
Om Arta bilang anaknya itu bekerja di toko dessert, dan dia bekerja di bagian dapur sehingga membuat nya sibuk dan kadang tak ada waktu untuk menelfon karna pasti akan sangat menggangu nya.
Dan namanya adalah
Leon Artadinata
Saat disekolah gue kaget mendengar Leon memperkenalkan dirinya, namanya benar-benar mirip dengan nama anaknya om arta, tapi gue masih inget jelas foto anak om Arta, sangat berbeda jauh dengan yang berada disekolah.
Ok back to the topik...
Setelah selesai mandi gue pun langsung memakai pakaian gue, dan langsung turun kebawah, di mana om arta tengah sendirian sambil mengaduk-aduk kopi yang tinggal setengah gelas lagi itu.
Sangat terlihat jelas dari wajah nya bahwa dia sangat bosan, ya karna mama gue sedang masak di dapur jadi tidak ada yang bisa di ajak bicara oleh nya.
"Om, maen PS yok..." Ajak gue yang sudah berada di bawah.
"Yok" ucap nya dengan semangat 45 nya itu.
Dan pada akhirnya disinilah kami. Berakhir dengan duduk manis di depan game PS sambil menunggu mama selesai masak untuk makan malam.
Jam demi jam pun berlalu
Sampai pada akhirnya mama selesai masak dan sedang menata nya di atas meja makan.
"Yeeeaaaayyy...... Huuuu..... Om menang yeh" teriak om Arta dengan kemenangan nya disamping gue.
"Yah, om curang yah maen nya, masa om terus sih yang menang" gue cemberut, karna memang sejak dari awal permainan dia terus yang menang.
"Kamu nya aja kali yang gak bisa maen, wleee...." Om Arta menjulurkan lidahnya mengejek.
Bugh...bugh...
"Ish, apaan sih om" gue memukul nya dengan bantal sofa.
"Aduh, aduh eh ko om arta malah dipukul sih"
"Biarin, abis suruh siapa om ngelewein aku" jelas gue gak terima karena di lewein bapak-bapak tua.
Tapi tiba-tiba tanpa aba-aba om arta langsung ngegelitikin gue.
"Akhh... Ahahahaha... Geli om ahahahaha...." Gue tertawa lepas.
"Rasain ini hah, klitik klitik klitik"
"Udah om ahahahaha.... Geli ahahaa.... Ahaha..." Pinta gue.
__ADS_1
Disisi lain mama gue hanya tersenyum melihat kami bermain.
"Makanan sudah siap, udah ayo berhenti dulu main nya" ucap mama gue di meja makan.
Om Arta dan gue pun langsung pergi ke meja makan.
Lalu kami pun makan malam bersama.
"Oh ya, katanya om Arta ada yang mau diomongin sama aku?" Tanya gue di sela-sela acara makan.
"Selesai in dulu makan nya" ucap mama
Padahal kan gue penasaran.
"Iya mah"
Beberapa menit kemudian kami sudah selesai makan, dan disinilah kami, masih di meja makan, tapi kali ini meja makan nya kosong karena sudah dibersihkan oleh mama.
Om Arta duduk berhadapan dengan gue sedangkan mamah ada disamping gue.
Ada apa ini, ini pertama kalinya gue melihat om arta gugup.
"Jadi sebenarnya, om Arta....." Ucap nya terhenti sesaat.
"Aduh... Deg-degan gini" lanjut nya dengan wajah polos.
Dan mamah hanya tersenyum malu melihat tingkah kekasihnya itu.
Dia pun mulai fokus lagi.
"Jadi sebenarnya, om Arta, mau menikahi mamah kamu, dan om Arta mau minta restu dari kamu terlebih dahulu" ucap nya serius.
Gue tersenyum.
Jujur, saat om Arta memasuki rumah yang sunyi ini semua nya jadi berubah, kebahagiaan dan keceriaan dirumah ini tercipta begitu saja.
