Cintaku Di Kampus Pelangi

Cintaku Di Kampus Pelangi
Eps. 39


__ADS_3

Rena memasuki salah satu ruangan bercat hijau muda di gedung sekolah itu. Seperti biasanya, kantor itu selalu tampak sepi. Belum ada seorang guru pun selain Rena yang berada di kantor itu.


Rena pun kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut. Setelah meletakkan tasnya, ia memilih untuk mengoreksi tugas anak-anak yang kini sudah bertumpuk di atas mejanya.


"Assalamualaikum," sahut dua orang guru laki-laki yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Waalaikumsalam warahmatullaah," jawab Rena tanpa melirik ke asal suara.


Rena masih saja sibuk mengoreksi tugas anak-anak.


"Eh, Bu Rena, udah masuk rupanya. Saya dengar Sabtu kemarin Ibu diwisuda. Selamat ya.." sahut Pak Asep.


"Iya, Pak, makasih," jawab Rena.


"Pak Rayhan, ini Bu Rena, guru baru yang kemarin saya ceritakan. Masih lajang, bunganya SMP kita, cantik kan?" ucap Pak Asep pada Rayhan.


Mulai lagi nih kebiasaannya Pak Asep (ucap Rena dalam hati)


Rayhan tak menjawab ucapan Pak Asep, ia masih saja terus menatap Rena. Sedang Rena yang merasa tak nyaman ditatap seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya.


Nih, orang kenapa sih? Ngeliatin aku gitu banget (gumam Rena dalam hati).


Rayhan memang seperti yang diceritakan murid-muridnya. Selain memiliki paras yang rupawan, ia juga memiliki bentuk tubuh yang atletis sehingga pantaslah jika ia menjadi salah satu guru yang paling diidolakan di sekolah tersebut.


****


Seminggu setelah pertemuannya dengan Rayhan, tepatnya saat jam pelajaran terakhir telah selesai, Rena mendapat pesan yang cukup mengejutkan dari nomor yang tak dikenalnya.


"Assalamualaikum, Bu Rena." (nomor tak dikenal)


"Waalaikumsalam. Maaf, ini nomor siapa ya?" (Rena)


"Saya Rayhan, Bu Rena." (nomor tak dikenal)


"Oh, Pak Rayhan, ada apa ya?" (Rena)


"Bu, mau kah Ibu menikah dengan saya?" (Rayhan)


Pesan terakhir yang dibaca Rena dari Rayhan sungguh membuatnya terkejut.


Ini orang sudah gila apa ya? Baru seminggu ketemu udah ngajak nikah.(gumam Renata)


Tak habis pikir dengan pesan yang baru saja dibacanya.


"Bu, bagaimana jawaban Ibu dengan ajakan saya?" (Rayhan)


"Bapak, tolong jangan bercanda seperti ini, saya nggak suka." (Rena)


"Saya benar-benar serius, Bu. Nggak bercanda, saya serius suka dengan Ibu dan ingin mengajak Ibu menikah." (Rayhan)


"O, ya, kalau begitu silakan Bapak datang ke rumah saya dan temui kedua orang tua saya." (Rena)


"Kita lihat, apa dia berani" gumam Rena.


"Baik, nanti malam saya akan ke rumah ibu. Jadi, tolong kirimkan alamat rumah ibu." (Rayhan)


"Apa ? Ini orang benar-benar sudah gila ya? Aku kasih nggak ya, alamatnya?" gumam Rena sudah mulai bingung


"Baik, nih alamat rumah saya," (Rena sambil mengirimkan denah lokasi rumahnya)


Aduh, Rena, kenapa kamu malah mengirim alamat rumahmu. Bagaimana kalau dia benar-benar datang dan melamar kamu pada kedua orang tuamu. Ya ampun, mati aku.. (pikir Renata)


Sepanjang jalan Rena terus memikirkan pesan yang dikirimkan Rayhan tadi. Ia berharap Rayhan tidak benar-benar datang ke rumahnya untuk melamar dirinya.


****


Hari mulai menjelang malam membuat Renata semakin gelisah. Ia masih memikirkan pesan yang diterimanya tadi siang.

__ADS_1


“Aduh, Pak Rayhan itu benar-benar datang ke rumah nggak ya....? Apa benar yang dikatakannya tadi? Ah, mana mungkin. Sepertinya tadi dia salah minum obat,” gumam Rena.


Rena terus menggenggam ponselnya untuk memastikan ada atau tidaknya pesan atau pun panggilan masuk dari Rayhan. Kemudian, ia keluar dari kamarnya, melirik ke arah luar melalui jendela yang ada di depan rumahnya.


