Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos

Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos
Tipe wanita idaman Daffa


__ADS_3

Kini Daffa mengantar Lili pulang ke mansion utama keluarga Arbeto. Setibanya disana Mommy Natusha langsung mengomeli Daffa ketika mengetahui Lili mendapat perlakuan kasar di sekolah.


"Mommy kan sudah bilang sama kamu, Daffa ... jaga Lili baik-baik disekolah, kamu ini gimana sih!"


Daffa hanya bisa diam mendengar setiap perkataan dari ibundanya itu. Sementara Lili sejak tadi menahan tawanya melihat Daffi di omelin habis-habisan.


"Sana kamu bawa Lili ke kamar dan obati lukanya!" perintah Mommy Natusha.


"Baik, mom," Daffa menghelai nafasnya dengan pasrah lalu kembali menggendong tubuh Lili ala bridal style dan membawanya naik keatas lantai dua.


Natusha tertawa kecil melihat Daffa menggendong tubuh Lili yang mungil itu. "Xixixi ... cocok banget sih anak mommy sama Lili!" gumamnya.


Didalam kamar Daffa.


Daffa menurunkan Lili dan mendudukinya diatas tempat tidur. Lili langsung tertawa terbahak-bahak mengingat tadi Daffa omelin oleh Mommy Natusha.


"Puas lo?" tanya Daffa menatap Lili dengan sangat tajam.


"Puas banget xixixi!" jawab Lili membuat Daffa geram.


"Lain kali gak usah minta bantuan ke gue lagi!" sungut Daffa seraya mengambil kotak P3K didalam nakas.


"Kakak lupa yah? Kan kakak sendiri yang datang bantuin Lili dari keganasan tiga macan itu?" ucap Lili membuat Daffa terdiam.


Daffa baru sadar, mengapa ia begitu perhatian pada Lili. Padahal jelas-jelas ia sangat membenci Lili, tapi ketika mendengar Lili diperlakukan kasar oleh seseorang membuat emosinya tersulut, Daffa juga bingung mengapa dirinya seperti itu.


"Lili tahu kok kak, kakak pasti mengkhawatirkan Lili kan? Kakak takut kalau Lili sampai kenapa-kenapa," ujar Lili seraya tersipu malu.


Pletak!


"Aduh, sakit kak!" pekik Lili disaat dirinya mendapat sentilan keras di jidatnya.


"Jangan kege'eran lo! Gue lakuin itu semua karna mommy sendiri yang minta, bukan karna gue berinisiatif sendiri!" Daffa menyangkal dengan tegas membuat Lili cemberut.


"Dasar gak punya hati!" sungut Lili seraya memalingkan wajahnya dengan marah.


"Gak punya hati? Maksud lo?!"


"Iya! Kakak itu gak punya hati! Dari dulu Lili itu udah suka sama kakak tapi kakak gak pernah mau buka hati untuk Lili!" sungut Lili seraya mencurutkan bibirnya kedepan.


Daffa menghelai nafasnya dengan panjang kemudian menatap Lili dengan tatapan yang sangat intens. "Lili, dari awal gue udah bilang jangan terlalu berharap sama gue! Gue itu gak bakalan pernah jatuh cinta sama lo! Jadi jangan salahkan diri gue kalau perjuangan lo itu sia-sia!"


"Tapi kenapa sih kak! Apa kurangnya Lili? Lili ini kan cantik? Juga pintar masak! Terus Lili kurang apa lagi coba?!"


"Kurangnya lo bukan tipe gue!" jawab Daffa seraya mengobati lutut Lili dengan betadine.


"Emang tipe kakak yang seperti apa sih? Lili bisa kok jadi tipe yang kakak mau!" ujar Lili dengan sangat antusias.


"Tipe gue itu seperti ..."


Daffa mulai berfikir tentang tipe wanita idamannya. Namun ... entah mengapa yang muncul di dalam pikirannya justru adalah Lili.


'**** ... apa yang gue pikirin!' umpat Daffa dalam hatinya.


"Tipenya apa kakak! Kok lama banget sih jawabnya!"


"Tipe gue seperti ..."


