
"Lili pulang," Lili melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan wajah yang lesu dan tampak sangat bersedih.
"Lili, sudah pulang nak?" terdengar suara yang tak asing bagi Lili membuat Lili spontan mendongakkan kepalanya.
Deg ...
Lili seketika terdiam kaku ditempatnya ketika ia melihat wanita paruh baya yang sedang duduk disofa ruang tamu. Mata Lili langsung berkaca-kaca kemudian ia berlari dengan sangat kencang kearah wanita itu.
"Nenek!" Lili langsung memeluk wanita yang dipanggilnya nenek itu.
"Hiks ... Lili kangen, nek. Nenek kapan pulang?" tanya Lili seraya menangis dipelukan sang nenek.
"Nenek baru saja sampai, Sayang. Kamu kenapa nangis sih? Masa cucu nenek yang kuat ini nangis! Ayo dihapus air matanya," ujar nenek seraya mengusap kepala Lili dengan penuh kasi dan sayang.
"Lili kangen banget sama nenek, nenek udah lama nggak pulang-pulang, Lili kira nenek sudah lupa sama Lili," ujarnya seraya menghapus air matanya dengan kasar.
"Lili, ganti baju dulu, sayang, kasihan nenek baru sampai malah kamu peluk-peluk gitu!" omel mommy Lisa tiba-tiba datang membawa secangkir teh untuk nenek.
"Ish mommy ... kan Lili lagi kangen-kangennya sama nenek!" sungut Lili seraya mencurutkan bibirnya kedepan.
"Nanti aja kangen-kangennya! Sana kamu mandi dulu lalu ganti baju!" perintah mommy Lisa membuat Lili mau tidak mau harus menuruti perintah dari mommynya itu.
...
Setelah selesai mandi dan ganti baju, Lili pun bergegas untuk menemui neneknya kembali yang masih berada diruang tamu bersama mommy Lisa.
"Nenek ..." seru Lili dengan manja memeluk lengan nenek.
"Nah, seperti itu kan cantik! Gak kayak tadi pulang-pulang mukanya langsung murung!" ucap mommy Lisa membuat Lili terdiam.
Lili kembali teringat pada saat dirinya menguping pembicaraan Daffa. Lili kembali murung karena rasa sakit dihatinya kini kembali.
"Tuh kan murung lagi? Ada apa sih sama cucu nenek? Coba bilang sama nenek siapa yang berani buat kamu murung gini?" tanya nenek seraya membelai lembut wajah Lili.
Lili menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. "Nggak nek ... Lili hanya bahagia nenek sudah pulang."
"Nenek kesini mau jenguk cucu kesayangan nenek, sudah lama nenek gak pulang kesini, nenek rindu sangat sama kamu, sayang," ujar nenek.
"Lili juga ..." ucap Lili mempererat pelukannya.
"Lili, mommy mau bicara sama kamu ..." mommy Lisa langsung angkat suara membuat Lili kebingungan karena tidak biasanya mommynya itu terlihat sangat serius seperti ini.
"Sebenarnya nenek datang kesini mau bawa kamu pergi ke tempatnya, apa kamu mau?" tanya mommy Lisa membuat Lili langsung tersentak kaget.
"Lili mau dibawa pergi nenek? Kemana?!" tanya Lili menatap nenek dengan sangat intens.
"Ke Amerika, sayang," jawab nenek membuat Lili semakin terkejut.
"Dengarkan mommy Lili, mommy tidak akan memaksa kamu mau apa tidak, tapi nenek sudah sangat tua, nenek harus dijaga disana, mommy harap kamu mau pergi dan menjaga nenek disana," ujar mommy Lisa.
"Kenapa nenek tidak tinggal disini saja? Dengan begitu kan nenek ada yang jaga!" ucap Lili.
"Maunya begitu, Lili , tapi nenek ada perusahaan yang harus di urus di Amerika, gak mungkin nenek meninggalkan perusahaan itu lalu tinggal disini begitu saja?" timpal mommy Lisa membuat Lili terdiam.
"Kamu mau kan jaga nenek, sayang?" tanya nenek menatap Lili dengan tatapan penuh harap membuat Lili mulai di lema.
