Cintaku Di Kampus Pelangi

Cintaku Di Kampus Pelangi
Eps.14


__ADS_3

Seorang lelaki berparas tampan dengan perban di kepalanya, tampak sedang memandangi sebuah foto. Ia duduk di atas ranjang sebuah kamar bernuansa putih abu-abu. Cairan bening pun mengalir keluar di kedua sudut matanya hingga membasahi foto yang sedang ia pegang.


Foto seorang gadis berparas cantik dengan rambut panjangnya yang terurai. Gadis yang selama ini mengisi hati dan pikiran laki-laki itu. Gadis yang telah pergi meninggalkannya untuk selama-lama.


Tok tok tok !!!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


"Bolehkah kami masuk?" sahut suara yang nampak tak asing dari luar kamarnya.


Laki-laki itu pun mengusap air mata yang tadi sempat terjatuh dari pipinya dan segera bangkit dari ranjangnya. Ia pun membuka pintu kamar yang selama beberapa hari ini tertutup rapat.


"Hey, Bro," sahut dua orang laki-laki yang baru saja datang seraya memeluk laki-laki itu.


Mereka adalah Alan dan Faizal. Mereka baru saja datang ke tempat laki-laki itu.


"Gimana keadaanmu, Bi?" tanya Alan sambil memandangi penampilan Abi yang nampak lusuh, dengan beberapa luka lebam di badannya dan perban di kepalanya.


"Duduk Lan, Iz," sahut Abi belum menjawab pertanyaan Alan.


Alan dan Faizal pun duduk di sofa yang ada sisi kamar dekat ranjang yang Abi duduki sekarang.


Kedua mata mereka terus memandangi Abi yang sedari tadi diam dan belum menjawab pertanyaan Alan.


"Seperti yang kalian liat, aku baik-baik saja," sahut Abi sambil menundukkan kepala, menyembunyikan raut wajahnya. Namun, dari suaranya dapat terdengar banyak kegetiran yang sulit untuk dijabarkan.


Alan dan Faizal pun saling berpandangan. Kali ini kata-kata yang biasanya bisa dengan mudah keluar begitu saja dari mulut mereka, kini seolah terasa sangat berat.


Berbagai pilihan kata berkecamuk dalam pikiran mereka, namun ragu untuk mereka keluarkan.


Keheningan sejenak melanda kamar itu..


"Abi, kamu harus sabar menghadapi ini semua. Tuhan lebih sayang padanya." sahut Alan memecah keheningan.


"Iya, aku tahu, tapi rasanya itu sangat berat bagiku. Kenapa Tuhan tidak sekalian mengambil nyawaku? Kenapa aku harus kehilangan dia dengan cara seperti ini?" ucap Abi lirih, namun penuh emosi dan penekanan di kata-kata terakhirnya.


"Abi, mungkin Tuhan punya rencana lain buat kamu. Mungkin dia memang bukan jodohmu," sahut Alan berusaha menenangkan Abi.


"Tapi, akulah salah satu yang menjadi penyebab kematiannya," ucap Abi lirih.


"Aku seharusnya bisa menghindari truk itu," ucap Abi penuh emosi.


" Sudah, Bi. Sudah! Percuma kamu menyalahkan dirimu sendiri. Nena tidak akan kembali. Sekarang harusnya kamu memikirkan orang tuamu. Mereka benar-benar merasa sedih melihat keadaanmu seperti ini, Bi," sahut Alan.


Abi pun hanya menghela nafas panjang. Ia sadar bahwa apa yang dikatakan Alan itu ada benarnya. Ia tidak bisa terus menerus larut dalam kesedihannya. Nena, kekasihnya telah pergi. Ia telah pergi untuk selamanya dan tak akan mungkin kembali.


"Pikirkan perkataanku baik-baik! Bangkitlah! Sebagaimana Abi yang kita kenal dulu. Abi yang hebat, kuat, dan tidak mudah ditumbangkan oleh apa pun," sahut Alan.


"Benar kata Alan, Bi. Aku juga yakin kamu pasti bisa," sahut Faizal yang sedari tadi diam saja.

