CINTA TANPA KOMITMEN

CINTA TANPA KOMITMEN
Remember When We First Met?--8


__ADS_3

If I could run through time and become an adult, I will hold your hand in this cruel world.



If time goes by and I become and adult, Admist the divergence, I will hold your hand.


(Gfriend - Rough)




BAB DELAPAN



“Baru kali ini abang pacaran pake panggilan abang adek, biasanya aku kamu atau lo gue.' Heh, serius? Dari sekian banyak pacar Anji, baru kali ini? Gue kok mendadak ngerasa spesial ya. Hehe.



“Ehh masaa?? Adek sih nyaman-nyaman aja. Kerasa kayak nggak pacaran ya?' Perfect kan? Sesuai ekspetasi gue. Hehe. Buat Anji merasa kalau gue sama dia nggak Pacaran, dan kita bakal langgeng.



“Iya. Paling nggak manggil sayang. Atau oppa*.' yah nggak ada yang pas diantara keduanya. Kalau oppa, standar face Anji nggak memenuhi kriteria untuk dipanggil oppa. Kalau sayang, jujur aja gue nggak nyaman sama panggilan itu. Rasanya aneh. Abang adek emang sudah yang terbaik.



“Abang mau Adek panggil Sayang?' jawab gue.



“Iya..'



“Tapi adek nggak mau. Adek nggak suka,'



“Yaudah nggak usah.'



“Gimana kalo ada jadwalnya aja? Kapan manggil sayang dan kapan manggil Abang?'



“Kamu bisa kan dewasa dikit ?' gue mengerjapkan mata membaca balasan Anji. Saat itu gue sama sekali nggak tau dimana letak kesalahan gue.



“Dewasaa? Aku udah dewasa kok.. 15 tahun masa nggak dewasaa sih..' balas gue. Bodoh banget, ya, gue yang dulu. Hehe.



Sewaktu dulu, gue nggak ada henti-hentinya bertanya kenapa gue mau sama Anji. Sekarang gue yang bertanya-tanya, kenapa Anji mau sama gue.



“Hufff.. Kamu bahkan nggak ngerti apa yang aku bicarain.' Ka--kamu?! Kamu aku?! Yah, Anji marah.



“Aku ngerti kok.. Soal dewasa kan? Kadang emang sih aku suka nggak ngerti apa yang orang omongin, dan begitupun mereka, merwka nggak ngerti sama apa yang aku omongin,'



“Itu karena kamu nggak dewasa. Pemikiran kamu beda dari mereka. Itulah kenapa kalau ada yang ngomong, kamu pikirin dulu baik-baik, cerna dulu, jangan asal jawab. Nanti mereka nggak tau apa yang kamu omongin dan kamu juga nggak ngerti sama apa yang mereka omongin.'



“Udahh, aku udah nyerna apa yang mereka omongin. Aku juga udah mikirin omongan mereka dulu sebelum berpendapat tapi aku masih nggak tau kenapa mereka nggak paham,'



“Gini, kamu sekarang paham nggak sama apa yang aku omongin ?'



“Soal... Dewasa kan?'

__ADS_1



“Dewasa tentang apa ?'



“Eumm.. Tentang aku yang nggak bisa ngerti apa yang orang omongin,'



“Salah. Liat ? Kamu bahkan nggak bisa nyerna apa yang aku omongin,'



“YA TRUS GIMANA?! AKU UDAH NYERNA APA YANG KAMU OMONGIN TAPI BLUM NGERTI JUGA. KAMU NGOMONGNYA YANG JELAS BIAR AKU NGERTI,'



“Ngomong yang jelas ? Oke.’ Eh, jangan!



“Kamu itu nggak ada dewasa-dewasanya sama sekali. Oke kalau emang umur kamu masih kecil, tapi aku bener-bener nggak bisa liat sisi dewasa kamu. Kamu selalu bercanda di kondisi apapun, seakan kamu nggak bisa dan nggak peduli sama situasi. Kalo aku ngelarang buat ngelakuin sesuatu, berarti kamu nggak boleh ngelakuin itu. Nggak semuanya bisa jadi candaan. Kamu nggak bisa begini terus. Aku selama ini diem aja karena aku pikir kamu bakal berubah, tapi sampe sekarang apa ? Kamu nggak pernah berubah. Jujur aku kecewa.'




“Jadi kamu mau aku berubah? Jadi dewasa dan nggak kayak gini lagi?'



“Berubah? Itu terserah kamu. Aku nggak bisa maksa kamu buat berubah, dan kamu nggak bakal bisa berubah kecuali atas dasar kesadaran dari diri kamu sendiri. Kalaupun kamu mau berubah, aku nggak yakin kamu bisa ngelakuin hal itu.'



