Cita Rasa Sekolah

Cita Rasa Sekolah
luka


__ADS_3

Author POV


Disisi lain, Joonie yang mendapat informasi dari Leon, langsung menyusul teman-teman nya yang masih berkumpul di api unggun.


"Guys, kita kehilangan 3 cewe disini" ucap Joonie, agak panik.


Mereka semua diam.


Lalu melirik satu sama lain.


"Loh, cewe gue mana?" ucap yeonjun, yang baru sadar kehilangan wanita nya.


"Tika sama Uut  juga gak ada" ucap salah satu cewek yang namanya Risma.


★sekedar info


5 cewek yang gak dikenal itu adalah


Risma pacarnya soobin


Nani


Dan yang pergi ke Indomaret adalah


Tika


Uut dan


Adel pacarnya yeonjun.


"Gue baru dapet info dari Leon katanya mereka bertiga ada di Indomaret yang agak jauh dari sini tanpa pengawasan dari laki-laki, kita harus nyusul mereka, apalagi ini udah malem, sangat bahaya di luar sana" jelas Joonie panjang kali lebar.


"Sebentar, gue coba telfon cewe gue dulu"


Ucap yeonjun, lalu langsung menelfon nya.


"Ayolah, angkat sayang..." Yeonjun mulai panik, karena telfon nya gak diangkat.


"Gak diangkat Joon" yeonjun


"Coba telfon yang lain selain Adel" suruh Joonie.


"Bentar, gue coba telfon Uut " ucap Risma.


Tetapi pada akhirnya, dari mereka bertiga, tak ada satupun yang mengangkat telfon nya.


Joonie mengacak rambutnya frustasi


"Aissshhh... Gue rasa mereka dalam masalah, yeonjun, jimin, Suho, Agus, Lo ikut gue, kita cari mereka, dan yang lainnya lebih baik masuk ke penginapan karna ini udah larut malam" titah telak dari Joonie.


Lalu Joonie, yeonjun, Jimin, Suho dan Agus pun langsung pergi ke lokasi yang sudah di kirim oleh Leon melalui ponsel jinie.


"Jinie, ko Kuki jadi takut yah" ucap Kuki pada jinie.


"Jangan khawatir, mereka baik-baik aja ko" jawab jinie sambil mengusap pundak Kuki.


"Aish.. Kuki jadi kangen Leon, kalo ada Leon Kuki pasti gak takut, Kuki udah Anggep Leon kaya kakak kandung Kuki, Kuki merasa kaya dilindungin sama leon" Kuki tiba-tiba teringat dengan Leon.


Jinie hanya tersenyum.


"Lo bener, itu yang gue rasain saat pertama kali kenal dia"


★★★★★★


Joonie dan teman-temannya bergegas ke arah lokasi yang diberikan Leon, tapi di pertengahan jalan, mereka melihat Tika yang sedang berlari sambil menangis.


"Itu Tika" tunjuk yeonjun.


Lalu mereka pun langsung menghampiri tika yang sedang menangis.


"Tolong... Hiks..hiks... Tolongin Adel sama Uut..hiks.. hiks..." Ucap Tika tiba-tiba.


Yeonjun panik


"Apa yang terjadi, dimana adel!!.." teriak yeonjun.


"Hiks..hiks... Dia dalam bahaya, dia ada hiks.. di gang Deket Indomaret sana" tunjuk Tika ke arah yang jauh.

__ADS_1


"Ada 2 preman hiks..hiks..hiks.. yang nyerang kita tadi...huweeeeeee...." Tangis Tika makin kejer.


"Jim, bawa Tika ke penginapan, dan yang lain ayo kita kesana" titah Joonie.


Jimin pun mengangguk, lalu langsung membawa Tika pergi.


Mereka berlari tergesa-gesa, terutama yeonjun, dia lah yang paling panik diantara yang lain, tapi belom sampai mereka pada tempat yang di tunjuk Tika, mereka bertemu Adel dan Uut.


Yeonjun yang melihat nya langsung memeluk Adel.


" Adel, kamu dari mana aja hah, aku tuh khawatir sama kamu" ucap yeonjun.


"Huweeee... Hiks..hiks..hiks..."


Adel hanya nangis kejer, lalu tiba-tiba dia pingsan di pelukan yeonjun.


Yeonjun panik


"Del, del, sayank..." Ucap yeonjun sambil menepuk pelan pipi Adel.


"Hiks... Hiks.. hiks... Tolongin dia" ucap Uut pada Joonie sambil menunjuk ke arah tikungan sana.


"Si-siapa??..." Tanya Joonie.


"Gak tau, hiks... Hiks.. tapi tadi ada yang..hiks... Hiks... Nyelametin kita, dia lagi berantem sama preman itu sendirian disana" ucap Uut sambil sesenggukan.


"Yaudah Lo tenang yah, gue bakalan nolongin dia" ucap Joonie.


" Yeonjun, Lo bawa pulang Uut sama Adel, gue dan yang lain mau nyelametin orang yang udah nolong pacar Lo" perintah Joonie.


"Ok"


Lalu yeonjun pun pulang dengan menggendong Adel yang pingsan dan juga Uut yang masih menangis sesenggukan.


Tak butuh waktu lama, Joonie, Suho dan Agus sudah berada di dalam gang.


