Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos

Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos
Harus jelek


__ADS_3

Lili menatap kearah siswi-siswi yang berteriak pada Daffa. Lili terlihat kesal karena semakin lama fans Daffa semakin banyak membuatnya semakin banyak saingan.


"Hiss ...!" decak Lili dengan kesal.


"Lo kenapa kelihatan marah gitu?" tanya Daffa menahan tawanya melihat wajah Lili yang memerah karena menahan kekesalannya. Daffa tahu kalau Lili marah karena banyak yang suka padanya.


"Lain kali kalau datang ke sekolah kakak jangan terlalu ganteng! Gini kan resikonya banyak yang suka!" sungut Lili mendekat kearah Daffa. Kemudian mengacak-acak rambut Daffa sampai berantakan.


"Lili, lo ngapain sih?!" pekik Daffa segera menyingkirkan tangan Lili dari rambutnya.


"Lili mau kakak jelek biar semua orang gak suka kakak kecuali Lili doang!" timpal Lili dengan mencurutkan bibirnya kedepan.


"Gadis gila! Lihat rambut gue jadi berantakan karna ulah lo!" omel Daffa menatap dirinya dari kaca spion motornya.


"Argggg! Kak Daffa semakin ganteng kalau gaya rambutnya gitu! Terlihat semakin bad boy!" teriak para siswi-siswi yang justru semakin suka melihat rambut Daffa berantakan.


"Loh? Kok jadi gini sih! Lili kan sengaja berantakin rambut kakak biar semua orang gak suka! Kok jadi malah makin suka sih!" kesel Lili membuat Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


"Sudah lo jangan kebanyakan ngomong! Masuk sana ke kelas lo!" ujar Daffa mendorong pelan tubuh Lili.


Lili yang di dorong itu pun semakin cemberut. "Kakak ih! Dengerin Lili dulu! Mulai besok kakak gak boleh ganteng-ganteng ke sekolah! Gantengnya cuma harus dihadapan Lili doang!"


....


Setelah memberi peringatan pada Daffa, Lili pun pergi ke kelasnya sementara Daffa pergi ke rooftop menemui teman-temannya.


Daffa memang sering bolos sekolah dan nongkrong bersama teman-temannya di rooftop, tapi jangan salah sangkah, Daffa adalah murid yang sangat cerdas dan berbakat hanya saja ia salah bergaul dengan anak-anak nakal.


Di rooftop.


"Widih, baru datang nih tuan muda," cibir Dipta melihat kedatangan Daffa.


Daffa hanya diam seraya duduk ditempat duduknya. "Huff ..."


"Napa lo? Muka lo kelihatan tertekan banget!" sungut Kevin menatap pada wajah Daffa yang terlihat tidak semangat.


"Pake nanya, pasti ini ulah anak itu lagi nih!" ujar Dipta.


"Anak? Anak siapa?" tanya Elang dengan mengerutkan keningnya kebingungan.


"Lo itu pea' atau bego sih, Lang? Yang gue maksud itu si Lili! Adik kelas baru di sekolah kita itu," timpal Dipta.


"Lah? Emangnya dengan kenapa anak itu?" tanya Elang lagi.


"Waduh, gue kurang tahu juga nih. Coba tanya sama bos Daffa," ujar Dipta.

__ADS_1


"Gue juga ikut heran sih sama Daffa, masa Daffa gak suka dekat-dekat sama si Lili? Padahal Lili itu kan cantik, primadona sekolah? Dia banyak yang suka, bahkan para senior juga banyak yang ngejar dia? Cuma begonya si Lili, dia malah suka sama cowo bandit macam Daffa," ujar Kevin membuat Dipta dan Elang langsung terawa terbahak-bahak.


"Kalian bisa diam!" teriak Daffa dengan sangat keras membuat mereka bertiga langsung berhenti tertawa.


"Gue ini lagi pusing mikirin gimana bisa lepas dari anak manja itu! Kepala gue hampir pecah tau nggak ngadepin ituh bocah!"


"Yaelah bro, gitu doang di pusingin, tinggal kenalin aja ke gue, pasti tuh anak langsung berpindah hati ke gue," ujar Dipta membuat Daffa langsung menatapnya dengan tajam.


"Lo mau ini?" tanya Daffa menunjukan kepalan tangannya.


Glek ...


Dipta langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


"Cih!" entah mengapa Daffa langsung tersulut emosinya ketika mendengar Dipta ingin di kenalkan dengan Lili.


******


Waktunya istirahat, para siswa dan siswi berbondong-bondong keluar dari kelas mereka untuk makan di kantin.


