Complicated Lovers

Complicated Lovers
Ikatan yang Terputus


__ADS_3


Seperti biasa, kota Shinjuku yang kini diselimuti oleh salju tak membuat pejalan kaki gentar. Beberapa dari mereka memakai mantel super tebal dan yang lain menggunakan penutup telinga.


Dalam keramaian dan hiruk pikuk suasana, seorang pria blonde dengan tindik di hidungnya nampak berlari dari kejaran seseorang. Dengan panik ia terus melesat melewati kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.


"Minggir!"


"Permisi, permisi!" yang mengejar sekuat tenaga berlari dengan kaki pendeknya.


"Airu, kamu sudah sampai dimana?"


"Aku masih dalam perjalanan." Airu menyetir mobilnya seraya memegang android. Jalanan nampak kacau balau dan itu membuatnya sedikit kesal karena ia akan terlambat menemui temannya.


"Ck."


"BERHENTI!" Airu terbelalak kaget dan mendadak mengerem mobilnya. Saat itu juga satu orang melompati kap mobilnya dan menghasilkan bunyi dentuman yang keras terutama ketika seorang wanita yang juga ikut melompati kap nya barusan.


"OI!" Airu keluar dengan geram. Wajahnya semakin menggelap ketika mengetahui keadaan kap mobilnya yang penyok.


"Sial, polisi itu masih saja mengejarku!"


"Berhenti! Apa kau tuli!?" Polisi wanita yang masih bersikukuh mengejar perampok tersebut adalah Hwang Yuuna. Pria itu nampak mulai kelelahan dan Yuuna mengambil kesempatan emas tersebut, ia mulai melancarkan aksinya sekuat tenaga berlari ke arahnya dan mengeluarkan jurus tendangan kakinya tepat mengenai kepala si perampok. Hanya dalam satu tendangan tubuhnya roboh dengan darah yang mengalir di kedua lubang hidung. Yuuna menepuk tangannya dan tersenyum lalu mengambil sebuah borgol dari dalam saku celana olahraganya.


"Oi, Airu! Kenapa wajahmu itu?" Airu terlihat suram setelah kejadian yang menimpanya sehingga ia menatap tajam temannya.


"Hei, Shiki!" Shiki bergidik ngeri ketika Airu duduk di sebelahnya.


"A-ada apa?"


"Bawa mobilku dan perbaiki." Ia menyerahkan kunci mobil BMW i8 kesayangannya yang baru aja mengalami hal yang tragis.


"Eeeehh!?"


"Aku hitung sampai tiga. Satu..." Mendapat ancaman tersebut lantas membuat Shiki berdiri dan mengambil kunci.


"Aku pergi sekarang juga!!!"


Airu menghembuskan nafasnya berat. Sesekali ia mengamati androidnya dan beberapa pesan dari wanita telah masuk.


"Halo, Akari-chan!?"


"Ada apa Yuuna-chan?"


"Malam aku ingin memintamu menemaniku untuk mencari kado Sung Joo."

__ADS_1


"Maaf Yuuna-chan. Malam ini aku benar-benar tidak bisa." Yuuna agak sedih mendengar bahwa sahabatnya tidak bisa menemaninya.


"Yasudah kalau begitu, aku akan mencarinya sendiri." Setelah menutup panggilan, Yuuna menatap pantulan dirinya di kaca. Memakai kaos putih dan celana hitam di atas mata kaki, luarnya ia padukan dengan mantel cream yang membuatnya cukup hangat. Rambutnya ia kuncir asal namun tak membuat kecantikannya berkurang.


"Aku harus bergegas!" Yuuna membuka pintu kamarnya dan menutup agak keras.


"Yuu-chan! Mau kemana kau?" Tanya kakak laki-lakinya yang terpaut dua tahun lebih tua darinya.


"Bukan urusanmu!"


"Tentu saja urusanku! Aku tidak ingin kau menemui si Sung Joo jelek itu! Aku sebagai kakakmu melarangmu untuk menemuinya!"


"Haru! Kemarilah." Yuuna terkekeh ketika wajah Haru kakaknya mulai berubah panik ketika sang kakak laki-laki tertua memanggil namanya.


"Baik kakak! Aku segera kesana!" Haru melenggang pergi meninggalkan Yuuna.


"Kau akan pergi menemui Sung Joo?" Suara manis dan lembut membuat Yuuna memandang ke arah wanita yang tak lain adalah kakak perempuannya. Yuuna adalah anak paling bungsu dari empat bersaudara.


"Iya, Kaori nee-chan."


"Nikmati malam natalmu bersamanya." Kaori menepuk pelan kepala Yuuna.


"Eung! Kalau begitu aku pergi dulu!"


