
Airu menoleh kearah sumber suara dan mendapati wanita yang kini berjalan sempoyongan. Iris matanya melebar dan auranya menjadi gelap.
"Aku mau pria paling tampan melayaniku!!!!"
"Nona, kamu bisa memilihnya lewat daftar menu." Ujar Shiki.
"Apa?? Menu!? Aku tidak perduli menu!!!"
"B-baiklah! Airu kemari!" Shiki menoleh ke arahnya dengan wajah memelas. Wajah Airu berubah dalam sekejap, ia menghampiri Yuuna dengan senyuman mempesona yang selalu bisa membuat para wanita meleleh.
"Selamat datang, tuan putri kecilku. Kemari dan duduklah!" Airu menuntun Yuuna untuk duduk di sofa yang kelihatannya sangat empuk.
"Whiskey! Mana Whiskey!? Hahahaha!!!" Suara tawa diselingi dengan cegukkan memenuhi ruangan club. Wajah memerah Yuuna kini terlihat konyol terutama ketika ia samar-samar memandang Airu menuangkan whiskey ke dalam gelas.
"Ck, membosankan!" Airu menatap Yuuna bingung.
"Aku mau champagne tower dan para lelaki yang mengelilingiku!!!!"
"Shiki!"
"Tapi dia sudah mabuk?"
"Aku hitung sampai tiga. Satu...."
"BAIKLAH!!!" Seperti yang diharapkan, kini dihadapan Yuuna sudah ada tumpukan gelas membentuk tower semua host yang ada di club berdatangan. Salah satunya berseru memanggil nama Yuuna.
"Eh! Yuuna!" Airu melihat arah pria pirang dengan setelan jas yang kasual.
"Kau mengenalnya, Ren" Tanya Shiki.
"Dia adalah adik dari sahabatku, Haru." Ren mencoba untuk menghubungi kakaknya, namun Airu terlebih dahulu menahan dan menggeleng pelan. Ren sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berdoa dalam hati.
"Tuang champagne nya! Persetan dengan pria brengsek itu!!! Hahahaha!" Yuuna menggoyangkan gelasnya sehingga champagne yang ada di dalamnya memercik dan membasahi wajahnya. Airu terdiam ketika Yuuna menunduk, ia mendengar wanita itu terisak pelan bahkan giginya terkatup kuat seolah tidak ingin menangis kencang.
"Kalian boleh bubar." Perintah Airu.
Airu tidak tahu harus berbuat apa. Ia memandang Yuuna dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Dalam hatinya, entah apa yang kini dialami Yuuna akan tetapi ia bisa merasakan kesedihan wanita itu. Yuuna menatap kearah Airu dengan mata sembabnya tapi perasaan buruk Airu tak bisa di elak.
"Ho-hoek!"
__ADS_1
"YANG BENAR SAJA!" Teriak Airu.
Keesokan harinya, seperti biasa ia bangun lebih awal. Dengan mata yang masih setengah tertutup ia berjalan menuju kamar mandi. Dari pantulan cermin, wajahnya terlihat lusuh, rambutnya acak-acakan.
"Haish! Kenapa wajahku setiap bangun pagi menjadi bengkak!? Menyebalkan!" Yuuna mengambil sikat gigi dan mengoleskan pasta gigi. Seraya menyikat giginya dengan malas ia berjalan mengambil handuk.
Tok Tok
"Yuuna, sarapan sudah siap." Ujar Kaori dari luar pintu kamarnya.
"Lima menit lagi aku akan turun kebawah!" Seru Yuuna.
Disisi lain, Airu sudah bersiap. Ia bahkan sudah menyiapkan toast dan mocha latte untuk sarapannya pagi hari ini. Ia memandang androidnya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Perlahan ia menyesap mocha lattenya sambil memandangi pemandangan kota Shinjuku dari balik jendela.
"Selamat pagi!" Sapa Yuuna malas. Ayah memerhatikan Yuuna dengan tatapan mengintimidasi. Yuuna cukup peka akan hal itu, sepertinya ia akan ditanyai sesuatu.
"Yuuna?"
"Yuuna!!! Kenapa tadi malam kamu diantar oleh Ren!??" Haru mendekati Yuuna dengan wajah kesal.
"Eh? Itu..." Jujur saja ia tidak mengingat kejadian setelah ia meminum bir. Yuuna memandang ke Ibu yang sibuk menuangkan air minum.