__ADS_1


Alan dan Faizal pun menepuk pundak Abi. Mereka hendak keluar dari kamar itu.


"Kami pamit pulang dulu ya, Bi!" sahut Alan, namun sebelum ia dan Faizal benar-benar keluar dari kamar Abi.


Tiba-tiba ..


"Alan," Suara Abi yang terdengar rendah, namun masih bisa didengar, membuat langkah kaki Alan dan Faizal terhenti. Ia pun membalikan badannya dan menoleh ke arah Abi.


"Ada apa?" tanya Alan


" Bisakah kau menemaniku ke makam Nena, dan..." tanya Abi menggantung.


"Dan apa?" tanya Alan mengerutkan dahinya


"Menemaniku menemui orang tua Nena. Bukankah kau cukup dekat dengan mereka," sahut Abi melanjutkan perkataannya yang terpotong tadi.


Deg, permintaan Abi itu cukup mengejutkan bagi Alan. Pasalnya, ia cukup mengenal seperti apa karakter orang tua Nena, terutama ibunya Nena.


Kebetulan, selain Alan pernah satu sekolah dengan Nena semasa SMA dulu, ibunya Nena pun merupakan teman dekat ibunya Alan. Dari ibunya pula Alan tahu bahwa ibunya Nena masih belum bisa menerima kematian putri semata wayangnya itu. Entah, seperti apa reaksinya jika bertemu dengan Abi nanti. Alan pun belum bisa menebaknya.


"Baiklah," sahut Alan menyetujui permintaan temannya Abi.


" Aku belum sempat melihat makam Nena dan menemui kedua orang tuanya. Karena saat Nena dimakamkan keadaanku kritis. Aku sempat tak sadarkan diri selama dua hari di rumah sakit." Jelas Abi.


Sebenarnya tanpa Abi perlu menjelaskan pun Alan sudah tahu semuanya. Karena saat mendengar Abi dan Nena kecelakaan, Alan langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi keduanya.


****


Setelah pulang dari kampus, Alan pun segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket karena keringat. Selesai mandi, ia pun merebahkan badannya ke atas ranjang. Baru sebentar merebahkan diri, ponsel yang disimpannya di atas meja yang berada di dekat televisi itu pun berdering.


Nada panggilan masuk itu menggiring Alan untuk menghampiri ponselnya tersebut. Dilihatnya nama yang ada di layar ponselnya itu. Seulas senyum menghias wajah Alan yang tampan.


"Assalamualaikum.. Halo, Mama cantik, kangen ya.. sama putra Mama yang tampan ini?" tanya Alan pada si penelepon. Namun, Mamanya Alan tak memberi respon akan pertanyaan Alan itu.


Keheningan sejenak melanda percakapan ibu dan anak itu, hingga suara tangis terdengar dari balik telepon. Mendengar itu, kecemasan pun melanda Alan, entah apa yang terjadi dengan sang Mama.


"Waalaikumsalam," akhirnya suara itu pun terdengar, suara yang begitu berat menahan tangis.


"Mah, ada apa?" tanya Alan cemas.


"Alan, tadi Mama baru dapat kabar bahwa anaknya Tante Rossi mengalami kecelakaan," sahut Mama Alan.


"Anak Tante Rossi? Maksud Mama?" tanya Alan bingung karena yang dia ingat Tante Rossi teman Mamanya itu Bundanya Nena.


"Nena, anak Tante Rossi. Dia dan teman kamu, Abi, tadi mendapat kecelakaan dan sekarang mereka dirawat di rumah sakit XXX. Rencananya Mama sekarang akan ke sana menemani Tante Rossi." ucap Mama


" Astaga. Baiklah, Alan juga akan ke sana, Ma," sahut Alan


"Ya sudah, Mama tutup teleponnya ya, sayang. Assalamualaikum," sahut Mama Alan

__ADS_1


"Waalaikumsalam," ucap Alan menutup teleponnya. Setelah itu, ia pun bergegas berangkat ke rumah sakit.


