Cintaku Di Kampus Pelangi

Cintaku Di Kampus Pelangi
Eps.16


__ADS_3

Hujan semalam meninggalkan jejak-jejak basah di setiap permukaan bumi, membuat para pengguna jalan harus lebih berhati-hati dalam mengemudikan kendaraannya. Menyebabkan kemacetan terjadi di mana-mana. Hal itu tak luput pula dialami oleh Rena. Ia tampak resah, berkali-kali ia memandangi jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Aduuuh, kalau kaya gini bisa kesiangan," gumam Rena saat bus yang ditumpangi hanya diam tak bergerak.


Ponsel yang berada dalam tasnya pun berbunyi. Tampak panggilan masuk dari seseorang yang cukup dikenalnya.


"Halo, Na, kamu lagi di mana sih?" tanya si penelepon yang tak lain adalah Novi.


"Masih di bus, Nov," jawab Rena.


"Ya ampun, mo datang jam berapa kamu? Ni udah mo mulai loh acaranya," sahut Novi.


"Iya gak tau, gimana lagi masih macet," keluh Rena frustasi.


"Hadeuh.. Mang tadi kamu berangkat jam berapa sih?" tanya Novi gemes.


"Kayak biasa Emak," sahut Rena.


"Huss, Emak, Emak! Emang kapan aku nikah sama abah kamu!" sahut Novi nyolot.


"Hahaha, becanda Nov. Lagian bawel sih kamu kayak emak-emak," Sahut Rena.


"Ya udah, ya udah, sekarang dengerin emak! Emak mau nanya posisi kamu lagi di mana, Neng?" tanya Novi


"Masih di daerah XX dekat Gang Pocong," sahut Rena.


"Lah, itu mah masih jauh banget. Sementara waktu kamu sekarang tinggal 20 menit lagi, Cinta," sahut Novi


"Iya sayang, makanya doain aku biar cepat nyampe," sahut Rena


"Ya udah, aku doain semoga kamu cepat sampai. Oh ya, jangan lupa pakai sepatu supernya ya, biar bisa cus sampai kampus." sahut Novi


"Oke, Ayang Nov, kalau udah sampai kampus, aku pasti pakai sepatu super biar cus sampai kampus yang penting gak sampai ******," sahut Rena


"Huss, nie anak kalo ngomong suka asal! Udah, ah aku tutup teleponnya!" ucap Novi


"Iya, Ayang Nov " Sahut Rena


"Oh ya, satu lagi, semoga kamu datang dengan selamat, nggak sampai terlambat karena kalau terlambat kamu bisa gak selamat," ucap Novi menekan kata terakhir


"Iya, makasih doanya," sahut Rena


Rena dan Novi pun sama-sama mengakhiri panggilan tadi.


***


"Gimana Nov, Rena lagi di mana?" tanya Rindu


"Masih di bus. Di daerah XX, Gang Pocong," jawab Novi


"Waduh, masih jauh banget. Acaranya bentar lagi mulai, lho," sahut Rindu


"Entahlah," sahut Novi sambil mengangkat kedua bahunya.


"Novi, Rindu, Rena mana?" sapa Aisyah berjalan menghampiri Novi dan Rindu bersama dengan Lala dan Dina


"Belum datang, masih di jalan," jawab Novi.


"Ya udah, kalo gitu sekarang kita langsung masuk ke aula aja, yuk!" ajak Aisyah


"Yuk," jawab Novi dan Rindu bersamaan


Mereka pun berjalan menuju aula.


***


Setelah turun dari bus, Rena pun dengan cepat melanjutkan perjalanannya. Ia pun kemudian menaiki angkot yang akan mengantarkannya langsung menuju kampus tercintanya. Sesampainya di depan kampus, ia pun turun dari angkot. Tanpa melihat ke kanan dan kiri jalan, ia pun menyeberang.

__ADS_1


Teeet!


