
Dua belas tahun kemudian
Alan pov
Rasanya aku memang tidak pernah bisa menolak keinginan Mama tersayang, wanita cantik yang sangat aku sayangi di dunia ini. Setiap kami bertemu, pasti Mama akan selalu merajuk seperti layaknya anak kecil agar aku mau mengantarnya berbelanja. Hobi yang tidak begitu disukai Papa dari Mama tentunya. Bukan karena hobi itu menguras dompetnya tapi karena Papa anggap hobi itu menguras banyak waktunya dan itu sebabnya Papa akan menjadikanku andalannya untuk menolak keinginan Mama.
Aku akui karena kesibukanku aku jarang sekali berkunjung ke rumah orang tuaku. Terlebih lagi karena aku sangat enggan mendengar pertanyaan Mama yang sering diajukannya berulang-ulang.
"Lan, kapan kamu akan mencarikan Mama menantu baru?" sahut Mama Alan
Tuh, kan mulai lagi, Mama, Mama, sampai kapan akan terus bertanya seperti itu kepadaku (Pikir Alan)
"Alan, kok kamu nggak jawab sih," sahut Mama dengan nada tinggi
Aku pun hanya bisa menunjukkan senyum simpul sebelum menjawab pertanyaan Mama.
"Jawaban Alan masih sama, Mama Cantik. Alan masih menanti calon menantu baru Mamah. Jadi yang sabar ya, Mama, ga perlu tanya hal itu terus menerus pada Alan karena Alan pastikan kalo Alan sudah bertemu dengan calon yang sesuai, Alan pasti akan segera mengenalkannya sama Mama." Jawabku.
"Tapi jangan cuma dinanti, dong, Alan. Cari dong," keluh Mama
"Terus Alan harus mencari ke mana Mama? Jodoh itu kan sudah ada di tangan Tuhan," sahutku.
"Tapi harus ada ikhtiar juga Alan Sayang, dan kalau kamu memang tidak mau mencarinya. Biar Mama sendiri yang akan mencarikannya untukmu." sahut Mama
"Mama, Mama, selalu memaksa. Ya, sudah terserah Mama saja," sahutku mengalah, sedangkan Mama hanya menjawab dengan memperlihatkan senyum manisnya penuh kemenangan.
"Ma, apa masih banyak belanjaan yang harus dibeli?" tanyaku sudah mulai merasa bosan.
"Maksud kamu apa Alan? Lihat troli Mama aja isinya masih sedikit," jawab Mama seraya menunjuk troli yang dibawanya yang baru terisi separuhnya.
"Oke, kalau begitu Mama lanjutin belanjanya dan Alan mau keluar dulu. Alan bosan di sini. Nanti, Mama tinggal telepon Alan aja kalau sudah selesai, dan ini pakai aja kartu Alan," sahutku seraya memberikan kartu debit milikku ke tangan Mama.
Aku pun pergi meninggalkan Mama keluar dari supermarket karena aku sudah mulai merasa jenuh di tempat itu. Setelah keluar dari supermarket, aku pun mengambil langkahku ke 'Power Zone' yang letaknya berada di depan supermarket.
'Power Zone' adalah tempat yang dipenuhi berbagai macam jenis permainan. Mulai dari mainan untuk anak-anak hingga orang dewasa. Aku memang sering menghabiskan waktuku di sana setiap kali rasa bosan melanda, selain di perpustakaan tentunya.
__ADS_1
Aku mengeluarkan selembar uang dari dalam dompetku dan sebuah kartu bertuliskan 'Power Zone'. Lalu, aku menyerahkan kartu tersebut pada kasir yang berada di depanku.
"Kartu Anda sudah selesai diisi ulang, Pak. Silakan nikmati berbagai macam permainan di tempat kami, terima kasih," sahut pelayan kasir tadi dengan senyum ramahnya.
Selesai kartunya diisi, aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju arena bermain itu. Namun, langkahku terhenti saat melihat dua orang bocah yang terlihat sedang bertengkar.
"Kamu ini gimana sih, Dek, kok uangnya bisa hilang? Kalau Mama tau pasti Mama marah," sahut gadis kecil berkulit putih dengan rambut yang bergelombang.
"Ikal, nggak tau Kak, kenapa uangnya bisa hilang, tadi seingat Ikal, Ikal udah masukin ke saku belakang celana Ikal," jawab seorang bocah laki-laki yang memiliki bentuk rambut yang sama dengan gadis itu.
"Terus gimana kita jadi nggak bisa main dong?" tanya gadis itu kesal.