Dan disana remang-remang terlihat hanya ada 2 preman yang tergeletak pingsan dengan luka di bagian kepala nya.


"Mereka semua pingsan" Agus.


"Tika bilang cuman ada 2 preman kan" ucap Suho yang berada di belakang Joonie.


"Sebaiknya kita pergi, sebelum mereka sadar" Agus .


"Yok" Suho.


Disisi lain.


★★★★


Disini lah Leon, di rumah Bi Inah.


Dia sedang di obati oleh sepupunya yang bekerja sebagai dokter yaitu «clara» anak mang Asep yang pertama, dia baru berusia 24 tahun.


Mang Asep hanya mempunyai 2 anak yaitu Clara dan Rere yang baru berusia 5 tahun, sangat berbeda jauh dengan usia Clara.


"Akh.. pelan-pelan dong" rintih Leon kesakitan karena clara sedang mengobati luka yang berada di kepalanya Leon.


"Ini gimana ceritanya Lo bisa luka parah gini" tanya Clara penasaran.


"Tadi, gue gak sengaja liat temen gue mau di grepe-grepe sama 2 preman, ya gue tinju lah, dan akhirnya berantem" jawab Leon.


"Yee.. sok-sokan Lo nolongin orang, terus kalo Lo mati gimana"


"Ya tinggal di kubur"


Pletak.... Sebuah jitakan mendarat sempurna di kepala Leon.


"Akh... Lo niat ngobatin gue gak sih" protes Leon tak terima dengan jitakan yang ia dapat.


"Lo tu yah, kenapa sih gak berubah, kerjaan nya berantem aja, pulang babak belur" celoteh Clara.


"Ya gue gak tau, ini tuh terjadi begitu aja" Leon


Clara menghembuskan nafas nya kasar.


"Lo tau gak kenapa gue jadi dokter, padahal cita-cita gue dulu jadi penyanyi" tanya Clara.

__ADS_1


"Gak tau gue" Leon


Pletak... Clara menjitak kepala Leon lagi.


"Akh.. sialan...." Leon.


"Seharusnya Lo nanya “ kenapa?” bukan “gak tau”" Clara.


"Haiss... Iya-iya, Emangnya kenapa?" Leon.


"Ini semua gara-gara Lo" Clara.


"Loh, ko gue disalahin" Leon terkejut.


Setelah selesai dengan luka di kepala, Clara beralih ke bagian lengan dan telapak tangan Leon yang terkena pisau, luka nya cukup dalam hingga ia harus menjahit luka nya.


"Lo inget waktu nyelametin gue yang hampir di perkosa itu gak?.." ucap Clara dengan nada rendah.


Leon hanya diam.


"Waktu itu Lo masih kecil,


kira-kira umur 10 tahun,


Dan gue juga masih sekolah SMA


Gue gak habis pikir,


berani-beraninya Lo yang kecil itu melawan 5 orang yang badannya 2 kali lipat dari lo,


waktu itu gue ketakutan setengah mati sampai gue pingsan karena takut,


Gue gak tau apa yang terjadi,


Dan disaat gue bangun gue cuman melihat Lo sekarat hampir mati disamping gue,


Untuk ke 5 orang yang hampir memperkosa gue itu, mereka semua sudah terkapar pingsan,


Gue gak tau apa yang udah Lo lakuin sama mereka, tapi gue berterima kasih banget karna udah punya sepupu kaya Lo,


Gue gak tau apa yang bakal terjadi kalo Lo gak ada disana" curhat clara mengingat masa lalu


Leon masih tetap diam, dia terlalu malas mengingat kenangan yang mengandung bawang, dia yakin bahwa sepupunya itu setelah selesai bercerita pasti akan menangis.


"Dan waktu itu juga Lo sekarat di rumah sakit, sedangkan gue, gak ada yang bisa gue lakuin buat Lo, dari situ gue berinisiatif jadi dokter, gue takut Lo terluka lagi, gue terus belajar, belajar dan belajar, dan lihatlah sekarang, gue sudah menjadi dokter, dan bukan hanya Lo tapi semua orang, gue bisa mengobati mereka" jelas nya lagi.


"Hiks... Hiks..." Clara ingusan.


Nah, kan, yang diprediksi kan oleh Leon benar, Clara menangis kecil.


Gue benci suasana kek gini batin Leon.


"Yon, seenggaknya Laen kali Lo harus mikirin diri Lo sendiri" clara.


Leon diem


"memang nya Lo itu hidup buat apa sih?" Clara.


"Gak tau, cuman iseng aja sih" jawab Leon polos.


Pletak... Clara menjitak kepala Leon lagi.


"Akh..." Leon.


"Sialan Lo, bisa-bisanya Lo bilang hidup lo cuman iseng!.." celoteh Clara ala emak-emak ngamuk.


"Kepala gue sakit Lo jitak Mulu, bisa geger otak gue lama-lama" protes Leon tak terima


Setelah beberapa lama,


Clara pun sudah selesai menjahit luka leon, dan semua nya sudah selesai.


"Dah malem, tidur gih" titah Clara.


"Iya"


Dan pada akhirnya Leon tidur di kamar Clara berdua.

__ADS_1


Karena kelelahan Leon tidur dengan cepat.


__ADS_2