Emosi dan tekad gue tersulut pada saat itu,


“Kalo aku berubah kamu nggak bakal keberatan?'



“Keberatan ? Kenapa aku harus keberatan ? Berubah jadi dewasa itu baik.'




“Yakin. Aku bakal suka sama diri kamu yang dewasa.'



“Bener ya? Jangan nyesel loh?'



“Kalo kamu nggak yakin soal ini, kamu nggak perlu berubah jadi dewasa. Terus aja kayak gitu.'



“Oke! Aku bakal berubah jadi dewasa, sesuai janji, kamu nggak bakal nyesel kalo aku udah berubah!!'



“Iya, aku nggak bakal nyesel. Aku ada disini kalau kamu butuh bantuan ataupun kesulitan. Jangan ragu buat nanyain apa-apa ke aku.'



“Oke,'




“Ada sesuatu yang pengen aku omongin ke kamu.'



“Apaa??' tanya gue deg-degan. Jangan-jangan minta putus.


__ADS_1


“Happy Anniversarry. Udah satu bulan ya. Maaf abang sempet bikin kamu nangis tadi sayang.' Gue mengusap air mata dan tersenyum. Sedari tadi gue memang sudah nangis sendirian di jendela. Kerjaan gue terpaksa gue tinggal karena masalah ini. Pertama kalinya Anji jujur ke gue, gue baru tau kalau selama ini dia memendam sesuatu dari gue.



“Happy Anniversarry? Bukan sekarang bang. Tanggal 26, masa lupa sihh..' Ntah Anji beneran lupa atau dia lagi ngelawak.



“Ehhh masaa ? Setau abang tanggal 22.'



“Tanggal 26 Abang, hari Jum'at,' kata gue berusaha setenang mungkin biar kelihatan dewasa.



“Ohh iya yah ? Abang lupa hahahaha. Maaf maaf.' baru satu bulan aja udah lupa.



“Tanggal 26, inget-inget oke. Empat hari lagi.'



“Kamu mau abang panggil apa ?'



“Eumm apa yaa.. Jiman aja. Tapi kalau abang mau manggil sayang nanti adek panggil sayang juga.' rasanya damai banget layaknya berada di danau setelah dikejar-kejar tsunami.



“Jiman ?? Okeee..'



“Abang mau adek panggil apa?' tanya gue. Banyak kata-kata yang ingin gue tambahi, tapi takut Anji murka.



“Eumm bear ? Moa moa..' respon Anji berhasil bikin jantung gue terbang ke langit. Sekarang gue sadar, Anji bilang gitu karena dia mau menghibur gue setelah menampar gue dengan kejujurannya. Dan entah karena apa, gue sakit saat terlambat menyadari hal itu.



“Nggak mau dipanggil Sayang? Dipanggil Moa aja?' goda gue.



“Eumm moa sayang aja.'




Bisa dibayangkan apa yang terjadi setelahnya, layaknya anak-anak SD yang tobat sehari setelah baca buku tentang kehidupan di neraka, gue pun sama seperti mereka. Setelah dua hari lewat, sifat kekanakan gue kembali lagi. Tanpa sadar gue kembali mengecewakan Anji dan melanggar tekad gue.




Karena gue nggak dewasa saat itu, gue nggak bisa menyadari kalau gue gagal, kalau gue kembali bikin Anji kecewa, dan kalau Anji selalu sabar setiap hari menghadapi gue yang kekanakan. Gue selalu berpikir, kenapa Anji nggak mutusin hubungan kita dan menjalani lembaran baru bersama orang yang lebih dewasa dari gue, yang lebih pantas untuk dia, yang bisa bikin dia nyaman setiap harinya. Bukan perempuan yang cenderung membebani dia setiap harinya.




Gue ingat, saat itu banyak hal yang gue pikirkan. Mulai dari Anji yang salah paham dengan cara gue menyayangi seseorang sampai Anji yang memang Tuhan kasih ke gue buat membantu gue berubah. Gue punya dalih untuk masing-masing alasan.



Kalau perihal Anji yang salah paham, mungkin itu karena gue nggak seceria dan se'excited itu ke keluarga gue. Respon dan perlakuan gue beda, dan perlakuan gue ke Anji mungkin adalah wujud dari rasa sayang gue ke Anji. Opsi kedua, kalau memang Tuhan memberikan Anji kepada gue dengan tujuan itu, gue nggak mau berubah jadi dewasa. Gue nggak mau dewasa, gue takut Anji menghilang saat tujuan itu sudah terpenuhi. Demikian pemikiran gue sewaktu berumur lima belas.




Diri gue yang sekarang sudah tau alasan kenapa Anji mau sama gue.



---------------------------------

__ADS_1


*Oppa = Panggilan untuk kakak laki-laki bagi perempuan.


__ADS_2