Cintaku Di Kampus Pelangi

Cintaku Di Kampus Pelangi
Eps.15


__ADS_3

Kini Abi, Alan, dan Faizal telah sampai di pemakaman. Mereka duduk di sekitar pusara dengan batu nisan yang bertuliskan 'Serena Wijaya binti Rahmat Wijaya'.


Diletakkannya sebuket bunga mawar putih di atas pusara itu oleh Abi. Ia memandangi batu nisan itu lekat-lekat, matanya mulai berkaca-kaca. Kenangan demi kenangan akan kebersamaan dengan sosok yang kini terbalut kain kafan di bawah pusara itu melintas dalam ingatannya. Tetesan air mata jatuh di kedua sudut matanya.


Alan yang berada di dekat Abi menyaksikan pemandangan memilukan itu. Ia pun menepuk pundak teman seperjuangannya, seolah ingin mengisyaratkan agar temannya itu bangkit dan menyudahi kesedihannya. Seolah mengerti dengan isyarat Alan, Abi pun menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi putihnya.


"Nena, sayang, maaf, aku baru bisa menemui mu hari ini. Maaf, juga jika sampai hari ini aku pun masih belum bisa menemukan kata-kata romantis untuk mengungkapkan segala rasa sayangku kepadamu sebagaimana yang kau inginkan. Aku memang tak pandai berkata-kata. Namun, kau tahu aku benar-benar sangat menyayangimu. Aku sangat bahagia dengan keberadaan mu di sisiku. Itu sebabnya mengetahui kenyataan bahwa kau sudah tidak bersama ku lagi membuatku benar-benar terpukul. Ingin rasanya aku menghentikan waktu saat kita masih bersama. Tapi rupanya semua itu sudah tidak mungkin, " ucap Abi dengan penuh kegetiran.


Abi pun menarik nafasnya panjang, berusaha menetralkan perasaannya, agar air mata tak lagi menetes di pipinya.


"Nena, mungkin ini sudah takdir kita. Tuhan lebih menyayangimu dibanding diriku. Aku berharap engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," ucap Abi berusaha tegar.


Setelah kalimat terakhir itu terucap dari mulut Abi, ia pun mengangkat kedua telapak tangannya, berdoa untuk kekasih yang kini telah berada di sisi-Nya. Alan dan Faizal pun mengikuti gerakan Abi. Mereka melakukan doa bersama untuk Nena.


Setelah lantunan doa selesai dibacakan, ketiganya bangkit dari tempat tersebut. Mereka hendak melanjutkan perjalanan mereka ke rumah kedua orang tua Nena. Namun, di tengah perjalanan, langkah ketiganya terhenti, saat mereka melihat dua sosok yang ingin mereka temui sedang berjalan ke arah mereka.


Dua sosok itu tak lain adalah Om Rahmat dan Tante Rossi. Mereka adalah orang tua Nena.


"Om, Tante," sapa Alan saat mereka berpapasan. Kedua sosok itu pun turut berhenti di hadapan Alan, Abi, dan Faizal.


"Alan, apa kamu dan teman-temanmu baru dari makam Nena?" sapa Om Rahmat ramah


"Benar, Om, saya dan Faizal baru dari makam Nena mengantar Abi," ucap Alan.

__ADS_1


Dua sosok itu pun memindahkan pandangan mereka ke arah Abi. Memperhatikan Abi dengan seksama.


"Kamu sudah sehat rupanya," ucap Tante Rossi dingin setelah memperhatikan Abi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah seolah tak ingin melihat muka Abi.


Melihat sikap Tante Rossi yang seperti itu kepadanya, hati Abi terasa sangat sakit. Betapa tidak, Tante Rossi adalah ibu yang sangat dicintai kekasihnya. Begitu pula sebaliknya, ia tahu Tante Rossi adalah ibu yang sangat mencintai putrinya. Namun, meski hatinya terasa sakit ia tetap berusaha untuk menahan perasaan itu.


"Alhamdulillah sudah, Tante," jawab Abi.


