Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos

Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos
Singa keperkasaan terbangun lagi


__ADS_3

"Gimana kak? Di angkat enggak?" tanya Lili menatap Daffa yang kini sedang sibuk menghubungi Daffi, saudara kembarnya.


"Ck ... bisa diam gak lo! Dari tadi nanya mulu, bisa lihat sendiri kan panggilan gue belum di jawab?!" sungut Daffa melirik tajam pada Lili membuat Lili langsung terdiam seraya mencurutkan bibirnya kedepan.


Daffa berdecak kesal karena hampir 30 panggilannya yang tak terjawab. 'Ck ... Daffi kemana sih! Emosi banget gue! Mommy juga ngapain sih pake ngurung gue segala disini bareng si cerewet ini!" gumam Daffa tapi masih bisa di dengar oleh Lili.


"Aku dengar lo kak!" sungut Lili semakin cemberut.


"Lo dengar? Baguslah kalau dengar, emang lo itu kan cerewet!" ucap Daffa membuat Lili kembali terdiam.


Daffa melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 5 sore. Daffa beralih menatap pakaiannya juga pakaian Lili yang masih menggunakan seragam sekolah.


"Sudah sore lo mandi sana!" perintah Daffa.


"Tapi Lili gak ada baju ganti," jawab Lili dengan menundukan kepalanya.


"Iya juga yah ...." Daffa berusaha berfikir dengan keras. Ia pun memutuskan untuk membuka lemarinya.


Tidak ada satu pun pakaian wanita disana karena memang lemarinya itu khusus untuknya. Ia pun melirik kearah kemeja putihnya yang sudah lama tidak dipakai. "Ini sepertinya cocok untuk Lili."


Gumamnya seraya mengambil kemeja tersebut. "Ini untuk lo!" ujar Daffa memberikan kemeja tersebut pada Lili.


"Ini buat Lili, kak?" tanya Lili dengan mata berbinar-binar.


"Iya buat lo! Tapi setelah pakai jangan lupa balikin, itu mahal, hadiah dari mommy buat gue!" timpal Daffa dibalas anggukan kepala oleh Lili.


"Iya kak ... kalau begitu Lili mandi dulu," Lili pun berdiri dari duduknya kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Daffa memperhatikan kepergian Lili dengan tatapan yang sulit di artikan. "Semoga aja itu kemeja cocok ..." gumamnya.


Beberapa menit kemudian.


Lili pun keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang menutupi tubuhnya yang mungil itu. Daffa yang sedang sibuk menghubungi Daffi tak menyadari kalau Lili sudah selesai melakukan ritual mandinya.


"Kakak ... Lili sudah selesai, giliran kakak," ujar Lili membuat Daffa langsung mendongakkan kepalanya.


Deg ...


Jantung Daffa seolah berhenti berdetak melihat penampilan Lili yang hanya memakai handuk saja. Lili tampak sangat se**xy memakai handuk yang memperlihatkan bela**han da**da dan be**tisnya yang putih bersi.


"Li--lili dimana kemeja yang tadi gue berikan! Kenapa lo pakai!" teriak Daffa dengan terbata-bata.


"Lili belum pakai kak, takutnya kalau Lili berlama-lama dikamar mandi, kakak marah lagi," timpal Lili.


Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Gue gak bakal marah, Lili! Sana cepat mask kembali kedalam kamar mandi! Dan pakai kemeja yang tadi gue berikan!"


"Ish ... tuh kan marah lagi! Lili ini memang selalu salah dimata kakak!" sungut Lili seraya mencurutkan bibirnya kedepan.


Dan dengan kesal, Lili menghentak-hentakan kakinya kedalam kamar mandi.


Daffa kembali mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, ia tak bisa membuang pikiran kotornya ketika melihat penampilan Lili yang begitu sangat se**xy tadi.


Daffa bingung dan setres, entah mengapa jika berada di dekat Lili dirinya sangat mudah bergai**rah.


