Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos

Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos
Daffa dan Lili bertengkar


__ADS_3

Daffa bersama ketiga temannya pergi mencari Lili. Entah mengapa hari ini anak itu tak memberikan Daffa kotak makan siang, padahal biasanya anak itu akan gercep mencari Daffa untuk memberikannya makanan.


"Ayolah bro, mungkin Lili sedang ada kelas tambahan dikelasnya! Lo kenapa takut banget sih kalau Lili berhenti ngasih lo bekal, bukannya itu yang lo inginkan selama ini?" ujar Dipta membuat Daffa langsung menatapnya dengan tajam.


"Sudahlah, Dip ... udah paling benar kita diam aja, daripada kita dapat amukan lagi dari dia?" bisik Kevin pada Dipta. "Lagian gue juga ikut penasaran dimana Lili sekarang, tumben banget tuh anak gak ngasih bekal ke Daffa?"


"Iya tuh! Mending kita ikut Daffa aja cari Lili!" sungut Elang.


Mereka berempat pun mencari Lili ke sekeliling sekolah namun mereka tak kunjung menemukan Lili sama sekali. Hanya ada satu tempat yang mereka belum datangi, yaitu kantin.


Daffa, Dipta, Kevin dan Elang pun bergegas menuju kantin. Dan benar saja, mereka melihat Lili sedang duduk bersama Regina di kantin.


"Lang, cepat lo pesan makanan!" perintah Daffa.


"Gue?" tanya Elang dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya buruan! Biar gue ada alasan bisa duduk disamping Lili!" seru Daffa.


"Siap bos!" Elang segera pergi untuk memesan makanan, sementara Daffa, Dipta dan Kevin langsung pergi ke meja Lili dan Regina berada.


"Ehem ..." sesampainya Daffa di meja Lili, ia langsung mendehem membuat Lili dan Regina langsung mendongakkan kepala mereka.


"Gue boleh duduk disini?" tanya Daffa menatap pada wajah Lili yang sangat cantik.


"Kenapa harus duduk disini? Meja kan ada banyak, duduk di tempat lain aja kak ... kalau disini aku lagi ngobrol sama Regina tentang masalah pribadi!" ujar Lili dengan nada sedikit tidak suka membuat Daffa langsung mengerutkan keningnya.


"Lo gak lihat meja sudah penuh semua?!" sungut Daffa membuat Lili langsung celingak-celinguk menatap sekeliling.


Dan benar saja, semua meja sudah penuh, hanya tersisa meja Lili dan Regina yang masih menyisakan banyak kursi.


"Boleh kan gue duduk disini?" tanya Daffa lagi.


"Boleh!" jawab Lili dengan singkat. "Lagi pula Lili dan Regina sudah makan kok! Tinggal balik ke kelas aja, kalau kakak mau nempatin tempat ini silahkan! Lili duluan yah!" ujar Lili seraya berdiri dari duduknya.


"Ayo Regina!" Lili hendak melangkah pergi namun tangannya tiba-tiba di tahan oleh Daffa.


"Lili, lo kenapa sebenarnya!" teriak Daffa pada Lili.


"Lili kenapa, kak?" tanya Lili dengan mengerutkan keningnya.


"Lo sadar gak, sejak kemarin lo itu berubah!" seru Daffa seraya mencengkram kuat pergelangan tangan Lili.

__ADS_1


"Berubah? Kak, kamu ini ngomong apa sih?! Lili gak berubah! Lili masih tetap Lili yang dulu, apanya yang berubah!" ujar Lili seraya berusaha menahan sakit di tangannya akibat cengkraman Daffa yang cukup kuat.


"Lo kenapa jauhin gue Lili?! Kenapa?!" tanya Daffa semakin meninggikan suaranya membuat semua orang yang berada di kantin langsung menatap kearah mereka.


"Bukankah itu yang kakak mau?! Lili hanya berusaha agar tidak membuat kakak risih lagi! Lili sadar kak! Lili sadar kalau kakak tidak mencintai Lili! Lili yang terlalu bodoh dan terlalu berharap sama kakak!"


"Kakak tenang aja! Mulai saat ini Lili gak akan pernah ganggu kakak lagi! Kakak mulai sama kehidupan kakak yang sekarang, yang lebih bebas dan damai tanpa adanya Lili yang selalu gangguin kakak!"


Mendengar perkataan Lili, membuat tubuh Daffa langsung lemas sehingga membuat cengkramannya di pergelangan tangan Lili langsung terlepas. Ia tak menyangka pada akhirnya Lili akan berkata seperti itu.


Lili berhenti mencintainya?


Tapi kenapa Daffa merasa sakit hati mendengarnya? Bukankah itu yang ia inginkan selama ini? Tapi ...


"Lili, bercanda lo gak main-main!"


"Siapa yang bercanda kak?! Lili gak bercanda! Lili udah berhenti ngejar-ngejar kakak lagi!" teriak Lili berusaha menahan tangisannya.


"Oke kalau begitu! Silahkan! Itu malah bagus buat gue! Akhirnya lo sadar kalau gue gak akan pernah jatuh cinta sama lo!" ujar Daffa membuat Lili terdiam.


Deg ...


Daffa mengira Lili hanya bercanda dengan perkataannya tadi, Daffa berfikir kalau besok-besok Lili akan kembali mengejar cintanya. Tidak mungkin Lili dengan mudahnya langsung berhenti mencintainya. Daffa yakin Lili hanya bercanda saja.


