
Sore telah berganti malam, Hana dan Haikal telah kembali ke peraduannya untuk menjemput mimpi dan menghilangkan rasa lelah yang melanda.
“Kak Na,” panggil Reni.
“Hemm,” jawab Rena.
“Reni mau ngomong sebentar,” ucap Reni.
“Tumben mau ngomong aja bilang-bilang dulu. Emang mau ngomong apa, hah?” tanya Rena.
“Ngomongin masalah yang mungkin bisa dibilang serius,” ucap Reni.
“Masalah serius? Masalah serius apa?” tanya Rena.
“Kemarin waktu Reni ke rumah sakit, Reni ketemu sama Kak Rayhan,” jawab Reni.
“Oh pantes, kamu waktu itu terburu-buru sekali. Rupanya kamu bertemu dengan orang itu. Ngomong apa dia?” tanya Rena dingin.
“Ibunya sakit dan dia ingin sekali bertemu dengan Hana dan Haikal, cucu-cucunya,” jawab Reni.
“Kalau begitu kamu bawa saja mereka bertemu neneknya bersamamu, Ren. Karena Kakak masih belum mau bertemu dengan mereka,” ucap Rena yang sebenarnya tahu tujuan dari arah pembicaraan Reni.
“Baik, Kak,” jawab Reni tak ingin membantah perkataan Kakaknya yang sepertinya memang tidak terlalu suka membahas masalah itu.
Reni tahu kakaknya memiliki watak yang cukup keras, terlebih lagi jika dirinya sudah merasa benar. Apalagi luka yang pernah dirasakan kakaknya dulu, cukup membuat perangainya sedikit berubah.
Rena yang polos, pemaaf, kini menjadi Rena yang penuh kebencian jika sudah berhadapan dengan keluarga itu. Tapi, Reni yakin pernikahan kakaknya dengan Kak Alan dapat membuat Rena kembali seperti yang dulu. Rena yang ceria, pemaaf, dan tak pernah menyimpan rasa benci pada siapa pun juga.
***
Satu minggu sudah Alan berada di rumah sakit. Ia ingin segera keluar dan mengurus segala persiapan yang berkaitan dengan pernikahannya dengan Rena. Pernikahan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga akan berlangsung sekitar tiga minggu lagi.
Keluarga Alan termasuk keluarga yang menjunjung tinggi nilai moral dan agama. Itulah sebabnya, selama tiga minggu itu Alan tidak diperkenankan untuk bertemu dengan Rena. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sebelum pesta pernikahan berlangsung. Menurut mereka akan sangat berbahaya jika laki-laki dan perempuan yang belum menikah dibiarkan berdua begitu saja.
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan kartu undangan, pembelian barang-barang hantaran pernikahan, cincin dan baju pengantin akan diurus langsung oleh Mama Lana dan Rena. Selain bisa menambah keakraban antara mertua dan menantu, hal itu juga sudah menjadi tradisi di keluarga Alan.
“Kartu undangannya gimana, Mah? Apa Kak Alan setuju dengan modelnya?” tanya Rena.
“Kamu telat nanyanya, udah jadi malah,” jawab Mama Lana.
“Yang benar, Mah?” tanya Rena tak percaya.
“Iya, nih,” jawab Mama Lana sambil memberikan contoh kartu undangan yang telah dicetak dan disimpannya di dalam tas.
“Padahal perasaan baru tiga hari yang lalu,” ucap Rena memandangi kartu undangan yang berwarna silver itu.
“Iya, itu karena Alan meminta bantuan Om Alex yang memang memiliki percetakan undangan terbaik di negeri ini,” ujar Mama Lana.
“Oh, tapi Kak Alan suka kan dengan modelnya” tanya Rena.
“Tentu saja, kalau tidak suka mana mungkin langsung bisa dicetak,” jawab Mama Lana.
Setelah mampir sebentar di kedai bakso, Rena dan Mama Lana melanjutkan perjalanan mereka untuk membeli berbagai keperluan pernikahan. Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk sekedar berkeliling memilih barang-barang yang mereka inginkan.
“Mah, sepertinya hari ini sudah dulu ya... Mama kelihatan capek. Rena gak mau Mama pingsan lagi seperti waktu di Mall Nuansa dulu,” ucap Rena.
“Dari mana kamu tahu?” Mama Lana bingung.
“Oh ya!! Mama inget, kamu kan yang nolongin Mama waktu itu. Astaga, kenapa kemarin-kemarin Mama bisa lupa ya?” ucap Mama Lana saat sudah mengingat semuanya.
“Sudahlah, Mah. Gak apa-apa, lupa itu wajar tak perlu dibahas lagi,” ucap Rena.
“Pantas Rena, waktu melihat kamu, Hana, dan Haikal, Mama seperti merasa pernah bertemu kalian bertiga,” ucap Mama Lana yang hanya dibalas senyuman oleh Rena.
