
Setelah Rena dan teman-temannya selesai mengisi perutnya yang lapar dengan makan semangkok bakso di kantin. Mereka pun kembali menuju lapangan untuk menyaksikan pertandingan final sepak bola yang mereka tunggu-tunggu.
Sesampainya mereka di lapangan seperti perkiraan Rindu sebelumnya, lapangan sudah dipadati penonton. Tempat sebelumnya yang mereka tempati untuk menonton pertandingan pertama pun sudah ada yang mengisi sehingga mereka harus mencari tempat lain untuk mereka tempati.
"Di sini aja yuk, capek mondar-mandirnya," sahut Rena sambil duduk di lapangan yang posisinya berada tak jauh dari tiang gawang.
"Ya udah deh, mau di mana lagi? Tempatnya udah pada penuh," sahut Aisyah sambil ikut duduk di dekat Rena.
"Lagian kalian makannya kaya siput, lambat banget," sahut Rindu.
"Emang mau makan kaya gimana? Kaya kamu tadi? Ih, enggak deh. Kaya orang kelaparan tau enggak," sahut Novi membayangkan cara makan Rindu di kantin tadi.
Akhirnya mereka pun memilih duduk di tempat yang tadi ditunjuk oleh Rena, menyaksikan pertandingan yang sudah beberapa menit lalu sudah dimulai. Namun, skor yang dicapai masih 0-0.
Seperti yang sudah diprediksi, pertandingan kali ini pun tidak kalah seru dengan pertandingan yang pertama tadi.
Setiap pemain berusaha meraih bola. Mereka berusaha memasukan bola ke kandang lawannya. Namun, lawan mereka yang cukup tangguh mampu menjaga pertahanannya dengan sangat baik.
Arka sebagai kapten mengambil posisi sebagai gelandang tengah untuk mengatur serangan. Sedangkan di kubu lawan, Alan berperan sebagai striker yang berusaha memasukan bola ke kandang lawan.
Menit demi menit pun berlalu hingga tanpa terasa empat puluh lima menit sudah pertandingan terjadi. Kedua tim pun beristirahat. Setelah 15 menit mereka beristirahat, mereka kembali melanjutkan pertandingan.
Kali ini, tim yang dikomandoi oleh Alan, lebih gencar melakukan serangan. Berkali-kali Alan berusaha menjebol kandang lawan hingga sang kiper pun nampak kewalahan. Namun, bukan Alan namanya, jika ia mudah menyerah begitu saja.
Meskipun keringat mengucur di seluruh tubuhnya, nafasnya pun mulai memburu menandakan bahwa ia sudah nampak sangat kelelahan, namun tekad Alan yang kuat membuatnya tak menghiraukan lagi rasa lelahnya. Ia terus berusaha dan berusaha terus untuk mendapatkan hasil yang terbaik hingga pada menit ke delapan puluh, bola yang ditendangnya berhasil mendarat dengan sempurna di kandang lawan, dan...
"Gol!!!"
Teriakan seluruh suporter pendukung Alan membahana di semua penjuru lapangan. Menyambut gol yang berhasil diciptakan oleh Alan. Sebagai ungkapan keberhasilannya, Alan pun mengitari seluruh lapangan.
Ia melayangkan sun ke seluruh pendukungnya . Lalu, membentuk pola hati dengan menempelkan dua jempol dan dua telunjuk yang diarahkan kepada suporternya. Hal tersebut semakin membuat suporter pendukungnya yang kebanyakan kaum hawa semakin histeris. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rena, melihat itu ia malah tersenyum mengingat kejadian memalukan di hari kedua orientasi fakultasnya itu.
Setelah berhasil mencetak gol, Alan pun keluar dari lapangan karena ia terlihat sudah sangat kelelahan. Ia pun digantikan oleh salah seorang pemain cadangan dari timnya.
Kali ini tim Harimau Putih mengubah pola permainannya. Pola penyerangan menjadi pola pertahanan hingga sulit bagi kubu lawan masih berusaha untuk terus bermain dengan sebaik-baiknya. Meski, beberapa kali ia gagal mencetak gol, ia tetap terus mencoba melakukannya.
Skor masih menunjukan 1-0 atas kemenangan tim Alan. Belum ada perubahan sama sekali hingga menit sudah menunjukan waktu berakhirnya pertandingan. Namun, wasit masih memberikan perpanjangan waktu selama tiga menit.
__ADS_1
Perpanjangan waktu tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh tim Arka. Namun, rasa lelah sudah benar-benar menguasai dirinya. Hal itu membuat Arka mulai kehilangan konsentrasinya. Beberapa kesalahan mulai dilakukannya.
