
Pagi hari pun tiba. Dengan perasaan yang tidak sabar Daffa segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Lili, untuk apa lagi kalau tidak untuk menjemput Lili dan berangkat ke sekolah bersama?
Daffa melangkahkan kakinya turun ketangga dengan bersiul di pagi hari, ia tampak begitu sangat bahagia pagi ini, karena pagi ini adalah hari yang sangat penting baginya, dimana ia akan mengutarakan perasaannya kepada Lili bahwa ia sangat mencintai gadis itu.
"Daffa, sini sarapan dulu!" ucap mommy Natusha melihat Daffa yang hendak melangkah melewati meja makan.
"Tidak ada waktu, mom! Aku harus segera kerumah Lili, sarapannya nanti di sekolah saja!" seru Daffa terlihat buru-buru, ia tak sabar ingin bertemu dengan Lili, gadis yang selalu ia pikirkan semalaman ini.
"Lili? Sayang, kamu gak tau kalau Lili—" belum sempat mommy Natusha menyelesaikan perkataannya Daffa justru pergi begitu saja tanpa memperdulikan ucapan ibunya sama sekali.
"Apa dia belum tau?" gumam mommy Natusha melihat kepergian putra pertamanya itu.
...
Di rumah Lili.
Daffa yang sudah sampai dengan motor sport itu segera turun, kemudian mengetuk pintu dengan senyum sumringah di wajahnya.
Tok ... tok ... tok ...
Daffa mengetuk pintu dan berharap Lili akan keluar dari sana kemudian ia akan menyatakan perasaannya kepada gadis yang sangat ia cintai itu.
Akan tetapi ...
Disaat pintu terbuka, yang di lihatnya adalah mommy Lisa. Tidak biasanya mommy Lisa yang membuka pintu ... pikir Daffa.
"Eh nak Daffa? Cari siapa?" tanya mommy Lisa.
"Mom, Lili ada?" tanya Daffa seraya celingak-celinguk mencari keberadaan Lili.
"Lili?" mommy Lisa mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Daffa. "Lili selama ini gak cerita sama kamu, Daff?" tanya mommy Lisa membuat Daffa langsung mengerutkan keningnya.
"Menceritakan apa, mom?" tanya Daffa dengan masih mengerutkan keningnya.
"Hari ini Lili akan berangkat ke Amerika bareng neneknya. Kamu gak tau kalau Lili akan ke Amerika?"
Jdarrrr!!
Terasa di sambar petir disiang bolong, Daffa seketika terdiam membisu di tempatnya.
"A--apa?! Lili akan ke Amerika?!" pekik Daffa.
__ADS_1
"Iya, Nak. Lili gak pernah cerita sama kamu yah? Lili baru aja berangkat bareng neneknya ke bandara!" ujar mommy Lisa membuat tubuh Daffa langsung lemas.
Bagaimana tidak lemas? Hari yang ia tunggu-tunggu untuk mengutarakan isi hatinya justru berakhir kacau seperti ini.
"Lili gak pernah cerita, mom! Dia gak pernah cerita kalau dia akan ke Amerika! Aku harus mengejarnya, ada sesuatu yang penting yang harus aku katakan padanya!"
Dengan segera Daffa berlari kembali kearah motornya, ia terkejut sekaligus marah Lili tak pernah cerita padanya kalau ia akan pergi ke Amerika.
Dengan secepat kilat Daffa melajukan motornya itu menuju bandara. Sementara mommy Lisa yang melihat Daffa terlihat panik hanya bisa diam seraya mengerutkan keningnya.
Didalam perjalanan.
"Lili kenapa kau tidak pernah cerita padaku. Kenapa kau ingin meninggalkanku disaat aku mulai sadar kalau aku sangat mencintaimu. Kau tidak boleh pergi dariku Lili, kau tidak boleh pergi karena kau adalah milikku."
Daffa semakin mempercepat lajuan motornya membela jalan raya yang begitu padat. Ia tak ingin ketinggalan pesawat Lili yang akan segera lepas landas.
...
Bandara.
Sebisa mungkin Daffa mencari-cari keberadaan Lili, namun ia tak kunjung menemukan gadis yang sangat ia cintai itu.
Daffa mulai frustasi, ia segera berlari kearah administrasi bandara dan menanyakan pesawat yang di tumpangi Lili.
"Maaf pesawat sudah lepas landas sejak tadi, tuan," ucap staff membuat Daffa seketika syok berat.
Disaat Daffa mulai frustasi karena Lili pergi meninggalkannya, ia langsung teringat pada daddy Daniel. Daffa yakin daddy-nya itu pasti bisa membantunya untuk menyusul Lili ke Amerika.
Dengan segera Daffa pergi dari bandara itu dan menuju keperusahaan Manyu dimana tempat daddy-nya bekerja.
Di perusahaan Manyu. Ruangan pribadi daddy Daniel.
"Dad, siapkan pesawat pribadi sekarang juga!" teriak Daffa dengan panik membuat daddy Daniel yang melihatnya mengerutkan keningnya.
"Untuk apa?" tanya daddy Daniel menatap intens putranya itu.