Setelah dirasa cukup, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
***
Dalam perjalanan pulang Mama Lana mampir sebentar ke toko kue langganannya untuk membeli beberapa kue yang sangat disukai oleh Alan dan Felisa. Saat itu, Rena sudah tidak lagi bersamanya karena sudah diantar pulang duluan ke rumahnya.
__ADS_1
“Mama Ratu,” sapa seseorang saat berpapasan dengan Mama Lana.
“Em... Anda?” tanya Mama Lana bingung.
“Saya Rayhan, Mama Ratu, guru SD dan SMP nya Ratu Felisa,” jawab Rayhan.
Ratu adalah panggilan Rayhan untuk Felisa karena Rayhan memang lebih suka memanggil murid-muridnya dengan nama depan mereka.
“Oh, Pak Rayhan, guru favorit dan yang paling tampan di SMP Pelita Jiwa. Tidak disangka bisa bertemu di sini. Bapak masih saja terlihat tampan seperti dulu,” puji Mama Lana.
“Terima kasih, Mama Ratu. Oh ya, gimana Ratu? Apa dia sudah menikah?” tanya Rayhan.
“Belum, Pak. Ratu masih belum menikah, yang ada justru kakaknya yang mau menikah,” jawab Mama Lana.
Mama Lana masih belum tahu kalau Rayhan adalah mantan suami dari Rena.
“Kalau begitu selamat buat Mama Ratu yang sebentar lagi bakal punya menantu,” ucap Rayhan sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih.
“Terima kasih, Pak. Dan ini saya masih memiliki kartu undangan lebih. Saya harap Bapak bisa hadir ke pernikahan anak saya,” ucap Mama Lana sambil memberikan sebuah kartu undangan kepada Rayhan.
Rayhan pun menerima kartu undangan tersebut dengan senang hati. Setelah itu, Mama Lana pun berpamitan untuk pulang kepadanya.
“Saya pulang duluan ya, Pak,” ucap Mama Lana.
“Iya, silakan hati-hati,” sahut Rayhan.
“Terima kasih, Pak. Jangan lupa datang ya! Putri saya pasti senang bisa bertemu dengan guru SD nya,” ucap Mama Lana sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Mama Lana, Rayhan pun membuka kartu undangan itu. Matanya terbelalak lebar saat melihat nama mempelai wanita dalam kartu undangan tersebut. Ia sempat tidak yakin dengan apa yang barusan dibacanya. Namun, keyakinannya bertambah kuat saat ia melihat nama orang tua dari mempelai wanita yang merupakan nama ayah dan ibu dari Rena.
“Jadi, sekarang kamu sudah mau menikah Rena? Kenapa kamu tidak mengabariku? Sepertinya kau tidak ingin aku datang ke pesta pernikahanmu,” gumam Rayhan.
Rayhan pun lalu memasukan kartu undangan itu ke dalam jasnya dan berlalu keluar meninggalkan toko kue tersebut.
***
Hari itu pun tiba, saat yang dinantikan oleh dua insan yang sedang terjalin dalam satu ikatan cinta yang ingin mereka resmikan dalam sebuah ikrar suci pernikahan. Alan tampak gagah dengan kemeja putih yang dibalut jas hitam serta sebuah peci yang terpasang di kepalanya.
Alan dan Rena bagai ratu dan raja hari itu. Keduanya menjadi pusat perhatian setelah gedung megah yang berhasil disulap bagai nirwana.
“Cie... cie.. jadi juga nih ye...” ledek Iyus saat melihat Alan duduk di tempat yang telah disediakan untuknya.
“Jadi, dong... Emangnya kamu, Yus. Masih setia dengan status ‘jodi’ alias ‘jomblo abadi’, hahaha,” ledek Faizal pada Iyus.
“Mending kejar Maya, Yus.. Dia janda juga bukan,” sahut Dewa.
“OGAH, galaknya gak ketulungan,” jawab Iyus ketus.
“Hati-hati, galak-galak ... Entar malah punya anak empat lagi kaya Pak Kepsek kita, hahaha,” ledek Arka.
“Maksud kamu apa Arka?” tanya Mauri sinis.
“Bercanda Mauri, bercanda,” timpal Jessi.
“Tumben suami kamu bisa bercanda, biasanya juga lempeng.. Diem terus kaya si Abi tuh,” ucap Mauri menatap Abi yang sedari tadi diam.
“Hus, Sayang.. kamu gak tau ya... si Abi tuh diem karena dari tadi terkesima memperhatikan kecantikan Kanjeng Ratu Felisa Wijaya,” ucap Faizal.
“Ciyus, Sayang. Jadi sebentar lagi ada yang bakal iparan sama Alan, dong,” sahut Mauri.
“Ciee...cuit ciw.. cuit..ciw,” ledek pasukan gokil yang ada di tempat itu.
“Hus, diam kalian!! Bentar lagi Alan bakal ucapin ijab kabulnya tuh,” ucap Abi.
