
Waktu berlalu terasa begitu cepat, hari yang dijanjikan Rayhan akan tiba dua hari lagi. Rena semakin bingung, semakin galau, dan merasa resah. Dia bingung harus bagaimana menyikapi masalah lamaran Rayhan. Itulah sebabnya, sampai saat ini, ia masih belum menceritakan tentang rencana lamaran Rayhan kepada kedua orang tuanya. Hatinya masih diliputi kebimbangan dan keraguan.
Di satu sisi Rena tidak menampik akan pesona yang dimiliki Rayhan. Laki-laki tampan yang memiliki banyak kelebihan. Sosok yang supel, mudah bergaul, periang, humoris namun tetap tegas, dan pandai mengaji. Semua itu menjadi nilai plus untuk seorang Rayhan. Apalagi, dia juga pernah berjanji pada ibunya akan membuka hati pada laki-laki mana pun yang serius dengannya, bila perlu ia akan langsung menerima lamaran laki-laki tersebut.
Namun, entah kenapa hati kecil Rena masih merasa ragu dengan hal itu. Biar bagaimana pun, ia belum lama mengenal Rayhan. Terlalu dini baginya untuk menilai sosok Rayhan yang sebenarnya, karena kendati Rayhan memiliki banyak kelebihan, ia tetap saja manusia biasa yang pastinya juga memiliki kekurangan. Apakah kekurangannya nanti akan bisa diterima Rena? Atau sebaliknya, apakah Rayhan juga bisa menerima segala kekurangan Rena. Sikap keras kepala Rena, sikap dingin, dan ketus yang merupakan sisi lain dari seorang Renata.
Belum lagi sosok Dewa dan Alan yang kerap muncul di dalam pikiran Rena. Mungkin, hubungannya dengan Alan sudah tidak bisa diharapkan. Bagi Rena semua itu hanya akan dianggapnya sebuah kenangan karena Alan pasti sudah bahagia dengan Dewi, istrinya. Tapi, Dewa, meskipun dia tidak pernah menyatakan perasaannya terhadap Rena, entah kenapa Renata merasa Dewa menyimpan perasaan kasih yang tulus terhadapnya. Hal itu membuat Rena merasakan kebimbangan yang luar biasa, hingga sampailah ia pada satu keputusan.
****
Saat Rena sudah memantapkan hati dengan keputusan yang akan diambilnya, ia segera meraih ponselnya. Ia mencoba mencari kontak telepon milik Rayhan. Saat kontak telepon milik Rayhan ditemukan, Rena pun berusaha untuk meneleponnya. Namun, belum sempat teleponnya itu tersambung, ia sudah mematikannya kembali. Ia mengurungkan niatnya untuk menelepon Rayhan.
“Duh, Rena, masa nelepon dia aja kamu enggak berani sih,” gumam Rena pada dirinya sendiri.
“Ya, sudah kirim pesan saja,” sahut Rena yang langsung memindahkan layar ponselnya ke fitur pesan.
Rena mulai mengetik pesan untuk Rayhan.
“Assalamualaikum, Ray, gimana kabarmu hari ini?” (Rena)
Tak ada balasan, Rena langsung mengetik pesan selanjutnya.
“Ray, kamu beneran serius mau melamar aku?” (Rena)
Ini kali kedua Rena mengirim pesan, namun Rayhan belum juga menjawab pesannya.
“Ke mana dia? Kenapa pesanku belum dibalas? Apa aku telepon aja?” gumam Rena.
Rena memulai kembali menekan tombol hijau yang ada di ponselnya untuk menelepon Rayhan. Namun, lagi-lagi diurungkannya kembali niat itu.
“Ah, kenapa aku gugup sekali kalau harus bicara langsung sama dia?” ucap Rena sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Oke, aku kirim pesan lagi saja,” gumam Rena.
Renata kembali mengirimkan pesan untuk Rayhan.
“Ray, maaf, sepertinya untuk sekarang aku belum bisa menerima lamaran kamu karena aku benar-benar belum yakin dengan hal itu. Bukannya kalau kita merasa ragu dengan sesuatu hal sebaiknya kita tinggalkan perkara itu, ya?” (Rena)
__ADS_1
“Ray, tolong jawab pesanku,” (Rena)
Hingga ketikan pesan terakhir yang dikirim oleh Rena, Rayhan belum juga membalas pesannya. Rena pun terus memandangi pesan tersebut.
