Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos

Cinta Ugal Ugalan Gadis Polos
[Menguping]


__ADS_3

Daffa dan Lili pun berangkat kesekolah bersama. Setibanya disekolah mereka langsung disambut oleh teriakan-teriakan cinta dari fans Daffa.


Lili yang melihat banyak wanita-wanita yang menyukai Daffa merasa begitu tidak senang, ia cemburu dan juga kesal pria yang ia idam-idamkan banyak yang suka.


Sementara Daffa hanya bersikap acuh tak acuh menghadapi sikap para wanita-wanita yang terlihat seperti orang gila.


"Cie berangkat bareng Lili lagi nih, bro?" goda Dipta tiba-tiba datang bersama Kevin dan Elang juga.


"Berisik!" sungut Daffa seraya melepaskan helem yang terpasang dikepala Lili.


"Katanya gak suka tapi kok berangkat bareng? Gak suka apa gengsi doang yang di pentingin?" cibir Kevin membuat Daffa mulai geram.


"Gengsi mulu di pentingin, kepepet orang lain nangis ..." ucap Elang membuat Daffa semakin geram.


"Lo pada bisa diam gak!" bentak Daffa membuat ketiga pria itu langsung terdiam.


"Ish ... kakak kenapa sih! Dari tadi suka-suka teriak-teriak! Habis daddy yang diteriakin sekarang teman-temannya lagi!" sungut Lili membuat Daffa terdiam.


"Hah? Apa lagi nih? Lo habis berantem lagi sama bokap lo, Daff?" tanya Dipta menatap Daffa dengan sangat intens.


"Nanti gue ceritain!" ucap Daffa dengan wajah yang malas.


"Dan lo! Ngapain lo masih disini! Sana lo masuk ke kelas lo!" ujar Daffa pada Lili.


"Iya-iya! Ini Lili lagi mau masuk kelas kok! Marah-marah terus, nanti cepat tua!" sungut Lili membuat mata Daffa langsung melotot.


"Lili!" teriak Daffa membuat Lili langsung berlari terbirit-birit masuk kedalam kelasnya.


Sementara Dipta, Kevin dan juga Elang langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gemas Lili.


"Nah, sekarang lo jelasin, masalah apa lagi lo sama bokap lo?" tanya Dipta.


Daffa seketika menghelai nafasnya dengan panjang. "Seperti biasa, bokap gue maksa gue buat urusin perusahaannya," jawabnya.


"Terus lo nolak lagi?" tebak Dipta.


"Lo tau gue kan?" tanya Daffa seraya menatap Dipta dengan sangat intens menbuat Dipta langsung mengangguk paham.


"Kalau gue jadi lo, udah dari dulu gue pegang tuh perusahaan, kapang lagi umur segini punya perusahaan terkaya nomor satu di dunia?" seloroh Kevin.


"Kali ini gue setuju sama lo sih! Jarang-jarang anak muda seperti kita jadi pemimpin perusahaan," ucap Elang membuat Daffa yang mendengarnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


"Yang ada perusahaan gue bangkrut dipegang dua curut kayak kalian!" seru Daffa membuat Dipta langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara Kevin dan Elang langsung terdiam karena merasa tertampar.


....


Jam istirahat.


"Lili, lo mau kemana sih? Kok narik-narik gue?" gerutu Regina ketika tangannya ditarik oleh Lili kesuatu tempat.


"Ke kantin!" jawabnya seraya terus menarik tangan Regina.


"Loh? Tumben ke kantin? Biasanya bawa bekal?"


"Kali ini gak bawa, soalnya Lili habis menginap dirumah kakak Daffa," jawabnya lagi.


"Menginap lagi? Wah ... tanda-tanda lampu hijau nih?" goda Regina.


Lili pun langsung tertawa kecil mendengar ucapan Regina. "Xixixi ... kan emang dari dulu lampu hijaunya."

__ADS_1


Sesampainya di kantin, Lili langsung membeli susu dan roti. Regina sempat bertanya mengapa Lili membeli susu dan roti yang sangat banyak dan ternyata jawaban Lili tak terduga ... susu dan roti tersebut ternyata untuk Daffa.


