
"Aku sudah memberimu kesempatan selama 4 bulan, dan kau masih belum bisa melunasi hutangmu itu?" Daffa menatap tajam pada seorang pria paruh baya yang sebelumnya pernah meminjam uang kepadanya namun pria paruh baya itu tidak pernah mengembalikan uang yang sudah ia pinjamnya dari Daffa.
"Tuan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi bagaimana bisa saya mencari uang sebanyak itu dalam 4 bulan saja, saya hanya bekerja sebagai karyawan biasa, Tuan, tolong beri saya kesempatan lagi, saya janji akan melunasinya!" pria paruh baya itu memohon sambil memeluk kaki Daffa, berharap ia mendapat belas kasihan dari tuan arogan itu.
"Aku benci orang yang tidak dapat menepati janji!" Daffa dengan arogan berdiri dari kursi kebesarannya. Ia tak ingin kakinya di sentuh oleh seseorang yang sudah menghianati kepercayaannya.
"Sam!" teriak Daffa memanggil asisten pribadinya.
Sam yang sejak tadi hanya diam dan menyimak saja, mendengar namanya di panggil segera menghampiri tuannya itu.
"Iya, Tuan!"
"Masukan nama orang ini kedalam list daftar hitam! Buat dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan dimana pun!" dengan kejam Daffa memerintahkan asisten pribadinya itu untuk memasukan nama pria paruh baya itu kedalam list daftar hitam.
"Apa?!" pekik pria paruh baya itu. "Tuan, jangan lakukan itu, Tuan! Saya masih punya keluarga, Tuan, anak-anak saya masih bersekolah, bagaimana nasib mereka nanti jika nama saya ada di daftar blacklist, Tuan ...." pria paruh baya itu mulai menangis dengan keras, ia tak menyangka bahwa namanya akan berakhir didalam list daftar hitam. Ia menyesal telah meragukan kemampuan Tuan Daffa yang merupakan pemimpin terhebat dan terkejam nomor satu di dunia. Andai saja pria paruh baya itu sudah tahu dari awal hidupnya akan berakhir seperti ini, mungkin saja ia tak akan pernah berani meminjam uang pada Daffa.
"Seret diam, Sam! Jangan biarkan dia menginjak perusahaan ini lagi!" perintah Daffa dengan suara yang meninggi.
"Baik, Tuan!" tanpa banyak bicara Sam langsung menyeret pria paruh baya itu pergi. Sam sebenarnya kasihan pada pria paruh baya itu namun ia lebih takut pada kekejaman tuan Daffa.
Setelah Sam pergi seraya menyeret pria paruh baya itu, Daffa pun kembali duduk di kursi kebanggaannya.
Yeah ... beginilah kehidupan seorang pemimpin perusahaan Manyu itu, begitu kejam dan tak punya hati. Siapapun yang berani mengusik kehidupan Daffa Arbeto maka hidupnya akan berakhir dengan sangat menderita.
...
Sementara itu.
Di bandara.
"Yeeyy ... akhirnya aku bisa kembali ke negara ini setelah bertahun-tahun lamanya ..."
Gadis itu terlihat menghirup udara dengan panjang, kemudian ia menghembuskan nafasnya dengan perasaan yang sangat lega.
Sungguh ia sangat merindukan suasana negara Indonesia yang merupakan negara kelahirannya.
"Oke, Lili! Waktunya untuk pulang!"
Yeah ... gadis itu bernama Lili, ia baru saja menginjakkan kakinya di bandara Indonesia, karena selama beberapa tahun ini ia tinggal di negara Amerika.
Lili yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua orangtuanya itu hendak melangkahkan kakinya keluar dari bandara namun tiba-tiba ...
"Heh! Copet! Copet! Heiii jangan kabur kamu copet! Dasar copet jelek! Berhenti!" teriak Lili ketika tasnya di rebut oleh seseorang dan seseorang itu berlari dengan sangat kencang darinya.
Lili yang tak mau kehilangan tas berharganya itu segera mengejar pencopet tersebut.
