
Dengan langkah yang lebar, Daffa berlari kearah Lili yang tergeletak tak sadarkan diri diaspal.
Daffa berjongkok kemudian memeluk Lili dengan sangat erat. "Lili, bangun! Jangan membuatku takut Lili, ayo bangun!" teriak Daffa dengan suara gemetar ingin menangis.
Daffa menatap pada wajah Lili yang terlihat mulai memucat karena kepalanya yang tak berhenti mengeluarkan banyak da**rah. Daffa memeluk Lili dengan sangat erat sambil menangis, sudah cukup ia kehilangan Lili selama 9 tahun lamanya, ia tak ingin lagi kehilangan Lili untuk kedua kalinya.
Melihat tuannya menangis seraya memeluk seorang gadis membuat Sam terdiam dan terkejut. 7 tahun lamanya Sam bekerja sebagai asisten pribadi Daffa namun ia tak pernah melihat Daffa berpelukan bersama seorang gadis, dan ini pertama kalinya Sam melihat tuannya itu memeluk seorang gadis.
"Tuan ...." Sam mendekat berniat menenangkan tuannya yang sedang menangis itu.
"Bantu aku, Sam!" lirih Daffa menatap Sam dengan mata yang berderai air mata.
"Baik, Tuan, mari saya bantu!" Sam hendak membantu Daffa untuk mengangkat tubuh Lili namun tangannya justru ditepis oleh Daffa.
"Aku tidak memintamu untuk menyentuh gadisku! Siapkan mobil, biar aku yang mengangkatnya!" perintah Daffa dengan tegas membuat Sam menghelai nafasnya dengan pasrah.
"Baik, Tuan, saya akan menyiapkan mobil segera," Sam segera pergi untuk mengambil mobil, sementara Daffa kini mengangkat tubuh Lili yang masih tak sadarkan diri itu.
....
Dalam perjalanan.
Daffa kini berada didalam mobil, ia duduk dikursi penumpang seraya menidurkan Lili diatas pangkuannya.
"Lebih cepat, Sam!" perintah Daffa dengan tegas.
"Ini sudah sangat cepat, Tuan," jawab Sam fokus mengemudikan mobilnya.
"Kita pulang ke mansion! Dan cepat hubungi Dokter Kevin untuk segera datang ke mansion!" perintah Daffa dibalas anggukan oleh Sam.
"Baik, Tuan!"
Daffa kembali menatap pada wajah Lili yang semakin lama semakin pucat, pendarahan dikepalanya sudah berhenti namun tetap saja Daffa sangat khawatir kepada gadis yang sangat ia cintai itu.
....
Sesampainya di mansion. Daffa segera mengangkat tubuh Lili dan membawanya masuk kedalam kamar pribadinya.
Sam yang melihat aksi tuannya itu begitu dibuat terkejut, ini pertama kalinya Daffa membiarkan seorang wanita masuk kedalam kamar pribadinya. Bahkan mommy Natusha pun tak dipersilahkan untuk masuk kedalam kamar tersebut.
Di dalam kamar yang begitu mewah dan megah itu, Daffa membaringkan tubuh gadis kecilnya diatas kasur king size miliknya.
Daffa kembali menatap wajah Lili dengan wajah yang penuh kekhawatiran, di usapnya kepala gadis yang begitu ia cintai itu dengan sangat lembut.
"Kau baik-baik saja, Sayang, aku tahu kau pasti baik-baik saja ...." lirih Daffa seraya mengecup kening Lili dengan sangat lembut.
Kemudian, Sam dan Dokter Kevin pun datang lalu masuk kedalam kamar Daffa.
"Bro, baru kali ini kau memanggilku kemari, ada apa? Apa kau sedang sakit?" tanya Dokter Kevin sambil menatap pada wajah Daffa dengan sangat intens.
__ADS_1
"Bukan aku yang sakit, tapi dia," jawab Daffa menunjuk seorang gadis yang sedang berbaring diatas kasur Daffa.
Dokter Kevin menatap gadis itu dengan sangat intens. Entah mengapa Dokter Kevin seperti familiar ketika menatap wajah gadis yang sedang berbaring di tempat tidur Daffa.
'Kenapa wajahnya tidak asing ....' gumam Dokter Kevin dalam hatinya.
"Kau itu lihat apa?! Cepat kau periksa dia!" teriak Daffa membuat Dokter Kevin langsung tersadar dari lamunannya.
"Kau itu tidak ada perubahan sama sekali! Dari dulu hingga sekarang kau masih suka marah-marah!" sungut Dokter Kevin seraya melangkah mendekati Lili.
Lili pun diperiksa oleh Dokter Kevin. "Jika kau berani membawakan kabar yang buruk pada Lili, maka bersiaplah rumah sakitmu itu akan aku ratakan bersama tanah!" ancam Daffa membuat Dokter Kevin dan Sam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
Sementara Lili di periksa, Daffa menghampiri Sam. "Bagaimana, kau sudah mengetahui siapa pelaku yang sudah menabrak gadisku, Sam?"
"Sudah, Tuan, dan saya sudah membuatnya dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja," ujar Sam.
"Jangan biarkan dia di terima bekerja di tempat manapun! Masukan namanya ke daftar hitam dan pastikan ia hidup menderita karena sudah berani menabrak gadis kecilku!"
"Baik, Tuan!"
"Daffa," Dokter Kevin yang sudah memeriksa Lili itu kini menghampiri Daffa.
"Bagaimana?" tanya Daffa menatap Dokter Kevin dengan sangat intens.
"Dia tidakpapa, luka dikepalanya hanya tergores sedikit dan sudah aku obati namun ...."
"Namun apa?! Cepat katakan!"
