
Satu tahun sudah Rena mengambil cuti kuliah dari kampusnya. Selama itu juga ia kehilangan kontak dengan teman-temannya karena sibuk bekerja. Mungkin hanya satu dua orang saja teman di kampusnya yang masih sesekali dihubunginya untuk menanyakan kabar. Mereka itu adalah Aisyah dan Rindu.
Dari Aisyah, Rena tahu bahwa Lala juga ikut berhenti kuliah. Selain masalah dengan Aisyah, ternyata Lala juga memiliki masalah lain yang membuatnya berhenti meneruskan kuliahnya. Masalah tersebut berkaitan dengan kedua orang tuanya yang memutuskan untuk bercerai. Perceraian itu disinyalir terjadi karena adanya orang ketiga dalam hubungan mereka.
Dengan dada berdebar, layaknya suasana hati yang dialami orang yang baru masuk kuliah, Rena melangkah menuju kampusnya. Memang, ia bukanlah mahasiswa baru, namun waktu setahun rasanya cukup membuatnya seperti mahasiswa baru. Banyak pasang mata yang tak dikenalinya melirik ke arahnya. Rena sendiri hanya mampu menunduk menghindari tatapan mata-mata yang dipenuhi rasa penasaran tersebut hingga suara seseorang yang cukup dikenalinya memanggil namanya.
"Rena, tunggu!" sahut Aisyah.
"Aisyah," sapa Rena seraya membalas membalikkan badannya menghadap Aisyah. Mereka pun saling berpelukan, melepaskan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
"Senangnya bisa ketemu kamu kembali. Gimana kabarmu, sehat?" tanya Aisyah.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja,"' jawab Rena.
"Ya, baguslah, tapi........., " Ucap Aisyah menggantung kalimatnya.
"Tapi apa? Ayo, katakan! Jangan buat aku penasaran ya !" sahut Rena.
"Kamu tambah gemuk," sahut Aisyah tersenyum.
"Yeee, kirain ada apa? Tapi emang iya, kamu tahu dari mana?" tanya Rena
"Ini, dari pipi kamu yang tambah tembem aja," jawab Aisyah sambil mencubit pipi Rena
"Aw, sakit Ais. Kamu nih ya, kelewatan! Teman baru masuk udah dianiaya seperti ini," sahut Rena
"Eh, maaf, maaf, habis aku kangen sama kamu," sahut Aisyah sambil tersenyum padanya.
"Oh ya, berarti semester ini kamu masih semester 5 ya, Na?" tanya Aisyah
"Bisa dibilang begitu. Tapi enggak juga deh," jawab Rena.
"Maksud kamu enggak juga gimana?" tanya Aisyah.
"Ya, kan waktu semester 3 kemarin aku banyak mengambil mata kuliah di semester 5, jadi sekarang tinggal mengambil sisanya, sedangkan jatah sisa sks yang lainnya aku pakai untuk mengambil mata kuliah di semester 7 ini," sahut Rena.
"O, gitu. Terus keambil semua Na yang semester 7 ini?" tanya Aisyah.
"Alhamdulillah, keambil semua deh, dan sekarang aku jadi anak semester 5 sekaligus semester 7," jawab Rena
__ADS_1
****
Perkuliahan hari itu selesai, Rena mulai merasakan adanya perbedaan di kampusnya. Ketiga cahaya asia kampus mereka, yang biasanya hilir mudik di sekitar kampus itu, kini sudah tidak terlihat lagi. Ya, tentu saja, karena tahun ini mereka telah selesai dengan kuliahnya dan meraih gelar sarjana.
Bagaimana kabar dia sekarang, ya?
Pikiran Rena kembali pada sosok Alan. Sosok yang selama setahun ini diam-diam dirindukannya.
Rena pun menuruni tangga dengan badan yang lemas. Tak ada semangat dan gairah sedikit pun yang tampak dari wajah yang manis itu hingga sekelebat bayangan sosok manusia yang dikenalnya seolah melewati tempat yang akan dipijakinya.
Apa benar yang kulihat tadi ya? Aku seperti melihat Kak Alan. Ah, tapi mana mungkin, dia kan sudah lulus. Atau jangan-jangan dia menjadi asisten dosen di kampus ini. (Pikir Rena)
"Hayo!" sahut Aisyah mengagetkan Rena
"Aduh, Ais kamu tuh ngagetin aja ya!" sahut Rena saat melihat kemunculan Aisyah yang tiba-tiba.
"Lagian kamu bengong terus di situ. Lagi mikirin apa sih?" tanya Aisyah.
"Enggak, tadi aku seperti melihat Kak Alan lewat ke sini," jawab Rena.
"Oh itu, bisa jadi itu memang Kak Alan," sahut Aisyah.
"Kan masih ada Dewi, mungkin dia ke sini untuk menjemput Dewi," jawab Aisyah.
"Oh, iya," sahut Rena
Benar, aku lupa, Kak Alan kan pacarnya Dewi. Mungkin saking senangnya melihat dia, aku sampai melupakan hal itu. (Batin Rena sedih)
"Yuk, Na, kita pulang!" ajak Aisyah.