"Ayo jawab kakak, kakak kenapa diem aja!" sungut Lili.


"Brisik! Lo gak perlu tau tipe idaman gue apa, yg jelas tipe gue itu bukan lo, jadi jangan berharap!" seru Daffa seraya meletakkan kotak P3K diatas meja nakas.


Mendengar ucapan Daffa membuat Lili langsung cemberut. "Ish ... padahal Lili cuma mau tau doang, apa salahnya ..." lirihnya.


"Ustt diem! Sana tidur!" ujar Daffa seraya berdiri dari duduknya.


"Kakak mau kemana?" tanya Lili menatap Daffa dengan keheranan.


"Ke balkon! Mau ngerokok dulu! Lo diam disini jangan ikutin gue!" Daffa mengambil rokok yang ia simpannya didalam laci nakas. Kemudian ia pergi ke balkon tanpa memperdulikan Lili.


"Tapi Lili pengen ikut ..." gumamnya seraya menatap kepergian Daffa ke balkon.


Daffa yang sudah tiba di balkon kamarnya itu pun duduk di sofa ke sayangannya. Ia pun mulai menyalakan rokoknya dan menyesapnya dengan santai.


"Kakak!" Lili tiba-tiba muncul dan memeluk leher Daffa dari belakang membuat Daffa langsung terkejut setengah mati.


"Lili!" teriak Daffa marah karena Lili tiba-tiba mengejutkannya.

__ADS_1


"Lili boleh minta sesuatu kak?" tanya Lili seraya duduk disamping Daffa.


Daffa menatap Lili dengan tatapan penuh curiga. "Minta apa?"


"Lili penasaran sama yang rasanya rokok? Boleh nggak Lili minta rokok kakak?" tanya Lili seraya menatap Daffa yang sedang merokok dengan santai.


Daffa yang mendengarnya langsung marah karena Lili meminta rokok padanya.


Pletak!


"Aduh ... kakak sakit!" pekik Lili seraya mengelus keningnya karena Daffa menyentil nya dengan sangat kuat.


"Lo itu cewe Lili, lo mana bisa merokok!"


"Ya maka dari itu, supaya Lili bisa merokok Lili harus belajar dulu kan? Lili mau di ajarin kakak! Yah boleh yah!" ucap Lili dengan antusias membuat Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


"Coba bilang sekali lagi lo mau belajar apa?" tanya Daffa seraya menatap Lili dengan sangat tajam.


"Lili mau belajar merokok," jawab Lili dengan sangat polos.


Cup!


Lili langsung terdiam kaku di tempatnya ketika Daffa mencuri ciuman dibi**bir milik Lili. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria berusia 18 tahun itu sehingga berani melakukan hal nakal seperti itu.


"Emhh ... kak ...." Lili berusaha memberontak namun pergerakannya di kunci oleh Daffa membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


Daffa semakin leluasa mencicipi bi**bir plum milik Lili itu, membuat sesuatu mulai bangkit dari dalam dirinya.


Perlahan namun pasti ciu**man tersebut semakin lama semakin menuntut. Membuat Lili mulai kehabisan nafasnya.


"Emhh!" Lili memukul-mukul pundak Daffa membuat Daffa paham kemudian segera melepaskan tautannya dari mulut Lili.


Daffa menatap wajah Lili dengan tatapan berkabut seraya mengelus sudut bi**bir Lili yang terdapat bekas salivanya. "Sekarang lo gak penasaran lagi kan sama yang rasanya rokok? Kalau lo masih penasaran tinggal icipin aja bi**bir gue!"


Lili menarik nafasnya banyak-banyak, Daffa terlalu agresif disaat menci**umnya membuatnya hampir kehabisan nafas.


"Kakak mau bu**nuh Lili yah!" sungut Lili seraya memukul lengan pria muda yang sedang duduk di sampingnya.


"Lili hampir kehabisan nafas tau, hiks ... bagaimana kalau tadi Lili ma**ti! Hah! Kakak mau tanggung jawab?!" gerutu Lili seraya meneteskan air mata.