Pandangan semua orang tertuju pada meja dan kursi paling depan yang berada di hadapan mereka. Di sana telah duduk Alan sebagai mempelai pria, Ayah Rena sebagai wali, Pak penghulu, Papa Kevin, dan Kak Reno yang saat itu bertindak sebagai saksi dari kedua mempelai.
Ayah Rena mulai menjabat tangan Alan yang disaksikan oleh semua yang hadir di tempat itu.
“Kenapa jadi aku yang deg degan ya?” gumam Iyus sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
Sama, aku juga ngerasa gitu, mungkin karena kita sama-sama jodi kali (jawab Abi dalam hati)
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Alan Bagaskara bin Kevin Bagaskara dengan putri saya Rena binti Lukman Mahendra dengan mas kawin berupa emas putih seberat 100 gram dibayar tunai,”
“Saya terima nikah dan kawinnya Rena binti Lukman Mahendra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” jawab Alan lantang sambil menghentakkan genggaman tangannya sebagai tanda persetujuan darinya.
“Bagaimana saksi? Sah?” tanya Pak Penghulu.
“Sah,” jawab para saksi hampir bersamaan.
“Alhamdulillah,” ucap Pak Penghulu yang kemudian disambung dengan doa pernikahan.
Rena yang sedari tadi menggenggam tangan Mama dan adiknya Reni, kini dapat bernafas dengan lega saat Pak Penghulu dan para saksi menyatakan bahwa dirinya dan Alan telah sah menjadi pasangan suami istri.
Setelah proses pembacaan sighat taklik dan penanda tanganan buku nikah, tibalah bagi Alan memasangkan cincin di jari manis Rena. Dengan lembut, ia memasangkan cincin itu sambil terus menatap wajah wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya itu. Alan begitu terpesona melihat kecantikan Rena saat itu.
Selesai pemasangan cincin, Rena diminta untuk mencium tangan Alan. Lalu dilanjut dengan Alan yang membalasnya dengan mencium kening Rena.
“Ini nih yang ditunggu-tunggu Alan,” ledek Iyus.
“Ingat, cuma kening, Lan! Jangan lari ke yang lain!” timpal Faiz yang mendapat cubitan dari Mauri.
Alan mencium kening Rena dengan penuh kasih, lalu berbisik di telinga Rena.
“Malam ini kamu tidak akan bisa lolos, Cinta,” bisik Alan yang membuat Rena terbelalak mendengar perkataannya.
Alan yang melihat reaksi Rena, mengedipkan sebelah matanya dan memberikan senyum simpul untuk istri tercintanya.
Bersama dengan kebahagiaan Alan dan Rena, Abi pun memberanikan diri menghampiri orang tua Felisa, dan meminta Felisa untuk menjadi istrinya.
"Om Kevin, boleh kah saya meminta Felisa untuk menjadi istri yang akan menemani saya di hari-hari ke depannya?" tanya Abi dengan berani.
"Bagaimana Ica? Apa kau bersedia?" tanya Kevin melirik putri bungsunya.
Felisa yang tampak terkejut dengan lamaran Abi yang tiba-tiba tak bisa bicara apa-apa. Ia hanya memberikan anggukkan sebagai jawaban persetujuannya.
"Kau tahu apa artinya itu Abi?" tanya Mama Lana.
"Artinya jomblo yang satu ini akan segera menyudahi masa lajangnya," sahut Arka.
" Selamat Abi, kami tunggu undanganmu," sahut Jessi.
"Ehem, sepertinya aku ketinggalan sesuatu nih?" tanya Alan yang tiba-tiba datang mendekat.
"Dengar Alan, sebentar lagi kau akan segera memiliki seorang adik ipar," ucap Papa Kevin.
"Siapa?"
"Tuh," tunjuk Mama Lana pada Abi.
"Selamat Abi, akhir kita bakal jadi satu keluarga," ucap Alan memeluk Abi.
"Akhirnya para jodi di Kampus Pelangi menemukan pasangannya juga, Yang" seru Faiz ke arah Mauri.
"Benar, sama sekali tidak menyangka jika kampus tercinta kita dapat mempertemukan kita dengan pasangan hidup kita. Semoga kisah cinta kita semua berakhir bahagia hingga zaman," ucap Mauri.
"Aamiin," seru semua yang hadir di tempat itu.
***
TAMAT
❤️ Akhirnya ketiga cowok populer kita menemukan pasangan hidupnya masing-masing.
❤️ Mudah-mudahan jomblo-jomblo lainnya bisa segera menyusul... Aamiin
❤️Jika ada yang bertanya ada atau tidak kelanjutan atau session 2 cerita ini, maka dengan berat hati author katakan "Mohon maaf, cerita ini sudah tamat sampai di sini ya.."
❤️ Sebagai gantinya author sajikan cerita lain yang tak kalah serunya yaitu "Mengaku Tunangan CEO" selamat membaca. 🤗🤗🤗
__ADS_1
(Dijamin greget deh...)
💐💐💐