
Keesokan harinya....
Jam menunjukan pukul 08 pagi, dan lihatlah, rombongan Joonie and jinie terkecuali Leon, dia masih tertidur lelap di kasur Clara.
Mereka semua berkumpul di teras penginapan, bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Seharusnya hari ini mereka pergi ke ladang bunga tempat nenek nya Leon, tapi dibatalkan karena kejadian tadi malam yang membuat beberapa orang syok.
"Yaaahh... Gak jadi keladang bunga deh" ucap rose lesu.
"Ya mau gimana lagi, ini udah keputusan Joonie, soalnya dia yang ngatur segala nya" jawab jinie.
"Jinie, gue minta maaf, gara-gara gue, acara lo jadi hancur" Adel angkat suara, dia merasa bersalah.
"Gue juga salah, gue minta maaf" Tika
"Masalah ini karena gue juga, maaf ya jinie" Uut.
"Iya gapapa ko, lagian ini udah berlalu, kapan-kapan gue bisa maen lagi" jinie tersenyum.
Setelah dirasa semuanya sudah kumpul, Joonie pun mulai membuka acara nya, dia akan menyampaikan sesuatu sebelum pulang.
"Ok, apa disini semuanya sudah kumpul??.. apa masih ada yang di luar??.." tanya Joonie memastikan, ia takut ada teman nya yang ketinggalan nanti.
"Hoby sama jimin lagi di kamar mandi" Suho memberitahu.
"Cewek gue udah di mobil duluan, katanya kepala nya pusing" jelas soobin memberitahu.
"Kuki gak liat Leon" Kuki.
"Ah iya, gue gak liat dia" Dita.
"Lagi gentayangan dia di pohon" suho.
Kuki yang mendengar nya langsung memukul Suho.
"Iiss.. apaan sih" Kuki.
Suho hanya tersenyum miring.
"Tadi malem juga dia gak ada di kamar" jinie mengingat kalau sedari tadi malam tak ada Leon.
"Dia di kamar laen, coba telfon dia" jelas Joonie yang tau kalau Leon pasti tidur di tempat mang Asep.
Jinie pun mengangguk dan langsung menelfon leon.
Disisi lain...
Drrrtttt.... Drrrtttt....
Ponsel Leon bergetar di atas nakas, karna kuping Leon itu gak budeg, dia pun terbangun, merasa tidur nyenyak nya terganggu oleh suara ponsel nya itu.
"Akh... Sial" racau nya merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang babak belur.
__ADS_1
Dia mencoba mengerjapkan mata nya berkali-kali, mencoba membiasakan cahaya matahari yang masuk ke penglihatannya.
Dia pun duduk di pinggir kasur, lalu mencoba mengangkat telfon dari jinie.
Saat dia mencoba mengambil ponsel nya, ia melihat ke tangan nya, dia bingung, bagaimana cara memegang ponsel nya itu, sedangkan ke dua tangannya terbalut oleh perban penuh, hanya jari jempol nya yang di perban terpisah.
"Aisshh... Gak mandi sebulan dah gue" gumam Leon.
Dan dengan susah payah, akhirnya Leon mengangkat telfon nya dengan bantuan jempol nya itu.
"Halo.. (Dengan suara khas bangun tidur nya)
Halo yon, Lo dimana?
Dikasur, baru bangun tidur gue.
Apah!!... Baru bangun??.. eh kita semua udah kumpul di teras dan Lo baru bangun, cepet kesini gih, ada yang mau diomongin sama Joonie.
Ngomong apa? Ngomong aja sekarang.
Itu, acara pergi keladang bunga nya di batalin Yon sama Joonie, soalnya tadi malam ada kecelakaan sedikit, jadi kita semua bakal pulang.
(Nada bicara jinie lesu)
Ouh gitu, yaudah gih, kalian pulang duluan aja, gue juga masih ada urusan disini.
Loh mana bisa gitu, kita kesini bareng, dan pulang juga harus bareng, Lo tau gak, ini si kuki udah panik gak ngeliat Lo disini.