Sementara di kelas Lili.


"Lo kok bawa dua bekal lagi? Buat gue yah?" tanya Regina ketika melihat Lili mengeluarkan dua kotak makan dari dalam tasnya.


"Nggak, ini itu untuk kakak Daffa," ujar Lili seraya tersenyum-senyum sendiri.


"Kakak Daffa peduli kok sama Lili!" sungut Lili.


"Huff ... Lili, kalau dia memang peduli sama lo, sejak awal mungkin dia udah nerima rasa cinta lo!"


"Yasudah, biarin aja kali? Kalau memang kakak Daffa belum buka hati mau bagaimana lagi? Lili tetap akan berusaha kok buat bapatin hati kakak Daffa! Bagaimana pun caranya!"


"Lo ini udah kayak terobsesi banget sama Daffa tau gak?"


"Ini bukan terobsesi, ini yang namanya cinta sejati dari Lili, hehehe."


"Dasar," Regina kembali menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


"Udah yuk! Temenin Lili nyari kak Daffa, pasti kakak Daffa lagi bolos di rooftop!" ujar Lili seraya berdiri dari duduknya.


...


Di rooftop.


Daffa dan teman-temannya masih asik mengobrol, entah apa yang dibicarakan oleh keempat pemuda itu.

__ADS_1


"Kakak!" Lili tiba-tiba datang bersama Regina memecah suasana asik diantara Daffa dan teman-temannya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Daffa dengan mengerutkan keningnya.


"Mau nganter bekal untuk, kakak, ini!" Lili memberikan kotak bekalnya pada Daffa.


"Lili, mau berapa kali gue harus bilang sama lo kalau lo itu gak usah bawain gue bekal! Gue bisa jajan sendiri di kantin!" sungut Daffa.


"Tapi ini spesial buat kakak, Lili masak sendiri bareng mama loh ..." ucap Lili dengan mencurutkan bibirnya kedepan.


Merasa tak tega melihat Lili bersedih, mau tidak mau Daffa harus menerima bekal dari Lili untuk kesekian kalinya.


"Puas kan? Sekarang lo pergi sana! Jangan ganggu gue, gue lagi setres ngadepin lo mulu!" timpal Daffa.


"Xixixi, iya kakak, jangan lupa yah di habisin, Lili mau main dulu bareng Regina," ucap Lili tertawa gemas membuat Dipta, Kevin dan Elang langsung terpesona dengan kegemasan gadis itu.


"Ayo, Regina! Kita pergi!" Lili menarik tangan Regina untuk pergi dari rooftop itu.


"Buset cantik banget tuh anak," ucap Dipta sambil menganga lebar melihat kepergian Lili.


"Gue sih kalau punya pacar kayak Lili langsung gue nikahin aja, jangan pake nanggung," ujar Kevin.


"Ngomong apa lo tadi?!" Daffa menatap tajam Dipta dan Kevin secara bergantian.


Glek ...


"Awas aja jika di antara kalian berani dekat-dekat sama Lili, gue hancurin muka lo satu-persatu!" ancam Daffa membuat Dipta, Kevin dan Elang langsung meringkuk ketakutan.


"Lang, lo suka makan kan?" tanya Daffa.


"Napa?" tanya Elang mengerutkan keningnya.


"Ini buat lo! Habisin jangan lupa!" ujar Daffa memberikan kotak bekal Lili pada Elang.


"Loh? Itu kan buat Lo, Daff! Ngapain lo kasi ke gue!" sungut Elang.


"Ck, banyak comot! Cepat lo makan! Daripada gue buang kan mubasir!" seloroh Daffa.


"Iya juga yah? Sini gue aja yang makan daripada mubasir," Elang langsung mengambil kotak makan tersebut dari tangan Daffa.


"Wah benar-benar lo, Daff. Saking gak sukanya sama Lili sampai pemberian Lili lo kasi ke orang lain!" ujar Dipta seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya tuh, hati-hati Daff kalau Lili tau, Lili pasti kecewa berat itu!" lanjut Kevin.


"Gue yakin sih kalau Lili tau dia bakal berhenti ngejar cinta lo," ucap Dipta.

__ADS_1


"Berhenti? Malah bagus anak itu berhenti ngejar-ngejar gue! Gue udah muak ama dia!"


"Cih, gue kalau dapat perhatian dari Lili, pasti gak akan gue sia-siain sih! Lili itu orangnya cantik dan ceria, siapa yang gak suka coba sama dia?" ujar Dipta membuat Daffa terdiam.


__ADS_2