******
Di perusahaan Manyu.
"Tuan, sudah waktunya kita pulang," ujar Sam pada Daffa yang sedang duduk di kursi kebanggaannya sambil menyesap sebatang rokok.
__ADS_1
"Nanti saja! Aku masih ingin disini," ujar Daffa dengan nada dingin.
Sam menghelai nafasnya dengan panjang, selain kejam tuannya itu juga benar-benar sangat keras kepala.
"Tuan harus cepat pulang, karena malam ini anda akan menghadiri pesta pernikahan Tuan Elang dan Nona Kayesa," ujar Sam membuat Daffa menghembuskan nafas dengan kasar.
Daffa baru teringat pada sahabatnya Elang, malam ini adalah malam pernikahan sahabatnya itu, ia harus hadir di acara tersebut.
"Siapkan mobil, Sam! Nanti aku menyusul kebawah!" perintah Daffa dengan tegas.
"Baik, Tuan!" Sam pun segera pergi dari sana untuk menyiapkan mobil untuk tuannya itu.
Sementara Daffa, ia memutuskan untuk menghabiskan sebatang rokoknya itu sebelum ia turun kebawah.
...
Di perjalanan pulang.
Daffa terlihat melamun di tempatnya, ia menatap kosong kearah jendela, entah apa yang sedang di pikirkannya. Sementara Sam sedang sibuk mengemudikan mobil, sesekali ia melirik kearah tuannya itu.
"Sam, apa aku terlihat seperti pria yang tidak normal?" Daffa tiba-tiba bertanya pada Sam membuat Sam langsung terdiam seraya mengerutkan keningnya.
"Kenapa Tuan bertanya seperti itu?"
"Hufff ..." Daffa menghelai nafasnya dengan berat. "Aku sudah tua, Sam, tapi kenapa aku belum mempunyai kekasih? Mengapa semua orang menganggapku sebagai pria yang tidak normal, Sam? Apa benar aku ini terlihat seperti orang yang tidak normal?"
"Tuan, adalah pria yang normal, hanya saja jodoh Tuan belum ketemu, semua orang di dunia ini memiliki jodoh masing-masing, maka bersabarlah, Tuan. Sam yakin cepat atau lambat anda akan bertemu dengan jodoh anda ...."
Disisi lain.
"Ishh ... larinya cepat banget!" gerutu Lili seraya berkacak pinggang dengan nafas yang ngos-ngosan karena lelah mengejar copet yang membawa kabur tasnya.
Lili menatap si pencopet itu yang semakin lama semakin menjauh. Lili yang tak mudah menyerah itu segera mengambil batu.
Dan tanpa banyak berfikir Lili langsung melempar batu tersebut kearah si pencopet.
Namun sayang, lemparannya meleset dan justru mengenai sebuah mobil yang melintas di hadapannya.
"OMG!" pekik Lili menepuk jidatnya sendiri melihat mobil tersebut langsung pekok karena lemparan batunya yang cukup keras.
Deg ...
Lili mulai ketakutan ketika mobil tersebut berhenti, ia tahu setelah ini pemilik mobil itu akan meminta pertanggung jawabannya.
Jantung Lili mulai berdegup dengan sangat kencang, ia sadar kalau yang baru saja ia lakukan itu adalah kesalahan yang sangat besar.
Dan lebih parahnya lagi, pemilik mobil itu mulai turun dari mobilnya. Terlihat kaki yang panjang melangkah keluar dari mobil tersebut. Lili yang ketakutan itu langsung memejamkan kedua matanya dengan sangat kuat.
Lili tak dapat membayangkan bagaimana wajah pemilik mobil itu, pasti terlihat sangat menyeramkan karena sedang marah mobilnya telah di rusak oleh Lili.
"Permisi, Nona? Apa batu ini milik anda?" tanya Sam membuat Lili langsung membuka matanya.
__ADS_1
Di tatapnya wajah Sam dengan sangat intens, kemudian Lili menghelai nafasnya dengan sangat lega karena wajah Sam tidak semenyeramkan seperti yang ia bayangkan.
