
Kaiba memandang sahabatnya yang menatap laptopnya sambil terkantuk-kantuk. Kaiba mencolek bahu Yuuna pelan.
"Ada apa denganmu? Kau kelihatannya kekurangan tidur?"
"Kemarin malam, aku pulang ke rumah jam satu pagi." Ujar Yuuna.
"Jam satu malam?? Apa yang kau kerjakan selarut itu?"
"Entahlah, kerjaanku hanya duduk dan melihat pria itu menggoda wanita." Kaiba menggelengkan kepalanya prihatin.
"Aku sangat kasihan padamu. Apakah tidak ada cara lain untuk melunasi semua hutang mu?"
"Hm? Tidak ada..."
"SELAMAT PAGI INSPEKTUR!" Kaiba dan Yuuna bangkit berdiri dan memberi hormat kepada inspektur yang baru saja datang. Ia melihat Yuuna dengan tatapan datar.
"Cuci terlebih dahulu wajahmu."
"BAIK!" Yuuna segera pergi menuju wastafel dan mencuci wajahnya.
Pagi yang singkat berganti malam, Yuuna sudah bersiap dengan kostum baru yang diberikan oleh Airu. Ia juga membalut dadanya menggunakan kain agar terlihat bidang, Yuuna juga memakai wig dan contact
lens.
Yunna's boy transformation
"Aku sudah selesai." Ujar Yuuna. Airu cukup kesal melihatnya. Ia merasa Yuuna sangat tampan dalam wujud laki-laki.
"Cih! Pakai masker dan topimu!" Perintah Airu.
"Bisakah aku tidak memakainya? Itu sangat tidak nyaman." Ujar Yuuna.
"Aku bilang pakai!" Seru Airu sambil memasang paksa masker dan topi.
"Apa kau sudah mendapatkan rekaman cctv yang kuminta?" Tanya Yuuna.
"Ini." Airu menyerahkan flashdisk tersebut. Yuuna langsung memasangnya ke laptop. Ia membuka folder yang berisi beberapa video. Airu dan Yuuna menonton isi video tersebut tanpa berkedip. Namun yang terjadi, rekaman itu menjadi gelap.
"Eh? Kenapa jadi gelap?" Tanya Airu.
"Sepertinya stalker itu sengaja mengetahui letak cctv dan menutupnya dengan kain. Lihat, tidak lama kemudian kardus itu sudah ada di depan apartement. Ketika kubuka rekaman yang lain, hasilnya juga sama seperti rekaman pertama."
"Apa ini ulah orang yang tinggal di apartemen juga?"
"Kemungkinan seperti dugaanmu. Apa kau pernah bertemu dengan orang-orang yang tinggal di apartemen ini, khususnya yang bersikap aneh atau mencurigakan?" Tanya Yuuna.
"Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan. Ah betul juga!"
"Ada apa?"
"Aku menyadari satu hal. Semenjak kau ada di sini, aku sudah tidak mendapatkan barang-barang seperti itu lagi. Sebelum kau ada, aku selalu menerimanya setiap jam aku akan pergi bekerja." Ujar Airu.
"Sudah waktunya! Ayo kita berangkat." Ujar Airu.
Sesampainya di club, lagi-lagi Yuuna menghindari Ren. Ia tak mengatakan sepatah kata apapun, terdiam layaknya patung. Tetapi sepertinya nasib Yuuna tidak sebagus itu, Ren justru menghampirinya dari kejauhan.
"Hai!" Sapa Ren, Yuuna mengangguk pelan. Entah sejak kapan dia berada di sana.
"Ya Tuhan! Jangan sampai ketahuan?"
Yuuna terus mengucapkan kalimat tersebut dalam hatinya.
"Sepertinya kita belum berkenalan... Aku Ren."
__ADS_1
"Pria cheerful dan playful, Shiki-desu!" Shiki membentuk peace.
"Manabu Yuuma." Yuuna bersikeras merendahkan suaranya.
"Yuuma?" Ren mengusap dagunya pelan.
"Yuuma, Yuuna..." Ren menatap Yuuna sejenak.
"Siapapun itu! Tolong aku!"
Yuuna sepertinya dalam keadaan genting.
"Shiki, Ren!" Yuuna menghela nafasnya lega.
"Airu-san. Siapa dia?" Tanya nona Kanzaki.
"Ah, dia? Dia bodyguard."
"Bodyguard?" Kanzaki menatap Yuuna begitu juga Yuuna. Yuuna menundukkan kepalanya seolah memberi salam, Kanzaki membalasnya dengan senyuman.
Ketika Yuuna meneguk minumannya ia terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya. Ia mendapati Kanzaki duduk disebelahnya dengan senyuman ramah.
"Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Manabu Yuuma."
"Nama yang indah."
"Terimakasih. Emm..."
"Kanzaki Nana." Yuuna kagum dengan kecantikan Kanzaki. Kulit putih, mata yang bulat, hidung yang mancung dan bibir tipis merah merona. Proporsi tubuh tinggi dan langsing dengan kaki yang kecil dan jenjang bak model. Wanita itu menarik pelan dagu Yuuna.