Daffa yang melihat Lili menangis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. "Ciu**man aja gak bakal bikin mati, Lili! Jangan terlalu lebay!"


"Terserah ... sana lo masuk! Ngapain lo ngikut gue kesini?!" ucap Daffa kembali menyesap rokoknya seraya mendengarkan kepalanya dikursi.


"Lili mau disini bareng, kakak!" ucap Lili seraya duduk di pangkuan Daffa dan memeluk Daffa dengan sangat erat.


Daffa langsung mendapat perlakuan seperti itu dari Lili begitu sangat terkejut. Ia tak menyangka Lili benar-benar berani duduk diatas pangkuannya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Lili! Turun!" perintah Daffa berusaha melepaskan pelukannya Lili dari pinggangnya.


Lili menggeleng-gelengkan. "Lili mau disini!" sungut Lili sangat bersikeras.


"Lili, gue peringatin sekali lagi turun!" perintah Daffa membuat Lili kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Emangnya kenapa sih! Lili kan cuma mau temenin kakak disini? Lili janji gak akan rewel kakak!"


"Dengan lo duduk di pangkuan gue itu bisa memancing singa yang sedang tertidur Lili! Turun kata gue!"


"Hah? Singa?" tanya Lili seraya menatap Daffa dengan keheranan.


Daffa mengangguk. "Singanya lagi tidur, sebelum dia bangun dan nyerang lo lebih baik lo cepat-cepat turun dari sini!"


"Singanya mana? Lili mau lihat, Lili mau lihat!" ucap Lili dengan antusias membuat Daffa menepuk jidatnya sendiri.


Daffa pikir Lili akan takut dengan ancamannya itu, akan tetapi Lili justru ingin melihat singanya yang sedang tertidur didalam sarang.


"Singanya bahaya Lili!" ucap Daffa seraya menahan gai**rah yang mulai bangkit dari tubuhnya ketika Lili tak ada henti-hentinya bergerak diatas singa keperkasaannya.


"Hiss ... gak bahaya! Kan ada kakak yang kuat, kakak pasti bisa menyelamatkan Lili dari singa itu kan kan kan?" tanya Lili seraya terus bergerak diatas pangkuan Daffa membuat Daffa mulai merasakan otaknya mendidih.


"Uhh ... Lili ..." Daffa sontak memegang bo**Kong Lili membuat Lili terdiam.


"Kakak kenapa? Kok mukanya memerah? Kakak sakit yah?" tanya Lili menatap wajah Daffa yang memerah.


"Ini bukan sakit, Lili, ini ... akh ..."


Daffa yang sudah tidak tahan itu langsung menurunkan Lili dari atas pangkuannya. Daffa menyadari kalau singa keperkasaannya sudah terbangun karena ulah Lili.

__ADS_1


Wajah Daffa semakin memerah, ia tak dapat lagi menahan rasa panas yang menyelimuti dirinya. Sementara Lili langsung merengek ketika dirinya di turunkan dari atas pangkuan Daffa.


"Kakak mau kemana?! Kakak tungguin Lili!" teriak Lili ketika Daffa langsung berlari kedalam kamar. Lili mengikutinya kedalam kamar namun langkahnya langsung terhenti melihat Daffa masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.


"Issh ... kakak gak bilang-bilang kalau mau pipis!" sungut Lili dengan mencurutkan bibirnya seraya duduk ditepi kasur.


Sementara didalam kamar mandi.


Daffa langsung menurunkan celana dan bo**xernya karena merasa singa keperkasaannya mulai sesak didalam sarangnya.


"Shitt ...." Daffa mengumpat dengan kesal karena melihat singa keperkasaannya yang sudah menegak dengan keras bagai tugu monas.


Daffa mengacak-acak rambutnya frustasi, ia tak menyangka ternyata gai***rah didalam dirinya bisa bangkit dengan mudahnya hanya karena Lili duduk diatas pangkuannya.


Dan dengan terpaksa Daffa harus melakukan olahraga lima jari demi menidurkan singa yang sudah terlanjur terbangun.


Sementara Lili, ia sejak tadi menunggu Daffa dari luar namun belum ada tanda-tanda Daffa akan keluar dari kamar mandi tersebut.


