Complicated Lovers

Complicated Lovers
Day 2 (Bodyguard) Babak 2: After Sunset


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" Tanya Yuuna kebingungan.


"Ketika kau jadi bodyguardku, kau harus menyamar jadi laki-laki." Ujar Airu.


"Hah?"


"Sudah, turuti saja perkataan ku!" Airu mendorongnya keluar, Yuuna tak bisa berkutik. Membawanya ke parkiran mobil.


"Cepat masuk!" Airu membuka pintu mobilnya .


"Iya!!!"


Yuuna menatap ke arah lampu lalu lintas yang berwarna merah. Sementara Airu menerima telepon dari seorang wanita.


"Aku sedang berada di jalan menuju club."


"Okay, tunggu aku disana. Bye!" Airu menutup panggilan dan menoleh ke arah Yuuna.


"Lihat! Gara-gara kamu aku jadi terlambat menemui Sawamura-san"


"Rasakan!" Yuuna tersenyum puas dibalik masker.


Sesampainya di club, Yuuna tertegun ketika melihat ruangan yang begitu luas dibalut nuansa mewah. Ruangan gelap yang kontras dengan lampu keunguan. Lantainya di gelar dengan karpet merah. Setiap ia menoleh terpampang wajah pria-pria dengan berbagai macam pose. Foto Airu juga terpajang di sana.



Yuuna terkekeh melihat foto tersebut.


"Ternyata fotomu lebih bagus dibanding aslinya." Ledek Yuuna.


"Apa kau buta? Tentu saja yang asli lebih tampan!" Airu menjitak kepala Yuuna.


"Hei!!!"


Ketika mereka masuk lebih dalam Yuuna disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Sofa dan meja yang berjejer di sisi kanan dan kiri, lampu-lampu kristal yang bergantung di langit-langit. Beberapa wanita dan pria bercanda dan saling menggoda. Lantunan musik jazz live dari band. Bahkan tamu bisa ikut bernyanyi atau memainkan alat musik.


"Airu!!" Sawamura memanggil dari arah kejauhan.


"Jadi begini kerjaanmu? Setiap hari menemui wanita yang berbeda. Cih! Apa kau tidak takut kau akan dikutuk oleh dewa menjadi perjaka seumur hidup?"


"Ini sudah menjadi tugasku sebagai host. Sudah jangan banyak bicara lagi."


SRET


Tiba-tiba Yuuna menarik jas Airu. Ia meringsut bersembunyi dibalik jasnya.


"Apa-apaan kau ini!? Lepas!"


"Tidak! Sembunyikan aku!" Awalnya Airu tidak mengerti kenapa sikap Yuuna menjadi seperti itu tetapi, ketika pandangannya mengarah pada Ren akhirnya ia menyadarinya. Airu menepis Yuuna dan mendorongnya untuk berjalan di sisinya.


"Kau itu takut ketahuan sama siapa? Lagipula wajahmu sudah di tutupi masker dan kacamata hitam."


"Kau terlambat." Ujar Ren dan Sawamura.


"Ah, maaf. Tadi aku ada urusan sedikit." Airu duduk di sebelah Sawamura.


"Siapa yang kau bawa? Airu-san?" Sawamura dan Ren penasaran.


"Oh, dia? Dia akan menjadi bodyguard di club ini mulai sekarang."


"Ehhh?"


"Hei kau! Duduk di sebelah Ren sana!" Ujar Airu. Yuuna duduk dengan cemas, karena sedari tadi Ren menatapnya intens.

__ADS_1


"Kau yakin dia bodyguard? Dari tubuhnya saja seperti itu." Sawamura menunjuk tubuh Yuuna.


"Jangan meragukan kemampuannya dalam bertarung. Walaupun dia kecil, ia di panggil dengan si kecil gila."


"Benarkah? Tapi... Aku seperti mengenalnya? Terutama dari aroma parfumnya." Yuuna terkesiap. Ren menunduk untuk melihat wajah Yuuna namun ia terus menghindar.


"Yang pakai aroma parfum seperti itu pasti sangat banyak."


"Tidak mungkin. Aku yakin, aroma parfum ini biasa dipakai olehnya." Yuuna mulai berkeringat.


"Sial! Aku tidak tahu kalau Ren bekerja di sini. Jika aku ketahuan, habislah"


"Kau terlalu banyak curiga. Sudah, jangan mengurusinya, lebih baik kita nikmati malam ini!"


"Airu benar."


"Sung Joo." Akari memanggil Sung Joo yang melamun sejak tadi.


"Hm?"


"Kamu kenapa?"


"...." Sung Joo membayangkan saat-saat dia bersama dengan Yuuna hingga akhirnya mereka bertunangan.


FLASHBACK



"Sung Joo-ya!" Panggil Yuuna dalam bahasa Korea.


"Hm?" Mereka berdua berjalan bersama di pesisir pantai. Membiarkan kaki telanjang mereka terhempas oleh air lautan.


"Tidak apa-apa."


"Bukankah langit sore ini begitu indah?" Tanya Yuuna.


"Sangat indah."


"Apa rencanamu setelah lulus?" Tanya Yuuna.


"Aku akan melanjutkan pendidikan di Universitas Waseda. Aku akan mengambil jurusan arsitek. Bagaimana denganmu?"