"Aku juga tidak tahu pasti menyebabnya apa, tapi kalau dia sudah mau bangun berikan dia makan dan minum," ujar Dokter Kevin dibalas anggukan oleh Daffa.
"Kalau begitu kalian keluar! Biar aku yang mengurusnya sendiri!" perintah Daffa membuat Dokter Kevin dan Sam segera keluar dari kamar.
Kini dikamar hanya tersisa Daffa dan Lili saja.
"HUAA, Mommy, Lili pingin pulang ...." gumam Lili dalam hatinya.
Yeah ... Lili sebenarnya hanya berpura-pura pingsan, karena ia ingin menghindar dari kejaran Daffa, namun yang terjadi justru hal yang tak di inginkannya. Ia malah berakhir di mansion tempat Daffa tinggal.
Daffa tahu kalau Lili saat ini sedang berpura-pura pingsan saja, info itu ia dapatkan dari Dokter Kevin yang mengatakan kalau Lili baik-baik saja, dan hanya berpura-pura pingsan.
Sejujurnya Daffa ingin marah pada Lili, karena sudah membuatnya begitu khawatir dan cemas, namun sebelum ia marah pada gadis itu ia ingin memberi pelajaran pada Lili yang sudah berani mengerjainya itu.
Daffa yang mengetahui kalau Lili hanya berpura-pura pingsan saja memutuskan untuk memberi pelajaran kepada gadis nakal itu.
Daffa benar-benar marah karena Lili sudah mempermainkannya padahal selama hidup Daffa tidak pernah ada seseorang pun yang berani mempermainkannya.
Daffa duduk di kursi kebesarannya, mata yang tajam itu menatap kearah Lili yang sedang terbaring diatas tempat tidurnya. Daffa tersenyum menyeringai, dirinya tak menyaka kalau ternyata Lili mempunyai bakat berakting yang cukup bagus, karena sudah hampir 1 jam anak itu berpura-pura pingsan.
Daffa tak berniat membangunkan Lili karena ia ingin tahu sejauh apa Lili akan berpura-pura pingsan darinya.
__ADS_1
Seraya menunggu Lili terbangun, Daffa mengambil kotak rokok yang ia simpannya diatas meja, kemudian dengan santai Daffa menyesap rokoknya tersebut.
"Kita lihat sejauh apa kau ingin bermain denganku, Sayang," gumam Daffa dengan senyum menyeringai diwajahnya.
Daffa pun menghembuskan banyak asap rokok dikamar itu, membuat kamar itu dipenuhi asap rokok yang banyak.
Sementara Lili yang masih setia berpura-pura pingsan itu, mencium bau asap rokok yang sangat menyengat melalui hidungnya. 'Huaa ... tenggorokan Lili kering, ini siapa sih yang merokok, hiks ... mau batuk ...!' gumamnya berusaha menahan batuknya.
Sebisa mungkin Lili berusaha untuk tidak bangun dari pingsannya, ia tak ingin bertemu dengan Daffa lagi, laki-laki yang dulu tak pernah menghargai perjuangannya.
Beberapa menit kemudian, Lili tak kunjung bangun dari pura-pura pingsannya itu. Padahal asap dikamar Daffa sudah mengepul dimana-mana.
"Ck!" Daffa berdecak kesal, sudah hampir satu bungkus rokok yang ia habiskan namun rencananya untuk membuat Lili terbatuk-batuk tidak berhasil.
Dengan kesal Daffa mematikan rokoknya itu kemudian melangkah dengan cepat kearah Lili.
Daffa menatap pada mata Lili yang sedang terpejam erat. Daffa kesal karena Lili masih saja ingin berpura-pura dihadapannya.
"Lili!" bentak Daffa.
"Lili, bangun!" teriaknya namun Lili tak mau bangun.
"Lili kalau kau tidak mau bangun, aku akan menghukummu sekarang juga!" ancamnya dengan suara yang sangat tegas.
'Huks ... bagaimana ini,' gumam Lili dalam hatinya semakin takut ketika mendengar suara Daffa yang terdengar sangat marah.
"Aku tahu kau berpura-pura! Berhentilah berakting dan cepatlah bangun!"
Glek ....
Daffa yang melihat Lili tidak mau bangun dari tidurnya, memutuskan untuk mengambil cara yang lain.
Daffa kemudian menin**dih tu**buh Lili, membuat tubuh Lili langsung menegang. 'Ihh kok berat ...' batinnya.
Daffa yang menyadari tu**buh Lili menegang, langsung tersenyum penuh arti. "Kau yang memaksaku untuk berbuat seperti ini, Sayang," bisik Daffa seraya menggigit pelan telinga Lili.
Deg ...
Jantung Lili seolah ingin melompat dari tempatnya, entah mengapa ia begitu gugup dan takut menghadapi Daffa, padahal sebelumnya ia tak pernah takut pada pria itu.
"Aku katakan sekali lagi, bangun atau aku ...."
Belum sempat Daffa menyelesaikan perkataannya, Lili langsung membuka matanya membuat tatapan mereka berdua saling bertemu.
Daffa menatap dalam pada manik mata Lili yang berwarna hitam, mata yang selama ini sangat ia rindukan, dan kini ia bisa melepas kerinduannya itu dengan hanya menatap mata Lili.
"Me**sum!" teriak Lili dengan keras kemudian mendorong tubuh Daffa dengan kuat dari atas tubuhnya.
Daffa yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba itu langsung terjatuh dari atas tempat tidur. Lili tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ia segera beranjak dari atas tempat tidur itu, kemudian berlari keluar dari kamar dengan secepat mungkin.
__ADS_1
"Lili, jangan lari!" teriak Daffa.