Disaat Lili sangat bosan, tiba-tiba Mommy Natusha masuk kedalam kamar Daffa.


"Lili? Dimana Daffa? Kok kamu sendiri disini?" tanya Mommy Natusha pada Lili yang sedang duduk diatas tempat tidur.


"Daffa didalam kamar mandi, Mom, pipisnya lama banget," jawab Lili dengan polos.


"Ohh, lagi dikamar mandi?" Mommy Natusha mengangguk. "Lili kamu menginap malam ini yah disini? Nanti Mommy ngomong sama mama kamu yah."


"Iya, mom," Lili mengangguk antusias, karena memang dirinya sudah sangat terbiasa menginap di kediaman Arbeto.


"Nah gitu dong, oh iya ini mommy bawakan makanan untuk kamu dan Daffa, jangan lupa di habisin! Mommy masak spesial buat kalian loh ...." ucap mommy Natusha seraya meletakkan dua piring makanan diatas meja nakas.


"Iya, mom."


"Mommy pergi dulu, ingat ... jangan lupa di habiskan!" seru mommy Natusha sebelum dirinya pergi disana tak lupa menutup pintu rapat-rapat.


Lili pun kembali menunggu Daffa yang masih berada didalam kamar mandi.


Dua jam kemudian.


Daffa pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat legah dan segar karena sudah berhasil menidurkan singa keperkasaannya yang sempat terbangun.


Mata tajam Daffa langsung menatap pada Lili yang sedang duduk dengan wajah murung. Di dekatinya gadis yang berusia 16 tahun itu dengan langkah yang lebar.


"Kakak lama! Pipis kok sampai dua jam sih! Capek tau nungguinnya!" gerutu Lili seraya menyilangkan tangannya didepan dada.


"Gue gak pipis! Ada urusan yang penting makanya gue lama!" ucap Daffa seraya duduk disisi Lili.


"Ini apa?" tanya Daffa seraya menatap kearah nakas yang diatasnya ada dua piring makanan.


"Tadi mommy datang bawa ini, katanya disuruh habisin," jawab Lili.


"Ohhh ..." Daffa mengangguk paham. "Lili, malam ini lo di antar pulang sama Daffi yah? Gue mau nongkrong bareng teman-teman gue jadi gak sempat buat nganterin lo pulang," ucap Daffa membuat Lili mencurutkan bibirnya kembali.


"Ihh kakak, Lili kan nginap disini!" ucap Lili membuat Daffa terkejut.


"Menginap?!"


"Iya, mommy sendiri yang bilang!" jawab Lili.


"Lo itu udah empat kali dalam seminggu nginap disini! Pokoknya malam ini lo gak boleh nginap! Harus pulang!" seru Daffa seraya berdiri dari duduknya.


"Isshh ... tapi mommy sendiri loh yang ngomong!"


"Nanti gue bicara sama mommy!" Daffa pun segera berjalan kearah pintu dan hendak membuka pintu tersebut.


Namun ...


Daffa tiba-tiba terdiam mengetahui pintu kamarnya di kunci dari luar. Daffa berusaha membuka pintu tersebut namun tak bisa membuat Daffa mulai kesal.


"Pasti kerjaan mommy nih! Hais mommy selalu saja membuatku naik darah!" umpat Daffa.


Daffa tahu kalau pintu kamarnya di kunci dari luar oleh mommy Natusha. Alasannya tentu saja karena mommy Natusha ingin Daffa dan Lili semakin akrab.


Di ruang tamu.


"Xixixi ... pasti lagi main ehem-ehem nih didalam kamar," gumam mommy Natusha namun masih bisa terdengar oleh daddy Daniel yang sedang duduk disampingnya.


"Ehem-ehem apa, sayang? Kamu ngerjain Daffa dan Lili lagi?" tanya daddy Daniel menatap mommy Natusha dengan sangat intens.

__ADS_1


"Kepo!" sungut mommy Natusha membuat daddy Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


"Mereka masih anak-anak, sayang! Kamu itu ada-ada saja!"


__ADS_2