"Hm... Aku sudah merundingkannya dengan Ibu untuk mengikuti pelatihan kepolisian."


"Kau tidak berniat masuk ke Senzoku Gakuen? Bukankah kau menyukai musik?"


"Aku tidak tahu. Ibu juga mengatakan hal yang sama tapi... Ketika aku melihatnya mengabdi pada masyarakat, aku merasa bahwa itu keren. Aku tergerak untuk mengikuti langkahnya menjadi seorang polisi."


"Hmm... Kalau begitu, mari kita lakukan yang terbaik."


"Yes, Sir!!" Seru Yuuna. Mereka tertawa bersama dengan hembusan angin.


"Yuuna." Sung Joo membalik tubuhnya menghadap gadis yang selama ini selalu ada bersamanya. Yuuna menatapnya dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi mungilnya.


"Tidak jadi." Sung Joo berbalik kemudian berjalan.


"Hei! Ada apa? Kau mau bilang apa??" Yuuna mengejar Sung Joo yang semakin menjauh.


"Tidak!"


"Kau berbohong!!!" Yuuna yang kini berjalan beriringan dengan Sung Joo memukul lengan kekasihnya secara pelan. Yuuna merasakan tangannya kini di genggam erat oleh Sung Joo.


"Ayo kita pulang!"

__ADS_1


Beberapa tahun berlalu...


"Sung Joo!!" Yuuna berlari dengan wajah pucat.


"Sung Joo dimana kamu?" Yuuna mendobrak pintu dan mendapati ruangan yang awalnya gelap kini diterangi oleh lilin.


"Merry Christmas and Happy birthday Yuuna!" Yuuna hampir saja kehilangan roh nya. Kemudian ia tertawa melihat Sung Joo membawa kue maccaron dengan lilin yang tertancap di atasnya. Belum lagi ternyata keluarga mereka ikut mengucapkan dan itu membuat Yuuna terharu. Sung Joo tiba-tiba berlutut.


"Yuuna... Terimakasih selama ini sudah menjadi bagian dari hidupku." Sung Joo membuka kotak berisikan cincin.


FLASHBACK END


Bayangan indah itu perlahan berubah menjadi samar. Sung Joo melihat Yuuna yang membuang cincin pertunangan tepat di depan wajahnya.


"Sung Joo!" Akari menggoyang tubuh Sung Joo.


"Eh, Akari! Ada apa?"


"Daritadi kamu melamun. Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak! Aku tidak memikirkan apa-apa."


Waktu hampir tengah malam, namun para tamu tak beranjak dari sofa. Mata Yuuna memerah akibat menahan kantuk.


"Kapan ini segera berakhir?" Gumam Yuuna pelan.


"Heiii!"


"Jangan lesu begitu! Awasi sekelilingmu." Yuuna mencibir. Sudah berapa kali ia melihat wanita datang dan pergi, dan jelas berbeda-beda orang.


"Dia bodyguard?"


"Iya."


"Heeh... Tapi kenapa dia memakai topi kacamata dan masker hitam?"


"Oh, itu karena dia jelek. Jadi aku menyuruhnya memakai itu." Yuuna menatap tajam Airu sementara yang ditatap menjulurkan lidahnya, sengaja membuat wanita itu meradang.


"Aku sengaja menyewanya karena akhir-akhir ini ada seorang penguntit yang mengikutiku. Club juga dihadapkan masalah dengan beberapa tamu yang anarkis, jadi aku pikir tidak ada salahnya membawanya kemari."


"Begitu rupanya."


01:00 JST


"Bangun!" Airu menepuk pundak Yuuna sehingga ia terbangun dengan mata setengah terbuka.


"Hoamm... Aku masih mengantuk..."


"Cepat bangun. Aku akan mengantarmu pulang!" Mau tak mau Yuuna harus bangun. Ruangan sudah terlihat kosong, beberapa pria tertidur dengan pulas, yang lain sibuk membersihkan meja da sebagian malah ada yang bermain kartu dalam keadaan mabuk. Ketika mereka sudah keluar dari club, Airu mendapati sepasang mata menatap ke arah mereka. Pakaiannya serba hitam, bersembunyi dibalik pohon.


"Dia lagi."


"Dia siapa?" Tanya Yuuna.


"Hampir tiga bulan terakhir, seseorang menguntitku. Entah di apartemen maupun di club orang itu selalu mengikutiku. Aku benar-benar terganggu akan itu."


Ketika Yuuna mencoba melihat sosok yang dimaksud, tiba-tiba saja sosok itu pergi.


"Tidak masalah jika dia mengikutiku tapi yang menjadi masalah adalah...." Airu memperlihatkan sebuah foto. Kardus berisi boneka perempuan dalam keadaan cacat, dalam artian ada yang kehilangan matanya, kaki, tangan, hingga telinga. Boneka itu disertai dengan surat bertinta merah.


*TIDAK ADA YANG BISA MEMILIKIMU SELAIN AKU*


Wajah Yuuna menjadi serius. Menurutnya hal ini tidak bisa dibiarkan.

__ADS_1


Next, adalah waktunya si Yuuna sang polisi akan beraksi. Stay tuned! Mungkin belum ada adegan romantis, tapi author janji akan ada scene romantisnya!! Thank you for readers...


__ADS_2