“Rena, kamu kok kelihatan gelisah sekali, memang ada apa di luar?” tanya Mama Rena yang sedari tadi memperhatikan Rena yang tampak berbeda hari itu.


Malam itu Rena terlihat tampak lebih rapi dari biasanya. Ia mengenakan kemeja berwarna merah muda dengan bawahan rok hitam dan jilab dengan warna yang senada. Hal itu, tidak biasa dilakukannya karena biasanya Rena hanya memakai kaos atau piyama dan jarang sekali baginya menggunakan jilbab jika sedang berada di dalam rumah.


“Mungkin dia lagi nunggu seseorang, Mah,” ucap Ayah Rena yang kebetulan berada di ruangan yang sama dengan Rena dan ibunya. Ia tampak sedang asyik menikmati segelas teh manis hangat yang baru saja disajikan oleh istrinya beserta kudapan pisang goreng yang tampak begitu nikmat.


“Benar itu Rena?” tanya Mama Rena antusias.


“Iya, Mah, tadi teman Rena bilang, malam ini dia mau main ke sini,” jawab Rena.


“Oh ya, laki-laki atau perempuan Rena?” tanya Mama Renata.


“Mmm... laki-laki, Mah,” jawab Rena.


Jawaban Rena membuat Mama melebarkan senyumnya. Ia tampak begitu bahagia ketika tahu bahwa teman Rena yang sedang ia tunggu itu adalah seorang laki-laki. Ini adalah kali pertama bagi Rena mengajak teman laki-lakinya main ke rumah.


“Orangnya kaya gimana Rena? Apa dia Pak Dewa yang sering kamu ceritakan?” tanya Mama Renata.


Mama Rena menduga teman Rena yang akan datang itu Dewa bukan tanpa sebab. Hal itu karena Rena pernah bercerita pada Mamanya bahwa di sekolah guru-guru maupun murid-muridnya sering menjodohkan ia dengan Dewa.


“Bukan Mah, ini Pak Rayhan, guru baru,” jawab Rena yang membuat Mama Rena kaget.


“Ganteng?” tanya Mama.


“Mama nilai aja nanti sendiri, tapi itu juga kalau dia jadi datang,” jawab Rena.


Baru saja Rena berkata seperti itu, tiba-tiba Rayhan, orang yang sedang mereka bicarakan meneleponnya.


“Mah, sebentar ya, Rena angkat telepon dulu,” ucap Rena sambil berjalan agak menjauh dari Mamahnya dan mengangkat telepon masuk dari Rayhan.


“Halo, Rena, Assalamualaikum,” sapa Rayhan lembut.


“Halo, Rena, Assalamualaikum,” sapa Rayhan kembali.


“Oh, Waalaikumsalam warahmatullaah,” jawab Rena setelah dirinya memastikan bahwa yang didengarnya barusan tidaklah salah.


“Aku sekarang sudah sampai di depan rumahmu,” ucap Rayhan.


“A-apa?! Sampai di mana?” tanya Renata kaget.


“Aku sekarang sudah sampai di halaman depan rumahmu. Rumahmu yang catnya warna hijau kan?” tanya Rayhan membuat Rena semakin terkejut.


Tak menunggu lama, Rena segera mengintip keberadaan Rayhan dari balik jendela depan rumahnya.


“Astaga, dia benar-benar datang kemari?” gumam Rena begitu melihat Rayhan sedang berada di depan rumahnya.


“Ada apa Rena?” tanya Mama Renata yang sedari tadi memperhatikan sikap putrinya.


“Emm, teman Rena sudah ada di depan, Ma,” sahut Rena.


“Oh, bagus kalau begitu. Suruh dia masuk!” sahut Mama Renata.


“Iya, Mah, Rena jemput dia ke depan dulu ya,” ucap Rena berlalu pergi meninggalkan sang Mama.


***


Rena berjalan ke depan, menghampiri Rayhan yang masih duduk di atas motornya.


“Pak Rayhan, tidak disangka Anda sudah datang,” ucap Rena saat ia sudah berada dekat dengan Rayhan.


“Rena, tolong, kalau di sini jangan panggil aku Pak Rayhan. Panggil Rayhan saja,” sahut Rayhan saat beranjak dari motornya.


“Baiklah, Rayhan, mari masuk,” ajak Rena.

__ADS_1


Namun, langkah Renata terhenti saat Rayhan tiba-tiba memegang tangan kanannya.


“Rena, kamu cantik sekali malam ini,” puji Rayhan dengan tatapannya yang hangat, membuat Rena tersipu malu karenanya.