Suara klakson mobil menggema panjang di telinga Rena, dan saat itu juga seseorang menarik lengan Rena hingga ia berada persis di halaman depan kampusnya. Orang itu tak lain adalah Arka. Arka menarik lengan Rena saat melihat sebuah mobil hampir saja menabrak Rena.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Arka


"Iya, aku gak apa-apa. Makasih ya, Kak, udah nolongin aku untuk kedua kalinya," sahut Rena


"Kedua kalinya???" tanya Arka bingung


"Iya, sebelumnya Kakak sudah pernah menyelamatkanku saat aku hampir saja tertabrak mobil di Jalan XX depan pusdikzeni," sahut Rena


"Oh iya, aku ingat. Jadi itu kamu?" Ucap Arka setelah mengingat kejadian tersebut.


"Iya, Kak," jawab Rena.


"Ya ampun, berarti kamu orangnya ceroboh juga, ya? Pantes aku tuh kaya pernah lihat kamu sebelumnya. Terus itu gimana luka di kening mu? Udah baik, kan?" tanya Arka sambil menyingkirkan rambut yang menutupi kening Rena.


Ya, ampun... deket banget.. jantungku bisa loncat nih... (batin Rena)


"Udah baik kan, Kak," sahut Rena.


"Baguslah, kalo begitu. Kemarin, aku benar-benar merasa bersalah banget," sahut Arka.


"Gak apa-apa, Kak. Namanya juga Kakak gak sengaja. Kalau sengaja tuh baru aku gak akan maafin Kakak," jawab Rena..


***


Di tempat lain


Dua orang perempuan yang hampir sebaya dengan Rena sedari tadi memperhatikan percakapan antara Rena dengan Arka. Mereka menggunakan jas almamater biru dengan name tag di sebelah kanannya.


Perempuan yang satu berkulit putih. Rambut panjangnya diikat dengan rapi. Name tag yang dipakainya bertuliskan "Jessy". Sedangkan, yang satunya lagi bertubuh tinggi, lebih tinggi dari Jessy, berkulit kuning langsat, dan rambut yang diikat rapi sama seperti Jessy. Nama tag yang dipakainya bertuliskan "Melinda".


"Siapa sih anak baru itu? Akrab banget sama Arka," sahut Jessy.


Jessy pun terus memperhatikan muda-mudi yang berada di depannya itu. Ia mengepalkan kedua tangannya seolah menahan amarah yang tak tertahankan. Setelah itu, ia pun mengajak Melinda untuk lekas pergi dari tempat itu, membawa rasa jengkel yang disimpan di hatinya.


***


"Kamu kok baru berangkat jam segini?" tanya Arka di tengah-tengah perbincangannya dengan Rena


"Astaga, aku lupa. Aku kan tadi lagi buru-buru, Kak. Takut kesiangan," sahut Rena panik, kemudian melirik jam tangannya.


"Ya ampun, udah siang banget. Gimana ini, Kak?" tanya Rena


"Ya, siap-siap aja terima hukumannya. Duluan, ya!" sahut Arka sambil berjalan mendahului Rena.


"Lain kali berangkatlah lebih pagi!" sahut Arka menoleh sebentar ke arah Rena, lalu melanjutkan perjalanannya.


"Yah..Kakak... Kirain bakal bantuin," keluh Rena cemberut.


Setelah Arka menjauh, Rena pun lekas mengambil langkah seribu dan tiba-tiba


Bugh! Badan Rena bertabrakan dengan seseorang yang tak lain adalah Alan.


Saat itu Alan baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di lantai bawah gedung fakultasnya. Ia memperhatikan gadis yang baru saja bertabrakan dengannya.


"Kamu lagi. Jam berapa ini?" tanya Alan sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Jam setengah 8, Kak," jawab Rena cemas


"Itu artinya?" tanya Alan lagi.


"Saya kesiangan, Kak," ucap Rena pelan


"Baik, kalo gitu kamu harus saya hukum," sahut Alan menekan kata terakhir.

__ADS_1


"Dihukum, Kak? Jangan dong, Kak!" pinta Rena dengan memelas.


"Enak, aja. Setiap kesalahan itu harus menerima hukuman," sahut Alan lagi-lagi menekan kata terakhir.