"Aku ingin menyusul Lili, dad!" jawab Daffa.
"Emangnya Lili kemana?" tanyanya lagi.
"Ke Amerika! Cepat siapkan pesawat pribadi, dad! Perintahkan paman Leo untuk menyiapkan pesawat pribadi kita!"
__ADS_1
"Jangan sembarangan kamu, Daffa! Hanya karena Lili pergi kamu ingin memakai pesawat pribadi itu untuk menyusulnya?! Kamu tahu daddy membeli pesawat itu untuk kondisi yang sangat darurat bukan untuk main-main!"
"Tapi ini darurat, dad! Ini bukan main-main! Lili pergi meninggalkanku! Lili pergi selamanya dan aku harus menyusulnya!"
"Untuk apa kamu menyusulnya? Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?! Kamu selalu mengeluh jika Lili menganggu kehidupanmu, dan sekarang ketika Lili pergi kamu malah ingin mengejarnya? Terbuat dari apa otakmu itu, Daffa!"
"Aku menyesal, dad! Aku sungguh menyesal, aku sadar kalau kehadiran Lili dalam hidupku jauh lebih berharga dari segalanya. Aku mohon izinkan aku memakai pesawat pribadi itu, dad! Aku tidak ingin kehilangan Lili," Daffa mulai menangis, ia tak mampu lagi membendung air matanya. Baru kali ini Daffa merasa sesakit ini di tinggal seseorang.
"Cukup, Daffa! Lili pergi karena keinginannya sendiri! Kenapa kau justru ingin menghalanginya?! Emangnya kau siapa?! Kau siapa daddy tanya?! Dari dulu hingga sekarang kerjaanmu hanya menyakiti hati Lili! Itulah mengapa Lili meninggalkanmu karena ia sudah lelah kau terus menyakitinya!"
Perkataan daddy Daniel membuat Daffa terdiam seribu bahasa. Daffa kini menyadari kebodohannya selama ini, andai saja dari awal ia mengetahui bahwa ia juga mencintai Lili mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Daffa menangis terduduk di ruangan daddy Daniel. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang sudah terlambat menyadari semuanya. Kini sudah tidak ada cara lain lagi untuk menyusul Lili karena daddy Daniel tidak mengizinkannya.
"Aku harus apa sekarang? Lili adalah cinta pertamaku ... dia cinta pertamaku ... kenapa cinta pertamaku tidak berjalan semulus seperti ini ..."
Daffa kini sudah menyesali semuanya. Andai saja waktu itu ia lebih cepat sadar bahwa ia begitu mencintai Lili mungkin Lili tidak akan pernah berniat untuk meninggalkannya.
Daffa kini sadar atas kebodohannya, andai saja waktu itu ia tidak lebih mementingkan gengsi mungkin saat ini Lili sudah berada di pelukannya dan memulai hidup baru sebagai sepasang kekasih yang sangat bahagia.
Dan setelah kepergian Lili, kehidupan Daffa mulai berubah, kini ia sudah jarang berbicara dan tak pernah tersenyum lagi, ia lebih banyak diam seraya melamun dengan tatapan kosong. Entah apa yang dipikirkan pria berusia 18 tahun itu.
Dipta, Kevin dan Elang hanya bisa terdiam melihat sifat Daffa yang semakin lama semakin berubah, Daffa kini menjadi pria yang dingin dan semakin arogan.
Walau begitu, mereka mengerti akan kesedihan Daffa yang di tinggalkan Lili.
...
9 tahun kemudian.
Daffa Arbeto, pria lajang yang berusia 27 tahun. Seorang pemimpin perusahaan dari Manyu Company yang di dirikan di Jakarta Indonesia.
Pria yang akrab disapa Daffa itu sudah masuk ke jajaran pebisnis terhebat di seluruh dunia versi Forbes. Bahkan wajahnya sering terpampang dengan jelas di berbagai majalah bisnis di dunia.
Namun sayang, kesuksesan dalam karirnya tidak sejalan dengan kehidupan percintaannya. Di umurnya yang sudah 27 tahun, Daffa masih melajang hingga saja ini.
Banyak yang mengira bahwa Daffa adalah pria yang tidak normal, akan tetapi Daffa memiliki alasan mengapa ia belum mempunyai kekasih hingga saat ini.
Daffa memiliki gadis di masa lalunya, ketika dirinya masih menginjak usia 18 tahun, ia pernah dekat dengan seorang gadis yang sangat cantik. Namun tiba-tiba saja gadis itu pergi meninggalkannya membuat Daffa sakit hati dan depresi berat pada saat itu.
Setelah kejadian itu, Daffa tidak ingin mengenal cinta lagi, baginya cinta adalah sampah yang membuatnya sakit hati hingga saat ini. Saat ini? Yeah ... tentu saja, rasa sakit pada saat gadis itu meninggalkannya masih membekas di hati Daffa hingga saat ini.
__ADS_1
Itu lah mengapa Daffa kini memutuskan menjadi pria yang workaholic. [Pria gila kerja] Karena perkejaan lah yang mampu membuatnya lupa akan semua masalahnya di masa lalu.
Daffa Arbeto.