“Ih, kamu gombal ya,” sahut Renata seraya menarik tangannya dari pegangan Rayhan.


"Aku tidak sedang menggombal. Kamu benar-benar cantik malam ini," ucap Rayhan.


Rena hanya tersenyum menanggapi pujian dari Rayhan sambil terus berjalan menuju rumahnya.


***


“Assalamualaikum,” ucap Rayhan saat sudah berada di pintu depan rumah Rena yang kebetulan tidak dikunci.


“Waalaikumsalam, ” jawab Mama dan Ayah Rena yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.


Mereka tampak terlihat bahagia, saat melihat kedatangan Rayhan yang malam ini terlihat begitu tampan. Selain itu, Rayhan pun bersikap sangat sopan. Ia mencium tangan kedua orang tua Rena saat bertemu dengan mereka. Kemudian, memberikan satu kantong plastik berisi dua dus martabak keju kesukaan Rena kepada Mama Rena.


“Oh, terima kasih. Ini Rayhan bukan?” tanya Mama Renata.


“Iya, Tante,” jawab Rayhan.


“Mari silakan duduk,” ucap Mama Renata.


“Makasih Om, Tante,” ucap Rayhan yang kemudian duduk di kursi yang berada di depan kursi kedua orang tua Renata.


Mereka pun tampak asyik berbicang-bincang satu dengan lainnya. Sesekali gelak tawa muncul di antara perbincangan mereka.


Benar kata anak-anak, Rayhan itu orang yang sangat supel dan humoris. Baru sehari ketemu saja, Mama sama Ayah sudah terlihat akrab sekali dengannya. Eh, tapi, Rayhan malam ini benar-benar akan ngelamar aku gitu. (batin Renata yang masih dihantui kata-kata Rayhan tadi siang)


Ada perasaan khawatir dalam diri Rena, saat ia ikut menyimak percakapan antara Rayhan dengan kedua orang tuanya. Ia takut kalau Rayhan benar-benar akan langsung melamarnya. Namun hingga percakapan mereka berakhir dan Rayhan pamit untuk pulang, Rayhan sama sekali tak membahas masalah tersebut. Saat itulah Rena mulai merasakan kelegaan.


***


Rena mengantarkan Rayhan pulang hingga sampai di tempat Rayhan memarkirkan motornya.


“Rena, aku serius minggu depan aku benar-benar akan melamar kamu,” ucap Rayhan saat mulai menaiki motornya.


“Kamu bicara apa? Dari siang bicaranya masalah lamaran terus,” ucap Rena yang tersenyum karena menganggap ucapan Rayhan hanya gurauan semata.


“Kali ini aku benar-benar serius Rena,” sahut Rayhan.


“O, ya?” tanya Renata masih meragukan perkataan Rayhan.


“Benar, aku benar-benar serius Renata. Karena kamu tahu kan di sekolah kita ada larangan keras untuk pacaran. Jadi, aku rasa, aku akan benar-benar melamar kamu,” tegas Rayhan.


Ucapan Rayhan ada benarnya. Di sekolah tempat Rena mengajar sekarang memang terbilang sangat ketat dengan aturan. Salah satunya , melarang para siswanya untuk pacaran, termasuk guru-gurunya tentunya.


“Rayhan, kamu benar-benar serius?” tanya Rena mempertegas perkataan Rayhan.


“Benar, aku benar-benar serius Rena, bila perlu aku akan mengajak Pak Dimas. Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau aku akan mempermainkan kamu,” ucap Rayhan bersungguh-sungguh-sungguh.


Apa? Pak Dimas? Ya, ampun menghadapi seorang Rayhan saja aku tidak bisa banyak bicara. Apalagi seorang Pak Dimas, bisa-bisa dia akan mengeluarkan ceramah panjang lebarnya. (Pikir Rena)


“Baik, Rayhan, aku percaya. Tapi, kan kita baru saling mengenal,” sahut Rena.


“Iya, aku tahu. Kita bisa saling mengenal lagi setelah kita berdua menikah,” ucap Rayhan lembut.


Rena sama sekali tak bisa menjawab perkataan Rayhan. Selain membenarkan apa yang diucapkannya. Laki-laki itu memang pandai sekali berbicara.


***


Bersambung


Terima kasih sudah setia membaca cerita ini.. Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan memberikan like, rate, 5, vote, dan komennya. Jadikan, juga favorit ya..❤️❤️❤️🙏🙏🙏


O, ya, ni masih bercerita tentang Renata, Rayhan, dan Dewa dulu ya.. untuk kisahnya dengan Alan, harap bersabar...😉

__ADS_1


__ADS_2