
Ctaaaaaarrrrrrr
Ctaaaaarrrrr
Ctaaaarrrrr
bunyi cambukan di ruangan itu,ya kenzi membawa Vania di sebuah ruangan yang tak jauh dari kamarnya untuk memberi Vania hukuman seperti saat ini kenzi memukul Vania menggunakan ban pinggang miliknya
" rasakan ini gadis ****** " kata kenzi
" hikzzz...hikkzz...hikzz..hikzz...ampun tuan saya mohon ampuni saya tuan " kata Vania sambil menanggis dan menahan sakit di tubuhnya kenzi memukulnya lagi,namun kali ini bukan menggunakan cambuk melainkan ikat pinggang sang tuan
tetapi kenzi menuliskan pendengaran ia melanjutkan aksinya,Vania yang sudah pasrah hanya bisa diam dan menerima semuanya Vania berharap ia bisa bahagia namun nyatanya penderitaan terus menghampiri dirinya
" ya Allah apakah aku tak berhat bahagia menggapa cobaanmu begitu berat " batin Vania sambil menanggis menahan perih kulitnya yang sudah mengeluarkan darah,di rasa sudah cukup kenzi menghentikan aksinya tersebut
" ini baru hanya hukuman kecil yang aku berikan jika kau masih membuat kesalahan lihat saja aku akan menghukum mu lebih dari ini " ucap kenzi sambil menarik dagu Vania
kenzi dapat melihat mata Vania ia melihat begitu banyak kesedihan yang di gambarkan namun ia tak peduli sama sekali
__ADS_1
" keluar sekarang juga sebelum aku menghukummu lagi " ucap kenzi sambil berjalan keluar meninggalkan Vania yang sudah tak berdaya
Vania yang mendengar apa yang di katan oleh kenzi memaksakan tubuhnya untuk berdiri walaupun susah namun ia harus melakukannya ia tak ingin kenzi marah lagi dan menghukum dirinya lagi,Vania berdiri sambil memegang tembok ia melangkah dengan pelan-pelan menuju pintu keluar setelah ia sampai ia keluar dan berjalan ke arah lift menuju ke kamar untuk mengobati lukanya,ia berjalan pelan-pelan menahan sakit pada tubuhnya belum lagi rendah sakit kepalanya ia merasa seakan tak ingin hidup lagi namun apa yang harus ia lakukan sekarang ia hanya bisa menerima takdir dan menjalankan sampai di mana ia bisa bertahan
sampailah Vania di lantai bawah dan akan menuju kamarnya namun ia berpapasan dengan baik Marni
" ya Allah neng Vania " kata bik marni yang terkejut melihat Vania yang berantakan bik Marni ingin bertanya namun ia mengurungkan niatnya ia gegas membantu Vania
" sini neng bibik bantu yah " sambil memapah Vania
" ia terima kasih bik " ucap Vania sambil memaksakan senyumnya
" aduuuhhh" desisi Vania
" maaf neng bibik tidak sengaja,mari bibi bantu obati luka neng Vania yah " kata bik Marni sambil memapah Vania
" ia bik apakah tidak apa-apa saya taku tuan kenzi marah " kata Vania
" sudah tenang saja tuan sudah keluar tadi kok entah ke mana " ucap bik marni
__ADS_1
sampailah mereka di kamar bik Marni,lantas bik Marni menundukkan Vania di tepih ranjang dan mulai mengobati luka-luka Vania ketika Vania membuka jilbabnya bik marni terkejut bukan main karena terdapat luka yang banyak di bahu Vani Bim Marni yakin di tubuh Vania pasti banyak,Vania yang melihat bik Marni terkejut lantas bebicara ,
" kenapa bik ?" tanya Vania
" itu neng di bahu neng lukanya besar neng " kata bik Marni sedih
" sudah tidak apa-apa kok bik,bibik tenang ajah aku pasti kuat kok " kata Vania sambil memaksakan senyumnya
bik Marni yang melihat Vania tersenyum hanya diam saja ia tau Vania hanya tak ingin membuat dirinya khawatir,Vania kemudian membuka bajunya dan bik Marni terkejut lagi karena di tubuh Vania luka-luka itu terlihat mengerikan tetapi Vania hanya diam saja bik Marni tau Vania wanita kuat ia yakin suatu saat pasti ada kebahagiaan untuk dirinya
" bibik tidak jijik melihat luka di tubuhku ?" tanya Vania
" kenapa harus jijik neng,bibik hanya merasa kasihan kenapa neng Vania harus di perlakukan tuan seperti ini "jawab bik Marni "
" mungkin ini sudah takdir Vania bik, Vani ikhlas kok menerima semua Vania yakin suatu saat Vania akan bahagia " kata Vania
" ia neng bibik akan terus mendoakan neng Vania ya supaya suatu saat neng Vania bisa bahagia " kata bik Marni tulu
" terima kasih bik " ucap Vania
__ADS_1
Bik Marni mengobati tubuh Vania bagian belakang karena Vania tak bisa menjangkaunya