Meskipun dia bukan ayah kandung gue, tapi kasih sayang nya tulus luar biasa untuk gue, gue bahagia saat dia berada disini.
"Aku merestui om, tapi om harus janji sama aku, om jangan pernah buat mamah menangis atau pun terluka, kalau sampai itu terjadi maka habislah riwayat om ditangan aku" ancam gue.
"Krreeeekkkk....."
Ucap gue dengan tangan yang seolah-olah memotong bagian leher.
"Iya om janji, om gak akan pernah membuat mama mu terluka ataupun menangis" ucap nya dengan tulus sambil melihat kearah nama.
__ADS_1
Dia tersenyum.
"Jadi kapan om Arta mau menikahi mama?" Tanya gue langsung.
" sekitar dua mingguan lagi" jawab nya tegas.
"Apa itu gak terlalu cepat?" Tanya mama tiba-tiba.
"Loh, emang mama sama om arta belum rundingan dulu" tanya gue yang heran saat mama bertanya.
Om Arta nyengir.
"Belom sih, om cuman bilang mau minta restu doang sama kamu"
"Ata, acara pernikahan itu gak sembarangan, banyak yang harus diperhatikan, dari menyiapkan pakaian, makanan, tempat, kartu undangan dan masih banyak lagi, butuh waktu lama untuk mempersiapkan nya" celoteh emak gue dah tuh.
Dan ya, Ata adalah panggilan kesayangan dari mama untuk om Arta
"Se-sebenarnya sudah hampir semua nya sudah disiapkan, hanya tinggal mencetak undangan dan memilih baju pernikahan" ucap om Arta telak.
"Waaahh.... Serius om" gue bener-bener gak percaya bahwa om Arta sudah menyiapkan nya dari jauh-jauh hari.
"Urusan tempat, makanan, mahar, dan serba-serbi lainnya semuanya akan di handle sama anak om" jelas om Arta lagi.
Mama tersenyum bahagia, dia tak menyangka bahwa pria nya itu benar-benar serius dalam ucapan nya.
"Kamu sudah menyiapkan nya dari jauh-jauh hari?" Tanya mama lagi ke om Arta.
"Iya, Putri ku sudah gak sabar ingin mempunyai seorang ibu di rumah, dan lagi , keinginan terbesar nya ingin memiliki seorang adik akan terwujud jika aku menikahi mu" jelas om Arta lagi.
"Apa kalian tahu? Putri ku lah yang paling semangat saat aku berbicara padanya akan menikahimu, dia selalu berkata “cepatlah Yayah, kapan kau akan membawa adik dan ibu ku kemari”" ucap nya tiba-tiba dengan wajah polos nya itu.
"Benarkah?" Tanya gue.
Om Arta sangat semangat sekali saat membicarakan anak gadis nya itu, dia juga pernah bilang bahwa anak nya lah yang membuat dia terus semangat menjalani kehidupan nya pada saat dia terpuruk dalam keputusan Asaan nya dulu.
"Benar, dan sekarang semuanya hanya tinggal menunggu keputusan dari mamamu"
Om Arta melihat ke arah mama, berharap mama akan bersedia menikah dengannya di waktu yang hanya berkisar 2 Minggu lagi.
Dan mama mengangguk tanda mengiyakan.
"Yeeeaaaayyy.... Wuhuuuu.... Akhirnya..." Om Arta sangat senang, lihatlah, bahkan iya sampai jingkrak-jingkrak seperti anak kecil.
Mama hanya tertawa melihat tingkah om Arta yang kekanakan seperti itu.
__ADS_1
Sebelum om Arta hadir, mama jarang sekali tersenyum ataupun tertawa, dia hanya akan tersenyum ketika melihat gue, karena dia gak mau gue tau kalau dia sedang menutupi kesedihannya.
Tapi lihatlah sekarang, gue bisa melihat tawa lepas dari mama, tak ada lagi tangisan dari wajah nya sejak om Arta hadir, tawa mama adalah yang terpenting bagi gue,