
Airu terbangun dari tidurnya. Ia merasa sakit disekujur tubuhnya. Ia mendengar bunyi dari vacuum cleaner, itu berarti Yuuna ada di apartemennya. Airu berjalan dengan malas tanpa menyapa wanita yang tengah menatapnya was-was.
"Yosh! Dia tidak menyadari kejadian tadi malam!"
Setelah semua pekerjaan Yuuna selesai, ia pamit pergi.
"AKU PERGI DULU!"
Airu mendapatkan pesan dari sang ayah. Namun ia tak membalas pesan tersebut, ia lebih memilih untuk menata rambutnya.
"Sung Joo, jadi kapan kita akan menikah?" Akari bergelayut manja di lengan Sung Joo.
"Hm... Akari, status kita saat ini masih sangat dirahasiakan. Jadi kita jalani saja dulu."
"Apa ini karena Yuuna?" Raut wajah Akari berubah tidak suka.
"Bukan. Aku belum bisa memberitahukan kepada orangtuaku, aku masih perlu waktu. Sudahlah, apa kau lapar? Ayo kita pergi sarapan." Akari terlihat sedikit kecewa dengan jawaban dari Sung Joo.
"Kau pergi sarapan duluan saja, aku akan menyusul."
"Eung."
Sung Joo masuk menuju kamarnya. Ia berjalan ke arah lemari yang ternyata berisi kotak medium berwarna biru safir. Alisnya melengkung turun, sudut bibirnya tersenyum kecil setelah itu ia menutup lemari itu. Ia menatap jendela panorama, terpancar masa lalunya ketika bersama Yuuna.
Beberapa tahun yang lalu...
"Ada apa dengan wajahmu itu?" Sung Joo menjitak kepala Yuuna yang merenung menatap ke arah jalanan cafe.
"Sung Joo-ya..."
"Hm?"
"Aku ingin keluar dari akademi kepolisian."
"Apa mereka mengganggumu?" Yuuna tak menjawab. Ia memakan coklat premium yang dibelikan oleh Sung Joo.
"Jangan menyerah secepat itu. Ingat! Kau diterima karena bakat dan prestasimu!" Sung Joo mengacak rambut Yuuna. Suasana wanita itu sedikit menjadi baik, ia tersenyum ringan.
"Baiklah kalau begitu."
Yuuna beranjak dari kursinya, ia memandang sobatnya yang asyik mengunyah permen karet.
"Kaiba!"
"Hm?"
"Aku ingin ke minimarket, kau ingin titip apa?"
"jus banana dan lima onigiri tuna wasabi! Oh iya dan cappeu ramen juga sosis ikan."
"Banyak sekali kau makan, yasudah aku pergi dulu."
Dalam perjalanan beberapa orang menyapanya, Yuuna membalas dengan ramah. Ia masuk menuju mini market yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Yuuna melihat ke arah barang yang ia cari, dengan sebuah keranjang di lengan kanannya. Ia melihat aneka roti yang membuatnya berliuran.
"Yang mana yang harus kupilih!? Semuanya terlihat enak." Ia berbicara sendiri dan berdiri cukup lama. Seseorang memandangnya tidak jauh.
"Hm... Jus mana yang paling enak? Persik atau coklat? Ini sangat membingungkan."
Setelah memilih minumannya ia ingin mengambil cemilan rumput laut yang berada di atas. Ia mencoba untuk menggapainya namun tetap saja tidak membuahkan.
"Tinggi sekali."
"Sini, biar kubantu." Suara halus itu mengejutkan Yuuna.
__ADS_1
"Terimakasih." Yuuna mengambil barang yang ia mau dari pria penjaga minimarket tersebut. Tubuhnya terlihat ramping, bulu matanya lentik dengan mata yang menawan. Pria itu tersenyum halus.
"Ada yang kau perlukan lagi Yuuna-san?"
"Ah tidak ada! Aku rasa sudah cukup. Eh, bagaimana kau tahu namaku?"
"Aku sering mendengar temanmu mengucapkannya."
"Sebentar, kau pegawai baru bukan?"
"Aku sudah bekerja lama disini." Yuuna menyengir.
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa."
'Berita terkini ditemukannya potongan tubuh seorang wanita di sebuah bangunan tua. Diperkirakan jasad korban berumur sekitar dua puluh enam tahun. Diketahui bola mata kanannya tercungkil. Korban diduga terbunuh oleh Spider Lily Killer."
"Lagi-lagi." Gumam Yuuna ketika menonton berita tersebut.
"Ano..."