"Damn!" umpat Daffa ketika ia merasakan singa keperkasaannya mulai sesak didalam sarangnya. Itu berarti singanya terbangun lagi karena Lili ...


Setelah beberapa menit, akhirnya Lili keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kemeja yang diberikan Daffa padanya.


Daffa menatap penampilan Lili yang memakai kemejanya, terlihat tubuh Lili yang lebih tertutup dari yang sebelumnya.


Setidaknya kemeja Daffa yang besar itu mampu menutupi setengah tubuh Lili.


Tanpa banyak berkata Daffa pun segera masuk kedalam kamar mandi membuat Lili terheran-heran. Bagaimana tidak, biasanya Daffa akan mengajaknya berdebat tapi kali ini mereka berhadapan tapi kali ini tidak ... Daffa langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Sementara didalam kamar mandi. Daffa harus terpaksa melakukan olahraga lima jari lagi untuk menidurkan singa keperkasaannya yang terlanjur terbangun.


"Akh ... Lili ..." tanpa disadari oleh Daffa, ia menyebut nama Lili dalam desa**hannya. Daffa kembali teringat dengan tubuh Lili yang begitu putih dan mulus. Ia tak bisa membuang pikiran kotornya itu dari dalam pikirkannya.


Sementara Lili yang sudah menunggu Daffa sejak tadi sudah mulai merasa bosan dan mengantuk. Ia pun memutuskan untuk tertidur diatas kasur king size milik Daffa.


3 jam berlalu.


Daffa pun keluar dari kamar mandi, dengan tubuhnya yang sudah basah karena sehabis mandi juga menuntaskan has**ratnya yang terbangun karena Lili.


Mata tajam Daffa menatap kearah Lili yang sedang tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Namun ada yang membuat Daffa salah fokus ... yaitu kemeja yang di gunakan Lili sedikit terangkat membuat pa**ha mulus Lili terlihat.


"Damn!" umpat Daffa seraya menggusur wajahnya dengan frustasi.


Daffa mengumpat dengan kesal karena dirinya kembali berfikiran kotor terhadap Lili. Entah mengapa dirinya tak bisa membuang pikiran kotor tersebut.


Baru saja Daffa selesai menidurkan singanya, kini singanya kembali terbangun begitu saja ketika melihat pada pa**ha Lili yang sangat putih dan mulus, dan tentunya sangat menggoda.


Dengan segera Daffa mendekati Lili kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh Lili. Ia tak bisa berlama-lama berada didalam kamar ini bersama Lili, karena bisa saja ia tak bisa mengendalikan dirinya dan melakukan sesuatu pada Lili.


Untung saja Daffa selalu ingat pada pesan daddy Daniel untuk tidak menyentuh siapapun sebelum menikah. Karena bisa saja nasib dirinya akan berakhir seperti opa Devan dan juga paman David yang terpegok melecehkan wanita dan berakhir di pukul sampai babak belur.


Setelah menyelimuti tubuh Lili, Daffa pun kembali masuk kedalam kamar mandi. Jangan tanyakan apa yang sedang ia lakukan didalam sana, tentu saja ia sedang ....


...


Hari sudah sangat malam, Daffa baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan penuh semangat. Singanya kini sudah ia tidurkan dan ia cukup puas dengan permainannya sendiri.


Mata tajam Daffa menatap kearah Lili yang masih tertidur. Daffa menghelai nafasnya dengan panjang, dirinya merasa sangat sial hari ini karena ia harus berolahraga lima jari sebanyak 3 kali karena ulah gadis cerewet yang sedang tertidur di atas kasur king sizenya itu.


Daffa pun segera memakai piyamanya dan mulai tertidur di sisi Lili. Sebelum dirinya benar-benar tertidur ia smenatap pada wajah Lili yang terlihat sangat cantik disaat sedang tertidur.


Dan tanpa disadari oleh dirinya sendiri, tangannya terangkat dan membelai pipi Lili dengan sangat lembut. Entah dorongan darimana, Daffa tiba-tiba mengecup kening Lili dengan sangat lembut seraya berkata.


