
"Saat itu, aku berusaha membuka topengnya tapi, aku gagal. Aku tidak tahu apakah petunjuk ini berguna untukmu atau tidak tapi..." Airu berhenti sejenak. Yuuna memandangnya serius.
Pria itu meraih kaleng bir yang ada di meja lalu membukanya. Ia lalu memberikannya pada Yuuna dengan raut wajahnya yang kesal.
"Jangan menunda pembicaraan mu." Yuuna meraih kaleng bir itu dan meneguknya.
"Jadi katakan apa yang kau temukan?"
"Jadi tadi kau menonton orkestra bersama Yuuna kenapa kau tidak mengajaknya ke rumah?" Ibu Sung Joo nampak kecewa.
"Ibu, Yuuna akhir-akhir ini sangat sibuk." Sungjoo memberi pengertian kepada ibunya.
"Apa kau memberitahukannya tentang acara ulang tahunku?"
"Iya."
"Apakah dia akan datang?"
"Iya dia pasti datang." Jawab Sung Joo lembut.
"Aku menemukan di belakang telinganya terdapat tato laba-laba dan sepertinya orang itu kidal."
"Kenapa kau bisa bilang kalau dia kidal." Tanya Yuuna.
"Ketika aku berkelahi dengannya, tinjuan dari tangannya sangatlah kuat sementara ketika ia meninjuku dengan tangan kanannya sangat lemah."
Otak Yuuna berpikir keras sampai akhirnya ia berdiri dan mengambil tasnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Airu.
"Aku mau pulang, besok saja kita membahas ini." Yuuna melenggang pergi dengan wajah cool.
"Ck, dasar"
Dalam taxi, Yuuna memandang ke arah gedung-gedung. Ia merefleksikan wajah seseorang yang dia anggap sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan di Kabukicho.
..."*Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau memajang mayatnya di sana? "...
...Bayangan itu mencekik bayangan wanita...
......Bayangan wanita itu melepas cekikkan itu dengan perlahan.......
..."Kenapa kau begitu takut?"...
..."Hentikan atau aku akan membunuh kalian berdua! Kalian telah merusak kehidupanku!"...
..."Kau pikir kami berdua adalah penghalangmu?"...
...Bayangan itu tak bergerak....
..."Kau harus ingat ini, kami adalah sepasang monster yang telah kau panggil."...
..."Kaulah yang telah memanggil kami untuk melindungi rasa tidak berdayaanmu selama ini*."...
...Jari putih nan lentik meraba tubuh wanita yang terikat di meja bedah. Mulutnya di sumpal dengan botol kaca berisi sake. Wanita itu sangat terlihat kesakitan terutama ketika bagian perut yang merupakan posisi dari ginjalnya telah terjahit dengan tidak rapi. Tubuh itu bergetar, matanya menonjol dengan garis-garis merah mengelilingi bingkai bola matanya. Rambutnya telah dicukur habis tak tersisa. Tangan itu memegang kunci Inggris ukuran besar dan mulai memukuli wanita itu....
Keesokan harinya Yuuna bekerja seperti biasa. Lagi-lagi kantor disibukkan dengan bertambahnya korban dari Spider Lily Killer kali ini enam bagian tubuh di sebar ke beberapa museum dan galeri. Telepon tak hentinya berdering para kru berlalu lalang dengan sangat cepat.
Beberapa orang berjejer menunggu giliran untuk diinterogasi. Yuuna memandang Kaiba, mereka berdua saling bertatapan dengan seirus lalu keluar dari kantor.
__ADS_1
"Apa kau ingat dengan misimu?" Tanya Yuuna.
"Aku ingat."
Yuuna dan Kaiba menuju minimarket dengan ekspresi biasa.
"Konnichiwa Kuro-san!" Sapa Yuuna yang di balas dengan senyuman kecil. Kaiba menyeduh satu cangkir kopi dan mulai berjalan menuju Kuro yang membelakanginya. Kaiba menabrak Kuro dan menumpahkan cairan kopi ke bajunya.
"Apa yang kau lakukan!?" Seru Yuuna terkejut.
"Eh! Maaf aku tidak sengaja, aku tidak melihat ada kardus di bawah kakiku." Ujar Kaiba.
"Lain kali pakai mata kalau jalan. Kuro-san maafkan kami. Sebagai permintaan maaf biar aku melaundry bajumu, ok!?"
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Tidak bisa! Ini adalah permintaan maaf dariku."
Kuro sejenak berpikir, sementara Yuuna menepuk pundaknya.
"Aku akan mengembalikannya dengan cepat." Ujar Yuuna meyakinkan.
"Baiklah. Tapi biar aku mengangkat kardus ini dulu."
"Baiklah."
"Biar kubantu." Ujar Kaiba.
"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya." Kuro mulai mengangkat kardus yang tidak diketahui isi dalamnya. Terlihat cukup berat. Ketika tangan kanan pria itu hendak menopang, ia meringis dan kardus itu terjatuh.
"Akh."
"Tidak apa-apa." Jawab Kuro dan berusaha mengangkat kardus itu.