"Kuro..."
"Kuro-san berapa totalnya?"
"Baiklah tunggu sebentar..."
Ponsel Yuuna berdering, tanpa basa-basi ia mengangkat panggilan tersebut. Dari arah panggilan ia mendengar suara Airu yang cukup serius. Yuuna memandang Kuro yang menatapnya penasaran. Karena tak enak akhirnya ia sedikit menjauh.
"Kita akan membicarakannya nanti malam."
Airu terdiam, ia terus menonton berita yang disiarkan. Shiki dan Ren hanya saling menatap.
Malam tiba, Yuuna eks Yuuma sibuk melayani perempuan yang mengajaknya bermain jenga. Sementara Airu menemani Kanzaki, dan dua orang wanita lainnya.
"Airu!"
"Ada apa Risa-chan?"
"Apakah aku cantik?"
"Sangat cantik."
"Curang!"
"Kau juga cantik Bebe-chan!"
Wanita itu menatap benci. Sementara Kanzaki menuang alkohol ke dalam gelasnya.
"Airu-san."
"Ada apa Kanzaki-san?"
"Ini." Kanzaki menyerahkan sebuah jimat."
"Apa-apaan itu? Jimat? Jelek sekali!" Bebe tertawa sementara Risa mengangguk pelan. Airu mengambil jimat tersebut lalu tersenyum.
"Terimakasih, ini adalah jimat perlindungan yang sangat indah."
"Eh? Jimat itu terlihat biasa saja."
"Hei Yuuma!" Ren tidak hentinya mengganggu Yuuna yang terlihat risih.
__ADS_1
"Kau yakin dirimu sudah berumur delapan belas ke atas? Kenapa tubuhmu kecil sekali?"
Pertanyaan itu terus dilontarkan oleh Ren yang sangat penasaran.
"Ck... Urus saja urusanmu!!!"
"Katakan padaku!"
"Argh! Berisik!" Yuuna membekap mulut Ren dengan gumpalan tisu bekas lap meja.
Malam itu Yuuna segera pulang karena ia lupa kalau nenek dan kakeknya baru saja datang.
"Airu-san besok saja kita bicarakan, aku ada urusan penting!!!!" Yuuna berlari mencari pemberhentian bus yang terakhir. Ia terlihat senang dan tak sabar untuk bertemu nenek dan kakeknya.
"Halmeoni! Harabeoji!"
"Yuuna-ya!!!" Yuuna memeluk kedua orang itu erat. Seolah sudah bertahun-tahun lamanya ia tak berjumpa.
"Aigoo darimana saja dirimu?"
"Aku baru saja ada urusan. Kapan kalian tiba?"
"Satu jam yang lalu."
"Mari aku siapkan teh hangat."
"Bawalah kue berasnya dan hidangkan."
"Wah! Ini pasti buatan nenek."
"Nenekmu ini selalu memikirkan cucunya yang doyan sekali makan kue beras."
"Ryuga, apa kau sudah memiliki pasangan?"
"Kakek, aku belum memikirkan hal itu."
"Sudah sejak lama kami datang kembali ke rumah ini. Banyak sekali perubahan."
"Nenek senang melihat kalian tumbuh menjadi pria yang tampan dan wanita yang cantik."
Suasana hangat menyelimuti ruangan tamu. Yuuna terlihat bahagia sekali bahkan ia tak memperdulikan panggilan Airu.
"Kau tidak mau ikut kami ke restoran?" Tanya Shiki.
"Lain kali saja, aku sangat lelah."
"Baiklah."
Shiki, Ren dan Airu berpisah. Ia membuka pintu mobil masuk ke dalam. Airu menyetir dengan kecepatan normal sambil menyetel lagu kesukaannya. Dalam perjalanan ia bersenandung pelan sampai akhirnya ia sampai di parkiran apartement. Ia menoleh ke arah pilar karena ia merasakan seseorang memperhatikannya.
"Mungkin hanya halusinasiku saja." Airu berjalan dan menekan pintu lift.
TING
Airu terdiam di depan pintu apartementnya. Lagi-lagi ia melihat sebuah kardus misterius yang tergeletak.
"Lagi-lagi." Airu menelan ludah, dengan segenap keberanian ia membuka kotak tersebut perlahan-lahan.
"APA INI!!!" Airu membuang kotak tersebut, jantungnya berdetak cepat. Ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Yuuna. Airu segera masuk dengan wajahnya yang pucat.
......Apa yang ada di dalam kotak tersebut!?......
Mimin kombek gaes!!!
__ADS_1