"Tunggu!" Yuuna berhenti tepat ketika membuka pintu.


"Terimakasih."


"Hati-hati di jalan!" Kaori melambaikan tangannya dengan senyuman.


Malam itu dipenuhi butiran salju yang turun, lampu-lampu kota bersinar dengan terang, kumpulan choir bernyanyi dengan pakaian santa diiringi alat musik melodi dan akustik. Yuuna berjalan dengan senyuman terbaiknya.


"Sung Joo pasti akan terkejut dengan kedatanganku."


"Merry Christmas Airu-kun!"


"Eh, ini untukku?" Airu menatap bungkusan kado mewah yang di pegang oleh wanita berpakaian seksi dengan dandanan yang menggoda.


"Tentu saja untukmu!" Airu membiarkan wanita itu bergelayut manja di lengannya.


"Bukalah."


"Sekarang?"


"Eung."

__ADS_1


"Kalau begitu akan kubuka." Airu merobek bungkusan tersebut dan membuka kotak itu.


"Rolex!?" Airu menatap wanita itu dengan mata berbinar.


"Kau suka?"


"Tentu saja aku suka."


Yuuna berjalan menuju rumah Sung Joo yang terlihat mewah. Ia mencoba menghubungi Sung Joo yang sudah menjadi tunangannya setahun yang lalu namun tidak ada jawaban.


"Kenapa sepi sekali? Bukankah tadi siang ia mengatakan bahwa jadwalnya kosong?" Yuuna menaiki tangga seraya bergumam. Tak lama kemudian ia mendengar suara desahan dari kamar Sung Joo. Yuuna menjadi penasaran dan perasaannya menjadi tak karuan. Pintu kamar Sung Joo sedikit terbuka dan ia mendengar suara yang sangat familiar. Yuuna mengintip dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia lihat. Kedua matanya memerah seolah ingin menangis. Sekali lagi ia memanggil Sung Joo namun... Pria itu tak mengindahkan panggilan telepon Yuuna malah semakin menjadi. Kedua kalinya ia melakukan hal yang sama.


"Siapa?"


"Yuuna."


"Angkat saja, mungkin dia akan datang kesini."


"Apa!?" Mau tak mau pria itu menerima panggilan telepon Yuuna.


"Yuuna?" Bibir Yuuna bergetar pelan ketika pria itu memanggil lembut namanya.


 


"*Menjijikan*!"


 


"Merry Christmas." Perlahan Yuuna membuka pintu kamar dengan tatapan sedingin es. Sung Joo terkejut sementara wanita di sebelahnya menyeringai dalam keadaan tak berbusana.


"Y-yuuna sejak kapan k-" Yuuna menghampiri Sung Joo yang terdiam. Ia merogoh kantung mantelnya dan menyerahkan sebuah Kotak cokelat tua kecil persegi panjang yang diikat tali berwarna emas. Setelah itu ia berbalik dan berjalan tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Sung Joo mengejar keluar dan menahan Yuuna.


"Yuuna dengarkan penjelasanku!" Kepala Yuuna yang awalnya menunduk kini menatap Sung Joo.


"Maaf. Sebenarnya selama ini aku mulai merasa hubungan kita semakin renggang terutama dengan pekerjaanmu sekarang. Kau selalu tidak ada waktu untukku jadi..." Yuuna tertawa pelan.


"Luar biasa! Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi." Akhirnya Yuuna melepas cincin yang sebelumnya melingkar di jarinya lalu melemparnya tepat di hadapan Sung Joo dan wanita yang tak lain adalah Akari, sahabat Yuuna. Ia melenggang pergi dengan hati yang tersakiti.


Malam itu menjadi malam yang bahagia sekaligus menyakitkan bagi Yuuna. Ia benar-benar tidak menyangka keduanya bermain dibelakangnya. Rasa sakitnya ia lampiaskan dengan meminum bir dengan kadar alkohol yang cukup tinggi, langkahnya menjadi tidak stabil karena mabuk. Ia tidak memperdulikan tubuhnya yang kini dipenuhi oleh salju. Orang-orang sesekali melihat ke arahnya dengan tatapan aneh sampai akhirnya tubuhnya berhenti di suatu tempat.


"Nona! Nona, lepaskan mantelmu terlebih dahulu!"


"Haaaaahhhh!?"


"Kyaaa! Maafkan aku nona! Kau bisa masuk tanpa melepas mantelmu!"

__ADS_1


"Ada keributan apa?" Airu menoleh kearah sumber suara dan mendapati wanita yang kini berjalan sempoyongan. Iris matanya melebar dan auranya menjadi gelap.


"Halo! Ini adalah karya pertamaku, mohon maaf kalau mungkin ada kesalahan dalam penulisan."


__ADS_2