"Lili!" teriak Regina langsung mengejar Lili yang berlari.


Deg ...


Entah mengapa Daffa mulai merasakan sesuatu akan terjadi, perkataan Lili barusan yang mengatakan Selamat Tinggal membuatnya seperti takut ...


Entah mengapa firasat Daffa mengatakan kalau Lili akan pergi jauh darinya.


"Daff, kalau kata gue lo benar-benar kurang ngajar sama Lili," ujar Dipta.


Daffa yang mendengarnya hanya bersikap acuh tak acuh. Ia tak memperdulikan ucapan Dipta karena ia yakin tidak lama lagi Lili akan kembali mengejar cintanya. Tidak mungkin Lili semudah itu berpaling darinya.


"Gue tau lo itu cinta sama Lili, Daff ... cuma gengsi lo aja yang jadi penghalang!" ujar Dipta lagi membuat Daffa langsung tertawa.


"Gue? Cinta sama Lili? Lo pasti bercanda!" ucap Daffa masih dengan gengsinya yang terlalu tinggi.


"Sekarang gue tanya, kalau lo memang gak suka sama Lili, terus ngapain lo sampai nyariin dia ke kantin?! Dan lebih parahnya lagi lo ngebentak dia hanya karna dia mulai menghindar dari lo! Come on, bro! Bukannya itu yang lo inginkan selama ini? Lalu kenapa lo justru marah pada Lili?" sungut Dipta membuat Daffa terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


Daffa mulai berfikir apa benar ia sudah mulai jatuh cinta pada Lili? Tapi bagaimana mungkin? Selama ini ia tak pernah menyukai Lili karena Lili selalu membuatnya risih dan tak pernah tenang menjalani hidup, tapi mengapa ia merasa kalau ia juga mulai mencintai gadis itu?


Dengan penuh pertanyaan di dalam benaknya, Daffa pun pulang karena memang waktunya untuk pulang sekolah. Sebelum pulang dirinya menyempatkan diri untuk ke kelas Lili namun Regina bilang, semenjak pertengkaran yang terjadi di kantin itu, Lili langsung pulang ke rumahnya.


Di mansion keluarga Arbeto.


"Mom ..." Daffa langsung duduk di samping mommy Natusha lalu merangkul pundaknya.


"Kenapa? Tumben kamu nempel-nempel gini?" tanya mommy Natusha merasa curiga dengan putra pertamanya itu.


"Mommy, Daffa ingin bertanya sesuatu ..." bisik Daffa.


"Mau nanya apa?"


"Selama ini aku gak pernah tau dan gak mau tentang apa itu cinta. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu apa artinya cinta itu, mom ..."


"Mommy, apa kau boleh menjelaskan kepadaku apa itu arti sebuah cinta?"


"Arti cinta?" gumam mommy Natusha berfikir keras.


"Cinta itu yang dapat membuatmu rindu, khawatir dan risau. Apa kamu pernah merasakannya Daffa? Ketika kau melihat orang yang kamu sukai sedang terluka maka kamu akan merasa khawatir dan risau. Dan setiap ia jauh darimu kamu akan merasakan kerinduan yang berat terhadapnya," ujar mommy Natusha.


Deg ...


Daffa langsung terdiam mendengar pernyataan mommynya itu, ia tak menyangka apa yang diucapkan mommynya itu begitu persis yang pernah ia rasakan pada Lili.


'Jadi ini yang namanya cinta?' Daffa mulai sadar kalau dirinya memang mencintai Lili selama ini, hanya saja ia belum sadar dan gengsinya yang terlalu tinggi untuk mengutarakan perasaannya.


Daffa kini sadar atas kebodohannya selama ini, seharusnya dari awal ia sadar dengan perasaannya sendiri.


"Makasih, mom! Daffa sudah sadar kalau Daffa mencintainya!"


Cup!


Daffa berterima kasih pada mommy Natusha seraya mengecup pipi mommynya itu. Kemudian ia langsung berlari ke kamarnya dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Eh? Tunggu, siapa yang kamu cintai Daffa?! Kasi tau mommy siapa gadis beruntung itu!" teriak mommy Natusha pada Daffa. Namun Daffa tidak perduli dan berlalu masuk kedalam kamarnya.


Sesampainya dikamar, Daffa langsung membanting tubuhnya keatas kasur king size miliknya. Daffa tertawa bahagia karena kini ia sudah menyadari bahwa selama ini ia juga mencintai Lili.


"Lili, besok aku akan mengutarakan perasaanku padamu, tenang saja sayang, kamu tidak sendiri mencintaiku, karena aku juga mencintaimu. Tunggu aku besok sayang, aku akan membuat semua orang di sekolah tahu bahwa kamu adalah milikku, milik Daffa Arbeto."

__ADS_1


"Aku harap kamu mau memaafkan ku karena masalah tadi? Aku benar-benar bodoh karena selama ini aku tidak tahu pada perasaan ku sendiri, tapi sekarang aku sudah sadar! Aku harap aku tidak terlambat mengutarakan perasaanku ini. Dan kamu Lili, aku yakin kamu masih mencintaiku sama seperti aku mencintaimu, kamu tidak mungkin muda berpaling dariku."


__ADS_2