Regina sempat memberi nasehat pada Lili untuk tidak terlalu berharap pada Daffa, namun gadis itu tidak pernah mau mendengarkannya sama sekali.


Dan setelah membeli susu dan roti, Lili kembali menarik tangan Regina untuk pergi ke rooftop tempat dimana Daffa dan teman-temannya berkumpul.


Rooftop.


"Kakak!" Lili datang dengan membawakan sekantong makanan untuk Daffa.


Daffa yang sedang asik bercerita bersama teman-temannya langsung terdiam ketika menyadari biang masalahnya sudah datang.


"Ini untuk, kakak!" Lili memberikan kantong plastik itu pada Daffa.


"Ck ..." Daffa berdecak dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal? Daffa sudah berkali-kali mengingatkan Lili untuk tidak membawakannya makanan karena makanan tersebut tidak akan ia makan, akan tetapi Lili tidak pernah mau mendengarkannya.


"Kakak kenapa diam aja? Ayo ambil!" ujar Lili masih memegang kantong plastik tersebut.


"Ini yang terakhir Lili, besok-besok gue gak akan mau terima makanan dari lo lagi!" ucap Daffa seraya mengambil kantong plastik itu dari tangan Lili.


"Xixixi ... kalau gak mau di terima Lili nangis!" jawab Lili.


"Sudah pergi lo sana! Ganggu gue aja!" ucap Daffa.


"Iya kakak, ini Lili juga udah mau pergi kok! Jangan lupa di habiskan yah! Ayo Regina!" ucap Lili seraya menarik Regina pergi dari sana.


Ke empat pria itu hanya bisa menatap kepergian Lili dan Regina dari sana.


"Katanya gak suka Lili tapi kok lu terima semua pemberian darinya?" tanya Elang.


"Benar-benar yah lo, Daff ... kalau emang kasihan jangan ngasi harapan lebih juga ke Lili!" sungut Kevin.


"Siapa yang ngasih harapan? Dia aja yang berinisiatif sendiri buat dekat-dekat gue? Padahal dia tahu betul gue gak akan pernah jatuh cinta sama modelan kayak dia!"


"Terus modelan gimana yang lo suka?" tanya Dipta angkat suara.


"Yang jelas tipe gue bukan gadis cerewet dan manja seperti dia! Gak akan mungkin gadis seperti bisa nempatin hati gue!"


Deg ...


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Lili mendengarnya dibalik dinding.


Yeah ... Lili belum pergi dari sana karena Regina menahannya. Regina sengaja menahan Lili agar tidak pergi darisana kemudian mereka menguping pembicaraan ke empat laki-laki tersebut.


"Gue bilang juga apa? Daffa gak akan mau buka hati sama lo, lo dengar sendirikan dia ngomong apaan tadi?"


Tanpa disadari, buliran air mata keluar dari mata Lili, ia tak bisa menahan tangisannya ketika ia mendengar sendiri apa yang dikatakan Daffa pada teman-temannya.


Lili yang selama ini berusaha untuk mendapatkan cinta dari Daffa kini sudah mulai pupus harapannya. Semangat Lili hilang seketika, ia yang tadinya tersenyum penuh kebahagiaan kini berganti dengan kesedihan dan tangisan.


Sementara Regina yang melihat sahabatnya itu menangis memutuskan untuk membawa Lili kembali ke kelas. Ia tak ingin mereka berdua ketahuan oleh Daffa kalau mereka berdua sedang menguping pembicaraannya.


Sesampainya dikelas. Lili tak berbicara apa-apa, ia lebih banyak diam dari yang sebelumnya.


Perasaan menyesal mulai menghantui pikiran Regina, ia menyesal telah mengajak Lili untuk menguping pembicaraan Daffa dan teman-temannya. Tapi jika itu tak ia lakukan maka Lili masih akan menjadi gadis bodoh yang mengejar cinta Daffa yang tidak mungkin ia dapatkan.


'Sabar, Lili ..." Regina mengelus punggung Lili melihat Lili yang menangis sesenggukan.