Daffa pun tertidur seraya memeluk Lili dengan sangat erat. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya apa lagi dirinya harus berbulak-balik dari kamar mandi.


Setelah Daffa dan Lili tertidur dengan sangat pulas. Pintu kemudian terbuka, lalu menampakkan sesosok wanita cantik yang masuk dengan cara yang mengendap-endap.


"Xixixi ..." mommy Natusha menahan tawanya mati-matian, ketika dirinya melihat Daffa yang sedang memeluk Lili sambil tertidur.


Pikiran mommy Natusha mulai kotor karena melihat Lili yang memakai kemeja Daffa, itu berarti ...


Mommy Natusha yang tidak ingin melewatkan momen bahagia itu segera memotret keduanya dengan ponselnya.


Namun tiba-tiba ia langsung memekik terkejut ketika seseorang memegang pundaknya dari belakang. Mommy Natusha hendak berteriak namun seseorang dari belakangnya itu langsung membekap mulutnya.


"Ini aku," bisik daddy Daniel membuat mommy Natusha bernafas lega.


Mommy Natusha langsung menepis tangan daddy Daniel yang sedang membekap mulutnya. "Daddy ngapain sih!" sungut mommy Natusha berbalik lalu menatap daddy Daniel dengan sangat tajam.


"Daddy yang seharusnya nanya, mommy ngapain disini?" omel daddy Daniel seraya menarik telinga mommy Natusha dengan keras.


"Aduh aduh! Sakit daddy!" pekik mommy Natusha dengan suara sekecil mungkin seraya memegang tangan daddy Daniel yang sedang menarik telinganya.


"Ayo keluar! Kamu itu gangguin anak kamu saja!" omel daddy Daniel seraya menarik tangan mommy Natusha untuk keluar dari kamar tersebut, membuat mommy Natusha cemberut kemudian mencurutkan bibirnya kedepan.


....


Pagi hari pun tiba. Cuaca yang cerah berusaha mengintip melalui celah-celah jendela. Membuat seorang pria tampan yang sedang tertidur pulas itu mulai terusik kemudian terbangun dari tidurnya.


Matanya yang terasa sangat mengantuk itu menatap kearah Lili yang masih tertidur pulas didalam pelukannya.


Daffa seketika terperanjat kaget mengetahui dirinya yang sedang memeluk Lili dengan sangat erat. Ia tak sadar kalau semalaman ini dirinya memeluk Lili sambil tertidur. Dan dengan segera Daffa melepaskan pelukannya tersebut kemudian segera beranjak dari atas tempat tidur.

__ADS_1


Ia tak ingin Lili tahu kalau semalam ia memeluknya sambil tertidur, ia tak mau reputasinya sebagai pria tampan yang dingin itu rusak dimata Lili.


Dan dengan langkah yang lebar Daffa berjalan kearah pintu kemudian membukanya. Daffa tersenyum puas mengetahui pintu sudah terbuka, ia bersyukur karena ia tak lagi terkurung bersama gadis yang membuatnya sampai uring-uringan dari kemarin.


Setelah membuka pintu, Daffa pun memutuskan untuk mandi, hari ini ia dan juga Lili akan berangkat kesekolah bersama.


Tak lama kemudian, Daffa pun menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang terpasang di pinggangnya, menampakkan tubuhnya yang sixpack dan sempurna.


Kemudian ia mendekati Lili yang masih tertidur diatas tempat tidur, di bangunkannya gadis yang berumur 16 tahun itu dengan cara mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Lili, bangun!" teriak Daffa membuat Lili langsung terbangun dari tidurnya.


Lili kemudian menatap pada orang yang baru saja membangunkan, Lili hendak marah karena ketenangannya di ganggu, namun ketika melihat penampilan Daffa dari atas sampai bawah membuatnya terdiam seraya menganga dengan sangat lebar.