"Kemarin aku dan Sung Joo tidak sengaja bertemu dengan Ren di restaurant dan akhirnya kami merayakan natal bersama namun, Sung Joo pergi lebih dahulu jadi..."
"Betul sekali!" Cengingiran sambil memakan lahap nasinya. Sang Ayah masih memandang intens Yuuna.
"Kemana cincinmu?"
"Cincin!? Aku menyimpannya dilemari karena takut hilang." Jawab Yuuna santai sehingga Ayahnya tidak berkata apa-apa lagi. Kini giliran kakak tertuanya yang memandangnya.
"Aku sudah selesai." Mungkin baginya orang yang paling sulit untuk dihadapi adalah kakak tertuanya, Ryuga. Menurutnya Ryuga seperti peramal yang tahu akan segalanya.
Yuuna berlari pelan melewati dinginnya cuaca dan sesekali ia mengusap kedua tangannya. Ia melihat ke arah para pasangan yang berjalan dengan penuh tawa, dalam hatinya sedikit sesak tapi ia berusaha untuk tak perduli. Sampai akhirnya ia sampai di kantor, beberapa dari mereka menyapa Yuuna.
"Selamat pagi, Yuuna!"
"Selamat pagi, Daisuke-san."
Saat ia duduk di kursinya, terdengar beberapa polisi wanita berteriak kencang. Bahkan salah satu dari mereka ada yang tak sadarkan diri.
"Oh my hot! Yuuna, lihatlah pria itu tampan sekali." Tiba-tiba seseorang menggoyang tubuhnya pelan.
__ADS_1
"Hm... Iya..." Jawab Yuuna malas, pandangannya masih pada laptop.
"Oh tidak dia melihat ke arah kita!"
Airu tersenyum ke arah para wanita yang terpesona padanya. Ketika pandangannya menuju ke salah satu orang yaitu Yuuna.
"Oh tidak dia melihat ke arah kita!"
"Hm... Sudah pergi sana! Aku sibuk!" Yuuna mengusir kawannya. Ia tak sadar bahwa Airu telah duduk dihadapannya.
"Yuuna! Pssst! Yuuna!" Daisuke yang disamping mengikut lengannya.
"Hm? Ada apa?" Tanya Yuuna.
"Lihatlah ke depanmu."
"Depanku?" Akhirnya ia melihat kedepan. Airu lagi-lagi tersenyum.
"Apa ada yang bisa kubantu, Tuan?" Tanya Yuuna. Urat kemarahan timbul di dahi Airu, ia hampir saja kehilangan akal jika bukan karena di kantor ini banyak polisi wanita.
"Tentu saja." Jawab Airu ramah, lalu ia menyerahkan lembaran kertas. Yuuna membaca dengan seksama namun ia mengerutkan wajahnya.
"Biaya ganti rugi perbaikan mobil BMW i8? Jadi Tuan ingin aku menyelidiki siapa yang telah merusak mobilmu?" Airu mengangguk pelan.
"Baiklah, apakah tuan ingat ciri-ciri orangnya?"
"Yang merusak mobilku ada dua orang tapi aku hanya mengingat satu dari mereka saja." Yuuna menunggu kelanjutannya.
"Dia adalah... Nona polisi yang ada di hadapanku sekarang." Yuuna berhenti mengetik, ia merasakan semua mata tertuju padanya.
"Apa? Tuan, sepertinya kamu salah orang."
"Aku tidak mungkin salah orang. Wanita itu bahkan datang ke club ku dan membuat keributan disana. Ia lari tanpa membayar tagihan bahkan muntah di pakaianku." Airu menopang dagunya. Yuuna tampak kesal karena ia merasa dituduh.
"Tuan di dunia ini yang punya wajah sepertiku pasti banyak." Airu menggoyangkan jari telunjuknya dan menyerahkan flashdisk OTG padanya.
"Ini adalah rekaman yang di dapat dari black box mobilku." Semua orang semakin penasaran namun kini mereka berhamburan kemana-mana. Yuuna memasang flashdisk tersebut ke dalam socket androidnya dan menemukan satu video yang durasinya tidak terlalu lama. Dengan seksama ia menonton dan dengan cepat ia melepas flashdisk tersebut. Sepertinya ingatannya kembali wajahnya terlihat memerah.
"Tuan, sepertinya kita perlu berbicara empat mata." Yuuna tersenyum kikuk.
"Baiklah dengan senang hati." Airu berdiri dengan tegak menunggu Yuuna bergerak.
__ADS_1
"This is my second story... Enjoyed please. Like and comment is the most important to develope my idea and the story."