
"Sayang, kemari lah,” pinta Kevin saat melihat sosok wanita yang dicintainya tengah berjalan melewati ruang kerjanya.
Elana itulah nama wanita yang membuat Kevin bersedia mengikat janji suci dalam sebuah ikatan pernikahan. Wanita yang masih terlihat cantik, meski usianya kini sudah menginjak 56 tahun, usia yang sudah terbilang tidak muda lagi.
“Ada apa Mas?” sahut Elana lembut.
“Duduklah di sini,” pinta Kevin mesra sambil menepuk pahanya berharap agar istrinya itu mau duduk di atas pangkuannya.
“Ya, ampun Mas, kita ini sudah tidak muda lagi,” sahut Elana yang menolak secara halus permintaan Kevin.
“Mmm, Lana, Lana kamu itu susah sekali sih diajak mesranya. Kalau aku tidak cinta mati sama kamu, pasti sudah kucari yang kedua,” sahut Kevin yang mendapat pelototan dari istri cantiknya itu.
“Katakan bagaimana anak kesayanganmu?” tanya Kevin
“Maksud Mas?” tanya Elana tak paham dengan maksud pertanyaan suaminya.
“Alan, apa dia sudah menemukan pengganti Dewi?” tanya Kevin
Elana pun menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sedikit ditekuk.
“Sejauh ini kelihatannya Alan belum memiliki pasangan, Mas. Tapi tadi dia bilang kalau aku ingin mencarikan pasangan untuknya silahkan saja,” sahut Elana
“Jadi, maksudmu kamu ingin menjodohkan dia lagi?” tanya Kevin sambil meneguk kopi hangat yang sebelumnya telah dibuatkan oleh istrinya.
“Eit, yang dulu menjodohkan Alan itu bukan aku loh Mas, tapi Mas. Aku hanya mendukungmu saja,” sahut Elana sedikit tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
Flashback on *
Di sebuah ruang keluarga, tampak semua penghuni rumah sedang duduk berkumpul menikmati kopi dan susu hangat buatan nyonya rumahnya. Mereka asyik bercanda satu dengan lainnya hingga sebuah percakapan serius antara ayah dan anak tercipta di ruangan itu. Ruangan yang semula dipenuhi gelak tawa seketika menjadi hening.
“Lan, apa kau sudah punya kekasih?” tanya Kevin pada putra kesayangannya.
“Kenapa Papa tiba-tiba bertanya seperti itu, tidak biasanya?” tanya Alan heran dengan pertanyaan sang Papa.
“Teman Papa ingin melamar kamu untuk anaknya,” sahut Kevin tidak ingin terlalu lama berbasa-basi, meski perkataannya yang spontan itu membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut dan memandang ke arahnya.
“Apa?! Yang benar saja? Alan kan laki-laki, Pa, masa laki-laki dilamar,” tanya Alan sewot.
“Nabi Muhammad juga dilamar oleh Khadijah,” sahut Papa enteng.
“Itu pengecualian, Pa,” sanggah Alan.
“Memang siapa yang ingin melamar Alan, Mas?” tanya Elana yang sedari tadi menyimak percakapan ayah dan anak itu.
“Raditya Herlambang, teman sekolahku dulu, kamu ingat kan?” tanya Kevin pada istrinya.
“Oh, Raditya teman Mas yang sekarang jadi pengusaha kaya dan sukses itu, yang kata Mas memiliki ratusan anak cabang perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan hingga manca negara,” sahut Elana saat mengingat nama itu.
“Iya,” sahut Kevin menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Ya, Tuhan, berati kamu beruntung sekali, Lan!” sahut Elana yang tampak senang mengetahui kebenarannya.
“Mama, jangan matre deh,” sahut Alan yang justru tampak tidak senang dengan rencana perjodohan dari keluarganya itu.
“Eits, kamu, ya. Mama itu senang karena kamu akan memiliki mertua kaya seperti Om Radit yang itu artinya masa depanmu akan lebih terjamin. Lagi pula setahu Mama, anak perempuan Om Radit itu sangat cantik. Benar kan, Mas?” sahut Elana
“Iya, kau benar sekali. Makanya, aku juga heran Radit kok bisa melamar anak kamu yang jelek, cerewet, dan pecicilan itu, “ sahut Kevin yang mendapat pukulan di lengan oleh istrinya.
“Hus, sembarangan! Alan itu anakku yang paling tampan, tau Mas,” sahut
Elana tidak terima.
“Dan aku yang paling cantik,” sahut gadis kecil di samping Alan yang sedari hanya menyimak saja.
“Memang siapa anaknya Om Radit, Pa? Memang dia kenal sama Alan?” tanya Alan penasaran.
“Iya, dia kenal sama kamu. Om Radit bilang dia adik kelas kamu dan dia sudah lama menyukaimu. Kalau tidak salah, namanya Dewi, iya Dewi,” sahut Kevin
Dewi, jadi Dewi yang meminta ayahnya untuk menikah denganku? (pikir Alan)
Dewi memang pernah menyatakan perasaannya pada Alan, namun Alan memang tidak memilki perasaan padanya. Dia hanya menganggap Dewi sebagai teman biasa.
“Bagaimana? Kau mau? Apa kau sudah memiliki kekasih?” tanya Kevin lagi.
