
Kini Lili dan Regina sedang berada ditaman sekolah. Mereka duduk di bangku yang sudah disediakan disana kemudian mereka pun asik berbincang-bincang bersama.
"Oh ... jadi lo yang sering dekat-dekat sama kak Daffa iya?!"
Tiba-tiba tiga senior wanita datang menghampiri Lili dan Regina. Mereka terlihat marah pada Lili karena Lili adalah wanita satu-satunya yang bisa dekat dengan Daffa.
"Maaf, ada apa yah kak?" tanya Ragina sambil berdiri dari duduknya menyadari situasi mulai tidak beres.
"Lo diem deh! Gak usah ikut campur, ini tuh urusan gue sama nih orang!" sungut senior itu seraya menunjuk wajah Lili.
"Dan lo! Lo punya hubungan apa sama kak Daffa ah?! Kenapa setiap hari lo selalu berangkat bareng dia ke sekolah!" teriak senior tersebut membuat Lili sedikit takut karena senior itu berbicara dengan suara yang sangat tinggi.
Ini pertama kalinya ada seseorang yang meninggikan suaranya kepada Lili. Selama ini ia tak pernah mendapatkan bentakan dari kedua orangtuanya.
Regina hanya bisa diam melihat sahabatnya di teriaki oleh senior itu karena ia juga merasa takut dengan ketiga senior itu.
"Lili hanya—" belum sempat Lili menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Lili dibuat menjerit dengan sangat kuat ketika rambutnya yang berkepang dua itu ditarik ke belakang.
"Akh ... sakit kak! Lepasin! Sakit rambut Lili kak!" pekik Lili berusaha melepaskan tangan senior dari rambutnya.
"Berani lo melawan gue! Lo itu murid baru disini! Gak usah benyak gaya buat dapatin hati kak Daffa! Kak Daffa itu milik gue!" teriak senior itu tepat didepan wajah Lili.
"Hiks ... sakit rambut Lili kak!" Lili mulai menangis membuat Regina mau tidak mau harus ikut melawan juga.
"Kak bisa gak, gak usah kasar sama adek kelas sendiri?! Lagi pula apa salahnya kalau Lili dekat dengan kak Daffa! Kak Daffa aja gak risih tuh di deketin Lili! Dan kalian yang gak ada apa-apanya di banding Lili kok marah?!" sungut Regina.
Plak!
Regina yang berniat membela Lili itu justru mendapat tamparan keras dari para kakak senior tersebut.
Regina juga ikut menangis karena tamparan mereka cukup kuat membuat pipinya memerah.
Ketiga senior itu pun mulai mengeroyok Lili dan Regina membuat satu sekolah langsung hebo melihatnya.
Para siswi-siswi wanita bersorak riya mendukung apa yang dilakukan oleh ketiga senior itu. Namun ada juga yang ingin membantu karena mereka kasihan melihat Lili dan Regina di keroyok habis-habisan tapi mereka juga takut kepada senior tersebut.
Seorang siswa laki-laki yang melihat Lili di keroyok memutuskan untuk segera berlari keatas rooftop, ia akan memberi tahukan kepada Daffa tentang apa yang terjadi pada Lili saat ini.
"Kak Daffa! Kak Daffa!" laki-laki culun itu menghampiri kak Daffa yang sedang duduk bersama teman-temannya.
"Ngapain lo culun?" tanya Elang menatap si culun dengan keheranan.
Bagaimana tidak, nafas si culun terlihat ngos-ngosan karena sehabis berlari seperti dikejar setan.
"Lili, kak! Lili!" ucap si culun itu dengan panik.
__ADS_1
Melihat raut wajah si culun yang panik membuat Daffa langsung berdiri dari duduknya.
"Lili kenapa?!" tanya Daffa.
"Lili ... Lili dalam bahaya!" ucap si culun itu membuat ke empat pria tampan itu terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.
"Lo itu ngomong apa?! Ngomong yang jelas! Lili kenapa!" teriak Daffa mulai cemas.
"Lili di keroyok tiga senior kak!" jawab si culun itu.
"APA!!!!"
Mendengar kabar kalau Lili sedang di keroyok oleh sang senior, Daffa segera berlari turun dari rooftop sekolahnya di susul oleh teman-temannya dari belakang.
*****
Di taman sekolah.
Daffa, Dipta, Kevin dan Elang sudah tiba disana, mereka mendengar semuanya bersorak mendukung senior untuk menghajar Lili habis-habisan.