__ADS_1
Lili tahu Lili tidak akan bisa menolak permintaan dari neneknya itu, ia begitu menyayangi neneknya lebih dari apapun. Namun disisi lain ... jika dirinya ikut pergi bersama neneknya ke negara Amerika.
*******
Semalaman Lili terus memikirkan perkataan ibu dan juga neneknya. Lili tahu bahwa ia tak akan bisa menolak permintaan dari neneknya itu, sementara disisi lain ia juga tak ingin meninggalkan negara kelahirannya ini dan juga tak mau meninggalkan Daffa, seorang pria yang sangat ia cintai.
Lili menangis sesenggukan didalam kamarnya, ia begitu di lema, ia tak ingin berpisah dari Daffa dan juga Regina sahabat terbaiknya itu, tetapi ia juga harus pergi bersama neneknya ke Amerika.
Namun ... tiba-tiba saja Lili teringat perkataan Regina yang mengatakan kalau dirinya itu tidak akan bisa mendapatkan cinta dari Daffa, walau sekeras apapun ia akan berusaha, orang yang hatinya sudah mati seperti hati Daffa tidak akan pernah bisa jatuh cinta padanya.
Lili mengakui bahwa perkataan Regina memang benar, ia terlalu bodoh mengejar cinta yang tak mungkin bisa ia gapai sama sekali.
Lili tahu apa yang harus ia lakukan. Mulai saat ini ia harus terbiasa menjalani hari tanpa mengejar-ngejar cinta Daffa. Walau ia tahu itu akan sulit ia jalani, tapi ia harus belajar dan terbiasa mulai sekarang, karena di Amerika nanti ia tak akan bisa mengejar cinta Daffa lagi.
Mulai saat ini Lili memutuskan untuk tidak mengejar cinta Daffa lagi ...
...
Pagi hari.
Kediaman keluarga Arbeto.
"Pagi, mom!" Daffa duduk dikursi kemudian langsung menyantap sarapannya dengan sangat lahap. Ia ingin cepat-cepat berangkat ke sekolah karena ia harus menjemput Lili dirumah nya.
"Tumben kamu bangun cepat? Ada apa?" tanya mommy Natusha dengan mengerutkan keningnya.
"Tentu saja, Daffa harus bangun cepat, mom. Lili kan harus di jemput di rumahnya," ujar Daffa membuat mommy Natusha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tumben kamu berinisiatif sendiri? Biasanya mommy harus paksa dulu baru kamu ingin jemput Lili?"
"Halah ... kamu ini pasti mulai suka yah sama Lili?" tanya mommy Natusha membuat Daffa langsung tersentak.
"Daffa suka sama Lili? Nggak mungkinlah, mom!" sungut Daffa.
"Yakin gak suka?" tanya mommy Natusha menatap pada mata Daffa dengan intens.
"Apasih, mom! Jelas aku ya--yakin!" jawab Daffa dengan memalingkan wajahnya.
"Kalau memang kamu yakin tatap mata mommy dong, dan bilang kalau kamu memang gak suka sama Lili!" ujar mommy Natusha.
"Sudahlah! Aku mau berangkat dulu! Udah telat ini!" ujar Daffa mengalihkan pembicaraan.
Daffa pun hendak melangkah namun langkahnya seketika terhenti ketika mommy Natusha mengatakan.
"Hari ini kamu gak usah jemput Lili. Tadi pagi Lili nelpon mommy katanya suruh Daffa langsung berangkat kesekolah aja, soalnya dia sudah berangkat bareng daddy nya," ujar mommy Natusha membuat Daffa langsung terdiam.
"Berangkat duluan?" gumam Daffa.
Daffa bingung dan mulai merasa curiga, mengapa sejak kemarin Lili tidak meminta untuk diantar atau pun di jemput. Karena biasanya setiap hari anak itu akan meminta untuk diantar atau pun di jemput.
'Mengapa aku merasa marah ketika Lili tidak meminta untuk di jemput lagi? Seharusnya aku bersyukur karena anak itu tidak menggangguku lagi bukan?