"Kita minta lagi aja, yuk ke Mamah," sahut bocah itu membujuk Kakaknya.
"Hus, kasihan Mama, Dek! Mama kan sekarang lagi nggak punya banyak uang. Lagian kamu sih.. dari awal Kakak bilang biar Kakak aja yang pegang uangnya," sahut gadis itu dengan wajah cemberut.
Mendengar percakapan dua kakak beradik itu hatiku merasa tidak tega, aku pun menghampiri keduanya.
"Hai, Kakak adik, ada apa? Kok malah bertengkar di sini," sapaku pada kedua anak itu dengan sedikit membungkukkan badan agar sejajar dengan mereka.
"Apa Om bisa mencarikan uang kami yang hilang?" jawab gadis kecil tadi.
"Untuk main di sini, Om," jawab anak laki-laki di sebelahnya
"Dan kami nggak tau hilang di mana uang itu, Om. Kalau tau juga pasti sudah ketemu dari tadi, " sahut gadis kecil tadi dengan wajah yang sedih.
"Kalau gitu, kita main bareng, yuk! Om, punya kartu ini," sahutku seraya menunjukkan kartu 'Power Zone' kepada kedua anak itu yang membuat mereka berdua saling memandang satu dengan lainnya seolah tak mempercayai apa yang aku tawarkan.
"Om, beneran?" tanya anak laki-laki itu
"Iya, tentu saja," jawabku singkat yang membuat kedua anak itu melompat kegirangan.
"Tapi sebelumnya, Om ingin tau dulu nama-nama kalian," tanyaku
"Tentu saja, Om, namaku Hana dan ini adikku Haikal," jawab gadis kecil tadi dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Baiklah, Hana, Haikal, mari kita bermain sekarang," ajakku.
"Yeayy," teriak keduanya kegirangan
Kami pun mulai memasuki arena bermain, memilih permainan yang kami inginkan satu persatu. Aku merasa senang melihat kedua anak itu bahagia. Canda tawa menghias wajah keduanya.
"Om, kita ngedance bareng yuk," ajak Hana menunjuk salah satu permainan yang ada di depan kami. Aku pun menganggukkan kepala mengiyakan permintaan Hana.
Kami pun melakukan tarian bersama di lantai dansa permainan. Berbagai gerakan aneh dilakukan Haikal, bocah kecil yang terlihat masih sangat polos itu, membuat kami bertiga tertawa bersama. Selesai dengan permainan itu, aku pun mengajak mereka untuk bermain basket bersama, mereka melempar bola basket itu ke keranjangnya dengan sangat antusias. Sayangnya, tubuh Haikal yang pendek membuatnya berkali-kali gagal memasukan bola ke dalam keranjang. Akhirnya, kuangkat badan kecilnya dan membantunya memasukan bola itu ke dalam keranjang dan ternyata usahaku tadi membuahkan hasil. Haikal pun berhasil memasukan bola basket itu beberapa kali ke dalam keranjangnya.
"Yeaay, makasih, Om," sahutnya penuh semangat.
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Hampir semua permainan telah kami coba, hingga entah berapa banyak kartu 'Power Zone' yang kami dapatkan.
"Om, kita foto box, yuk!" ajak Hana.
Kami bertiga pun foto bersama dengan berbagai macam gaya. Hasil foto dari foto-foto tersebut kami bagi menjadi dua.
"Ini untuk Om, dan ini untuk kalian, simpan sebagai kenang-kenangan ya," sahutku sambil memberikan beberapa lembar foto pada Hana dan Haikal.
"Makasih, Om, baik banget," sahut Hana
"Sam-sama kalau begitu sekarang kita beli camilan, yuk! Tapi, sebelumnya kita tukarkan kartu-kartu ini," ajakku pada Hana dan Haikal yang dijawab anggukkan oleh keduanya.
Aku pun menukarkan kartu-kartu itu dengan sebuah boneka dan robot kecil. Lalu, kuberikan kepada keduanya.
"Makasih, Om," jawab keduanya secara serempak.
Setelah kami puas bermain, aku mengajak Hana dan Haikal untuk membeli berbagai macam camilan dan eskrim yang tersedia di tempat itu. Setelah itu, kami pun menikmati eskrim dan camilan itu bersama. Mereka terlihat sangat senang dan itu membuatku ikut merasa bahagia.
"Hana, Haikal," sahut suara lembut dari kejauhan memanggil nama kedua anak tadi. Kami pun menoleh secara bersamaan ke arah suara tadi.
Deg
Jantungku berdetak kencang, saat melihat sosok wanita yang tak asing bagiku.
__ADS_1
****
Bersambung