"Baguslah," sahut Om Rahmat sambil menepuk bahu Abi pelan.


Kemudian Om Rahmat dan Tante Rossi pun meninggalkan mereka bertiga. Namun, langkah keduanya terhenti saat Abi tiba-tiba memanggil Tante Rossi.


"Tante," panggil Abi.


"Tante, bolehkah saya memeluk Tante?" pinta Abi. Mendengar pertanyaan Abi, Tante Rossi pun membalikkan badannya menghadap Abi.


"Untuk apa?" tanya Tante Rossi ketus


"Kamu hanya orang asing! Kamu hanya laki-laki yang pernah dekat dengan anak saya, dan setelah anak saya tiada, itu artinya kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," ucap Tante Rossi penuh emosi dan penekanan di setiap katanya dan setelah selesai mengucapkan kata-katanya kepada Abi, ia pun mengalihkan pandangan ke tempat lain seolah tak ingin melihat Abi lebih lama lagi.


"Tante, saya tahu Tante bicara seperti itu karena marah pada saya. Tante kecewa pada saya karena saya tak mampu melindungi Nena, putri kesayangan Tante," sahut Abi.


"Iya, itu benar! Saya kecewa sama kamu! Sangat Kecewa! Kamu tak mampu menjaga Nena dengan baik! Padahal saya sudah bilang pada kamu, waktu kamu akan mengajaknya pergi, tolong jaga Nena dengan baik!!" teriak Tante Rossi penuh emosi sambil menatap Abi dengan tajam.

__ADS_1


"Bunda, cukup! Berapa kali Ayah bilang ini semua sudah takdir. Mengapa Bunda terus menerus menyalahkan Abi? Abi maafkan Tante Rossi, ya," sahut Om Rahmat.


Abi tak menjawab apa pun. Tiba-tiba saja ia memeluk erat Tante Rossi dari belakang. Tante Rossi yang saat itu hendak berlalu pergi meninggalkan Abi bersama kemarahannya, tampak terkejut dengan tindakan Abi.


"Tante, sekali lagi maafkan Abi, Abi mohon. Nena selalu bilang kalau Tante marah, Nena akan memeluk Tante dengan erat dan tidak akan melepaskan pelukannya dari Tante sampai Tante memaafkannya," Ucap Abi.


Deg,


Ucapan dan pelukan Abi seketika itu meluluhkan amarah yang ada dalam diri Tante Rossi. Ia teringat akan Nena, putri semata wayangnya. Putrinya itu memang selalu melakukan apa yang sekarang dilakukan Abi. Setiap kali, ia marah pada putrinya, Nena akan memeluk dirinya dengan erat sampai ia mau memaafkan kesalahan putrinya.


Air mata pun mengalir di wajah cantik wanita paruh baya itu. Om Rahmat membiarkan istrinya. Ia tak berkata apa pun karena ia tahu kemarahan istrinya sekarang sudah mulai mereda. Abi telah berhasil menyentuh sisi jiwa istrinya yang rapuh.


"Baiklah, demi Nena, aku memaafkan kamu," ucap Tante Rossi pelan, namun masih bisa didengar.


Mendengar perkataan Tante Rossi, semua yang ada di tempat itu merasa senang. Ada kelegaan yang selama ini mengganjal di hati mereka. Suasana haru melingkupi tempat itu. Tanpa sadar, mata Abi, Alan, dan Faizal pun terlihat sembab.


Abi pun melepaskan pelukannya dari Tante Rossi. Setelah itu, Tante Rossi pun menengok ke belakang.


"Hei! Kamu itu laki-laki! Cepat hapus air mata itu! Kalian juga!" tegur Tante Rossi pada Abi dan tiga orang laki- laki lainnya yang kini berada di belakangnya dengan mata sembab.


Suasana saat itu pun mulai berubah. Suasana yang tadinya menegangkan, kini berganti menjadi suasana yang hangat. Setelah Tante Rossi dan Om Rahmat mengunjungi makam Nena. Ia dan suaminya pun mengajak Abi, Alan, dan Faizal untuk ke rumahnya.


****

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2