
Hariku dimulai sejak pukul 02.30 semua santriwan/santriwati bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Tahajud dan dilanjutkan dengan tadarus untuk menunggu datangnya waktu salat Subuh setelah sholat shubuhpun kami tadarus lagi sekitar 10 sampai 15 menit setelah itu santriwan/santriwati kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan bersiap-siap untuk sarapan pagi.Sarapan pagi dilakukan sebelum kami para santriwan/santriwati berangkat sekolah.Makanan santriwan/santriwati di sini sudah diatur oleh pihak pondok pesantren namun jika ssantriwan/santriwati bosan dengan masakan di pondok pesantren mereka boleh membeli makanan di kantin.
Sarapan tidak dilakukan di sebuah tempat besar yang ditempati semua santri pondok pesantren ini,namun dilaksanakan di kamar masing-masing tapi bukan berarti pondok pes antre ini tidak mengajarkan kebersamaan dan kerukunan siapapun yang mengambil makanan di dapur akan mendapatkan nampan besar yang muat untuk 4 sampai 6 porsi makanan itu artinya setiap pengguni kamar akan makan di satu nampan jadi santriwan/santriwati dilatih untuk selalu bersama,rukun dan berbagi dengan teman sekamarnya.
Seperti pagi ini aku dan si lucu Fatma yang mengambil makanan di dapur.Kami berenam sudah menetapkan jadwal untuk mengambil makanan waktu makan akan ada dua orang yang mengambil makanan dan pagi ini dimulai dari aku dan Fatma.
__ADS_1
Sebelum mendapat makanan kami harus berjuang terlebih dahulu alias mengantri.Saat kami datang antrian sudah sangat panjang.
"Aduh antriannya sangat panjang aku tidak terbiasa mengantri terlalu lama kamu saja yang mengantri aku akan menunggumu disini!ayo cepat mengantri!teman-teman pasti sudah lapar ayo cepat In!" Sepertinya gadis ini ingin mendapatkan untungnya saja bagaimana mungkin aku akan berdiri di antrian itu lalu mengangkat nampan berisi 6 porsi makanan sendirian.Aku tidak pedulikan dengan suara teriakannya aku terus menarik lengannya menuju barisan antrian itu mungkin rasa sakitnya sama seperti saat dia menarikku kemarin.
Dia tidak berhenti mengaduh dengan gaya wajah yang imut itu,cerewetnyapun kembali keluar tapi aku sama sekali tidak menanggapinya aku hanya tersenyum melihat semua tingkah lakunya.
__ADS_1
Karena menyaksikan cerewetnya itu sampai tidak terasa kami sudah melalui sutu barisan antrian panjang,akhirnya kami mendapatkan makanan kami satu nampan besar dengan 6 porsi makanan.kami membawanya sampai ke kamar dan dia masih saja banyak bicara sampai makanannya habispun dia tetap banyak bicara namun berbeda dengan Nanda dia sangat diam dia tidak berbicara atau bercanda sama sekali dia hanya tersenyum untuk menanggapi candaan kami.
Entah kenapa diamnya Nanda malah membuatku semakin penasaran.Aku ingin tahu apa yang sebenarnya membuat Nanda diam seperti ini apa dari dulu Nanda sudah seperti ini atau baru-baru ini saja?.Aaaa Nanda jangan buat aku penasaran begini.
Setelah sarapan aku dan Fatmapun mengembalikan nampan kami ke dapur.Beberapa menit kemudian belpun berbunyi entah pertanda apa itu tapi kami berenam tetap keluar dari kamar.Ternyata bel itu membuat seluruh santriwati yang ada disini berkumpul menjadi satu,sepertinya akan ada apel pagi sebelum kami semua masuk ke kelas masing-masing.Kamipun mengikuti santriwati yang lain untuk berbaris.Aku lihat semua yang berdiri disini hanya santriwati lalu ke mana para santriwan? sepertinya pondok pesantren ini benar-benar memisahkan santriwan dengan santriwati entah di sebelah mana santriwan itu diletakkan.Sudahlah jangan memikirkan itu mari dengarkan apa yang sedang disampaikan Bu Nyai di depan sana.
__ADS_1
30 menitpun berlalu apelpun selesai semua santriwati pun masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap siap masuk ke ruang kelas.Banyak yang mengeluh panas bahkan ada juga santriwati yang pingsan tak jauh jauh Fatma saja sedari tadi mengeluh tiada henti.Banyak sekali yang dia keluhkan aku sampai pusing mendengarkannya tapi keempat temanku yang lain ini seperti tidak mendengarkan apa-apa mereka bahkan tidak memperdulikan apa yang sedang dilakukannya bahkan mereka meninggalkan kami berdua di kamar
"Stttt diam!sekali lagi kamu bicara kita akan tertinggal masuk kelas!kamu sudah terlalu banyak bicara sekarang ayo cepat!" tanpa memperdulikan dia yang masih mengoceh tidak jelas aku terus menariknya mengikuti keempat teman kami menuju kelas.