“Pesannya sudah terkirim. Tapi, kenapa dia belum membalas pesanku, ya? Apa dia belum membacanya? Atau dia marah sama aku?” gumam Rena.
“Arrggh... Rayhan, kamu benar-benar membuatku gila,” seru Rena yang kemudian meletakkan ponselnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Rena terus memandangi langit-langit kamarnya, memikirkan segala hal yang pernah terjadi dalam kehidupannya, terutama yang berkaitan dengan kehidupan percintaannya. Meskipun, hingga saat ini belum ada laki-laki yang secara resmi menjadi kekasihnya, namun bukan berati tak ada laki-laki yang pernah mendekatinya.
Sebenarnya cukup banyak laki-laki yang mendekatinya, namun sikap dingin Renata dan sikapnya yang selalu berusaha menghindari mereka membuatnya tak pernah menjalin hubungan serius dengan pria mana pun, termasuk Alan, laki-laki yang sebenarnya memiliki tempat teristimewa di hatinya. Namun, telah ia abaikan hingga akhirnya dirinya sendirilah yang merasakan penyesalan setelah dia merasa telah benar-benar kehilangan sosok itu.
Kini, Tuhan mempertemukan dirinya dengan Rayhan, di saat hatinya justru telah tersentuh oleh kebaikan Dewa. Bahkan, laki-laki itu dengan sangat beraninya mengajaknya menikah. Tidak seperti Dewa yang hingga saat ini belum memberikan kepastian akan perasaannya. Namun, entah mengapa Rena masih merasa ragu. Baginya, ini terlalu terburu-buru, ia harus meyakinkan hatinya dulu bahwa Dewa benar-benar tak memiliki perasaan apa-apa padanya. Sekaligus meyakinkan dirinya bahwa Rayhan benar-benar pria yang baik dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Terlalu lama berpikir membuat Rena merasa letih dan akhirnya tertidur pulas di atas peraduannya.
***
Suara ketukan pintu yang diiringi sahutan seseorang dari arah pintu depan rumahnya, membangunkan Rena dari tidurnya. Suara sahutan itu terdengar tidak asing di telinga Rena. Ia pun lekas beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Rena bermaksud untuk membukakan pintu yang telah diketuk tadi. Namun, sang Mama telah lebih dahulu sampai di depan pintu rumah itu dan membukakannya.
Dari balik pintu itu, tampak Rayhan yang sedang berdiri tegap. Ia berpakaian begitu rapih dengan celana katun berwarna krem dan batik berwarna coklat. Tentu saja hal itu membuat Rena dan Mama Rena sangat terkejut dibuatnya.
“Rayhan? Mari masuk,” ucap Mama Rena dengan memamerkan senyum ramah di wajahnya.
Aduh, kenapa dia? Apa dia baru saja menangis? Apa dia sudah membaca pesan itu? Adakah yang salah di sini ? (ucap Rena dalam hati)
“Saya kemari hanya ingin menyampaikan permintaan maaf saya pada Tante dan juga Om atas kelancangan saya datang kemari tempo hari, dan mungkin mulai hari ini saya tidak akan datang lagi ke rumah ini,” sahut Rayhan sambil menatap Rena yang tengah berdiri di samping mamanya dengan sorot mata yang masih berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Rayhan yang cukup mengejutkan, membuat sang Mama menatap Rena dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan dari putrinya atas semua yang dikatakan oleh Rayhan.
“Maaf, Rayhan, Tante masih belum paham dengan maksud perkataan kamu barusan? Memangnya kenapa? Apa ada masalah antara kamu dengan Rena?” tanya Mama Rena.
“Maaf, Tante, mungkin putri Tante belum mengatakannya kepada Tante kalau dia telah menolak saya,” sahut Rayhan sambil memandang Rena dan membuat Mama Rena terkejut dengan perkataannya.