"Tapi kan.. kemarin, saya baru menerima musibah, Kak. Kepala saya masih sakit, itu sebabnya tadi saya agak kesulitan bangun karena merasakan sakit di kepala saya," sahut Rena berbohong.


"Alasan kamu!" sahut Alan.


"Nggak Kak, beneran," sahut Rena berusaha meyakinkan


"Lagian kenapa juga kamu enggak tendang kembali bola itu dengan betis kamu. Kamu kan Gabriela Betistuta," ledek Alan mengingat peran Rena di drama yang kemarin sempat dimainkannya.


"Kakak, kalau saya bisa pasti sudah saya lakukan, enggak mungkin juga saya biarkan wajah saya yang manis ini sampai terkena tendangan bola, " sahut Rena narsis.


"Manis? Narsis juga kamu, ya." ucap Alan.


"Tapi ya.. mungkin kamu benar. Karena kamu terlalu manis, makanya bola Arka itu sampai ingin mencium kening kamu. Bahkan, sampai ada bekasnya pula," ledek Alan lagi sambil tertawa geli. Rena pun mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan Alan.


"Tenang, saya tidak akan menghukum kamu dengan berat," ucap Alan


"Lalu?" tanya Rena penasaran


"Berikan saya sesuatu yang kamu suka," ucap Alan sambil merebut ponsel yang sedari tadi dipegang Rena. Ponsel yang sempat dikeluarkan Rena dari dalam tasnya saat ingin menelepon Novi.


"Jangan ponsel dong, Kak. Itu kriminal namanya. Mengambil barang orang tanpa izin itu tindakan kriminal, Kak," sahut Rena sambil berupaya merebut kembali ponselnya dari tangan Alan.


"Saya tidak ingin mengambil. Saya minta kamu memberikannya," sahut Alan


"Cih, mana mungkin saya memberikan ponsel yang saya beli dari hasil tabungan saya selama satu tahun," sahut Rena


"Kalo begitu berikan saya sesuatu yang lain yang kamu sukai," Ucap Alan


Rena pun mulai memikirkan apa yang bisa diberikannya pada Alan agar ponselnya bisa kembali.


"Ayo, cepatlah! Sebelum kamu lebih terlambat lagi!" sahut Alan sambil melirik jam di tangan kirinya.


Sebuah senyum pun tampak mengembang di wajah Rena. Ia pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Alan.


"Permen??? Yang benar saja sebuah ponsel kamu tukar hanya dengan sebungkus permen?" sahut Alan.


"Kan tadi Kakak bilang, saya harus berikan kakak sesuatu yang saya sukai, dan permen ini yang paling saya sukai," jawab Rena.


"Hei, jangan main-main kamu! Saya ingin sesuatu yang istimewa," sahut Alan


"Cih, tadi bilang sesuatu yang saya suka. Sekarang yang istimewa," gumam Rena.


"Apa kamu bilang?" tanya Alan.


"Permen itu juga istimewa, Kak," sahut Rena


"Kamu jangan bohongi saya! Apa yang istimewa dari sebungkus permen strawbery mint seperti ini?" tanya Alan menunjuk permen itu.


"Kata Dini, teman saya yang sekarang sudah tiada. Kalau dia makan permen itu, dia akan ingat sama saya. Dia bilang rasa dari permen itu menggambarkan saya banget. Rasa strawbery mint, manis, sedikit asam, dan dingin." sahut Rena.


"Jadi, kamu memberikan permen ini supaya saya selalu ingat sama kamu?" tanya Alan


"Ya, enggak gitu juga, Kak. Itu kan karena Kakak tanya apa istimewanya permen itu bagi saya," sangkal Rena.


" Oke, saya terima permen ini," sahut Alan mengambil permen yang dipegang Rena dan mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


Rena pun bergegas pergi meninggalkan Alan dan naik ke lantai atas gedung tersebut.


Gadis yang unik (pikir Alan sambil memandangi permen yang dipegangnya).


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2