__ADS_1


"Hiks ... nggak mungkin, pasti Lili salah dengarkan, Regina? Gak mungkin kakak Daffa begitu," isak Lili semakin menangis membuat Regina menghelai nafasnya dalam-dalam.


"Lili, sadarlah! Lo gak akan bisa mendapatkan hati Daffa! Orang yang kalau hatinya sudah mati seperti Daffa itu gak akan bisa buat jatuh cinta!" ujar Regina.


"Tapi ..." Lili semakin menangis. "Gak! Ini gak mungkin, pasti Lili bisa dapatin hati kak Daffa! Pasti!"


"Lili ..." Regina mulai kesal dengan Lili yang masih ingin berusaha mendapatkan hati Daffa yang jelas-jelas Daffa tak suka padanya.


"Lili akan berusaha? Kata mommy usaha gak akan mengecewakan hasil? Lili akan berusaha lebih baik lagi agar kakak Daffa bisa menjadi milik Lili sepenuhnya!"


"Lili!" teriak Regina marah besar.


Ia tak menyangka sahabatnya itu begitu mencintai Daffa sehingga dirinya dibutakan aka cintanya itu.


"Hiks ... Lili udah terlanjur suka sama kak Daffa ..."


"Tapi dia gak suka lo balik, Lili!" sungut Regina. "Gue gini karna gue sayang sama lo, Lili, gue gak mau Daffa ngelihat lo seperti orang bodoh yang mengejar cintanya secara ugal-ugalan!"


"Tapi ..."


"Sudahlah Lili! Lo harus sadar, lo gak akan bisa berhasil mendapatkan cinta dia!"


...


Perkataan Regina membuat Lili sedikit sadar, ia mulai tersadar bahwa perjuangan selama ini tidak membuahkan hasil. Ia terlalu dibutakan akan cinta sehingga membuatnya tak bisa melihat bahwa Daffa sebenarnya tak pernah membalas cintanya sama sekali.


Bahkan setiap yang Lili berikan kepada Daffa selalu saja ia buang atau diberikan kepada orang lain. Sakit? Itulah yang Lili rasakan ketika mendengar obrolan Daffa bersama teman-temannya. Bagaimana ditusuk ribuan belati yang sangat tajam.


Pulang sekolah.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Semua siswa dan siswi berbondong-bondong keluar dari kelasnya untuk pulang kerumah.


Beda hal dengan Lili, walau dirinya juga ikut keluar dari ruangannya akan tetapi gadis berusia 16 tahun itu terlihat tidak semangat dan lesu sekali.


Lili berjalan kearah gerbang dengan tatapan yang kosong. Membuat Daffa yang sedang melihatnya dari jauh, kebingungan.


Bagaimana tidak bingung? Biasanya kalau waktu pulang sekolah anak itu akan segera menghampirinya kemudian meminta dan merengek ingin di antar pulang, namun kali ini Lili tidak menghampirinya sama sekali dan justru pergi begitu saja.


Dengan penasaran Daffa segera menghampiri Lili, Daffa pikir Lili lupa merengek kepadanya untuk mengantarnya pulang.


"Lili!" panggil Daffa namun Lili tidak menoleh sama sekali, Lili hanya fokus berjalan kearah gerbang saja.


Dipercepatnya langkah Daffa mengejar Lili. Dan ...


"Lili!" teriak Daffa seraya menepuk pundak Lili membuat Lili langsung menoleh dan mendongak menatap pada wajah Daffa.


"Lili, lo mau kemana?" tanya Daffa.


"Pulang," jawab Lili dengan singkat.


"Pulang?" pekik Daffa.


"Kenapa? Kakak kenapa gak pulang? Kan biasanya kakak ngomel-ngomel pengen cepat pulang. Sana pulang gih ..."


"Lili?" Daffa keheranan ketika mendengar ucapan Lili itu. Daffa pikir ketika berhadapan dengan Lili, anak itu akan meminta untuk diantar pulang, tapi ternyata ...


"Kalau kakak belum mau pulang, Lili duluan yah kak, Lili mau cepat-cepat pulang, capek seoalnta ..." ucap Lili.


Dan tanpa tersenyum anak itu kembali berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Daffa yang terdiam membeku di tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2