Daffa langsung mengepal tangannya dengan sangat kuat, rahangnya mengeras dan wajahnya ikut memerah karena sangat marah.
Daffa tidak terima jika Lili di perlukan kasar seperti itu, walau Daffa tidak menyukai Lili tapi entah mengapa ia begitu marah mendengar Lili mendapatkan perlakukan kasar dari seniornya.
Dengan langkah yang lebar, Daffa menerobos rombongan orang yang berkumpul untuk menonton aksi para senior dan Lili.
"Hiks ... kakak," dengan berderai air mata Lili menatap pada Daffa.
Daffa semakin tersulut emosinya ketika melihat Lili terduduk diatas tanah dengan rambut yang sangat acak-acakan.
"Ka--kak, kami tidak—" belum sempat senior itu membela diri seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Lo jelaskan aja di ruang BK! Gue takut kalau lo ngejelasin dihadapan Daffa, nyawa lo malah melayang nantinya," ujar seseorang itu.
Ketiga senior itu langsung berbalik dan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui seseorang itu adalah sang ketua osis yang di kenal tegas dan galak.
"Ka--kak Daffi," pekik ketiga senior itu.
"Kalian tau kan resikonya jika melanggar aturan di sekolah? Sekarang cepat ikut gue ke ruang BK!" perintah Daffi membuat ketiga senior itu menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya.
Ketika senior itu pun mengikuti Daffi ke ruang BK.
Mantap! Kakaknya jadi berandalan sekolah, adeknya jadi ketua osis sekolah. Hahaha ...
"Huff ... untung gue sempat hubungi Daffi! Kalau tidak bisa-bisa tuh tiga kecoa masuk kedalam UKS gara-gara Daffa!" ujar Elang seraya bernafas lega.
__ADS_1
Sementara Daffa yang melihat kondisi Lili yang acak-acakan langsung menghampirinya dengan wajah yang cemas.
"Lo gak apa-apa?" tanya Daffa pada Lili.
"HUAAA KAKAK SAKIT! MEREKA JAHAT SAMA LILI KAKAK! HUAA!" Lili langsung menangis keras dan memeluk Daffa dengan sangat erat.
Daffa yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa pasrah. Bagaimana pun sekarang Lili adalah tanggung jawabnya karena Mommy Natusha sering berpesan untuk menjaga Lili di sekolah.
Daffa menggendong Lili seperti koala. Lili semakin mempererat pelukannya di leher Daffa dengan kakinya yang sengaja ia lingkarkan di pinggang Daffa.
Semua orang melihat itu begitu terkejut terutama para cewek-cewek yang langsung menangis karena cemburu melihat kedekatan antara Lili dan Daffa.
"Kita mau kemana, kak?" tanya Lili keheranan.
"Pulang! Lo harus di obati!" jawab Daffa seraya berjalan menuju parkiran sekolah.
"Nggak! Lili gak mau pulang, nanti mama marah sama Lili karna bolos sekolah!" sungut Lili semakin mempererat pelukannya di leher Daffa.
"Terus, lo maunya langsung kerumah sakit gitu?" tanya Daffa dibalas geleng-geleng kepala oleh Lili.
"Lili mau pulang ke rumah Mommy Natusha," jawab Lili dengan manja.
....
"Lo gapapa?" tanya Dipta pada Regina.
Dipta membantu Regina berdiri. "Kaki lo berdarah," ucap Dipta melihat lutut Regina terluka dan berdarah.
"Ga--gapapa kak, ini luka kecil aja kok!" ujar Regina.
"Tapi darahnya banyak, emang gapapa itu?" tanya Dipta.
"I--iya kak, gapapa kok ini! Tinggal di oleskan obat betadine pasti udah sembuh!" ujar Regina dengan gugup.
"Mau gue bantu obatin?" tanyanya lagi.
"E--eh nggak usah! Regina bisa sendiri!" ucap Regina langsung pergi dari sana dengan berjalan pincang meninggalkan Dipta.
Dipta menatap kepergian Regina dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bro? Lo suka yah sama tuh anak?" tanya Kevin dan Elang secara bersamaan.
"Cih, kepo!" Dipta langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Yaelah padahal cuma nanya doang!" sungut Kevin dan Elang.
__ADS_1
'Huff ... dekat-dekat kak Dipta bikin jantung gak aman!' batin Regina seraya mengelus dadanya dengan cepat.