"Tapi mengapa aku merasa ada yang kurang? Mengapa aku tidak suka jika Lili tidak memintaku untuk menjemputnya lagi? Sebenarnya ada apa denganku? Apakah aku sudah mulai membuka hati untuknya? Tidak, itu tidak mungkin, gadis itu tidak mungkin berhasil merebut hatiku. Aku tidak mungkin mencintainya ..."
Dengan perasaan yang campur aduk, Daffa pun memutuskan untuk langsung berangkat ke sekolahnya, persetan dengan Lili, ia tak ingin memikirkan gadis yang selama ini selalu membuat hidupnya tidak tenang.
__ADS_1
"Seharusnya aku bahagia dia tak lagi menggangguku," gumamnya.
Sesampainya disekolah, Daffa melihat Lili duduk ditaman bersama Regina. Ia ingin sekali menghampiri gadis itu dan bertanya mengapa sejak kemarin sifatnya mulai berubah, namun karena terhalang oleh gengsi, Daffa memutus untuk mengurungkan niatnya itu.
Daffa pun memutuskan untuk pergi rooftop menemui teman-temannya, ia tak ingin merusak paginya hanya karena memikirkan Lili yang mulai berubah.
Rooftop.
Sesampainya di Rooftop, Daffa langsung duduk di kursinya, sementara Dipta, Kevin, dan juga Elang merasa kebingungan dan pemasaran melihat wajah Daffa yang terlihat murung.
"Napa lo, bro?" tanya Dipta.
"Tau tuh, mukanya kusut amat," timpal Kevin.
"Pagi-pagi udah murung aja," cibir Elang.
"Brisik kalian!" bentak Daffa membuat ketiga pria itu langsung terdiam.
Daffa yang sedang kesal itu justru semakin kesal menghadapi ketiga curut yang sangat cerewet itu.
...
"Apa?! Jadi lo akan pergi ke Amerika?!" pekik Regina ketika mendengar pernyataan dari Lili yang mengatakan kalau dirinya akan pindah ke Amerika. Regina kaget sekaligus syok berat mengetahui sahabat terbaiknya itu akan pindah.
"Hu'um ..." Lili menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Sebenarnya Lili gak mau ikut nenek tapi nenek gak ada yang jaga di Amerika ..." lirihnya.
"Jadi lo pergi ke Amerika untuk ngejaga nenek lo?" tanya Regina dibalas anggukan lagi oleh Lili.
Regina pun langsung memeluk Lili dengan sangat erat, seolah ia tak ingin sahabatnya itu pergi darinya. Namun keputusan Lili sudah bulat, ia akan ikut bersama neneknya ke Amerika.
....
Rooftop.
"Bro, lo cari apaan? Celingak-celinguk dari tadi," ujar Dipta ketika melihat Daffa yang terlihat menunggu seseorang.
"Diam!" sungut Daffa masih celingak-celinguk.
Dipta, Kevin dan Elang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya denga pelan, entah mengapa sejak tadi Daffa terus marah-marah pada mereka.
'Ck ... kemana sih tuh anak! Udah siang begini belum datang juga,' umpat Daffa tapi masih terdengar oleh ketiga curut itu.
"Lo nungguin Lili yah?" tebak Kevin membuat Daffa terdiam.
Memang benar, sejak tadi Daffa menunggu Lili untuk membawakannya makanan, namun entah mengapa hari ini Lili belum datang-datang juga membawakan bekal. Biasanya anak itu akan segera membawakannya bekal makan siang dengan sangat cepat tetapi tidak untuk kali ini.
"Tumben lo nungguin Lili? Biasanya lo bakal kesal kalau dia datang kesini?" timpal Dipta.
"Ck, siapa yang nungguin? Gue gak nungguin bang**sat!" seru Daffa.
"Lo pada bisa diam gak? Cerewet mulu dari tadi, napa? Penyakit Lili udah menular ke kalian?" lanjutnya.
"Buset bro ... lo pikir Lili sakit apaan sampai-sampai nularnya ke kita-kita," ucap Elang.
"Penyakit cerewet!" sungut Daffa yang kini langsung berdiri dari duduknya dan pergi dari rooftop tersebut.
__ADS_1
'Gue harus cari Lili! Entah mengapa gue merasa itu anak sedang menjauh dari gue!' gumamnya dalam hati.