"Bulu matamu sangat indah." Puji Kanzaki.
Airu menyadari hal itu dan segera menghampiri Yuuna dan Kanzaki.
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan minim, tiba-tiba seorang gadis terbangun. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan tali, mulutnya tertutup lakban hitam. Ia melihat sekeliling dan terkejut. Gadis itu mencoba melepas ikatan tersebut dengan airmata yang mengalir. Tiba-tiba pintu terbuka pelan, detak jantung gadis itu berpacu cepat. Sosok itu menghampirinya dengan sebuah gunting dan pisau bedah. Kilatan mata yang sangat tenang namun terselip kebengisan. Gadis itu menggeleng pelan dan mulai berbicara ketika lakbannya dilepas.
"SIAPA KAMU!?"
Orang itu terlihat mengetik sesuatu di androidnya.
Aku? Kau tidak perlu tahu siapa aku. Malam ini, aku akan membuatmu kelihatan lebih cantik.
Ketika sosok itu mengetik, ternyata ia berhasil melepas ikatannya. Gadis itu lantas mendorong keras orang tersebut, dan mengambil pisau untuk memotong ikatan di kakinya dan segera melarikan diri. Ia berlari dengan rasa takut, ia mencoba memanggil bantuan namun tidak ada jaringan.
"B-bagaimana mungkin?" Gadis itu melewati lorong yang di penuhi dengan bercak darah. Pintu demi pintu ia dobrak sekuat tenaga. Tetapi... Saat pintu yang terakhir tidak bisa terbuka. Ia menggedor dan menabrak dengan tubuhnya.
"TOLONG! SIAPAPUN YANG BISA MENDENGAR TOLONG AKU!!! HIKS, HIKS!"
Tanpa disadari orang itu berada dibelakangnya dan menepuk pundaknya.
Ketemu
"TID-!!"
Gadis itu terbata-bata, perutnya kini tertancap pisau bedah.
"AKH!!!" Ia meringsut ke tembok dengan wajah pucat dan tangisannya semakin menjadi. Merasa terganggu sosok itu memasukkan gumpalan kain ke dalam mulutnya yang mungil.
Orang itu menyentuh kedua matanya dan mulai mengarahkan pisau tersebut tanpa keraguan. Gadis itu menggeleng pelan, airmatanya tidak berhenti mengalir.
Malam yang sunyi berlapis ketakutan Tangan sang iblis mengambil mutiara berselimut darah, merah pekat semerah Higanbana
"Hei! Kau lapar tidak?" Tiba-tiba Airu bertanya.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Ayo kita cari makanan."
"Bagaimana dengan udon?"
"Hm... Boleh juga!"
Entah kenapa hari ini sepertinya mereka terlihat akrab.
"Enak!"
"Disini tempat langgananku." Celetuk Yuuna. seraya menuang minuman digelas Airu.
"Eh, tumben kau baik."
"Yah, malam ini pengecualian." Ujar Yuuna.
Mereka meneguk minuman bersama-sama.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau menjadi seorang host?" Airu sempat berpikir lama.
"Eum... Aku rasa sejak delapan tahun yang lalu."
"Heh, lama juga." Yuuna melepas wig nya karena gerah.
"Apa kau tida tertarik menjadi seorang host?" Tanya Airu.
"Aku kan wanita."
"Kau bisa menyamar seperti yang kau lakukan sekarang. Dengan begitu hutangmu bisa lunas dan kau akan mendapat uang lebih." Tawar Airu.
"Heh, benarkah?"
Tanpa disadari percakapan mereka disertai cegukkan dan tawa Airu. Mereka mabuk!
"Kau tertarik tidak?" Wajah Airu memerah. Ternyata ia tidak kuat terhadap alkohol.
"Tidak, aku tidak ingin dibebani pekerjaan lain lagi. Aku sudah cukup tersiksa dengan menjadi pembantu dan bodyguardmu."
"Ayolaah! Kau itu tampan ketika menjadi seorang pria. Dengan begitu semakin banyak orang tampan semakin besar juga pendapatan di club! Hahahaha...!"
"Lebih tampan darimu?" Yuuna mulai jahil. Ia merekam wajah Airu yang terlihat bodoh.
"Iya, lebih tampan dariku!"
"Kalau begitu katakan... Aku Airu Tenjo kalah tampan dari Hwang Yuuna, katakan dengan keras."
"AKU AIRU TENJO KALAH TAMPAN DARI HWANG YUUNA!"
"Baiklah! Tepuk tangan!" Airu mengikuti perintah Yuuna.
"Pfft! Dia seperti anak anjing laut!" Gumam Yuuna menahan tawa.
"Kalau begitu sekarang bayar makannya."
"Baik."
"Kalau begitu aku pulang dulu! Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa!"
Yuuna meninggalkan Airu dengan senyuman jahil.
"Rasakan itu!"
Halo minna-san! Maaf telat update dan maaf kalau episode kali ini agak sedikit thriller. Author harap readers tidak terganggu akan hal itu. Thank you!
__ADS_1