Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos

Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos
Bad boy tertampan


__ADS_3

Seorang pria remaja sedang tertidur di atas kasur king size miliknya. Kamarnya tampak sangat gelap karena ia menutup jendelanya dengan gorden tak membiarkan cahaya matahari dapat menerobos masuk kedalam kamarnya dan mengusik ketenangan saat sedang tertidur.


Kring! Kring!


Dari tadi alarmnya terus berbunyi namun pria remaja itu seolah tidak terusik dengan bunyi alarm tersebut. Tangannya terangkat, kemudian mengambil jam alarm itu. Dan ...


Prang!!


Pria itu melempar jam alarmnya sendiri dengan sangat keras kearah tembok membuat jam tersebut retak dan hancur berkeping-keping. Ia tak suka jika ada yang berani menganggu ketenangannya.


Namun ...


Hal yang di takutkan pria itu sudah tiba.


Tok! Tok! Tok!


"Daffa! Bangun! Ini sudah jam 7 kamu hampir telat sekolah loh!" teriak seorang wanita dari luar kamar pria itu.


"Daffa kalau kamu tidak bangun, mommy panggil daddy buat bangunin kamu, mau?!" ancamnya membuat Daffa langsung terbangun dari tidurnya.


"Ck ... pakai ancam segala!" umpat Daffa dengan kesal.


Untung saja yang membangunkannya itu adalah ibunya sendiri, kalau tidak sudah dari tadi ia menendang wanita itu untuk menjauh dari kamarnya.


"Iya, Mom! Daffa sudah bangun," ujar Daffa setengah berteriak.


"Bagus! Cepat mandi dan bersiap-siap, lalu turun untuk sarapan!" ujar Natusha.


Daffa menggusur wajahnya dengan kasar. Sesungguhnya ia masih sangat mengantuk karena semalam dirinya begadang bersama teman-temannya. Tapi karena hari ini ia harus bersekolah jadi terpaksa ia harus bangun lebih awal.


Daffa beranjak dari atas kasurnya. Pria yang berusia 18 tahun itu merenggangkan otot-ototnya yang terlihat kekar dan berisi.


Daffa memang memiliki tubuh yang sixpack karena dirinya sering berolahraga dengan rutin. Tidak hanya itu Daffa juga memiliki fisik yang kuat membuatnya banyak di segani di sekolahnya.


Bukan karena tubuhnya yang kuat saja yang disegani banyak orang, tapi tato di tangannya juga yang membuat ia disebut sebagai bad boy tertampan disekolahnya.


Tato?


Yeah ... Daffa memiliki tato di lengan kirinya. Ia membuat tato tersebut disaat umurnya masih menginjak 16 tahun.


Daniel dan Natusha? Tentu saja mereka berdua sangat marah ketika mengetahui anaknya bertato. Bahkan Daniel sempat menghukum Daffa dengan cara mengurungnya diruang bawah tanah tetapi Daffa tidak pernah kapok dengan hukuman yang pernah di berikan kepadanya.


Sebelum mandi Daffa mengambil satu batang rokok didalam laci nakasnya. Sudah menjadi kebiasaan pria itu merokok sebelum mandi.


Menghisap rokok adalah hobinya, walau Natusha sering memergoki dan memarahinya tetap saja dirinya tak bisa jauh dari yang namanya rokok itu.


Setelah habis dua batang barulah Daffa mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya.


...


"Sudah bangun kamu?! Kamu tidak lihat ini sudah jam berapa?!" tegur daddy Daniel melihat kedatang Daffa diruang makan.

__ADS_1


Daffa terlihat acuh tak acuh ketika mendapat amarah dari daddy-nya itu. Ia lalu duduk diatas kursi kemudian memakan roti bakar buatan mommy-nya tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Daffa! Daddy bicara padamu!" teriak daddy Daniel dengan sangat keras.


"Dad!" sungut mommy Natusha seraya mengelus punggung suaminya itu agar berusaha untuk sabar.


"Ini karena mommy terlalu memanjakannya, jadi dia tumbuh menjadi anak yang melawan!" seru daddy Daniel.


"Daddy juga selalu manja pada mommy, tapi Daffa tidak pernah protes tuh?" cibir Daffa membuat mata daddy Daniel melotot.


"Daffa!" bentak daddy Daniel lagi.


"Apa? Yang aku katakan benarkan?" tanya Daffa dengan santai.


"Daffa, kau ini semakin lama semakin berani melawan daddy, apa kau tidak pernah takut dengan kemarahan daddy? Hampir setiap hari dia mengurungmu diruang bawah tanah," bisik Daffi yang sedang duduk disamping Daffa.


"Kalau aku bisa request, kamarku di pindahkan saja ke ruang bawah tanah, jadi daddy tidak perlu repot-repot menghukumku?" ujar Daffa membuat emosi daddy Daniel semakin tersulut ketika mendengarnya.


Dengan emosi daddy Daniel melempar garpu kearah Daffa beruntung Daffa bisa menangkis garpu itu kalau tidak garpu itu bisa menusuk matanya.


"Aku pergi dulu!" Daffa berdiri dari duduknya dan mengecup kedua pipi daddy Daniel dan mommy Natusha.


Mendapat kecupan dari putra pertamanya itu membuat emosi daddy Daniel langsung menurun. Daffa langsung terkekeh melihat wajah daddy-nya yang kini sudah tidak marah lagi.


Daffa tahu betul bagaimana cara meredakan emosi daddynya itu.


Daffa pun pergi. Meninggal daddy Daniel, mommy Natusha, dan Daffi disana.