Salah satu kesalahan yang dilakukan Arka adalah memberikan bola justru pada lawannya bukan temannya.
"Shit !!" umpat Arka
Jelang menit terakhir Arka kembali membuat kesalahan. Kali ini kesalahannya cukup fatal. Ia menendang bola dengan cukup kencang hingga menyebabkan bola itu melayang cukup jauh dan...
"Bugh!"
Bola itu pun mendarat dengan cukup keras di kepala seorang perempuan yang sedang duduk tak jauh dari gawang tim Harimau Putih.
"Aww sakit," keluh Rena sambil memegangi kepalanya yang terkena lemparan bola.
Bertepatan dengan insiden tersebut, peluit panjang pun dibunyikan oleh wasit sebagai tanda bahwa pertandingan telah selesai. Tim Harimau Putih yang dikomandoi Alan berhasil menjadi pemenang pertama dalam turnamen tersebut.
Setelah berakhirnya pertandingan, para penonton langsung berhamburan. Sebagian penonton memilih pulang dan sebagian lainnya menghampiri Rena untuk melihat kondisi gadis itu pasca insiden yang terjadi padanya. Insiden yang diakibatkan oleh tendangan Arka yang melesat jauh dari lapangan dan mengenai kepala Rena.
"Maaf ya, bukan bahan tontonan," seru Rindu pada para penonton yang mengerumuni Rena. Mendengar perkataan Rindu, mereka pun langsung pergi meninggalkan tempat kejadian.
Setelah para penonton pergi, Arka dan Alan langsung ke tempat Rena untuk melihat kondisi gadis itu. Sementara, para pemain lain masih sibuk dengan aktivitasnya di lapangan. Mereka saling berjabat tangan antar satu dengan yang lain.
"Kamu enggak apa-apa, Rena?" tanya Aisyah yang duduk persis di samping Rena.
"Gak apa-apa bagaimana? Nih, liat kepalaku, sampai memar kayak gini," rengek Rena memperlihatkan luka memar di kepalanya.
Arka pun tiba di tempat Rena yang masih meringis kesakitan.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Arka pada Rena yang masih memegangi kepalanya.
"Gak apa-apa bagaimana? Gak liat apa kepala Rena sampai memar seperti itu," sahut Novi ketus.
"Maaf," sahut Arka pelan tapi terdengar.
"Sakit enggak, Na?" tanya Rindu.
"Iya sakit lah," sahut Rena ketus karena menganggap pertanyaan Rindu itu sangat konyol. Mana ada luka memar yang enggak sakit.
__ADS_1
"Gimana keadaannya?" sahut Alan kemudian.
"Kepalanya memar, Kak," jawab Aisyah.
"Ya sudah, kita bawa ke UKS. Kita obati lukanya di sana," ucap Alan.
"Kamu bisa jalan, kan?" tanya Alan.
"Iya bisa lah, Kak. Yang sakit kan kepalaku bukan kakiku," jawab Rena ketus.
Rena lalu bangkit dari duduknya, namun saat bangkit dan mulai berjalan, badannya hampir saja terjatuh karena kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing. Beruntung sebelum jatuh ada Arka di belakang Rena yang menahan tubuh Rena hingga tak terjatuh.
"Katanya bisa jalan?" ledek Alan.
"Bisa, tapi kepalaku tadi pusing, makanya badanku jadi kurang seimbang," sahut Rena, tidak terima dengan ucapan Alan.
"Kamu lagi sakit, masih galak juga ya," sahut Alan.
"Lagian Kakak, tau aku lagi kesakitan masih juga diajakin ngomong mulu," sahut Rena jengkel meninggikan sedikit suaranya.
"Sudah, Kak. Bener kata Rena, sekarang dia lagi sakit. Jangan diinterogasi mulu," sahut Rindu menengahi.
"Perlu aku bantu," tawar Arka.
Rena pun hanya menjawab dengan gelengan kepala. Hal tersebut tak luput dari perhatian Alan.
Heran, sama aku ngomongnya ketus banget, giliran sama Arka, diam seribu bahasa, cuma geleng-geleng kepala doang (pikir Alan).
Rena masih mencoba untuk berjalan. Namun, karena kepalanya masih terasa berat, jalannya sedikit sempoyongan.
"Sini, Na. Biar aku bantu kamu jalan," sahut Novi seraya menggandeng Rena agar tubuh Rena tetap seimbang.
"Aku bantuin pegangin kamu juga, ya," tawar Aisyah.
Rena pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Aisyah dan Novi memapah Rena sampai ke UKS, diikuti oleh Alan, Rindu, dan Arka di belakang mereka.
__ADS_1
***
Bersambung