Cintaku Di Kampus Pelangi

Cintaku Di Kampus Pelangi
Eps. 35


__ADS_3

Alan melajukan mobilnya menuju pemakaman untuk mengunjungi makam almarhumah Dewi, mantan istrinya. Sebelum sampai, Alan berhenti di sebuah toko bunga untuk membeli sebuket bunga mawar putih kesukaan Dewi.


Sesampainya di sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan “Dewi Permata Hati binti Raditya Herlambang”, Alan duduk dan meletakkan buket bunga mawar putih yang tadi dibelinya. Diusapnya batu nisan itu, sebelum akhirnya pikirannya melayang jauh ke saat-saat terakhir ia bersama istri tercintanya itu.


Flashback on


“Apa?! Kamu hamil?” tanya Alan heran penuh keterkejutan.


“Iya, Kak, aku sedang hamil. Tadi aku baru memeriksanya dengan test pack” jawab Dewi dengan wajah tertunduk.


“Tapi bagaimana bisa, Dew? Bukankah obat yang kamu minum itu memberikan efek samping yang membuatmu sulit untuk hamil? Apa jangan-jangan kamu tidak meminum obat itu?” tanya Alan penuh selidik.


“Iya, Kak, selama ini aku memang tidak pernah meminumnya,” sahut Dewi lirih dengan wajah yang masih tertunduk tak berani menatap suaminya.


Alan pun mengusap wajahnya kasar saat mendengar pengakuan jujur dari mulut istrinya itu.


“Ya, ampun Dewi! Kenapa kamu melakukan itu? Kamu sadar tidak, itu membahayakan nyawamu!” sahut Alan dengan nada tinggi penuh emosi.


“Aku sadar Kak. Aku sadar sepenuhnya dengan tindakanku,” sahut Dewi, kali ini dengan wajah yang terangkat menatap lekat suami tercintanya itu.


“Apa?! Itu artinya kamu bunuh diri, Dewi!” sahut Alan dengan suara yang semakin menggelegar sambil menunjuk wajah Dewi dan menatapnya dengan pandangan murka.


“Iya, Kak, aku tahu, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku ingin memiliki keturunan sama halnya dengan wanita lainnya,” Sahut Dewi dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


“Kita sudah menikah 8 tahun, Kak. Tapi, selama 8 tahun itu aku tak bisa memberimu apa-apa. Selain, hanya membebanimu dengan penyakitku ini. Aku ingin memiliki keturunan darimu, Kak, apa itu salah?” tanya Dewi dengan suara terisak, menyentuh nurani Alan yang paling dalam, membuatnya lupa akan kemarahan pada istrinya itu.


Alan pun menarik nafasnya panjang. Ia mulai memikirkan ucapan istrinya itu, meski selama ini ia tak pernah merasa terbebani dengan penyakit istrinya itu. Namun, bagaimana pun keinginan istrinya itu bukanlah suatu kesalahan, yang salah hanyalah keadaanya yang tak memungkinkan.


“Dewi, maafkan aku. Aku memahami keinginanmu ini. Aku pun juga ingin memiliki keturunan sebagaimana pria pada umumnya. Tapi seharusnya kau lebih bersabar, setidaknya tunggulah sampai dirimu benar-benar sembuh,” sahut Alan sambil mengusap air mata yang sempat menetes di pipi istrinya itu.


“Tapi sampai kapan, Kak? Sampai kapan aku bisa terbebas dari penyakit ini?” sahut Dewi penuh keputus asaan dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.


Alan pun menarik tubuh Dewi, membenamkan kepala Dewi tepat di dadanya.


“Sayang, Tuhan tidak pernah memberikan ujian kepada hamba-hambanya di luar batas kemampuannya. Aku yakin suatu saat kamu bisa terbebas dari penyakitmu ini,” sahut Alan seraya mengusap lembut rambut hitam istrinya.

__ADS_1


“Kak, sekarang semua sudah terjadi. Mungkin kehamilanku ini juga sudah menjadi bagian dari takdir Tuhan. Jadi, kumohon Kak, beri aku dukungan atas keputusanmu ini,” sahut Dewi.


“Dew, sejujurnya aku sangat marah padamu. Kau mengambil keputusan tanpa berbicara terlebih dahulu kepadaku dan sebagai seorang suami aku pasti akan mendukungmu selama itu tidak membahayakan dirimu. Tapi, kau tahu kehamilanmu ini akan membuatmu tak bisa menjalani kemoterapi sebagaimana biasanya karena itu akan membahayakan janin yang kau kandung,” sahut Alan.


“Aku tahu itu, Kak. Itulah sebabnya aku minta sama Kak Alan selama aku hamil, tolong jangan memintaku untuk menjalani kemoterapi. Setidaknya sampai bayi kita lahir,” ucap Dewi memohon.


“Seperti yang aku bilang tadi, aku tak bisa mendukung keputusan yang dapat membahayakan nyawamu,” sahut Alan penuh penekanan.


Sesaat setelah Alan mengucapkan kalimat yang terasa begitu menyakitkan bagi istrinya. Keheningan pun melanda sepasang suami istri itu. Alan tak henti mengusap kepala Dewi, berusaha memberikan ketenangan pada istrinya sambil memikirkan keputusan yang terbaik untuk diambilnya. Di satu sisi, Alan ingin mendukung keputusan istrinya itu. Ia pun ingin memiliki anak yang bisa dipeluk dan digendongnya, namun di sisi lain ia tak mau egois karena kehadiran seorang anak pada kondisi Dewi yang sekarang akan sangat membahayakan baginya.