Kuki pulang bareng kalian aja, gue gak bisa.
Pokoknya Lo harus kesini titik, gue tunggu."
Tuuut....
Jinie memutuskan telfon sepihak, seperti dia kesal karena Leon.
"Keras kepala emang" gumam Leon.
Leon pun bangkit dari kasur nya, pergi menuju ke tempat jinie, tapi baru saja dia keluar kamar, Clara menegurnya.
"Mau kemana lo?" Tanya Clara, yang sedang duduk di sofa.
"Keluar sebentar, Lo sendiri gak kerja" Leon.
"Lagi cuti gue, Oya jangan lama-lama keluar nya, gue mau ganti perban Lo" jelas Clara.
"Iya" Leon.
Belum sempat Leon melangkah kan kaki nya, Clara sudah memanggil nya.
"Eh tunggu-tunggu" cegat clara.
Leon hanya diam.
__ADS_1
Clara mendekati Leon, lalu mengikat rambut Leon yang panjang itu dengan karet gelang.
Dan terlihat sangat jelas, wajah cantik Leon, dengan lebam di sudut bibir dan juga disudut mata bagian kanan nya itu, dan jangan lupakan kening bagian pinggir Leon yang diperban dengan luka beberapa jahitan, disitu juga terlihat jelas darah Leon yang tercetak di perban itu.
"Ribet gue ngeliat rambut panjang Lo, kaya Kunti tau gak" ejek Clara setelah selesai mengikat rambut Leon.
"Oya, itu boneka kelinci Lo ada di meja" ucap Clara lagi, lalu ia pergi kedapur.
"Iya juga, gue sampe lupa" Leon pun langsung mengambil boneka kelinci itu dari meja, itu adalah boneka untuk Kuki, sedangkan boneka kelinci yang satunya sudah ia berikan kepada Rere tadi malam.
Leon langsung pergi keluar, pikirnya si jinie pasti udah nungguin dia dari tadi.
Tapi saat di persimpangan jalan, Leon hampir bertabrakan dengan hoby dan Jimin.
"Uhh..." Leon.
"Uuhh...." Hoby and Jimin terkejut.
"Maaf, maaf" hoby langsung meminta maaf.
Sedangkan Jimin hanya diam melihat Leon, dia sedang mengingat wajah Leon, seperti pernah lihat pikirnya.
"Iya gapapa ko" jawab Leon.
Hoby melihat kearah Jimin yang sedang melamun, entah apa yang dia pikirkan,
Lalu hoby pun langsung menarik Jimin untuk pergi.
Hoby dan Jimin berjalan di depan, dengan diikuti Leon dibelakang mereka, sambil membawa boneka kelinci yang diapit nya menggunakan ketiak.
"Dia ngikutin kita" bisik hoby ke Jimin.
"Kaya nya sih gitu, tapi gue kaya pernah liat dia, tapi dimana gitu, gue lupa" balas Jimin dengan berbisik juga.
( Author: PD amat lu berdua )
"Apa jangan-jangan dia orang jahat, liat aja muka nya yang ada luka itu, itu pasti bekas luka dipukulin" cerita Ngadi-Ngadi hoby.
"Huuss... Gak boleh gitu, bisa jadi dia yang jadi korban" bela Jimin.
"Eh, iya juga, ah ketularan Linda ini gue kayanya" hoby.
Karena merasa diikuti terus oleh Leon, hoby dan Jimin berhenti lalu bersamaan menengok kebelakang secara perlahan.
Dan otomatis Leon pun berhenti jalan nya, karena hoby dan Jimin menghalangi jalan satu-satunya yang ada dihadapan Leon.
"Hehe"
Hoby dan Jimin hanya nyengir dengan wajah oon nya itu.
Ni dua orang kenapa sih, oon apa emang udah bego dari lahir batin Leon.
Dan seketika itu tiba-tiba hoby dan Jimin berjalan dengan cepat meninggalkan Leon yang kebingungan.
__ADS_1
Leon menengok ke arah belakang nya, dan tak siapapun disana, hanya ada dia.
Sehoror itukah muka gue batin Leon.