Menolak Rayhan? Aduh, ada apa dengan anak ini? Apa dia benar-benar perlu diruqyah? Kenapa dia selalu bersikap seperti ini pada semua laki-laki yang datang kepadanya ? Apa dia benar-benar ingin jadi perawan tua? Apa kurangnya seorang Rayhan ? Dia tampan, orangnya ramah, sopan, dan memiliki pendidikan yang setara dengannya. (Ucap Mama dalam hati )
Mama terus menatap Rena dengan tatapan mata yang sangat tajam, seolah ingin memakan putrinya. Melihat tatapan mata mamanya yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan membuat Rena merasa bersalah dan perasaan bersalah itu semakin bertambah, saat dirinya melihat mata Rayhan yang semakin memerah seperti menahan tangis dan kekecewaannya kepada Rena.
“Maaf, Tante, saya permisi dulu. Assalamualaikum,” sahut Rayhan sambil berlalu pergi meninggalkan rumah Rena.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab Rena dan Mamanya secara bersamaan.
Setelah Rayhan pergi dan Mama Rena menutup pintu depan rumahnya. Ia pun kemudian mendekatkan dirinya ke arah Rena seolah meminta penjelasan atas apa yang didengarnya dari Rayhan.
“Rena, tolong jelaskan kepada Mama, apa benar yang dikatakan Rayhan? Apa kamu sungguh-sungguh menolaknya? Kenapa?” tanya Mama Rena.
“Benar, Mah. Rena memang menolak Rayhan. Itu karena Rayhan ingin melamar Rena,” jawab Rena.
“Apa melamar? Maksud kamu Rayhan ingin kamu jadi istrinya?” tanya Mama Rena yang terkejut mendengar cerita dari putrinya.
Sebelumnya Mama Rena tidak sampai berpikir bahwa kata ‘menolak’ di sini maksudnya ‘menolak lamaran’. Ia berpikir Rayhan baru mengajak Rena berhubungan sebagaimana hubungan muda-mudi pada umumnya. Apalagi yang Mama Rena tahu Rayhan dan Rena belum lama saling mengenal.
“Iya, Mah, Rayhan ingin mengajak Rena menikah dan rencananya lusa Rayhan akan datang bersama keluarganya,” jelas Rena.
“Apa?? Lusa??” tanya Mama Rena semakin kaget.
“Iya, Mah, lusa! Itu sebabnya Rena menolaknya karena menurut Rena ini terlalu cepat dan Rena belum yakin dengan perasaan Rena terhadapnya,” jelas Rena.
Mama Rena pun cukup memahami alasan penolakan Rena. Namun, baginya, Rena tetap saja mengambil keputusan yang salah sebab hal itu bertentangan dengan adat dan tradisi di keluarga mereka.
“Tapi Rena, kamu kan tahu adat dan tradisi di keluarga kita bahwa pamali kalau perempuan menolak lamaran yang datang kepadanya karena nanti jodohnya akan jauh lagi,” ucap Mama Rena.
Benar, Rena sangat tahu dengan adat dan pemikiran kuno itu. Adat dan pemikiran yang masih dianut oleh keluarga dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Adat yang berpikir bahwa perempuan akan lama mendapatkan jodohnya, jika ia pernah menolak lamaran dari laki-laki.
“Lalu apa yang harus Rena lakukan, Mah?” tanya Rena.
“Sekarang telepon Rayhan, minta maaf kepadanya, dan katakan kalau kamu siap menerima lamarannya?” sahut Mama Rena yang seketika membuat Renata membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan dari sang Mama.
“Apa?!!!” ucap Rena tersentak kaget.
"Iya, bukankah selama ini kamu juga tidak ingin berpacaran? Mungkin dia memang jodoh yang dikirim kan Tuhan untukmu," jawab Mama Rena.
Lagi-lagi mamanya mengatakan hal yang tak bisa dibantah oleh Rena, meski pemahamannya terhadap agama masih sangat dangkal, namun ia memang tidak ingin menjalin hubungan pacaran dengan pria mana pun baginya cintanya pertama dan terakhirnya hanya untuk laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya.
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih masih setia dengan cerita author ini dan jangan lupa bagi yang sudah mampir tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote, rate 5, dan komennya ya..💗💗💗😘😘😘