Alan teringat cerita almarhum mertuanya tentang ibunya Dewi sebulan sebelum ayah mertuanya itu dipanggil menghadap yang kuasa. Ibunya Dewi meninggal sesaat setelah melahirkan Dewi. Hal itu karena kondisinya selama hamil Dewi menurun drastis. Selain itu, saat melahirkan, ibunya Dewi pun kehilangan banyak darah dan itu sangat berbahaya bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit leukemia seperti ibunya. Alan tak menginginkan hal yang sama terjadi pada Dewi. Ia berniat membicarakan semuanya pada dokter yang selama ini menangani Dewi. Semoga ia mendapatkan titik terang untuk masalah ini.


Dewi pun mengangkat kepala yang tadi dibenamkannya di dada bidang suaminya. Ia menatap lekat mata suaminya, sebelum akhirnya ia berucap.


“Kak, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”tanya Dewi.


Alan tersenyum mendengar pertanyaan yang ia anggap konyol dari mulut Dewi.


“Tentu saja, memang siapa yang akan melarangmu bertanya Nyonya Alan Bagaskara,” sahut Alan.


“Memang apa yang ingin kamu tanyakan? Mengapa kamu bicara seperti itu? Apa selama ini kamu meragukan kejujuranku?” tanya Alan mengerutkan dahi saat nendengar perkataan Dewi. Lalu, ia pun balik menatap mata Dewi dengan tatapan tajam, menyampaikan pesan tersirat melalui matanya bahwa ia sungguh-sungguh akan berkata jujur dan Dewi tak perlu meragukan perkataannya.


“Kak Alan, katakan padaku, apakah Kakak selama ini mencintaiku?” tanya Dewi.


Alan kembali mengulas senyum di bibirnya.


“Mengapa kau bisa bertanya seperti itu,” tanya Alan.


“Kak Alan, tolong jawab! Aku hanya ingin tahu apakah Kakak mencintaiku? Karena selama ini kita sama-sama tahu bahwa kita menikah karena perjodohan, karena Kakak merasa kasihan dengan penyakit yang aku derita, bukan karena kita saling mencintai,” sahut Dewi lirih.


“Apakah sekarang itu penting? Bukankah sekarang kau telah menjadi istriku dan aku telah menjadi suamimu,” ucap Alan.


“ Jadi, selama ini Kakak memang tak pernah mencintaiku,” sahut Dewi dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan air mata yang perlahan menetes di pipi putihnya.


Alan pun mengusap lembut air mata yang jatuh di pipi istrinya itu.

__ADS_1


“Memang kapan aku bilang aku tidak mencintaimu? Memang benar, awalnya kita menikah karena perjodohan dan karena rasa kasihanku melihat keadaanmu saat itu. Namun, berjalan dengan seiringnya waktu dan tulusnya cintamu kepadaku. Aku pun mulai merasakan hal yang sama kepadamu,” jawab Alan menatap Dewi hangat.


“ Benarkah itu?” tanya Dewi masih tak percaya dengan perkataan suaminya.


“Apakah kau melihat kebohongan di mataku?” tanya Alan balik sambil menatap lekat mata indah mata indah milik istrinya itu.


“Tapi kau tak pernah mengatakannya, Kak. Kau tak pernah bilang bahwa kau mencintaiku,” sahut Dewi.


“Apa itu harus?” goda Alan.


“Iya,” jawab Dewi.


“Baiklah, dengarkan aku, karena kau hanya akan mendengarnya sekali ini saja,” sahut Alan sambil terus menatap lekat wajah cantik istrinya.


“Dewi, aku mencintaimu sayang,” ucap Alan dengan lembut dan perlahan-lahan.


Mendengar itu hati Dewi merasa bahagia tak terkira. Kalimat yang selama ini ingin didengarnya dari mulut suami tercintanya itu, meski itu hanya diucapkannya sekali saja.


“Aku juga mencintaimu sayang, bahkan sangat mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku,” sahut Dewi yang mendapat dekapan hangat dari Alan.


“Kak Alan, lalu bagaimana perasaanmu terhadap Renata?” tanya Dewi masih menyimpan rasa penasarannya.


“Kau ini, kenapa malah tiba-tiba membicarakannya? Tidak tahu suasana. Dia hanya bagian dari masa laluku, sudahlah lupakan dia,” sahut Alan karena sesungguhnya ia sendiri pun tak tahu apakah masih ada rasa di hatinya untuk Renata.


Dewi pun tertidur dalam pelukan Alan. Alan yang menyaksikan tidur polos istrinya itu, mengulas senyum manis di bibirnya. Dikecupnya kening dan bibir mungil istrinya itu. Lalu, ia pun tidur bersama dengan istrinya dalam dekapan hangat dan belaian lembut angin malam.


Keesokan harinya, Alan masih masih melihat Dewi tertidur pulas di sampingnya. Ia membelai lembut wajah istrinya. Namun, sesuatu yang aneh mulai dirasakannya. Ia merasakan wajah istrinya itu begitu dingin dan tampak kaku. Meski, hatinya ragu dan tak ingin mempercayai pikiran buruk dalam benaknya. Ia pun lekas mengambil pergelangan tangan istrinya. Diperiksanya denyut jantung istrinya. Betapa terkejutnya Alan, saat tahu ia tak lagi dapat mendengar denyut jantung istrinya.


Flashback off


“Dewi, rasanya aku masih tak mempercayai kejadian hari itu. Kau pergi meninggalkanku bersama dengan calon buah hati kita. Calon yang begitu ingin kau lihat keberadaannya di dunia. Namun, takdir berkata lain, kau dan dia telah dijemput lebih dahulu oleh yang Kuasa,” sahut Alan dengan pandangan mata tajam menatap langit yang sudah mulai terlihat gelap.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2