Alan sungguh tak tahu harus menjawab apa pada Kevin karena ia memang tidak memiliki kekasih. Ungkapan perasaannya pada Renata hingga saat ini pun belum mendapat kepastian jawaban, justru yang ia lihat Renata malah seperti berusaha menjauhinya sejak ia tahu perasaan Alan kepadanya. Apa itu artinya Renata memang sudah menolaknya secara halus? Apa perjuangan cintanya hanya sampai di sini saja.
"Maaf, Pa, Alan masih memerlukan waktu untuk berpikir." jawab Alan.
***
“Eh, Kak Alan,” sapa Adinda hangat saat melihat Alan berada di depan kelasnya.
“Dewi, ada?” tanya Alan.
“Itu dia di pojok. Dewi, ada yang nyari nih..,” sahut Adinda setengah berteriak memanggil Dewi.
Dewi pun menoleh ke arah Adinda dan Alan berada. Senyum manisnya mengembang saat melihat sosok pria yang mencarinya. Ia merasa begitu senang dan lekas bangkit dari tempat duduknya untuk menemui pria pujaan hatinya.
“Kak Alan,” sapa Dewi lembut.
“Dewi, bisa aku bicara denganmu,” pinta Alan.
“Tentu saja bisa, memang ada apa Kak? Kok, Kakak kelihatannya serius sekali,” tanya Dewi.
“Kita bicara di taman saja, ya,” ajak Alan,
“Baiklah,” sahut Dewi,
Dewi pun mengikuti langkah kaki Alan menuju taman.
__ADS_1
“Dewi, apa kamu serius ingin menikah denganku?” tanya Alan.
“Oh, Papa sudah bilang semuanya pada Om kevin, ya?” tanya Dewi.
“Iya, itu sebabnya aku tanyakan itu padamu. Apa kau benar-benar ingin menikah denganku?” tanya Alan.
“Iya, aku benar-benar ingin menikah dengan Kakak. Karena aku sangat menyukai Kakak bahkan aku sangat sayang sama Kakak. Itu sebabnya aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Kakak,” sahut Dewi.
“Tapi Dewi, aku pernah bilang aku hanya menganggapmu sebagai teman saja, tidak lebih.” Sahut Alan.
“Jadi, maksud Kakak, Kakak menolakku?” tanya Dewi diiringi dengan air mata yang jatuh dari sudut matanya.
Hal itu membuat Alan merasa bersalah. Ia sangat tidak tega melihat seorang perempuan menangis. Ia pun memeluk Dewi dengan maksud menenangkannya. Namun, air mata Dewi bukannya mengering, justru malah semakin bertambah deras hingga membasahi kemeja Alan.
“Kak, usiaku sudah tidak lama lagi, apakah aku tidak bisa merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat?” tanya Dewi dengan terisak dan air mata yang terus mengalir dari wajah cantiknya. Pertanyaan Dewi itu membuat Alan terpaku. Ia tak mampu memahami maksud perkataan Dewi.
“Apa maksudmu?” tanya Alan.
Belum sempat Dewi menjawab, tiba-tiba saja darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Dewi pun seketika ambruk dalam pelukan Alan.
***
Di pojok sebuah ruangan rumah sakit, dua orang pria tampak sedang duduk termenung. Wajah mereka tampak pucat.
“Sejak kapan Dewi menderita penyakit ini Om?” tanya Alan.
“Sejak kecil Alan. Dia memiliki penyakit yang sama dengan Mamanya. Itu sebabnya dia tidak boleh merasa stres apalagi sedih," Sahut Radit.
“Tapi selama ini ia tampak baik-baik saja,” sahut Alan.
“Iya, itu karena pengobatan yang harus dijalaninya setiap bulan,” sahut Radit.
“Apa penyakit leukemia ini bisa disembuhkan?” tanya Alan.
“Peluangnya sangat tipis Alan, meskipun kita bisa melakukan kemoterapi atau operasi sumsum tulang belakang. Namun, tetap saja itu tidak bisa menjamin kesembuhannya 100%. Sekarang yang bisa Om lakukan hanya menjaga kondisi mentalnya agat tidak drop,” sahut Om Radit dengan mata yang sudah berkaca-kaca mengingat kembali apa yang terjadi dengan almarhumah istrinya.
“Itu sebabnya Alan, Om hanya ingin membuat anak Om bahagia, setidaknya ini bisa memperpanjang usianya. Om mohon Alan, menikahlah dengan Dewi. Terimalah perjodohan ini,” pinta Radit kepada Alan dengan mengatupkan kedua lengannya. Melihat seorang ayah memohon seperti itu kepadanya membuat Alan benar-benar merasa tidak tega. Itu sebabnya, ia pun menerima perjodohan ini.
Flashback off *
Di tengah perbincangan suami istri itu tampak Alan yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“Ma, Pa, Alan pamit ya, Alan mau pergi ke makam dulu. Setelah itu, mungkin Alan langsung kembali ke Bogor. Pekerjaan Alan sudah menunggu di sana,” sahut Alan sambil mencium punggung tangan ayah dan ibunya..
“Iya, sayang, hati-hati, ya.. mudah-mudahan lebaran tahun depan kamu sudah datang bersama keluarga barumu kemari,” sahut sang Mama sambil mengusap lembut kepala putra tercintanya itu.
“Iya, Ma, doakan Alan,” sahut Alan lembut dengan mengulas senyum di bibirnya.
****
__ADS_1
Bersambung