
Daffa langsung berlari mengejar Lili yang kabur dari kamarnya. Walau bokongnya terasa sakit karena terjatuh dari atas tempat tidur, itu tidak menyurutkan tekatnya untuk mengejar Lili, sang pujaan hatinya.
Lili terus berlari semakin kencang menyadari Daffa mengejarnya dari belakang. Daffa dan Lili terlihat seperti Tom and Jerry yang sedang bermain kejar-kejaran.
Lili yang berlari tak tahu arah itu tanpa sadar memasuki ruangan dapur, ia langsung terdiam ketika melihat banyaknya maid yang sedang bekerja didapur itu.
Semua pandangan maid juga langsung menatap kearah Lili, mereka juga ikut terdiam ketika melihatLili tiba-tiba datang disana, karena ini pertama kalinya mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik berada di mansion itu.
"Lili! Jangan lari!" teriak Daffa.
Membuat Lili tersadar dari diamnya, kemudian ia meminta para maid untuk tidak memberitahukan pada Daffa kalau ia sedang bersembunyi didapur.
Para maid pun hanya bisa mengangguk pasrah. Sementara Lili langsung bersembunyi dibawah meja karena mendengar teriakan Daffa yang semakin lama semakin mendekat.
Tak ... tak ... tak ...
Suara langkah kaki Daffa membuat para maid langsung terdiam. Terutama dengan Lili yang berusaha menahan nafasnya karena tak ingin mengeluarkan suara sedikit saja.
"Dimana gadis itu?!" tanya Daffa sambil menatap tajam para maid itu.
"Ka--kami tidak—" belum sempat maid menyelesaikan perkataannya. Daffa langsung menunjukkan kepalan tangannya yang sangat berotot.
"Aku tidak suka jika ada yang berani berbohong kepadaku ...." sungut Daffa membuat para maid itu langsung menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
"Cepat katakan, dimana gadis kecilku!" teriak Daffa membuat para maid itu resflek menunjuk kebawah meja.
Daffa tersenyum menyeringai melihat tangan para maid yang menunjuk kearah bawah meja. Ia tahu kalau Lili sedang bersembunyi dibawah sana. Kemudian Daffa memerintahkan para maid yang berada didapur itu untuk segera keluar, karena ia ingin hanya dirinya dan Lili saja yang berada didapur tersebut.
Para maid berbondong-bondong keluar dari dapur, sementara Lili yang belum menyadari kalau bahaya sudah mendekat masih sentiasa bersembunyi dibawah kolong meja.
__ADS_1
Tiba-tiba ...
"KYAAA ... TIDAK!" teriak Lili ketika sebuah tangan kekar tiba-tiba menariknya keluar dari bawah meja.
Dug!
"Aduh, sakit!" pekik Lili ketika Daffa menariknya kedalam pelukannya, membuat wajah Lili langsung terbentur keras didada bidang Daffa.
Daffa langsung terkekeh melihat hidung Lili yang memerah karena terbentur di dadanya, dengan gemas Daffa mengigit hidung Lili membuat Lili kembali menjerit.
"Aduh! Aduh! Sakit!" jerit Lili kesakitan.
"Kau sudah puas bermain petak umpet bersamaku, hm?" tanya Daffa seraya menggendong tu**buh Lili seperti koala membuat Lili resflek mengalungkan tangannya dileher Daffa.
"Turunkan aku! Huaaa, turunkan aku! Dasar pria me**sum!" teriak Lili.
Daffa tersenyum simpul mendengar teriakan Lili, kemudian Daffa menduduki Lili diatas meja. "Kau bilang apa tadi? Pria me**sum? Katakan kepadaku, apa wajahku ini terlihat seperti orang yang me**sum bagimu?"
Daffa langsung mengeraskan rahangnya, ia tak menyangka Lili berani berkata seperti itu dihadapannya. "Kau bilang apa?! Katakan sekali lagi, aku ini apa?!!" teriak Daffa dihadapan Lili.
"Me**sum! Kamu me**sum yang jelek!" jawab Lili membuat Daffa mencengkram kuat telapak tangannya.
Mata Daffa langsung menajam dan menatap kearah Lili membuat Lili langsung menelan salivanya dengan sangat susah.
Glek ...
Cup!
Daffa mendaratkan sebuah ciuman dibibir Lili, membuat Lili langsung terdiam kaku di tempatnya. Kejadian 9 tahun yang lalu kini terluang kembali, dimana Daffa kembali mencium Lili secara tiba-tiba.
__ADS_1
Perlahan-lahan ciuman tersebut berganti menjadi ******* lembut dari Daffa. Daffa melahap habis bibir Lili walau Lili tidak membalasnya.
Lili yang masih terdiam itu kini tersadar kalau yang dilakukannya itu adalah hal yang tak benar untuk di lakukan. Kemudian Lili langsung mendorong tubuh Daffa dengan sangat kuat, membuat Daffa langsung terdorong kebelakang dan ciuman mereka pun terlepas begitu saja.
Daffa yang belum puas mencicipi bibir Lili yang begitu manis dan membuatnya sangat candu itu ingin mendekati Lili kembali.
"Aku mau lagi!" sungut Daffa hendak mencium Lili kembali namun tiba-tiba Lili mengambil semangkuk tepung yang berada diatas meja dan melemparnya kearah Daffa.
"Damn!" umpat Daffa langsung mundur kebelakang ketika wajahnya disembur tepung oleh Lili.
Mata Daffa perih sehingga ia tak bisa melihat sama sekali, bahkan ia terbatuk-batuk karena tepung tersebut membuat tenggorokannya gatal.
"Hahaha, sukurin! Dasar me**sum!" Lili langsung tertawa terbahak-bahak melihat wajah Daffa yang dipenuhi oleh tepung. Kini tak ada lagi wajah Daffa yang terlihat tampan, yang ada hanyalah Daffa si manusia berwajah putih.
"Kau berani melawanku?!" teriak Daffa menatap pada wajah Lili yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Kau akan terima akibatnya karena sudah berani melawanku, Sayang!" ujar Daffa langsung menggendong tubuh Lili seperti karung beras membuat Lili langsung berteriak meminta tolong.
"Huaaa ... turunkan aku! Turunkan aku, dasar pria me**sum jelek! Dasar jelek! Turunkan aku jelek!" teriak Lili sambil memukul-mukul punggung Daffa.
Namun Daffa yang kebal itu tidak memperdulikan pukulan Lili di punggungnya.
Daffa pun membawa Lili ke lantai dua mansion, dimana kamar Daffa berada.
"Siapa gadis itu?" tanya maid bertanya-tanya, ketika melihat interaksi Daffa dan Lili yang seperti Tom and Jerry.
"Entahlah, tapi gadis itu terlihat sangat cantik, mungkinkah dia adalah kekasih, Tuan?" ujar maid lainnya.
"Benarkah? Aku juga setuju dengan pendapat kamu itu, mereka berdua terlihat sangat cocok. Yang satu dingin dan pemarah, dan satunya lagi polos dan tengil. Aduhh tak terbayang jika mereka menikah nanti lalu punya anak, bagaimana sifat anak mereka nanti? Apakah seperti Tuan atau seperti gadis tadi, hahaha ...."
__ADS_1
"Ekhem ..." Di tengah-tengah maid yang sedang ngerumpi itu, tiba-tiba Sam datang dengan tatapan tajamnya. "Kalian saya gaji bukan untuk bergosip disini! Cepat siapkan makan malam untuk Tuan dan Nona!" perintah Sam membuat para maid langsung berbondong-bondong pergi darisana untuk melanjutkan tugas mereka sebagai maid.