Mata Lili tak dapat terpejam lagi disaat dirinya melihat perut Daffa yang terbentuk kotak-kotak. Tak lupa dengan lengan Daffa yang berotot dengan tato yang menghiasi lengan kirinya.


Glek ...


Lili sampai menelan ludah dengan sangat susah karena melihat penampilan Daffa yang begitu gagah dan sempurna.


"Tutup mulut lo! Air liur lo menetes!" seru Daffa membuat Lili langsung tersadar dari lamunannya.


"Mana ada kakak! Air liur Lili gak menetes kok!" gerutu Lili langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Buruan mandi! Ini sudah hampir jam 7!" perintah Daffa dengan tegas seraya berjalan kearah lemari kemudian mengambil seragamnya didalam sana.


Lili yang memang tidak mau telat itu langsung berlari terbirit-birit masuk kedalam kamar mandi.


....


Diruang makan.


"Selamat pagi, mommy, daddy!" sapa Lili seraya mengecup pipi mommy Natusha dan juga daddy Daniel.


"Pagi juga, sayang," ucap mommy Natusha dan juga daddy Daniel bersamaan.


"Pagi," ucap Daffa dengan dingin kemudian duduk diatas kursi. Tanpa banyak bicara Daffa langsung menyantap sarapannya tanpa memperdulikan Lili yang sedang asik bercanda tawa bersama mommy Natusha.


"Pulang dari sekolah kamu langsung ke kantor daddy!" perintah daddy Daniel membuat Daffa terdiam.


"Sudah lama kamu gak datang kesana! seharusnya mulai sekarang kamu rajin-rajin datang ke perusahaan, toh perusahaan itu juga nanti akan menjadi milikmu!" ujar daddy Daniel.


"Ck, kenapa perusahaan itu gak dikasi ke Daffi aja, dad?! Aku kan sudah bilang aku gak mau pegang perusahaan itu!" sungut Daffa.


Daffa tidak suka jika dirinya terus diminta untuk belajar tentang perusahaan di umurnya yang masih sangat muda. Bagi Daffa perusahaan itu tidak penting, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama teman-temannya sendiri.


"Daffa!" bentak daddy Daniel. "Kamu kan tau sendiri Daffi tidak suka mengikuti jejak daddy sebagai CEO!"


Daddy Daniel dibuat bingung dengan kedua putranya itu. Bagaimana tidak? Putranya yang bernama Daffi itu tidak ingin mengikuti jejaknya sebagai CEO, Daffi malah sibuk mengejar cita-cita sebagai seorang polisi, mengikuti jejak pamannya yaitu Wiliam. Sementara Daffa yang begitu diharapkan daddy Daniel jsutru sangat keras kepala dan tak mudah untuk diatur.


"Begitupun aku, dad! Aku bisa saja memegang perusahaan itu tapi tidak untuk sekarang! Aku masih muda! Aku tidak ingin membuang-buang masa mudaku hanya karena perusahaan itu!"


"DAFFA!" bentak daddy Daniel langsung berdiri dari duduknya sambil mengebrak meja dengan sangat kuat.


"Daddy bisa jangan memaksa aku seperti ini?! Aku kan sudah bilang aku akan memegang perusahaan itu kalau sudah waktunya!" bentak Daffa kembali membuat daddy Daniel terdiam.


Lili dan mommy Natusha juga ikut terdiam melihat pertengkaran antara anak dan ayah itu.


"Waktunya Daffa berangkat sekolah! Aku tidak ingin merusak hari daddy dengan mengajak daddy bertengkar! Dan satu lagi, aku tidak akan pernah memegang perusahaan itu kecuali aku sendiri yang menginginkannya, camkan itu!" ucap Daffa seraya melangkah mendekati Lili.


"Ayo, Lili!" Daffa kemudian menarik tangan Lili kemudian pergi darisana.


Sementara daddy Daniel menatap kepergian putra pertamanya itu dengan emosi yang bertubi-tubi didalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2