***


Sesampainya di rumah sakit


Suara tangis dua orang perempuan terdengar di depan sebuah pintu ruangan rumah sakit. Kedua perempuan itu adalah wanita yang sangat dikenali Alan, yang satu adalah sang Mama, sedang yang satunya lagi, Bundanya Nena.


Bunda Nena tampak sedang memeluk erat sang Mama. Wajahnya dipenuhi buliran air mata yang dapat membuat siapa pun yang melihat, tersayat hatinya. Demikian juga Alan.


"Mah," panggil Alan pada sang Mama


Mendengar suara Alan, kedua perempuan itu langsung menoleh dan melepaskan pelukan yang terjadi di antara keduanya.


Wajah Mama Alan tampak sama kusutnya dengan wajah Tante Rossi. Berkali-kali ia berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipinya, tapi sepertinya semua itu sia-sia. Air mata itu tak juga bisa hilang dari wajah manis sang Mama.


"Dia sudah pergi Alan. Dia sudah pergi," ucap Mama Alan sambil terus berusaha menahan tangisnya.


Deg


Mendengar kata 'pergi' badan Alan terasa lemas.


"Apa maksud Mama? Siapa yang pergi?" tanya Alan mencoba memastikan bahwa apa yang dipikirkannya itu salah.


"Nena, Alan. Nena sudah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya," sahut Mama Alan. Air matanya pun mengalir dengan deras tak sanggup lagi ia menahan air mata itu. Ia pun memeluk temannya yang memiliki keadaan yang sama sepertinya bahkan tampak lebih menyedihkan. Mereka saling menguatkan satu dengan lainnya.


Sedang Alan, ia hanya terpaku, perasaannya bercampur aduk, sulit untuk percaya dengan kenyataan pahit yang baru saja didengarnya. Baru tadi siang ia bertemu dengan Nena dan Abi di kampus. Mereka berdua tampak baik-baik saja, tak ada firasat buruk sama sekali. Namun, sekarang apa yang dilihatnya? Yang satu, tubuhnya terbujur kaku, dingin, pucat pasi, jantungnya pun sudah tak berdetak lagi, sedangkan yang satunya lagi, dalam keadaan tak sadarkan diri. Beberapa dokter sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk mengembalikan kesadarannya.


****


Setelah mendengar kabar duka tentang Nena, Alan bersama sang Mama, menemani keluarga Nena untuk mengantarkan jenazah Nena ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Sore itu, cuaca nampak tak bersahabat. Awan hitam mulai menutupi langit yang biru bersiap menyambut datangnya hujan. Itulah sebabnya pemakaman Nena lebih dipercepat dari yang seharusnya.


Tante Rossi tak henti-hentinya menangisi kepergian Nena. Meski, sang suami berkali-kali menasihatinya agar tak larut dalam kesedihan.


"Sudah Bunda, sudah, biarkan Nena tenang di sana," ucap Ayah Nena, Om Rahmat.


"Tapi Ayah, Bunda masih sangat sulit untuk bisa menerima ini semua. Kenapa Nena harus pergi meninggalkan Bunda seperti ini?" sahut Tante Rossi yang tak henti menangis.


"Bunda! Bunda, harus ikhlas menerima kepergian Nena. Biarkan dia tenang di alam sana," ucap Ayah Nena menenangkan istrinya.


"Tapi Nena anak kita satu-satunya, Yah, hiks..hiks.. ," sahut Tante Rossi.


"Benar Tante, Nena pasti akan sedih melihat Bundanya seperti ini. Tante kan tau, Nena paling tidak tahan kalau melihat Bundanya menangis. Lagipula ini sudah kehendak Tuhan, Tante. Tante menangis seperti apa pun tak akan mungkin mengembalikan Nena. Dia sudah pergi, Tante, dan tak akan bisa kembali lagi, " sahut Alan.


Perkataan Alan membuat Tante Rossi terdiam, saat ini antara nalar dan hatinya tak bisa bersinergi dengan baik. Di satu sisi, nalarnya membenarkan apa yang dikatakan Alan dan suaminya. Namun, di sisi lain hatinya menjerit tak bisa menerima semua ini. Kepergian putri semata wayangnya begitu mendadak, tanpa kata, tanpa pelukan.


Flashback off

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2