan memanggilnya, baru kemudian dia menyatakan perasaannya. Nggak, nggak, Anji belum tentu menghampiri saat dipanggil. Anji nggak akan menggubris Anggi kalau begitu caranya, hanya gue yang tau bagaimana cara memanggil Anji.
Caranya adalah, Kamu bilang 'Guk Guk Guk' sambil mengayun-ayunkan tulang ayam atau tulang sapi di udara. Dijamin, Anji pasti berlari menghampiri kamu. Eh itu Anjing, bukan Anji.
“Moaaaaa.. Jiman kira Moa bakal nolak pake alasan lain. Tapi kok Jiman kasihan sama dia sihh???'
“Iya trus Moa bilang kalo Tzuyu* sama Momo* itu pacar Moa. Biarin aja sayang. Urusan dia itu mah.' nyesel gue terharu.
“BODO AMATTT. SONO SAMA MOMO SAMA TZUYU SONO.' Kalau kita real, mungkin suara gue sudah habis untuk meneriaki Anji.
------------------------
*Tyuzu dan Momo adalah member girlgroup Twice. Dan saya benci Twice.
__ADS_1