CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
Remember When We First Met?--6


__ADS_3

Would you love me the same? Will your love ever change? When the lights start to dim, will you still hold my hand?


(Jessica - Love Me The Same)



BAB ENAM



Saat itu pertengahan Februari 2017, ketika Anji mengatakan sesuatu kepada gue.



“Kamu mau abang putusin nggak ?' Hah? Maksudnya?



“Maksud abang???'



“Iya kamu mau nggak abang putusin ?' Putus? Gue kira hubungan ini bakal bertahan bertahun-tahun. Bahkan sekarang belum sebulan gue pacaran sama Anji.



Dan lucunya, gue yang diputusin?!



“Abang mau mutusin Adek?' kata gue memutar-mutar oreo, eh, keadaan maksudnya.



“Kalo kamu mau nanti abang putusin.' Makhluk yang satu ini maunya gimana, sih? Kan! Harusnya gue makan dia saat itu juga.



“Lah, maksudnya gimana?' Emosi gue memanas di siang bolong itu. Mungkin udara panas juga mengalir di dalam darah gue.



“Abang mutusin semua pacar abang, kamu mau nggak abang putusin juga ?' gue membayangkan Anji menanyakan hal yang sama kepada tiga Pacar Anji lainnya, lalu disusul dia mendapat tamparan dari masing-masing perempuan itu. Tapi itu hanya harapan saja, Anji LDR dengan semua pacarnya.



“Terserah abang, mau mutusin Adek atau nggak,' kata gue, asal. Tanpa memikirkan konsekuensi dari jawaban ini.



“Kamu nya mau nggak abang putusin ?' GUE MAKAN DIA SEKARANG JUGAAAA.



“Kok dibalik-balik sih, kalo mau mutusin Adek ya putusin aja,' jawab gue, sewot.

__ADS_1



“Abang gak tau. Udahlah gua mau nonton bokep dulu.' gue mengedipkan mata berkali-kali membaca balasan Anji. Ledakan emosi Anji diluar biasanya. Jangan bertanya kenapa gue mau pacaran dengan laki-laki yang playboy dan kasar kayak Anji. Gue sudah kewalahan dengan pertanyaan bertubi-tubi dari diri gue sendiri.




Sikap Anji berubah sejak kita Pacaran, dia bahkan terang-terang bilang kalau gue cuman pajangan. Gue marah? Iya. Walau gue tau dia hanya bercanda tapi gue tetap sengaja ngambek. Kenapa? Karena hanya ketika gue merajuk, dia akan menyepam ponsel gue. Kapan lagi, ya kan, gue di-spam.




**



BAB TUJUH (part satu)




BAB TUJUH



Gue menaruh Handphone di meja kecil dekat ranjang. Sekarang pukul sepuluh, gue bolos sekolah hari ini karena para mood-mood gue sedang berlibur ke Alaska. Mereka dibiayai oleh asuransi yang mereka dapatkan dari putusnya gue dengan pacar-pacar gue. Hanya tersisa Manda, si Jiman, yang belum gue putusin. Nyaris maksud gue. Dia yang paling kekanakan diantara pacar—eh, mantan maksudnya-- gue. Gue kira, dia yang pertama gue putusin, ternyata dia yang bertahan.




Kalau bolos sekolah, yang bisa gue lakukan hanya tidur dan memainkan Handphone gue. Kalau ada Bang Dani, pasti gue main PS bareng dia, sayang dia kuliah. Gue nggak bisa memainkan Handphone gue karena nggak ada apa-apa disana, hanya ada Manda. Gue malas menghadapi dia.



Mending tidur.



Gue bangun pukul satu siang dan pikiran gue langsung tertuju kepada Manda. Gue ngerasa bersalah ke Manda. Dia sudah menerima perlakuan yang terburuk dari diri gue, padahal gue tau kalau Manda memberikan perlakuan terbaiknya kepada gue. Pasti Manda marah. Manda kalau marah super banget. Gue pernah kena getahnya, dan gue nggak mau kena lagi.



Karena khawatir, gue pun mencari alternatif untuk membujuk Manda. Kepala gue sakit karena gue paksa untuk berpikir, padahal beliau bangun tidur siang. Tanpa pikir panjang, gue menjamah ide apapun yang terlintas di pikiran gue. Apalagi kalau bukan bernyanyi. Rekam suara gue, kirim kepada Manda, dan Manda bakal mendengarkan sambil tersenyum-senyum--ralat, walaupun Manda memberikan perlakuan terbaiknya untuk gue tetapi gue nggak bisa berharap banyak kepadanya. Dia pasti akan tertawa terbahak-bahak mendengar suara gue, dan akan mengungkit hal itu sampai dua ratus tahun kedepan.




“Abang mau ngirim rekaman suara abang nyanyi di Whatsupp, nanti kamu dengerin ya. Tapi jangan ketawa.' Gue mengirim pesan kepada Manda.


__ADS_1


“Okk! Nanti Adekk dengerin!!! Kenapa tiba-tiba ngirim rekaman suara??' balasan Manda masuk ke Handphone gue nggak sampai lima menit kemudian. Mbak-Mbak Mekdi pun kalah dengan kekuatan Manda.



“Biar kamu nggak marah.' jawab gue jujur.



Gue menyanyikan lagu Spring Day dari BTS dan merekamnya. Suara gue serak karena bangun tidur, flu, dan yang paling berpengaruh, karena gue lama nggak bersuara. Terakhir gue bicara itu kemarin pagi. Sewaktu guru memanggil nama gue.



Ceklis dua berwarna biru, tak sampai satu menit sejak gue mengirim rekaman suara itu. Buset, ganas, gue berasa Pacaran sama Sasaeng fans gue. Hehe.



“Nggak bisa didownload Bang, penyimpanan Adek penuh,' katanya. Gue menghela napas panjang, terputar kembali di pikiran gue bayangan gue yang bangun tidur, berpusing ria memikirkan cara agar Manda nggak ngambek, sampai gue yang merekam suara gue. Hasilnya apa? Nggak bisa diunduh. :)



“Oh yaudah download aja nanti kalau udah nggak penuh.' jawab gue sabar.



“Hehehe, maap yaa. Adek kirim rekaman suara adek aja nih,' balas Manda. Gue bertanya-tanya, kalau mengunduh rekaman suara gue aja nggak bisa apalagi mengirim rekaman suara?



“Yahh nggak bisa, Bang,' balas Manda selang beberapa menit. Gue membayangkan Manda yang berdiri di jendela dan mencoba merekam suaranya berkali-kali. Sudah kayak burung kakaktua yang hinggap di jendela. Manda sudah tua. Giginya tinggal dua.



HAHAHAHA. GIGINYA TINGGAL DUA.



“Abang pengen denger suara kamu.' kata gue, penasaran. Tiba-tiba gue teringat akan kenyataan kalau gue belum pernah melihat wajah Manda. Manda selalu mengelak setiap gue membicarakan tentang itu.



“Yahh nggak bisaa.. TT adek juga nggak tau kenapaa ishhh,' HAPUSIN SEMUA VIDEO SUGA YANG LU PUNYA DEKK, baru bisa. -_-




“Aaannnjiiii—nggggg…' Muka datar gue semakin menjadi saat temen gue, Abu, membuka pintu dan memanggil nama gue seraya berjalan dengan gaya yang tak enak untuk dilihat. Cewek-cewek genit di perempatan bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan Abu.



“Ketuk dulu pintunya.' kata gue malas.



__ADS_1


__ADS_2