"Nona? Apa anda mendengar saya?" Sam menepuk pundak Lili melihat Lili hanya diam saja, membuat Lili langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh? Iya batu, itu batu saya," jawab Lili dengan spontan membuat Sam langsung mengerutkan keningnya.
"Eh maksudku, i--itu bukan batu saya, i--itu saya dapat di pinggir jalan, iya di pinggir jalan hehehe~," ujar Lili seraya menggaruk tengkuk lehernya dengan canggung.
"Nona—" belum sempat Sam menyelesaikan perkataannya tiba-tiba dirinya mendengar suara teriakan tuannya dari arah mobil.
"Sam, kenapa lama sekali?! Apa yang dikatakan orang itu?! Dia mau tanggung jawab atau tidak?!" teriak Daffa melalui jendela mobilnya membuat Sam dan Lili langsung menoleh kearahnya.
Deg ...
"I--itu kan ...."
Lili benar-benar terkejut melihat siapa yang berteriak barusan. Pria yang selama ini berusaha Lili lupakan namun dirinya selalu gagal untuk melupakan pria itu.
"Kakak Daffa ...." Lili melangkah mundur ketika Daffa juga melihat kearahnya. Mereka saling menatap satu sama lain membuat Sam yang berada disana begitu keheranan.
"Gadis itu ...." Daffa sontak membulatkan matanya dengan sempurna melihat siapa gadis yang berada didekat Sam.
Tentu saja gadis yang selama ini Daffa rindukan, selama 9 tahun Daffa sabar menunggu kepulangan gadis itu, dan entah apa yang di mimpikan Daffa semalam, ia kini bertemu dengan gadis idamannya itu.
"Lili!" teriak Daffa sontak turun dari mobilnya dan berlari kearah Lili.
Lili yang melihat Daffa berlari kencang kearahnya sontak menggeleng-gelengkan kepalanya denga cepat. Entah mengapa ia juga resflek berlari menghindari Daffa.
"Tidak, Lili, kamu harus lari, pria itu yang membuat hatimu hancur waktu itu, kamu tidak boleh berdekatan dengannya lagi!" Lili terus berlari menjauhi Daffa, sementara Daffa berusaha keras untuk mengejarnya.
"Lili! Ini aku Daffa! Berhenti, Lili! Aku mohon maafkan aku! Aku sudah menyesali semuanya! Aku mohon kembalilah kepadaku!" teriak Daffa namun Lili tidak perduli, ia terus berlari menjauh dari kejaran Daffa.
Sementara Sam hanya bisa terdiam melihat tuannya itu seperti sedang bermain peran sebagai Tom di kartun Tom and Jerry.
Lili tidak mau berdekatan dengan Daffa lagi, rasa sakit disaat Daffa mengacuhkan cintanya masih membekas dihati Lili, ia tak akan pernah mau memaafkan pria yang bernama Daffa itu.
Tanpa Lili sadari ia mulai meneteskan air mata, kejadian-kejadian dimasa lalu mulai teringat kembali, ia mengingat masa-masa dimana ia mengejar cinta Daffa namun Daffa tidak pernah memperdulikannya sama sekali.
"Lili, awas!" teriak Daffa dengan sangat keras ketika melihat Lili berlari kearah jalan dimana jalan tersebut sangat ramai akan kendaraan.
"Tin! Tin!"
Dan benar saja, sebuah mobil melaju kencang kearah Lili membuat Lili langsung terdiam kaku ditempatnya karena sudah sangat ketakutan.
"Lili, pergi darisana! Kenapa kau diam saja, Lili!" teriak Daffa dengan geram melihat Lili berhenti berlari tepat di tengah jalan.
"Li--lili, takut ...." saking takutnya Lili ia tak bisa bergerak di tempatnya sementara mobil yang sedang melaju kearahnya semakin mendekat.
Dan ....
Bruk!
__ADS_1
"LILI!" Daffa hampir mati berdiri ditempatnya ketika melihat gadis yang sangat ia cintai di tabrak mobil.