"Hayu," sahut Rena mengikuti ajakan Aisyah.
****
Enam bulan sudah berlalu, kini Rena sudah berada di semester akhir. Walaupun, jika menggunakan sistem perkuliahan secara normal, Rena seharusnya baru memasuki semester 6, namun karena Rena tergolong mahasiswa yang pandai, ia telah menyelesaikan semester 6 nya di semester 4 kemarin, sebelum ia mengambil cuti. Kini yang tersisa hanya beberapa mata kuliah saja.
Di semester ini, Rena juga disibukkan dengan proses pengajuan proposal untuk skripsinya nanti. Oleh karena itu, ia sibuk mondar-mandir ke ruang perpustakaan untuk mencari bahan-bahan untuk pembuatan skripsinya kelak.
Ruang perpustakaan itu tak banyak berubah. Ruangan itu hampir sama kondisinya dengan kondisi setahun yang lalu sebelum Rena cuti. Ruangan yang menjadi saksi saat Rena secara tak sengaja mencium pipi Alan. Setiap kenangan itu terlintas Rena hanya bisa tersipu malu.
__ADS_1
Rena pun memilih beberapa buku dan skripsi mahasiswa yang telah lulus untuk dijadikan bahan penulisan proposal skripsinya. Namun, sebuah skripsi dengan nama yang sangat dikenalinya mampu mencuri perhatiannya. Dibukanya lembaran demi lembaran skripsi milik Alan Bagaskara.
Rena tampak terpaku ketika namanya ditulis di bagian kata pengantar, sebagai teman yang memberikan semangat dan motivasi untuk Alan dalam penyusunan skripsinya. Kemudian, Rena juga membaca bagian kata-kata mutiara yang ditulis oleh Alan dengan tinta emas. Dalam tulisan tersebut ada satu kalimat yang menarik perhatian Rena. Kalimat itu berbunyi :
~Kenangan dapat mengikat jiwa-jiwa yang terpisah ~ (Alan)
*****
Teriakan kepanikan beberapa mahasiswi dari lantai bawah begitu menggema di telinga Rena yang kala itu masih berada di ruang perpustakaan. Hal itu menarik Rena untuk menghampiri asal suara tersebut.
Di lantai bawah tampak seorang laki-laki sedang menodongkan pisau ke leher Dewi. Laki-laki itu sepertinya memang sudah tidak waras.
"Minggir kalian semua! Atau aku tak segan-segan menancapkan pisau ini ke lehernya!" teriak laki-laki itu yang membuat beberapa orang yang menyaksikan langsung menjauh darinya, namun tidak dengan Alan.
Bugh
Secepat kilat Alan melakukan gerakan yang membuat laki-laki itu jatuh tersungkur. Sebuah
perkelahian terjadi di antara meraka. Alan berhasil menjauhkan pisau yang hampir saja menancap ke leher Dewi saat ia sedang berusaha mengambil paksa Dewi dari laki-laki itu. Namun, naas bagi Alan, pisau itu justru melukai lengannya hingga mengeluarkan banyak darah.
"Aww," pekik Alan kesakitan.
Mendengar teriakan kesakitan Alan hati Rena tergugah untuk membantunya. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan miliknya yang ia simpan dari dalam tasnya. Namun, belum sempat ia membalut luka Alan. Tiba-tiba Dewi pingsan karena tidak kuat melihat darah yang terus mengalir dari lengan Alan. Melihat Dewi yang tergeletak di lantai, tanpa mempedulikan luka di lengannya, Alan pun lekas menggendong Dewi dan membawanya pergi dari tempat itu. Namun, sebelum kepergiannya, kedua matanya sempat bertemu pandang dengan Rena. Berbagai perasaan bercampur aduk saat kedua pasang mata itu bertemu. Alan lekas mengalihkan pandangannya menjauh dari Rena dan melanjutkan langkahnya membawa Dewi pergi ke rumah sakit.
Rena hanya termangu menyaksikan pemandangan itu. Saat Alan dengan wajah penuh kecemasan membawa Dewi pergi dari tempat itu. Ada rasa sedih, sakit, cemas, dan kecewa yang menyelubungi hatinya.
"Ah, syukurlah, Kak Alan berhasil menyelamatkan istrinya," ucap Aisyah yang berdiri di samping Rena
"Istri?" tanya Rena terkejut
"Iya, maaf, aku lupa belum memberi tahu kamu bahwa sebulan setelah Kak Alan berhasil meraih gelar sarjananya, ia melamar Dewi dan menikah dengannya," jawab Aisyah.
Menikah, Kak Alan sudah menikah. Jadi inikah akhir kisahnya dengan Kak Alan (batin Rena).
Seketika rasa kecewa dan sedih singgah di hati Rena, ia masih belum bisa percaya bahwa waktu satu tahun telah mengubah takdir hidupnya.
*****
Bersambung
__ADS_1