"Eh? Tunggu!" Natusha baru teringat sesuatu, ia pun berbalik dan menatap kepergian Daffa yang belum jauh darisana. "Daffa, sebelum pergi kamu jemput Lili di rumahnya yah! Kalian berangkat bareng ke sekolah, oke!" teriak mommy Natusha.


"Ck ... jemput lagi, jemput lagi! Dasar gadis manja yang merepotkan!" umpat Daffa mengepal tangannya dengan kuat.


******


Daffa yang diberi perintah oleh mommy Natusha itu mau tidak mau harus terpaksa menjemput Lili di rumahnya. Ini sudah kesekian kalinya Lili minta di jemput olehnya, membuat Daffa mulai muak. Daffa sudah menegur Lili berkali-kali agar gadis itu tidak meminta di jemput lagi kepada mommy-nya tetapi Lili tidak pernah mendengarkan apa yang dirinya katakan.


Sesampainya di rumah Lili, Daffa melihat kalau Lili sudah menunggu didepan rumah dengan wajah yang terlihat cemberut.


"Ayo naik!" seru Daffa memberhentikan motor sportnya di hadapan Lili.


Lili seketika langsung tersenyum disaat melihat Daffa sudah datang, ia melihat penampilan Daffa yang semakin hari semakin terlihat tampan dan keren.


Bagaimana tidak? Daffa menggunakan motor sport berwarna hitam berserta helem full face yang terlihat sangat kece dan keren. Bagaimana Lili tidak terpesona coba pada bad boy tertampan itu?


"Apa yang kau lihat?! Cepat naik!" perintah Daffa dengan ketus membuat Lili cemberut.


"Helemnya mana?" tanya Lili dengan cemberut.


"**** ... gue lupa di rumah!" sungut Daffa menepuk jidatnya sendiri.


"Huh ... kakak ini kebiasaan!" sungut Lili menyilangkan tangannya didepan dada. Lili sangat kesal dengan sifat Daffa yang selalu pelupa. Bahkan helem untuknya pun di lupa oleh Daffa.

__ADS_1


"Pakai ini aja!" Daffa melepas helem full facenya lalu memberikannya kepada Lili.


Daffa terpaksa memberikan helem kesayangannya itu kepada Lili, karena jika Lili tidak memakai helem selama di perjalanan maka itu sama saja membahayakan keselamatan Lili.


Daffa perhatian? Tentu saja tidak! Daffa melakukan itu semua karena ia takut mendapat amarah dari ibunya yaitu Natusha. Daffa tahu betul kalau Lili lecet saja karena ulahnya, ia pasti akan mendapatkan hukuman besar dari ibunya itu.


"Susah pasangnya, kak!" sungut Lili berusaha memasang helemnya namun tangan Lili yang mungil itu tidak berhasil memasang tali helem tersebut.


"Manja! Sini lo mendekat!" perintah Daffa, Lili pun segera mendekat kearah Daffa.


Ctak!


Helem berhasil dipasang membuat Lilin tersenyum kesenangan. Sebenernya Lili bisa saja memasang helem tersebut tapi ia ingin bermanja-manja pada Daffa walau dirinya tahu kalau Daffa itu sudah sangat muak dengannya.


"Ayo naik!" ujar Daffa.


Lili naik ke motor tinggi milik Daffa itu, dengan tangan yang memegang bahu Daffa. Setelah berhasil naik, tangan mungil Lili memeluk perut Daffa dengan sangat erat.


Daffa yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. Ia sudah terbiasa dipeluk Lili, walau dia sangat jijik dan tidak suka jika seseorang memeluknya, tetapi mau bagaimana lagi? Percuma juga dirinya melawan Lili yang memiliki sifat yang sangat keras kepala itu.


"Pegangan yang erat!" perintah Daffa. Kemudian ...


Brum!


Daffa pun melajukan motornya sport miliknya itu dengan sangat kencang membuat Lili memeluk Daffa semakin erat. Jujur saja Lili takut dengan kecepatan motor Daffa tapi jika dirinya berada didekat Daffa ia merasa sangat aman dan nyaman.


Daffa pun membela jalan raya dengan motornya yang keren itu, bahkan ia sungguh berani melanggar aturan lalu lintas dan lampu merah.


....


Sekolah.


Motor Daffa memasuki halaman sekolah membuat para siswi-siswi langsung berteriak histeris.


Siswi-siswi? Siapa lagi kalau bukan fans tuan muda Daffa Arbeto itu? Daffa itu seperti artis di sekolahnya, ia memiliki banyak penggemar dimana-mana disekolah tersebut.


Bisa di bayangkan kan betapa populernya pria satu ini?


Daffa dan Lili lalu turun dari motor. Kemudian tanpa disuruh Daffa melepaskan helem yang terpasang dikepala Lili. Lili tersenyum malu-malu karena Daffa begitu perhatian padanya.


Padahal Daffa sengaja melakukan itu karena ingin membuat para fans-fansnya cemburu melihat kedekatannya dengan Lili.


Melihat kedekatan antara Daffa dan Lili membuat siswi-siswi tersebut patah hati dan sangat iri pada Lili yang bisa menaiki motor sport milik Daffa.


"Itu adek kelas caper banget dah! Gak tahu apa kita lagi suka sama kak Daffa! Cih, awas aja lo nanti!"


"Iya tuh! Nanti kita beri pelajaran aja supaya kapok dekat-dekat ayang bebeb Daffa lagi!"


"Ide bagus tuh! Gue ikut, gue mau beri pelajaran sama tuh adek kelas caper!"


Semua mata siswi-siswi menatap Lili dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kedengkian.

__ADS_1


__ADS_2