Airu terbaring dengan lemas ketika ia lagi dan lagi mendengar kabar kematian salah satu client tetapnya. Ia cukup frustasi terutama ketika polisi berdatangan dan mulai menginterogasi dirinya. Sampai akhirnya ia mendapat panggilan dari bos.
"Sebaiknya untuk beberapa hari kau jangan datang ke sini terlebih dahulu. Kondisi sangat tidak memungkinkan dan mungkin saja nyawamu dalam bahaya."
"Baiklah."
Airu menghela nafasnya pelan. Ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berharap mendapatkan informasi dari Yuuna mengenai siapa dalang di balik pembunuhan wanita-wanita itu.
"Aku pikir ini adalah akhir dari karirku." Gumamnya pelan.
Menjelang malam. Yuuna terlihat menunggu seseorang seorang diri. Ia menggenggam kantong yang berisi baju milik Kuro. Dia menunggu Kuro. Sampai akhirnya ia menunggu Kuro yang berlari pelan menuju ke arahnya.
"Apa aku membuatmu menunggu?"
"Tidak, aku juga baru sampai. Ini bajumu!"
"Terimakasih. Kau pulang sendirian?"
"Kenapa?"
"Biar aku antar, ini sudah larut tidak baik wanita sepertimu pulang malam."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."
"Kau yakin!?" Tanya Kuro terkekeh pelan.
"Tentu saja."
__ADS_1
"Kalau begitu hati-hati."
Yuuna berjalan dan melambaikan tangannya sementara dari balik dinding yang jauh, Airu telah memasang tudung Hoodie dan masker. Ia mendapat lampu hijau dari Yuuna untuk keluar dari persembunyiannya. Keduanya mengikuti Kuro dalam diam, mengamati setiap gerak-gerik pria tersebut. Langkah mereka terhenti ketika pria itu berdiri tak jauh dari apartement Airu yang ternyata terdapat jalan rahasia yang menghantarkan mereka menuju pintu yang tak mereka sangka.
"Sembunyi!" Yuuna menarik tubuh Airu ke balik tong sampah ketika Kuro berbalik ke belakang.
"Aku tidak tahu kalau ada sebuah tempat rahasia di sini." Bisik Airu.
"Sst!" Yuuna membekap mulut Airu ketika ia mendengar langkah kaki berat pria itu menuju ke arah mereka. Yuuna nampak menahan nafasnya. Mereka terlihat tegang saat tubuh pria itu tepat di samping mereka.
Perlahan mereka bisa bernafas lega ketika Kuro telah kembali. Beberapa menit kemudian mereka dikejutkan dengan seorang wanita yang keluar dari tempat tersebut.
"Itu!" Airu membelalak.
Yuuna dan Airu keluar dari persembunyiannya ketika wanita itu telah pergi.
"Bagaimana mungkin!? Apa hubungannya Kanzaki dengan pria itu?"
"Kita tidak bisa memikirkan hal itu sekarang. Ayo!"
Mereka berjalan menuju pintu itu. Namun, pintu itu terkunci oleh gembok.
"Sial! Pintunya!" Airu kesal.
Yuuna dengan tenang mencari sesuatu yang bisa mempermudah dirinya untuk membuka gembok itu. Ia menggunakan potongan kawat dan mulai membentuknya sedemikian rupa. Dengan mudah, ia membuka gembok tersebut.
"Ayo kita masuk!" Yuuna menarik Airu.
"Eh!T-tunggu! Kau mencekik ku!" Airu mencoba melepas cengkraman Yuuna dari hoodie yang ia pakai. Seketika bau anyir menusuk indera penciuman mereka. Yuuna menutup hidungnya.
Mereka melihat bercak-bercak darah tertempel pada dinding.
"Tempat ini mengerikan." Bulu roma Airu berdiri. Hawa dingin menusuk hingga ke kulit Airu yang paling terdalam.
Seketika mereka mendengar tangisan seseorang.
"Suara seorang wanita!"
Yuuna berlari diikuti Airu yang tertinggal di belakang. Ternyata di balik pintu itu terdapat ruangan kecil. Mau tak mau mereka harus merangkak.
"Apakah masih jauh!? Kenapa tempat ini panjang sekali?" Keluh Airu. Yuuna tak menjawab keluhan dari Airu.
Betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat seseorang di rantai. Airu mengenal wanita itu, yang tak lain juga merupakan salah satu pelanggan tetapnya.
Di club Olympus Shiki dan yang lain sibuk dengan urusan masing-masing, sampai akhirnya Kanzaki datang.
"Dimana Airu?"
"Maaf, Kanzaki-san. Malam ini Airu tidak datang karena beberapa urusan." Shiki menghampiri Kanzaki dan memberi jawaban atas pertanyaan Kanzaki.
...Arigatou gozaimasu!!!...
...๐...
... Bagi readers karena sudah memberi waktu luang kalian untuk membaca, semoga readers merasa terhibur, ya......
...๐๐...
...๐ธJangan lupa tinggalkan track kalian berupa like, comment, vote dan share!๐ค๐ธ...
๐ธSalam Wangwang (Hachi-san!!!๐ถ)๐ธ
__ADS_1